Oleh: Cak Gusstom (Anggota Forum Lafadl, masih kuliah di FISIPOL UGM)
………


Kenyataan didunia menjadi remang2.
Gejala2 yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung2kan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu achirnya, menikmati masa bodoh dengan santai.

Didalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai, tanpa bisa mencipta,
Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya berkuasa, persis seperti bapa2 kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat kebarat.
Disana anak2 memang disiapkan, untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.

Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan, tanpa kegunaan–, menjadi benalu didahan.

(W.S Rendra. Sajak Anak Muda; 23 juni 1977, Pejambon, Jakarta)

Sepenggal puisi rendra diatas terasa lebih menghujam ke kalbu, penuh makna, ketika saya selesai membaca buku “Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia”, betapa kekuasaan sangat dekat dengan ilmu sosial. Ilmu dan kredensialnya, memang sengaja dihadirkan untuk menjadi ‘alat’ negara, sehingga tidak aneh jika hampir semua lembaga pendidikan dimaksudkan untuk memenuhi tenaga kerja di lembaga negara dan industri. Sudah sewajarnya jika negara, yang mendirikan banyak lembaga pendidikan, menuntut balik jasanya. Sudah sewajarnya juga, jika modal yang menawarkan pekerjaan menentukan apa yang dia butuhkan untuk dipelajari.Kekuasaan, dalam buku ini diidentikkan dengan negara dan modal, membangun tiang-tiang yang kokoh dalam kegiatan keilmuan. Sehingga wacana keilmuan yang dimungkinkan mengancam kekuasaan tersebut sengaja dihilangkan. Negara juga mendirikan apparatus keilmuannya sebagai penghargaan (baca kontrol) bagi ilmuwan yang ‘baik’, negara menentukan penafsiran yang sah dari proses keilmuan, yang boleh jadi memilin dan membelenggu proses keilmuan. Akibatnya, penemuan ilmiah menjadi mandul, karena muncul kekurangan pada motif keilmuan dimana ilmu tidak lagi berpihak pada proses untuk mengurai struktur kebenaran, namun lebih kepada institusional politis. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Kisah Getir Masyarakat Poskolonial

Judul Buku : A Small Place, Sebuah Narasi Poskolonial
Penulis : Jamaica Kincaid
Tebal : x+90hlm
Harga : Rp. 24.350,-
Terbit : Juli 2006
Penerbit :Lafadl Pustaka

Penerjemah : Ita Iftitahus Sakdiyah
Editor : Heru Prasetia
Copyeditor : Bosman Batubara
Desain Cover : Dimas
Setting : Dimas


Small Place yang dimaksud judul buku ini adalah Antigua, pulau seluas sembilan kali dua belas mil di Hindia Barat. Resminya, negara pulau ini berjuluk Antigua dan Barbuda, terletak di antara Samudra Pasifik dan Laut Karibia. Lokasinya yang strategis dan keindahan alamnya yang menakjubkan —dengan langit cerah tanpa awan, lautan biru, dan sunset yang mengagumkan—membuat Antigua sangat diminati oleh para wisatawan mancanegara. Namun, di balik keindahan pemandangan dan kenyamanan cuacanya, di balik senyum-senyum ramah penduduknya, terhampar sejarah ketertindasan yang kelam serta kenyataan pahit kemiskinan yang parah. Sebab apa yang tidak bisa dilihat orang—sebagai turis—adalah korupsi yang merajalela, berbagai sekolah dan rumah sakit yang bobrok, serta warisan masa-masa kolonial yang memuakkan. Antigua adalah negeri yang penuh dengan pengalaman kolonisasi dan perbudakan sejak Columbus menjejakkan kaki di pulau itu. Pendudukan bangsa Eropa melahirkan perubahan besar di pulau permai ini. Orang-orang kulit putih itu mendatangkan budak-budak hitam dari Afrika, menggelar perkebunan kelapa dan tembakau, serta menjadikannya sebagai bagian dari koloni Inggris Raya selama hampir tiga setengah abad.
Pengalaman sejarah kolonisasi selalu melahirkan identitas poskolonial bagi masyarakat terjajah. Ada bayang-bayang pengalaman kolonisasi yang menghantui saat masyarakat ini berusaha lepas darinya. Ada kesulitan yang pelik pada masyarakat yang pernah mengalami kolonisasi untuk menemukan identitas diri mereka sendiri. Sebab, identitas mereka telah ditulis, dicatat, direkam kemudian dihadirkan kembali melalui pena kolonial secara sewenang-wenang. Wacana kolonial tersebut lantas hadir kembali menjadi sesuatu yang ilmiah, kemudian menjadi darah daging, melekat pada diri, menjadi sabda, menjadi kebenaran. Mereka tak lagi mampu menuliskan sejarah mereka sendiri. Sejarah—dan juga identitas— mereka hadir melalui tangan orang lain. Di buku ini secara lugas Kincaid melukiskannya dengan ungkapan. “…Kalian mencintai pengetahuan sehingga ke mana pun kalian pergi, kalian pasti membangun sekolah dan perpustakaan (ya, dan di kedua tempat inilah kalian mengubah atau menghapus sejarah kami dan mengagungkan sejarah kalian)….”
Pengalaman masyarakat Antigua tentu tak bisa disamakan dengan pengalaman sejarah masyarakat Indonesia. Namun pengalaman kolonisasi dan kesadaran yang diniscayakannya tidak jauh berbeda. Pengalaman menjadi obyek yang selalu dipandang, dicatat, diteliti, dan—bahkan—diciptakan sama-sama dirasakan keduanya. Dengan membaca buku ini kita akan merasakan kegetiran, kegeraman, gejolak, dan ketegangan yang sama. Karena itulah, Lafadl melihat relevansi sosial dan intelektual diterbitkannya buku ini dalam bahasa Indonesia.

Heru Prasetia

___________________________________

TENTANG Jamaica Kincaid
Jamaica Kincaid adalah novelis perempuan kelahiran St John, Antigua, pemenang penghargaan Morton Dauwen Zabel Award dari American Academy and Institute of Arts and Letters. Fokus karya-karyanya adalah mengenai pengalaman kolonisasi, imigrasi, dan juga hubungan anak-ibu. At the Bottom of the River dan Annie John adalah diantara karya-karyanya yang banyak mendapatkan pujian. Kini, selain menjadi penulis cerpen dan novel, Kincaid juga mengajar penulisan kreatif di Bennington College and Harvard University.

Lebih Jauh tentang Jamaica Kincaid, kunjungi: http://www.english.emory.edu/Bahri/Kincaid.html

The State and Plantation Workers: Corporatism and Resistance

Oleh: Luthfi Makhasin(Dosen UNSOED, anggota Forum Lafadl, sedang kuliah di ANU Australia)


This essay attempts to explain modes of labor control and resistance of plantation workers after the New Order focusing exclusively on those employed in state-owned plantations/estates.1 Following the overthrown of the New Order, modes of labor control are becoming more decentralized with companies as the main executor. The modes of labor control are applied by imposing politics of discourse, fear, and threats of violence. In responding to this hostile circumstance and in order to survive, the plantation workers continuously develop “conventional” and “unconventional” resistance to the state and capital.2 However, this resistance meets ideological constraints as well as structural problems.
The emergence of the “world’s third-largest democracy” (Tornquist, 2004: 377), in fact, has not been followed by the establishment of a political regime which accommodates all social classes. Indeed, the overthrown of Suharto’s regime simply replaced persons rather than established a genuine democratic system with the working class as the main constituent. While “politico-bureaucrats”, big bourgeois, and middle-class tightened their grip on political power, the lower classes (peasants and laborers) were simply neglected in the political establishment. Consequently, the lower classes (peasants and laborers) still continue their struggle to voice their grievances and discontent, and to protest. Baca entri selengkapnya »

Globalisme Cetak Ulang!

Kamis, 15 Juni 2006

Globalisme Cetak Ulang!

Muatannya yang sangat penting untuk diketahui khalayak ramai serta tingginya permintaan terhadap buku ”Globalisme:Bangkitnya Ideologi Pasar”, mendorong Lafadl untuk kembali menerbitkan buku tersebut. Saat ini buku cetakan kedua sudah bisa didapatkan di toko-toko buku atau bisa dipesan langsung via e-mail ke Lafadl@gmail.com. Harga buku tetap Rp. 47.500,-

Review dan komentar atas buku ini juga bisa dilihat di:http://www.logosjournal.com/walker.htm

Penundaan Bengkel Kerja Budaya

Senin, 5 Juni 2006

Penundaan Bengkel Kerja Budaya

Sebagaimana telah jamak diketahui, terjadinya musibah gempa bumi di DIY dan Jawa Tengah membawa dampak yang sangat signifikan pada kehidupan masyarakat di Jogjakarta dan sekitarnya. Pada Lafadl sendiri, hampir seluruh energi dan perhatian para pegiat Lafadl tercurah untuk penanganan korban gempa. Oleh karena itu, demi solidaritas kepada para korban serta agar acara Bengkel Kerja Budaya bisa berlangsung maksimal, kami—Lafadl dan Desantara—memutuskan untuk menunda pelaksanaan acara tersebut sampai batas waktu yang belum bisa kami tentukan. Kami mohon maklum atas hal ini. Para peserta terpilih akan tetap kami hubungi seminggu sebelum waktu pelaksanaan yang akan ditentukan kemudian.

Lafadl-Desantara