Jejak Islamisasi dalam Lengger

Selasa, 10 Oktober 2006

Oleh: Luthfi Makhasin
(Anggota Forum Lafadl, Faculty of Asian Studies [Southeast Asian Studies] The Australian National University, Canberra-ACT, Australia)

Senin malam, 28 Agustus 2006, Alun-alun Purwokerto gemerlap menyambut tamu-tamu yang datang dari penjuru Jawa Tengah. Panggung besar di tengah alun-alun didominasi warna hijau dengan dekorasi berbentuk kubah masjid lengkap dengan menara di kedua pinggirnya. Malam gemerlap itu menandai dibukanya MTQ Pelajar XXII tingkat Jateng. Suasana hingar-bingar itu makin lengkap ketika 125 pelajar putri SMA se-Purwokerto naik ke panggung pembukaan. Berpakaian kebaya warna-warni dengan kerudung rapat dari bunga melati yang melingkar di kepala, mereka tidak membaca Al Qur’an atau bersholawat sebagaimana lazimnya dalam pembukaan acara semacam itu, tapi menari. Mereka menari lengger gipyak, sebuah tari khas Banyumas tempo doeloe. Mereka memang cuma tampil 10 menit, tapi itu sudah cukup untuk membuat suasana alun-alun malam itu menjadi semarak oleh hadirnya ribuan penonton.

Kehadiran lengger gipyak dalam acara MTQ mungkin sebuah perpaduan unik tapi juga aneh, paling tidak untuk orang Banyumas. Bukan apa-apa. Sejauh yang saya tahu, lengger bagi orang Banyumas tidak pernah diberi embel-embel seni islami jika tidak mau disebut malahan sangat tidak Islami. Konon katanya, lengger sudah berkembang sejak sangat lama di Banyumas. Ada yang bilang kesenian ini dikenal sejak kekuasaan Sultan Agung, masa kerajaan Mataram di abad ke-17. Tapi ada juga yang menganggap sejarahnya lebih kuno, yaitu sejak masa kejayaan Pasirluhur, sebuah kadipaten kecil independen – terletak kurang lebih 3 kilometer barat kota Purwokerto sekarang – dibawah pengaruh kerajaan Hindu Pajajaran, lebih dari dua abad sebelumnya.

Baca entri selengkapnya »

Polishing Army

Jumat, 6 Oktober 2006

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tim Kerja Lafadl)

Medan, 3 October 2006. It was just 11.30, an hour to go for dzuhur praying. There were still few people coming to a mosque located on Diponegoro street, next to the office of North Sumatra Governor. Normally, Indonesians call such streets where government and other important offices are located as jalan protokol (protocol streets). Here, on Jalan Diponegoro, we do not only find government offices, but also some private companies’. It is not surprising that the “consumers” of this mosque are those wearing nice dresses and shirts. Apart from those people with nice wears, there were also some children mostly in shorts sitting in groups.

At 12.15, many more people come, mostly through the northern gate of the mosque where more cars/motorcycles are parked. Together with their coming, the children previously sitting in groups were spread out approaching the coming jamaah. The children, mostly under 10 years old, were offering small paper with numbers to jamaah. They were following jamaah from the park of the mosque and wait until they put off their shoes. Without any words said, jamaah will accept that paper and the children would immediately take their shoes to their partners who had been waiting at some other part of the mosque. Without any verbal ijab-qabul (something required by Islamic law for [economic] transaction), a deal has been agreed between jamaah and the polisher community. And this polishing business only prevails on this northern part of the mosque.

Baca entri selengkapnya »

Mencari Lengger di Banyumas

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Mokh Sobirin (Pegiat lafadl)

 

Beberapa informasi awal berhasil kami (Aku dan Iput) dapatkan untuk memperdalam riset kami tentang Lengger (sebutan tayub di Banyumas). Beberapa orang yang kami temui menceritakan beberapa hal penting tentang Lengger. Pertama adalah Kang Tohari, yang menceritakan bagaimana Lengger benar-benar menjadi sebuah arena yang sakral sekaligus profane. Pada sekitar tahun 1960-an, tidak banyak orang desa yang mengundang Lengger untuk pentas karena tingkat ekonomi masyarakat pedesaan yang tidak terlalu bagus untuk membayar kelompok Lengger. Kelompok Lengger mengadakan pentas di desa setelah petani desa memanen padi. Biasanya secara spontan penari Lengger menggelar tikar di tanah lapang kemudian menari diiringi penabuh calung dan kendang. Menurut Kang Tohari, pertunjukan biasanya dimulai sore hari dan berakhir saat malam telah larut. Di awali dari penabuh kendang sebagai pertanda datangnya musim panen kemudian di sambut dengan pemain calung-berfungsi untuk mengumpulkan masyarakat desa dan kemudian dilanjutkan dengan penari lengger. Barulah prosesi lenggeran berlangsung. Penduduk sekitar arena memasang obor sebagai penerang. Ditengah pertunjukan biasanya salah seorang anggota kelompok Lengger mengedarkan kotak untuk mengumpulkan uang dari penonton yang menikmati pertunjukan malam itu. Seperti yang ia ceritakan dalam novelnya, bahwa pada titik tertentu Ronggeng dapat memainkan perannya sebagai pengemban tugas suci membawakan tari untuk menghormati dewi kesuburan. Ciu dan seks baru mewarnai pementasan Lengger ketika ia dipentaskan dalam acara yang digelar oleh kalangan priyayi ataupun pejabat pemerintahan.

Tetapi Lengger telah dimatikan seiring dengan berkembangnya wacana anti-komunisme di tahun 1965. Ia mengamati bagaimana stigmatisasi terhadap Lengger sebagai bagian dari PKI telah mengubah relasi yang sebelumnya terjalin antara Lengger dan masyarakat Banyumas. Lengger coba dihilangkan sebagai ikon Banyumas. Hal ini tentu saja memaksa banyak kelompok Lengger menutup kisah mereka sebagai seniman Lengger seiring dengan sepinya pementasan, bahkan di desa sekalipun. Tak ada lagi ritual penghormatan setelah panen.

Lengger “hidup kembali” saat Golkar berkampanye di awal 70-an. Lengger dihidupkan sebagai bagian dari mesin penarik massa dalam kampanye Pemilu. Tetapi perubahan terjadi pada Lengger di tahun-tahun ini. Banyak tradisi yang hilang dari pementasan Lengger. Perubahan yang di ceritakan oleh Kang Tohari antara lain tentang isi wangsalan (syair) yang dilantunkan oleh Ronggeng (penari Lengger) yang dulunya bercerita tentang petuah-petuah filosofis Jawa telah berubah menjadi slogan-slogan kampanye a la Golkar. Tak ada lagi acara tayub ditengah pementasan, tak ada lagi ciu dan semua pernak-pernik “kemaksiatan” di sekitarnya. Begitu pula kostum kelompok Lengger yang telah didominasi oleh warna kuning. Mulai tahun 1970-an Lengger telah dikooptasi oleh struktur politik Orde Baru melalui Golkar. Dalam bahasa Kang Tohari, Lengger telah menjadi zombie. Bahkan istilah Lengger coba diganti dengan istilah baru yang khas Jawa Mataraman, yaitu Gambyong Banyumasan.

Baca entri selengkapnya »

Nyadran di sudut Banyumas

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Mokh Sobirin (Pegiat Lafadl)

Siang itu cukup panas, saat kami berkendara menyusuri sungai Serayu yang menunjukkan kilap airnya yang tertimpa sinar matahari. Setelah satu jam berkendara akhirnya Saya sampai di Paruk- kami sengaja menyamarkan nama asli desa. Menurut Kang Tohari, disinilah ia mendapatkan inspirasi untuk menulis trilogi novelnya – sebuah desa yang terletak di kaki bukit yang memisahkan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap. Hamparan sawah yang mengering dengan diselingi pohon-pohon jati yang meranggas menjadi tanda musim kering yang masih betah menunggu hujan.

Jalan tak berlapis aspal membelah perkampungan yang terlihat sepi. Saya dan beberapa teman masuk sampai ke ujung desa. Deretan rumah bentuk limasan yang sebagian atapnya terbuat dari seng telah terlewati. Dua buah mushola yang menyelingi deretan perumahan yang rata-rata tidak berdiniding kayu. Kami tiba di sebuah pertigaan, tepatnya didepan sebuah kompleks pemakaman. Tampak puluhan bahkan ratusan orang dengan pakaian sikep (jas hitam yang tertutup), ikat wulung (ikat kepala berwarna hitam bermotif sidoarum) dan kain jarik yang dililitkan seperti sarung sedang duduk santai di depan pintu gerbang makam. Tak jarang terselip sebilah keris kecil di saku depan melengkapi pakaian adat Banyumasan yang mereka kenakan.

Hari itu tanggal 18 bulan Nyadran, bulan sebelum puasa, akan diadakan prosesi nyadran ke makam Bonokeling. Acara ini diadakan tiap tahun sebagai bentuk penghormatan anak cucu Bonokeling terhadap leluhur mereka. Belum didapat keterangan jelas tentang siapa sebenarnya Bonokeling. Beberapa peziarah yang datang mengaku merupakan keturunan Bonokeling, tetapi mereka mengatakan tidak paham riwayat Bonokeling. Kepatuhan terhadap tuturan orang tua menjadi alasan mereka untuk nyadran tiap tahun. Untuk tahun ini jumlah peziarah yang datang sebanyak seribu seratus lima puluh tujuh orang. Kebanyakan peziarah berasal dari wilayah Kabupaten Cilacap yang rata-rata menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih delapan jam.

Sambil menunggu dimulainya prosesi nyadaran kami ngobrol di warung yang terletak di tengah perkampungan sambil mencari segelas air untuk membasahi kerongkongan yang semakin kering karena panasnya cuaca siang itu. Beberapa peziarah di yang kami temui di warung itu mengatakan bahwa jumlah wong nyadran tahun ini bertambah karena adanya berbagai bencana. “Mereka sekarang sudah eling pesan orang tua.” Kata salah satu daari mereka mengomentari peziarah yang menjadi new comers. Berbagai bencana yang melanda wilayah Cilacap mulai dikaitkan dengan kelalaian orang Jawa untuk menghormati leluhurnya. Seseorang yang kelihatannya paling berpengalaman bercerita tentang sebuah desa di Aceh yang lolos dari tsunami padahal desa di sekitarnya menjadi korban tsunami. Ia menambahkan bahwa itu karena di desa itu terdapat makam tua yang selalu dirawat oleh penduduk desa. Obrolan yang semakin ramai membuat beberapa orang tertarik untuk mampir dan ikut urun rembug membahas segala macam bencana yang terjadi akhir-akhir ini. Berbagai bencana yang terjadi dikait-kaitkan dengan kepercayaan tentang jagad Jawa yang mulai marah dengan kelSayaan penghuninya yang berperilSaya buruk.

Tepat siang hari saat matahari memayungi bumi dengan sinar yang sangat terik. Rombongan wong nyadran yang dipimpin oleh juru kunci mulai memasuki kompleks pemakaman Bonokeling. Ratusan lelaki berpakaian Banyumasan dan perempuan berpakaian jarit sampai sebatas dada dengan pundak terbuka mulai memasuki gerbang makam dengan iringan asap menyan yang terus mengepul. Mereka terus saja naik menuju makam Bonokeling yang berada di atas bukit kecil di dalam kompleks pemakaman. Tiga buah pendopo tanpa dinding menjadi tempat mereka berteduh sebelum mendapat giliran untuk sungkem di makam Bonokeling. Semua anak cucu Bonokeling harus sungkem untuk ngalap berkah, maka tak jarang prosesi nyadran baru selesai saat tengah malam. Setelah beristirahat di rumah penduduk sekitar makam, baru mereka akan pulang ke rumah masing-masing pada keesokan harinya. Juga dengan berjalan kaki.

Baca entri selengkapnya »

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tin Kerja Lafadl) 

Sudah seminggu lebih aku gak nulis jurnal. Sejak kepindahanku ke wisma Sudirman, praktis hanya satu jurnal yang kutulis. Apalagi sejak aku pindah ke tempat Selwa Kumar di belakang Taman Budaya hari Minggu lalu (24 September). Pada tingkat tertentu, aku merasa tempat berteduh erat terkait dengan produktivitas menulis. Di tempat menginapku yang baru itu, aku hanya punya waktu menulis di malam hari. Itu pun kalo tempatnya tidak terkunci, atau aku gak kelamaan diajak ngobrol sama penghuni lainnya, atau aku sendiri gak kecapekan. Siangnya, tempat itu dipake sebagai kantor pengacara. Bang Ruslan Purba SH (demikian dia memperkenalkan nama lengkapnya) bilang, ”kalo kau pergi sebelum jam 8 pagi, dan pulang setelah jam kantor, amanlah kau.” So, aku menuruti apa katanya. Pergi sebelum jam 8 dan pulang paling cepat jam 7 malam (itupun, sekali lagi, kalo kantor itu tidak terkunci). Yah, demi mengirit duit gak apalah.

Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah bertekad harus merapel catatan perjumpaanku dengan beberapa orang seminggu terakhir. Tapi baru pagi ini aku bisa memencet tombol-tombol laptop membentuk rangkaian kalimat. Di lantai dua aula IAIN yang sedang direnovasi ini, aku menemukan tempat yang bisa memompa ingatan-ingatan keluar dari tempurung kepalaku. Kebetulan ruang sidang dilantai dua ini tidak terkunci,sehingga aku bisa menggeret satu kursi keluar melengkapi meja panjang yang sudah duluan ada di sana. Aku ambil sapu ijuk panjang untuk membersihkan daki yang ada di meja panjang ini. Dengan diiringi suara ketukan palu tukang-tukang Jawa di lantai bawah, aku coba tulis lagi beberapa info yang aku peroleh.

Senin lalu (25 September), aku bertemu dengan Irwansyah Harahap, seorang musisi sekaligus antropolog dari Jurusan Etnomusikologi, USU. Dia sudah lama berkawan dan meneliti Parmalim. Penelitiannya itu sudah dimulai sejak awal tahun 1990-an, jauh hari sebelum orang banyak menulis tentang Parmalim. Dia sedang mempersiapkan tulisan deskriptif tentang Parmalim (katanya akan diterbitkan oleh Desantara).

Dari dia aku ingin mendapatkan banyak masukan, terutama saran dia tentang wilayah manakah yang sebaiknya kuambil sebagai fokus tulisan Interseksi. Aku mencoba memulai pertanyaan itu dengan menceritakan masukan beberapa orang yang menyarankan aku untuk ambil daerah di luar Hutatinggi sebagai fokus penelitianku. Beberapa tempat yang disarankan adalah daerah Barus dan Asahan. Bang Iwan secara implisit mengiyakan bahwa kelemahan studi Parmalim (terutama yang dia lakukan) sejauh ini memang cenderung terfokus di Hutatinggi. Padahal, dia menyebut setidaknya 4 komunitas Parmalim yang berbeda-beda dan tersebar, meliputi komunitas Parmalim meranti, Asahan (Tanjung Kiran?), Silaen, dan Barus. Dia sendiri berkeinginan untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif tentang komunitas-komunitas parmalim yang lain (dia bilang dia pernah punya kontak person pengikut parmalim yang ada di Asahan). Untuk melakukan riset yang lebih komprehensif itu tentu diperlukan waktu ekstra,sesuatu yang diakuinya belum ada saat ini. Salah satu faktor yang membuatnya secara sadar memilih berkonsentrasi di Hutatinggi adalah ketertarikannya pada permainan musik pada acara-acara ritual desa itu yang relatif lebih ”asli”. ”Parmalim yang di Meranti, nyanyinya lebih seperti lagu-lagu gereja,” katanya.

Baca entri selengkapnya »

Titik Terang dari Jalan Pancing

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tim Kerja Lafadl) 

Penat yang kurasa kemarin serasa tak berbekas. Laptop berbobot beberapa kilogram di dalam tasku terasa seperti lembaran kertas-kertas sahaja. Jalanku terasa ringan ketika aku melangkah keluar dari ruang dekan Fakultas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Medan (UNIMED), hari ini Rabu 27 September 2006. Diskusiku dengan Pak Ibrahim Gultom benar-benar berjalan seperti yang kuharapkan.

Siang ini aku habiskan waktu dua jam bersama Pak Ibrahim Gultom, dekan fakultas itu. Aku dapatkan namanya dari Bang Maruli. Pak Fadhil Lubis juga sempat menghubungkanku dengannya hari Minggu lalu. Tapi baru hari ini aku bertatap muka dengannya. Kontras dengan bayanganku sebelumnya (tiap kali aku coba hubungi ke nomer pribadinya, hanya Veronica yang menjawab. Smsku pun tak berbalas), Pak Ibrahim tampak seperti figur yang sangat ramah. Dia menanggapi pertanyaan-pertanyaanku secara antusias.

Pertanyaan pertama yang aku ajukan berkait dengan status agama Malim, apakah kepercayaan atau agama. Aku coba hidupkan diskusi dengan kontradiksi antara istilah ”Ugamo Malim” (yang biasa dirujuk dalam penelitian-penelitian tentang parmalim) dan keberadaannya dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai aliran kepercayaan. Dan jawabannya lumayan mengesankan. ”Kita tidak boleh menilai keyakinan Parmalim ini dengan standar agama wahyu,” demikian kalimat pertama diungkapkannya sebagai jawaban. Menurutnya, salah satu kekeliruan utama bangsa ini adalah pada penciutan agama hanya pada 5 agama besar. Padahal, sebelum kedatangan bangsa-bangsa asing yang membawa agama besar itu, bangsa kita sudah beragama. Lagipula, menurutnya ada kekeliruan besar dalam pengertian aliran kepercayaan itu. ”Mestinya aliran kepercayaan itu ya seperti cabang atau sekte dari suatu agama, seperti Ahmadiyah,” jelasnya. Untuk mengatasi kerancuan ini, Pak Ibrahim mengusulkan pembentukan semacam direktorat agama lokal (melengkapi direktorat agama-agama besar lain yangsudah ada) di departemen agama. (Artinya, mestinya harus ada pengakuan terlebih dulu terhadap ajaran Parmalim sebagai ”agama”? Kemudian,jika sudah diakui, keberadaan institusionalnya pun harus dipindah dari yang semula Depdiknas diserahkan kepada Depag). Pak Ibrahim menolak usulku bahwa persoalan agama perlu didesentralisasikan untuk mengatasi keberagaman agama dankeyakinan diseluruh negeri ini. Alasannya, birokrasi di daerah belum tentu siap dan cakap menyelesaikan persoalan keagamaan. Salah-salah malah terjadi kekacauan dalam persoalan ini. Seperti yang terjadi dalam kasus konflik pembangunan tempat ibadah Parmalim di kota Medan ini.

Menurut informasi yang ia peroleh, ijin tempat ibadah itu sekarang ngendon di Walikota Medan. ”kalau walikota berpikiran antropologis seperti kita, persoalannya mungkin sudah selesai,” guraunya. Menurut kabar, tentangan yang paling keras datang dari jemaat HKBP. Ada dugaan muncul kekhawatiran hilangnya pengikut jemaat ini setelah tempat ibadah itu didirikan. (Padahal istilah yang dipake pun bukan balai partonggoan, melainkan parsantian. Perlu dicek apakah kedua istilah ini memiliki perbedaan yang krusial? Apakah pemilihan istilah tersebut bernilai politis?). Menurut Pak Ibrahim, kekhawatiran semacam itu mestinya tidak perlu terjadi. Menyangkut tentang SKB Menteri Agama dan Mendagri yang baru dikeluarkan tahun ini, Pak Ibrahim secara jujur tidak banyak mengetahuinya. Tetapi dia memberikan bottom line berkaitan dengan syarat-syarat pendirian rumah ibadah itu: jika masih mensyaratkan jumlah minimal pengikut untuk pendirian tempat ibadah, peraturan itu berarti tidak menghormati prinsip multikulturalisme. Karena yang minoritas selamanya tidak akan bisa memiliki tempat ibadah. Apalagi di tempat-tempat dimana komunitas Parmalim menjadi minoritas. ”Kalau di Hutatinggi gak ada masalah karena orang-orang disana merasa agama Malim itu agama nenek moyang mereka. Tapi kalo di Medan seperti ini (bermasalah),” ungkapnya.

Kabar dari Bang Shohibul Ansor Siregar (lulusan S2 Sosiologi UGM yang juga meneliti Parmalim) yang belakangan baru ikut bergabung di ruang kantor Dekan, Pak Ibrahim termasuk ”the priest” di kalangan komunitas pengikut agama itu. Sama seperti Bang Iwan, Pak Ibrahim juga mengaku masih sering berkontak dengan warga komunitas ini. Pak Ibrahim sendiri menyatakan lebih banyak memperoleh informasi dari seorang pengikut Parmalim bermarga Sinaga yang pernah menjadi murid langsung dari Raja Mulia Naipospos (dia tinggal di desa Binangalom di pinggiran danau Toba). Katanya, Pak Sinaga ini sering melihat Raja Mulia seolah bercakap-cakap dengan seseorang yang diduga merupakan roh Na Siak Bagi (sebagian menyebut ini adalah nama lain Si Singamangaraja).

Baca entri selengkapnya »

“Apaan (itu) Es Teh?”

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tim Kerja Lafadl)

Pertanyaan itu bukan dilontarkan oleh bocah yang belum akil balig, melainkan oleh seorang ibu penjual bakso. Di warungnya yang bertuliskan “pengusaha muslim”, aku memang berniat mampir menyantap bakso plus es teh. Eh, bukannya segera melayani ”rajanya” (kalo kita percaya pembeli adalah raja), dia justru memandang penuh tanya ke arahku. Apaan (itu) es teh?”. Sontak saja aku tersadar kalo aku bukan di Jawa atau Jakarta. Segera saja kuganti ”teh manis dingin”, istilah yang lazim kubaca di warung-warung Medan.

Hal-hal baru yang kecil semacam ini menjadi bagian dari perjumpaanku dengan Medan beberapa hari ini. Aku mulai mencoba membiasakan diri mengganti kata ”kiri” dengan ”pinggir” ketika hendak turun dari angkot. Aku harus menahan kantuk supaya aku bisa menghafal nama jalan dan arah trayek angkot yang kutumpangi. Peta sekarang menjadi isi utama tas punggungku. Aku pun mulai mengenali kebiasaan minum teh cara Medan yang cenderung berpasangan dengan susu, satu habitus minum yang katanya lebih sering ditemukan di India.

Aku menikmati perjumpaan hal-hal baru itu. Aku merasa Medan lebih plural ketimbang Jakarta atau kota-kota lain di Jawa. Di sini, kita bisa melihat seliweran orang-orang berkulit legam berhidung mancung keturunan Tamil. Mereka ada di berbagai strata, mulai dari pekerja kantoran, sopir angkot, penjual nasi pinggir jalan hingga pengemis. Kita juga bisa melihat peranakan Tionghoa ada di semua lini, mulai dari pemilik hotel termewah hingga komunitas miskin pinggir Sungai Deli. Orang-orang keturunan Arab juga tak kalah banyaknya. Belum lagi Jawa, Madura, dan tentu saja Batak. Masing-masing kelompok etnis itu tampaknya juga masih memegang erat tradisinya sendiri-sendiri. Komunitas Tionghoa tetap berbicara dengan koleganya dalam bahasa Mandarin; keturunan India masih terlihat melestarikan budaya leluhurnya (paling tidak dari tampilan luarnya); keturunan Jawa di atas 50-an tahun yang sudah dilahirkan di Sumatra masih fasih berkomunikasi dalam bahasa orang tuanya (tak sedikit yang masih lengkap dengan intonasi dan dialeknya); apalagi si tuan rumah, Batak.

Baca entri selengkapnya »