“…dan Kekuasaan Ilmu Sosial di Indonesia”

Kamis, 29 Juni 2006

Oleh: Cak Gusstom (Anggota Forum Lafadl, masih kuliah di FISIPOL UGM)
………


Kenyataan didunia menjadi remang2.
Gejala2 yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung2kan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu achirnya, menikmati masa bodoh dengan santai.

Didalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai, tanpa bisa mencipta,
Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya berkuasa, persis seperti bapa2 kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat kebarat.
Disana anak2 memang disiapkan, untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.

Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan, tanpa kegunaan–, menjadi benalu didahan.

(W.S Rendra. Sajak Anak Muda; 23 juni 1977, Pejambon, Jakarta)

Sepenggal puisi rendra diatas terasa lebih menghujam ke kalbu, penuh makna, ketika saya selesai membaca buku “Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia”, betapa kekuasaan sangat dekat dengan ilmu sosial. Ilmu dan kredensialnya, memang sengaja dihadirkan untuk menjadi ‘alat’ negara, sehingga tidak aneh jika hampir semua lembaga pendidikan dimaksudkan untuk memenuhi tenaga kerja di lembaga negara dan industri. Sudah sewajarnya jika negara, yang mendirikan banyak lembaga pendidikan, menuntut balik jasanya. Sudah sewajarnya juga, jika modal yang menawarkan pekerjaan menentukan apa yang dia butuhkan untuk dipelajari.Kekuasaan, dalam buku ini diidentikkan dengan negara dan modal, membangun tiang-tiang yang kokoh dalam kegiatan keilmuan. Sehingga wacana keilmuan yang dimungkinkan mengancam kekuasaan tersebut sengaja dihilangkan. Negara juga mendirikan apparatus keilmuannya sebagai penghargaan (baca kontrol) bagi ilmuwan yang ‘baik’, negara menentukan penafsiran yang sah dari proses keilmuan, yang boleh jadi memilin dan membelenggu proses keilmuan. Akibatnya, penemuan ilmiah menjadi mandul, karena muncul kekurangan pada motif keilmuan dimana ilmu tidak lagi berpihak pada proses untuk mengurai struktur kebenaran, namun lebih kepada institusional politis.
Dalam buku ini tergambar jelas bahwa perjalanan kekuasaan Orde baru dibangun dengan topangan kekuasaan ilmu itu sendiri. Ilmu sosial, memiliki sebuah otoritas untuk menjelaskan realitas, sehingga segala kebijakan yang didasarkan pada tradisi keilmuan adalah sah. Meski dilain sisi, kadang kajian keilmuan (penelitian) dilakukan justru untuk menjustifikasi kebijakan yang sudah diterapkan. Belum lagi kekuasaan modal yang juga seirama dengan kebijakan negara turut campur tangan dalam memboncengkan kepentingannya.
Bagi saya buku ini cukup cantik dalam memaparkan sebuah fakta sosial tentang relasi ilmu sosial dengan negara dan pasar. Buku ini memberikan gambaran bagaimana kekuasaan itu memanfaatkan dan mengontrol pengetahuan demi berlangsungnya kekuasaaan yang dipegangnya.

Kuasa Ilmu dalam Ilmu Sosial di Indonesia
Namun benak saya terasa belum terpuaskan, buku ini kurang menjawab mengapa ilmu sosial Indonesia tidak mampu memberikan jawaban atau ramalan atas persoalan sosial kita? (Mungkin buku ini memang tidak bertujuan untuk itu). Katakanlah hampir tidak ada ilmuwan yang meramalkan Presiden Soeharto akan jatuh, kerusuhan etnis di Ambon atau Bom bali? Apakah karena disebabkan tarikan kekuasaan dengan negara dan pasar? Apakah karena perselingkuhan, atau lebih sopannya ‘kerjasama’, antara ilmuwan, birokrat dan pengusaha membuat ilmu menjadi mandul? Mestinya perselingkuhan itu, maksud saya ‘kerjasama’, adalah sebuah kegiatan produktif? Atau semua itu bersumber dari mentalitas ilmuwan kita yang lemah, yang menghamba pada kekuasaan dan modal?
…wallahualam?>!*?
Saya mencoba untuk meneruskan cerita ini sendiri, saya mulai dengan mengatakan bahwa bahwa kemacetan ini belum tentu berasal dari hasrat keilmuan yang rendah. Karena jika benar, saya tidak akan pernah bayangkan ilmu sosial indonesia akan produktif, karena sejak kapan ilmuwan sosial indonesia menghasilkan duit dari kegiatannya, sehingga tidak harus menghambakan diri demi jabatan dan materi. Toh, dimanapun sama (ini klaim saya), sejarah kekuasaan mana (mungkin juga negara) yang tidak dibangun dari kolaborasi antara penguasa dan ilmuwan.
Bahkan di dunia pewayangan, Pandawa perlu seorang Kresna dan Kurawa pun perlu seorang Sengkuni, untuk menjadi think tank kekuasaannya. Cerita Pram juga bahwa para raja Kediri banyak dibimbing oleh beberapa begawan (sebagai intelektual), begitu juga Majapahit dan Mataram. Nun jauh di Eropa, ada Machiavelli dan Franscesco Guicciardini yang memback up pemerintah Florentine, dan bukunya masih menjadi rujukan generasi berikutnya. Zaman Eropa lebih jauh kebelakang ada Aristoteles yang juga adalah tentor Alexander muda, ada Seneca guru dari Nero, dan juga Thomas Hobbes pengkader Charles II ketika muda, dan banyak lagi lainnya.
Namun, apakah karena posisi seperti itu kemudian mereka mandul dalam memahami realitas? Menurut saya sepertinya tidak. Snouck Horgronje yang jelas antek kolonial dan murni menghamba pada kekuasaan ternyata mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai intelektual dengan ramalannya yang jitu. Bahkan sebagian analisa masih dipakai sampai sekarang. Puluhan think-tang di amerika mulai berdiri ditahun 1950-an justru menyemarakkan kegiatan keilmuan mereka, toh ramalan mereka ampuh juga.
Jika demikian, lantas mengapa mandul?
Jangan-jangan ada yang tidak beres dalam proses keilmuan kita?
Sepertinya boleh juga kalau kita menaruh curiga pada proses keilmuan kita, curiga pada kekuasaan ilmu itu sendiri.
Saya teringat, saat awal pergerakan Soekarno berteriak lantang, “bersatulah kaum marhaen!”, sedangkan Cokroaminoto berbicara tentang kaum ‘kromosnya’ dan kyai Misbach pun membela golongan ‘mutadz’afin’nya. Kata ‘marhaen’, kromos dan mustadz’afin sebagai analisa sosial mejadi senjata perlawanan terhadap kolonial, yang kita tahu berasal dari pemahaman ‘proletar’ ala Marx. Terbayangkan oleh saya betapa spirit keilmuan ala Marxian menggelayut dalam setiap pemahaman realitas saat itu, menjadi episteme kala itu. Tiba-tiba kata-kata itu lenyap dari perbincangan dan tergantikan dengan, santri, priyayi, abangan dan kemudian berkembang menjadi tradisional, modernis, liberal atau fundamentalis. Bisa anda tebak kira-kira spirit apa yang sedang menggelayuti kita, dalam setiap retakan jaman yang berbeda?
Begitulah menurut saya cara kerja ilmu, ternyata bukan hanya untuk memahami realitas, tapi juga mengkerangkai pikiran kita tentang mana yang dianggap sebagai realitas dan mana yang tidak? Pilihan sebuah kriteria atau klasifikasi ilmiah tidak sepenuhnya bebas dari kekuasaan yang membelenggunya, tak terkecuali kuasa keilmuan. Bahkan seseorang yang ada di kafe Perancis atau pojok Amerika bahkan dipelosok Indonesia, yang tidak pernah bertemu, ngobrol, yang juga hidup dalam realitas yang berbeda namun menggunakan terminologi yang sama. Epistemic comunity, begitulah kata para ilmuwan menggambarkan bagaimana mereka terjerat dalam jejaring keilmuan. Apalagi sekarang, ada teknologi yang mampu mendobrak ruang dan waktu sehingga menjadikan kedekatan mereka semakin intens. Mau tidak mau konsepsi sosial harus dipertahankan secara instan, sehingga memaksa mereka bersandar pada kuasa mahzab keilmuan yang sudah mapan. Tidak terbayang lagi akan ada semacam varian konsep ‘proletar’ ala indonesia dengan marhaen, kromos dan mustadz’afin, karena mereka pasti akan digugat keilmiahannya.
Keilmuan dan prosesinya, menjadi sebuah kuasa untuk benar secara ilmiah dalam ideal yang dianutnya. The will to know is the will to truth, the will to truth is the will to power, begitu aksioma Frederick Nietsczhe memberikan penjelasan bagaimana semua ini terjadi. Dalam buku ini misalnya, Hilmar farid mengungkap penghilangan wacana tentang kelas di Indonesia, seakan realitas kelas itu tiba-tiba hilang seiring dengan perubahan rezim negara. Hal ini berbanding terbalik dengan wacana di awal kemerdekaan, yang hampir semua wacana selalu beraras pada pembacaan ala marxian. Orde baru dimulai dari pe’najis’an segala sesuatu yang berbau komunis, sehingga berpaling menuju kutub lain yaitu Amerika.
Seiring pula dengan itu ada kebijakan dari pemerintah Amerika untuk memberikan program beasiswa kepada ilmuwan indoensia di sana. Kontrol memang terjadi, sensor dan kontrol judul buku tertentu seperti yang diungkap oleh Ben White dalam buku ini misalnya. Namun efek yang lebih besar sebenarnya adalah pengambilan penafsiran realitas indonesia pada kacamata Amerika. Jika kita lacak secara epistimologis, dalam wacana politik ada penekanan politik komparatif seperti kebanyakan universitas di AS ditahun 1950-an. Mereka merujuk pada S.N. Eisenstadt dan Harold Laswell, yang sekarang banyak dikritik karena dianggap terlalu bias elit. Sehingga realitas seakan hanya milik elit, tentang peristiwa besar, realitas bukan milik orang kecil dan realitas belum tentu keseharian yang dirasakan banyak orang didalamnya. Dibidang lain hal yang sama terjadi, kajian ekonomi merujuk pada Walt Witman dan Rostow, dalam sosiologi populer dengan pendekatan struktural fungsionalism-nya Talcott Parson, dan banyak lainnya.
Jika berpaling kembali kekiri atau lainnya, saya pikir nasib kita tetap akan sama. Bukankah kita merasa lebih bangga jika mampu menjelaskan realitas kita untuk menjawab persoalan orang lain, bukan persoalan kita. Dan tidak salah jika kemudian kita tergagap-gagap dan sibuk mendirikan lembaga untuk mewadahi wacana-wacana feminisme, multikulturalisme, liberalisme atau apapun. Saya curiga semua itu berangkat dari nalar inferior oriental yang masih mencokok cara berpikir intelektual kita. Dilain sisi, ada tuntutan ilmiah dari lembaga pendidikan dimana dia ingin mendapat gelar, maka ilmiah yang sudah terstandarisasi akan lebih mudah dijadikan sebuah sandaran. Wajar jika, sadar atau tidak sadar, mahasiswa yang belajar diluar negeri sering meng”other”kan diri sendiri. Mereka membuat tesis atau disertasi dengan meneliti sesuatu yang dianggap eksotik kesehariannya, sesuatu yang sangat jawa misalnya. Dan konon dosen di beberapa universitas luar memang menolak tema-tema tentang indonesia yang dianggapnya kurang eksotik. Kurang oriental gitu!
Hal itu menghasilkan sebuah kajian ilmiah yang berpusat pada pemahaman antroposentris, dimana manusia dijadikan sebagai pusat pemahaman realitas. Sangat bias manusia memang! Sehingga jangan pernah merasa heran jika para ilmuwan kita jarang ada yang bisa memprediksikan banjir dan dampak sosialnya, gempa dengan manajemen krisisnya, tsunami dan pelestarian alam. Kalaupun ada pasti akan dicuekin, karena itu seakan bukan realitas. Jikapun sudah terjadi paling mereka akan lebih senang membicarakan gempa dan kaitan politiknya, cara membagi dana, mencela kebijakan birokrat, dan semacamnya. Paling kita baru memulai jika ada orang lain dengan segepok uang datang dan bertanya apa kabar tentang hutanmu?
Begitulah kuasa pengetahuan itu bekerja, dia tidak mengontrol fisik dan tubuh kita, namun kesadaran dan cara berpikir kita dibuat tidak bisa keluar dari perangkap itu. Meski juga diakui bahwa kepatuhan (baca disiplin) cara berpikir ini menjadi sebuah kegiatan yang produktif, sehingga banyak skripsi, tesis dan disertasi yang dihasilkan dengan nilai A, meski sebagian dirasa kurang memberikan kontribusi terhadap realitasnya.
Selubung kekuasaan ini juga mungkin tidak hadir begitu saja, namun sebuah reproduksi yang panjang. Sistem pengajaran kita disekolah dari SD sampai perguruan tinggi masih menjadikan disiplin sebagai prioritas ideal. Bayangkan, disiplin dan kontrol ini yang direprodusir selama 12 tahun lebih (dari SD sampai PT) pasti akan menghasilkan sebuah kepatuhan. Puncaknya, kajian ilmu sosial produksi lembaga pendidikan, yang terus berulang dan berulang sampai menjadi kesadaran praktis, sehingga sebuah pembacaan yang berbeda dianggap sebagai sebuah kenakalan. Tidak terbayang (kalau bisa jangan sampai) jika suatu hari nanti prediksi mbah Maridjan lebih tepat daripada ilmuwan geologi, justru karena dia tidak sekolah. Tidak ilmiah!
“Lalu achirnya, menikmati masa bodoh dengan santai”
Yogyakarta, 29 juni 2006

2 Responses to ““…dan Kekuasaan Ilmu Sosial di Indonesia””


  1. Menarik sekali tulisannya…

    salam kenal
    pjv

  2. Mbah Surip Says:

    Inspiratif sekali…
    Salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: