Komik Nabi, Mencintai Nabi

Jumat, 21 November 2008

Nabi Muhammad. Semua orang islam—yang taat maupun yang tidak—pasti kenal nama itu. Semua orang yang mendaku beragama islam pasti mengaguminya. Bahkan yang paling tidak taat sekalipun tak pernah berani menghinanya secara sungguh-sungguh. Di kalangan santri, kecintaan pada nabi bahkan sudah ditiupkan sejak dalam kandungan. Sewaktu masih orok, tembang-tembang pujian pada nabi diperdengarkan di telinganya. Menginjak remaja, ia akan belajar mendendangkan pujian itu. Saya masih ingat ketika masih bocah dulu berdengang barjanzi sampai larut malam dengan suara yang pasti tidak karuan.

Tak perlu menjadi ahli islam untuk tahu bahwa nabi muhammad adalah sentral dalam keyakinan orang islam. Sebagai manusia historis, semua orang islam sepakat bahwa ia adalah nabi, rasul, dan pemimpin. Dalam khazanah sufi, muhammad sebagai konsep bahkan mendahului segala sesuatu, bahwa dunia ini tercipta demi apa yang disebut “nur muhammad”.

Ketika hari-hari ini muncul komik nabi di sebuah blog (saya sendiri belum sempat melihatnya karena keburu diblokir), orang-orang islam begitu marah meski belum seheboh ketika gambar sejenis muncul di Eropa beberapa waktu lalu. Reaksi sejumlah kalangan menurut saya sudah pantas dan patut. Misalnya dengan ramai-ramai memblokir blog bersangkutan. Tapi sebagian yang lain bertindak lucu, ngawur, dan menggelikan, misalnya ketika orang-orang depag tasikmalaya melakukan sweeping ke warnet-warnet di kota itu (aduh pak, apa salahnya warnet?), atau ketika Roy Suryo menyalahkan para blogger karena mengumbar berita tak benar. Atau ketika orang mulai ramai-ramai menebarkan serangan kebencian serupa untuk agama lain: sebuah tindakan konyol yang konon demi membela nabi. Padahal nabi tidak akan terkurangi kemuliaannya hanya dnegan selembar komik. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Pagi tadi saya lihat di tivi ada berita tentang pemberian gelar pahlawan pada Bung Tomo. Beberapa waktu lalu saya memang sempat heran, ternyata Bung Tomo bukan “pahlawan”, maksudnya tidak mendapatkan gelar pahlasan dari pemerintah. Padahal sepanjang sekolah dari SD sampai SMA, buku-buku PSPB selalu memuat fotonya, apalagi bila sedang bercerita tentang pertempuran surabaya. Dulu, ketika sekolah, saya mengira bung tomo ini adalah pahlawan yang sejajar dengan jendral sudirman dan lain-lain. Ternyata tidak. Ternyata pahlawan tanpa tanda jasa bukan hanya bapak dan ibu guru. Saya tidak tahu persis tentang kenapa gelar itu baru tersemat pada dirinya hari ini. Padahal peran Bung Tomo ini tak sepele. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang sedikit agak luas. Kala itu dialah salah satu operator dari resolusi jihad yang dikeluarkan kiai-kiai NU.

Saya juga tak menemukan soal resolusi jihad ini di lembar-lembar buku sejarah resmi di sekolah. Saya tahu tentang ini justru dari sumber tak resmi. Padahal resolusi ini punya makna penting—teramat sangat penting, malah—dalam konteks membangun negara-bangsa indonesia. Terlebih pada hari-hari seperti sekarang ini ketika makna jihad telah direbut demi kepentingan mereka yang berpikiran cekak, sempit, dan tak punya visi kebangsaan. Termasuk mereka yang sangat hobi menebar kekerasan. Resolusi yang dikeluarkan para kiai itu berisi seruan pada segenap kaum muslim untuk berperang melawan tentara sekutu, sebuah jihad yang dilancarkan untuk membela sebuah negara baru: republik Indonesia yang bukan sebuah negara islam. Bagi mbah Hasyim Asyari dan kawan-kawan, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berdasar Pancasila dan bersandar pada kemajemukan itu adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah. Jihad, bagi mereka, tak harus ada kaitannya dengan bendera islam, jubah, jenggot, dan simbol-simbol keislaman. Tak perlu anda bandingkan pengertian jihad ini dengan doktrin dari mereka yang memimpikan ide usang yang sudah karatan seperi khilafah, bandingkan saja resolusi ini dengan gagasan jihad yang sezaman seperti gerakan Darul Islam Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo yang terbit di sulawesi dan jawa barat. Anda akan bisa lihat betapa penting resolusi jihad ini dalam konteks kebangsaaan Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Sejak jaman kuliah dulu, saya suka sekali makan di angkringan. Favorit saya adalah teh manisnya yang kuenthel dan manis. The sejenis ini hampir bisa ditemukan di hampir semua angkringan yang saya singgahi. Dulu, nyaris setiap malam saya dinner di warung pinggir jalan beratap terpal ini. Berdesak-desakan di bangku kecil, makan sego kucing dua atau tiga bungkus ditambah sate usus dan tempe goreng dan krupuk. Sedap. Kenyang? Mungkin tidak. Tapi entah kenapa saya tidak merasa lapar setelah itu, paling tidak sampai esok paginya. Bukan semata soal makanannya yang membuat angkringan bisa menyeret saya malam-malam, tapi atmosfer “nongkrongnya” itu lho…Saya bahkan bisa menghabiskan berjam-jam hanya dengan satu gelas teh, tanpa rasa malu pula. Sampai larut malam bisa ngobrol kemana-mana. Topiknya bisa macam-macam, dari yang ringan sampai yang gagah-gagahan.

Namun sejak punya anak saya tidak terlalu sering lagi makan di angkringan. Meski begitu dalam beberapa kesempatan saya mampir ke sejumlah angkringan, baik yang baru maupun yang “klasik”. Saya merasa ada yang berubah. Terutama di angkringan-angkringan baru. Saya merasa angkringan sudah mengalami sesuatu yang membuatnya jauh berbeda degan angkringan seperti ketika saya kuliah. Barangkali ini adalah angkringan format baru. Angkringan yang mengalami komodifikasi. Maksud saya bukan komodifikasi dalam arti menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan, lha angkringan kan memang dagangan. Tapi maksud saya begini: bahwa yang sesungguhnya sedang dijajakan bukanlah sego kucing, sate usus, dan teh manis, tapi citra tentang sego kucing dan saudara-saudaranya itu. Di sini yang dijadikan komoditas adalah kesan dan imajinasi tentang angkringan, bukan barang dagangannya. Itulah yang saya maksud dengan komodifikasi angkringan

Angkringan-angkringan baru ini berupaya sebisa mungkin untuk menjual suasana angkringan—dengan gerobak dan sego kucingnya—namun dipoles sedemikian rupa menjadi lebih bersih, lebih manusiawi, dan—tentu saja—lebih mahal. Di beberapa tempat bahkan dengan menyediakan koneksi internet (hot spot), tapi disertai kualitas teh yang mengharukan. Baca entri selengkapnya »