‘Mendadak’ Menikah

Rabu, 17 Oktober 2007

Kenapa ‘mendadak’?
Terus terang saja sebagian besar kru Lafadl baru tahu kurang lebih 2 jam sebelum detik-D ijab qabul tanggal 17 Oktober 2007 antara personel Lafadl, Iput, yang bernama lengkap Muhammad Syaifuddin dengan Winda. Mengejutkan, karena sebelumnya sama sekali tidak ada wacana yang beredar tentang pernikahan ini..

Tapi, bagaimanapun juga, kami semua dengan tulus mengucapkan selamat menempuh perjalanan baru kepada kedua mempelai. Semoga selalu diselimuti kebahagiaan sekaligus dihangatkan keharmonisan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1428 H

Jumat, 12 Oktober 2007

Met Lebaran

Kru dan forum Lafadl mengucapkan selamat Idul Fitri 1 Syawal 1428 H.
Permohonan maaf lahir dan batin kami sampaikan kepada (siapa pun) Anda.

Analisis Gramscian atas Tatanan Dunia Kontemporer
(Sebuah proposal riset)

Oleh: Shohib Masykur
Permulaan abad dua puluh satu diwarnai dengan fenomena politik dunia yang amat penting dan menentukan. Satu dasawarsa setelah berakhirnya perang dingin muncul perang baru yang tidak kalah kerasnya dengan perang dingin: perang melawan terorisme (war on terrorism). Meski terorisme bukanlah fenomena baru, namun pemaknaan atasnya menemukan kebaruannya pada awal abad dua satu setelah terjadinya sebuah peristiwa yang menggemparkan seluruh planet pada bulan September tanggal sebelas tahun 2001 di Amerika Serikat: runtuhnya gedung WTC akibat serangan dengan menggunakan pesawat yang (konon) dilakukan oleh teroris.[i] Segera setelah tragedi yang kemudian dikenal sebagai “nine-eleven” tersebut, dunia disibukkan dengan perang baru yang diberi tajuk “Perang Melawan Terorisme” (War on Terrorism). Terorisme yang dulunya merupakan persoalan parsial masing-masing negara—atau maksimal bersifat regional—berubah menjadi persoalan global yang menuntut perhatian semua pihak, mulai dari negara super maju sampai negara super miskin. Pada level individu, semua orang di seluruh dunia secara tiba-tiba menjadi berkepentingan terhadap isu terorisme.

Merujuk pada Buzan et.al (1998), kita bisa memaknai propaganda war on terrorism ini sebagai proses sekuritisasi, yakni proses di mana aktor sekuritisasi (securitizing actor) melakukan speech act untuk mengarahkan pandangan umum agar memandang suatu persoalan sebagai ancaman terhadap keamanan. Suatu isu menjadi isu kemanan bukan (semata-mata) karena adanya ancaman eksistensial (existential threat) yang riil di dalamnya, melainkan lebih karena isu tersebut dihadirkan sebagai sebuah ancaman (presented as a threat). Cara pandang terhadap security semacam ini merupakan bagian dari tradisi kontstruktivisme. Dalam tradisi konstruktivisme, politik internasional tidak dipahami sebagai sesuatu yang given, melainkan constructed. Alexander Wendt, misalnya, mengemukakan bahwa “anarchy is what states make of it” (Maja Zehfuss, 2002). Baca entri selengkapnya »

(Penggalan dari satu tulisan panjang berjudul Amuk Rakus Industri dan Napas Sengal Perempuan Seni Tradisi yang akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Kajian Perempuan Desantara-Srinthil)

Macho

Oleh: Nunung Q
Bokong Semok..semok…semok
Bokong Semok..semok…semok
Rambut disanggul.. sanggul nganggo culuk
Bokong Semok..semok…semok
Bokong Semok..semok…semok
Rambut digelung.. gelung..digelung miring
Sopo baen mesti ngomplong melengok

Aran Bokong Nongko sesigar Eyae
Aran Alis Nanggal Sepisan
Kulit Kuning Lare
Kulit Kuning Langsat
Gawe Kang Nyawang
Ngeleg Idu Gorokan Asat

Itulah dua penggal bait lagu yang masih hangat ditelinga saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi pada 1 Agustus 2007 lalu. Ada begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti saya ketika pertama kali lagu itu terdengar. Lebih-lebih selama satu bulan penuh saya tinggal di desa yang terletak di kaki Gunung Ijen–ujung paling timur pulau Jawa ini tak pernah sekalipun saya mendengar lagu-lagu yang kebanyakan anak muda sekarang gandrungi. Apakah itu lagu-lagu manis khas Ungu, Krisdayanti, Dewa atau Chrisye, tiada pernah saya mendengarnya barang sekalipun.
Keheranan saya memuncak ketika lagu-lagu semacam itu—orang menyebutnya lagu Banyuwangen—diputar tak henti-hentinya di belakang penginapan saya. Usut punya usut lagu itu berasal dari rumah jejaka muda bernama Anto (27th). Ternyata dia memang pecinta lagu-lagu Banyuwangen. Hampir 80 persen koleksi kasetnya adalah musik tradisi Banyuwangi. Anto bukanlah satu-satunya penyuka musik Banyuwangi. Pak Haji Safi’i juga kerap sekali memutar lagu-lagu tersebut. Bahkan terkadang dia juga meminta kami untuk turut menikmati. Dan, setiap kali berjalan menuju suatu tempat, musik yang sama terdengar begitu kerasnya dari setiap rumah yang saya lewati. Musik ini sepertinya banyak digandrungi oleh hampir seluruh masyarakat Kemiren. Terbukti, selain di putar di setiap rumah, ia juga kerap sekali diputar pada setiap perhelatan, seperti: perkawinan, khitanan dan acara Agustus-an.
Balai desa yang terletak 50 m disebelah timur pemondokan juga tidak ubahnya dengan tempat yang lain, memutar musik yang sama: musik Banyuwangen. Saya menduga pemutaran musik di balai desa merupakan tanda agar warga kampung segera datang karena biasanya ada sebuah acara penting yang perlu dihadiri. Barangkali ini sudah menjadi kesepakatan warga Kemiren tanpa harus dituliskan dengan jelas. Seperti yang pernah saya lihat, ketika ada acara sosialisasi program kepala desa di desa tersebut tak henti-hentinya musik Banyuwangen diputar dengan kerasnya. Tentunya ada panitia yang turut mengumumkan disela-sela lagu itu didendangkan bahwa ada pertemuan penting di balai desa tersebut. Dan beberapa saat kemudian satu dua orang datang kemudian disusul dengan yang lain. Baca entri selengkapnya »