Mendadak Menikah (jadi) Dua

Senin, 24 Desember 2007

Lafadl Initiatives dengan suka cita dan riang gembira mengucapkan Selamat Menikah kepada Nunung Qomariyah (anggota Perkumpulan Lafadl Initiatives) yang telah melangsungkan pernikahannya dengan Sigit Budhi Setiawan pada hari Sabtu tanggal 22 Desember 2007.
Semoga selalu berada dalam kebahagiaan.

Iklan

Urung Memotret Gara-gara Mas Ipung

Oleh: Y.C. Kelik Prirahayanto

Malu bertanya sesat di jalan. Karena masih mengingat bunyi peribahasa populer tadi, juga dalam rangka menghindarkan diri dari sesat, saya dan Sobirin berulangkali memraktekkan jurus bertanya ini ke berbagai orang  selama lawatan kami di kawasan lereng Merapi Kabupaten Boyolali awal Desember kemarin. Kalau dihitung-hitung, kami berdua bertanya mungkin sampai lebih dari 10 kali di sepanjang perjalanan, dimana orang-orang yang kami tanyai jamak memberi jawab dengan intro yang kurang lebih semacam ini.
“O, masih jauh.”
atau
“Terus saja.”
atau
“Aduh, sudah kebablasen, Mas.”
Kami paling banyak bertanya ketika sedang mencari sebuah daerah bernama Tlogolele, yang para penduduknya setahu kami giat bergiat dalam sejumlah kesenian rakyat semacam jathilan dan kuda lumping. Dari hasil beberapa kali bertanya, juga mengamati selembar peta milik sebuah restoran, pencarian kami akhirnya terbawa ke sebuah pertigaan di pinggir desa Jrakah, tak seberapa jauh dari gapura tapal batas Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Pertigaan itu menggiring kami meninggalkan ruas jalan tembus Boyolali – Magelang via Selo dan Ketep Pass yang beraspal halus. Kami kemudian ganti menyusur sejalur jalan aspal sempit, “berjerawat”, sepi, berkelak-kelok, pula turun naik; membuat sepeda motor bebek tunggangan kami harus kerap menggeram karena dipaksa bekerja lebih keras.

Kampung yang Dikitari Ladang dan Kebun Sayuran
Selepas beberapa kali bertanya (lagi) dan di kala tampilan waktu di skrin henfon saya telah berhiaskan angka 16 lebih sekian belas menit, penjelajahan kami kemudian berujung pada suatu daerah pemukiman penduduk yang dikitari oleh ladang-ladang pertanian serta sejumlah kebun sayuran. Rumah-rumah penduduk  serta bangunan-bangunan lainnya saya temukan berdiri terserak pada suatu areal berkontur miring. Bangunan-bangunan di daerah tersebut terbagi menjadi dua jenis. Sebagian dari rumah-rumah itu adalah rumah-rumah tembok berdinding batu, bata atau batako. Sebagian lagi sisanya adalah rumah-rumah kayu berbentuk limasan. Kebanyakan dari rumah-rumah tersebut memiliki halaman yang cukup luas. Sore itu, beberapa dari halaman itu saya dapati sedang dimanfaatkan oleh para pemilik rumahnya untuk menjemur jagung serta mengikat ternak sapi mereka. Sepenglihatan saya, bangunan terbaik di kampung tersebut adalah sebuah masjid yang pucuk atapnya terhiasi mustaka logam mengkilap berbentuk bawang,  sedangkan lantai serta dinding-dindingnya tampak resik bersalutkan keramik.
Setelah menempuh kira-kira setengah dari tanjakan jalan kampung yang sedang dirayapi oleh motornya, Sobirin kemudian memutuskan untuk berhenti.  Kami berdua kemudian mencoba untuk bertanya kepada satu kerumunan orang yang tengah asyik berbincang di tepi jalan, mencari tahu apakah kami telah benar sampai di daerah Tlogolele ataukah belum. Jawaban dari orang-orang itu melegakan kami. Kami ternyata memang telah sampai di daerah yang kami tuju. Tempat yang kami sedang datangi ini adalah satu dari delapan dusun yang dimiliki oleh Desa Tlogolele. Takeran, demikianlah merupakan nama dusun kecil tersebut. Dari kawasan dusun ini, asalkan kabut sedang tak bermain-main, kerucut kekar Gunung Merapi dapat dilihat dengan jelas berdiri menjulang di sebelah timur kampung. Dusun yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali ini memang berada sangat dekat dengan Gunung Merapi, hanya sekitar 4 kilometer saja jaraknya dari puncak.
Untuk beberapa saat, saya dan Sobirin kemudian sedikit berbincang dengan orang-orang yang tadi sempat kami tanyai. Saat mereka mendengar kalau kami berdua sedang mencari tahu tentang keberadaan kelompok kesenian rakyat di daerah tersebut, seorang dari mereka kemudian menyarankan agar kami menyambangi kediaman dari Darmo Jimu, sesepuh kelompok kesenian rakyat kampung tersebut. Seorang remaja laki-laki yang hendak mengambil air ke bak penampungan air di bagian tengah dusun berbaik hati mengantar kami ke kediaman Darmo Jimu.

Kethoprak dan Kuda Lumping
Sore itu, Darmo Jimu kebetulan baru saja pulang dari bekerja memerbaiki rumah salah seorang tetangganya. Ia kemudian mengajak kami masuk ke rumahnya, sebuah rumah kayu berbentuk limasan yang berlantai tanah serta lumayan gelap bagian dalamnya. Dalam sebuah obrolan yang ditemani dengan suguhan teh tawar dingin, pria berusia sekitar 50-an tahun itu kemudian bercerita banyak hal kepada kami tentang kehidupan kesenian rakyat di kampungnya.
Rupanya, ada tiga jenis kesenian rakyat di dusun yang para penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani sayur, peternak sapi serta penambang pasir di Kali Apu itu. Kesenian-kesenian tersebut adalah ketoprak, kuda lumping dan jathilan. Sayang, tak ada satu pun ketiga kesenian tersebut bisa dikategorikan sebagai sehat. Baca entri selengkapnya »

Lafadl.org

Jumat, 7 Desember 2007

Lafadl.org

 

Selain weblog ini lafadl juga mengelola official website di alamat http://lafadl.org. Website tersebut didedikasikan untuk menyalakan narasi-narasi kecil, kritisisme, dan pencarian alternatif. Siapa saja yang berminat sialahkan mengirimkan tulisan tentang berbagai topik baik dalam bahasa Indonesia muapun bahasa Inggris ke kantor@lafadl.org.  

 

Berikut ini aturan main mengenai tulisn yang diposting di website lafadl:

1. Tidak ada batasan panjang tulisan, namun kmi tetap berhak mengedit tulisan Anda.

2. Kami hanya menerima tulisan yang dikirim via e-mail

3. Tulisan yang dikirim boleh menggunakan bahasa Indonesia muapun Inggris.

4. Artikel atau tulisan yng diposting di website ini tetap menjadi hak penulis.

5. Kami tidak memberikan imbalan material untuk setiap tulisan yang

diposting di website ini.

6. Kami menolak tulisan yang berisi serangan rasis, serangan personal, iklan komersial, dan kampanye politik.

My Bday Night

Minggu, 2 Desember 2007

Oleh: Deva (Sekretaris Lafadl) 

Dering handphone menggugah tidurku. Dengan sedikit rasa sadar, kucoba meraih benda itu dan masih dengan kesadaran yang minim aku membukanya dan mengucapkan kata halo dengan suara lirih.  Di kejauhan kudengar suara yang sudah sangat tak asing lagi ditelingaku. “Selamat Ulang Tahun ya nduk.” Ibuku,dengan suara yang kurasa juga masih  setengah sadar, kuyakin dengan susah payah mencoba tetap sadar hanya untuk mengucapkan selamat untuk anak perempuan satu-satunya. Hal ini memerlukan kerja keras mengingat beliau tersistem untuk tidur tak lebih dari jam 10 dan bangun di saat jam menunjuk angka 5. Kulirik jam di kamar, jam 12 tepat! Perfect timing, mom!  

Setelah kalimat pertama yang kujawab dengan terima kasih yang singkat, ibuku kembali membuka suaranya. “Ojo lali skripsimu yo nduk. Yen ra rampung-rampung, kapan arep luluse?” dan aku pun terdiam. Mungkin itu hanya pertanyaan yang biasa dan sebenarnya sudah sering beliau tanyakan kepadaku, namun kali ini berbeda. Entah mengapa! Hari ini, malam ini, detik ini, pertanyaan itu terdengar berbeda. Biasanya aku akan menjawab “tunggu aja tanggal maennya” atau “ehm kapan ya ma? Nantilah kalau mama dah bosen nanya.” Tapi kali ini aku hanya bisa menjawab “iya”. Singkat, padat dan sangat pelan. Tenggorokanku tercekat, ada sesuatu yang mencekiknya sehingga aku tak bisa mengeluarkan kata-kata selain “iya”. Hatiku pun tak bisa diajak kompromi. Aku merasa seperti ada ratusan jarum yang menusuk sehingga aku tak bisa bergerak. Mengapa hari ini, pertanyaan semudah itu, pertanyaan yang seharusnya sudah sangat familiar di telinga, pertanyaan yang sebenarnya aku mempunyai 1001 candaan untuk menjawabnya dan pertanyaan yang sangat membosankan itu hanya bisa kujawab dengan sebuah kata pendek dengan suara lirih tanpa keyakinan, tanpa kekuatan dan hanya penuh kehampaan.  Baca entri selengkapnya »