Sadim dan Alienasi Masyarakat Adat

Oleh: Uzair Fauzan (koordinator Tim Kerja Lafadl)

Kompas (24/4) menurunkan berita kematian seorang warga Baduy Dalam yang tak banyak mendapatkan perhatian publik. Warga Baduy Dalam yang bernama Sadim bin Samin itu meninggal pada hari ketiga puluh pengasingannya di Jaro Dangka yang terletak di Kampung Cibengkung, Desa Bojongmenteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Sadim meninggal karena depresi memikirkan hukum adat yang harus dia jalani.

Pada pemberitaannya yang lain, Kompas (23/3) menyebutkan bahwa Sadim terbukti menganiaya dan membunuh majikannya. Karena perbuatannya itu, Sadim menjalani hukuman rangkap. Menurut hukum negara ia harus menjadi pesakitan, dan menurut hukum adat dia harus diasingkan selama 40 hari dan (beserta keluarganya) dikeluarkan dari Baduy Dalam. Dalam persidangannya, terungkap bahwa pembunuhan itu bukan hanya berlatar belakang tuntutan pembayaran upah yang bersifat material. Menurut salah seorang saksi ahli, pembunuhan itu juga dipicu oleh konflik batin Sadim yang dilarang majikannya mengikuti upacara adat Ngasepan Serang, yang mestinya berhukum wajib bagi semua warga Baduy Dalam. Pemberitaan Kompas yang detail dan gamblang itu juga tak melahirkan perbincangan publik yang panjang. Padahal, kedua berita itu merupakan bagian penting dari isu multikulturalisme yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Diskusi Rumah Lafadl Bulan Mei

Tema : Seks dan Kekuasaan
Pembicara : Hatib Abdul Kadir
Waktu : Sabtu 20/5/06, jam 15.30 WIB
Tempat : Rumah Lafadl, Jl Dayu Baru 1A, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Jogjakarta

Lafadl
Jl. Dayu Baru No. 1A Telp (0274) 888726
Jogjakarta
lafadl.atspace.org
lafadl.wordpress.com

Soul, Skill, dan Sikil

Senin, 8 Mei 2006

  Selama enam minggu pada ekspedisi yang lewat aku berada dalam sebuah perkampungan Dayak. Dasaq, demikianlah orang-orang menyebut nama kampung itu. Terletak di kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Propinsi Kalimantan Timur. Seperti lazimnya perkampungan Dayak, maka Dasaq juga terletak di tepi sungai. Tetapi kali ini bukan Sungai Mahakam yang melintas di tepian kampung, tetapi sungai yang lebih kecil, yang merupakan anak Sungai Mahakam: Sungai Kedang Pahu. Baca entri selengkapnya »

Serbuan" Ideologi Pasar
Goyahkan Nilai Luhur Bangsa?
(http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/21/p1.htm)

''Serbuan'' ideologi pasar makin menggoyahkan nilai-nilai kehidupan yang selama ini dianggap merupakan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Ada kecenderungan, ideologi pasar menjadikan orang bersifat konsumtif, mengukur harga diri berdasarkan materi, mendewakan uang serta materi. Karakteristik tersebut, tentu saja dapat menggerus nilai-nilai seperti hemat, menahan diri, tidak jor-joran, tidak pamer kekayaan/kemewahan dan sejumlah sifat-sifat lainnya yang selama ini dianggap luhur oleh bangsa Indonesia. Lantas bagaimana sebaiknya bangsa menyikapi makin melunturkan nilai-nilai luhur bangsa?
Apa yang dilontarkan Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha, M.Si. pada Seminar Nasional ''Menempatkan Kepentingan Nasional dalam Percaturan Global'' betul-betul membuka mata, hati dan telinga.
Dalam seminar yang diselenggarakan Universitas Hindu Indonesia (Unhi) bekerja sama dengan Lemhanas di kampus setempat Selasa (18/4), dia menyebut nilai-nilai luhur Pancasila semakin jarang digaungkan. Seolah-olah sudah lapuk dan ketinggalan zaman. Masih wajarkah kita menyebut diri sebagai seorang nasionalis?
Mengutip pendapat Manfred B. Steger dalam bukunya ''Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar'', Gunadha mengatakan bahwa globalisme adalah ideologi pasar neoliberalisme. Ciri-ciri ideologi ini, meyakini mekanisme pasar berdasarkan konsep-konsep neoliberalisme adalah yang terbaik. Karenanya harus didorong terus untuk diimplementasikan. ''Sebagaimana halnya sebuah ideologi yang membicarakan gagasan, ide-ide berdasarkan cara pandang tertentu, ideologi ini pun berusaha terus memperluas pengaruhnya,'' katanya. Baca entri selengkapnya »

[Re]-Interpreting Javanese Society:
Cultural Determinism and Political Economy

 

By Luthfi Makhasin
(Lutfi Makhasin adalah lulusan Hubungan Internasional UGM, anggota FORUM LAFADL, dosen di UNSOED Purwokerto, sekarang sedang sekolah di ANU Australia)

This essay attempts to review important scholarly works on Javanese society in post-independence Indonesia. Perhaps, there is no more interesting topic than Javanese society for those interested in studying Indonesia. Javanese people form the largest political and cultural entity, so that it is almost impossible to ignore their existence in trying to understand Indonesia as a whole. For years, the topic ‘Javanese society’ has attracted many scholarly studies and continuous debates as well. However, these result in more disagreements rather than consensus among scholars in understanding appropriately Javanese society. Disagreement derives from distinct theoretical approaches adopted by scholars, different places where scholars conduct their research and particular time frames in which scholars conduct their research and develop their arguments. Over decades, debates among scholars on Javanese questions are mainly concerned with how to understand properly the socio-economic changes that have occurred in Javanese society. Indonesianists produced and continuously reproduce scholarly works on Javanese society based on two major approaches, the cultural and the structural. Debates along these two distinct theoretical lines create one of the most attractive and fascinating intellectual circumstances on the subject matter of Indonesian studies. The cultural approach deals with Javanese society by examining its own embedded characteristics such as norms, values and kinship system, language, cosmology and religion. On the other hand, the structural approach emphasizes capital penetration brought about by colonialism and the state and its influence in shaping power relations among different social classes. While the cultural approach is particularly influenced by Parson’s structural-functionalism tradition and Weber’s disenchantment of the world”, the structural approach is inspired by neo-classical economists and the Marxist tradition.
This essay will divide into three parts. First, I will deal with scholarly works in the cultural school and demonstrate its significance and weaknesses in addressing Javanese questions. Then, I will reveal major debates in the structural approach and the differences between it and the cultural school. Finally, I will end this essay by showing the main weaknesses of both theoretical approaches in dealing with contemporary Javanese questions and attempt to propose a further research agenda for Javanese society. Baca entri selengkapnya »