Cerita Dari Tepi Mahakam

Sabtu, 18 Maret 2006

Menulis catatan perjalanan rasanya sama dengan proses membual di kedai kopi. Kadang ada bagian yang, baik secara sengaja maupun tidak, ditambahi dan disimpan oleh sang ‘pembual’. Entah itu demi kemenerusan cerita, maupun karena suatu pengetahuan awal yang sudah dimiliki oleh sang pencerita. Karenanya, dengan rendah hati, penulis memohon kepada pembaca, kiranya tulisan ini janganlah dijadikan sebagai bahan baku bagi kepentingan akademik, karena jelas itu tidak pada tempatnya, apalagi sebagai scripta yang mesti diimani secara saklak, itu jelas kesalahan besar. Seperti bualan di kedai kopi, kadangkala didengar karena merasa sungkan untuk meninggalkan si kawan yang sedang membual, atau kadangkala didengar karena memang tertarik dengan sesuatu yang dibualkan, atau kadangkala didengarkan karena tak ada pekerjaan lain, alias hanya mengisi waktu.

Dengan prakondisi yang begitu, barulah pekerjaan ini laik dimulai. Dan lazimnya para pembual, cerita yang sama bisa jadi diulang-ulang di dalam pelbagai kesempatan. Karenanya, apabila di antara pembaca yang budiman secara sayup-sayup pernah mendengarkan versi lain cerita ini entah dimana dan entah kapan, hendaknya berpeganglah kepada fakta tertulis, karena, mengikuti ujaran salah seorang penulis besar: “jangan pernah mempercayai apapun dari seorang penulis, kecuali tulisannya.” Kira-kira begitulah. Baca entri selengkapnya »

11-12 Maret 2006

Kurang dari seminggu sebelum acara, Asih (ketua PMII Cabang Sleman) meminta bantuan kita untuk memfasilitasi pertemuan evaluasi setengah tahun kepengurusan mereka. Menimbang latar belakang keterkaitan sejarah dan manfaat balik dari pertemuan ini, kami langsung menyanggupi permintaan itu. Lewat fasilitasi itu, kami berpikir akan bisa mempraktikkan sendiri materi-materi fasilitasi dan metode pemetaan masalah yang sudah pernah kami dapatkan sebelumnya. Khusus untuk materi-materi tersebut kami berterima kasih kepada KAIL (Mbak Any dan Hung) dan Inspirit. 

Tiga hari sebelum acara, kita mendiskusikan secara lebih rinci soal kondisi pengurus dan persoalan yang dihadapi. Informasi seputar jumlah pengurus, karakter, derajat keaktifan mereka dalam kepengurusan serta persoalan kelembagaan lainnya kami butuhkan untuk membantu perencanaan. Dengan bekal beberapa informasi dasar tersebut, kami lantas perencanaan acara. Melihat terbatasnya waktu yang dialokasikan untuk pertemuan ini (kurang dari 2 hari), kami memutuskan untuk hanya akan memfokuskan fasilitasi pada tujuan perbaikan kinerja internal pengurus PMII Cabang Sleman. Dengan tujuan tersebut, kami mendasarkan perencanaan sesi fasilitasi sebagai berikut:
 

1. Pendahuluan
a. Perkenalan
Perkenalan yang dimaksud disini lebih dari sekadar mengetahui nama dan hobi sesama pengurus, tetapi juga upaya mengenali karakter pribadi dan membuka seluas mungkin cakrawala kedirian. Kita memanfaatkan permainan musical hand shake (memutar musik sambil bersalaman) untuk sesi awal ini. Dengan iringan musik campursari, peserta kami minta bergantian bersalaman. Pada saat-saat tertentu, musik kami pause dan dalam masa jeda musik tersebut kami minta peserta saling menanyakan 5 hal; hobi, karakter, kelemahan, keunggulan, dan ukuran celana dalam masing-masing. Di permainan ini tampak sekali bahwa pada pertanyaan pertama peserta tidak mengalami masalah dalam menjawab karena pertanyaan tentang hobi bersifat “netral” dan “umum”. Tetapi menginjak pertanyaan kedua ttg karakter, sebagian peserta mulai kebingungan mengenali dirinya sendiri. Dan ini berlanjut hingga pertanyaan keempat. Pada pertanyaan kelima, sebagian besar peserta secara tegas tidak mau memberikan jawaban karena merasa nomer celana dalam bukanlah “konsumsi publik”. Dari sini kami mulai mengajak peserta berefleksi bahwa ternyata mereka masih harus mengenali dirinya sendiri dan membuka sekat-sekat konstruksi sosial. Kemampuan ini sangat penting bagi aktivis perubahan sosial. 

b. Mengidentifikasi Ekspektasi Peserta atas Hasil Akhir Pertemuan
Kami meminta masing-masing peserta menulis di metaplan harapan dan kekhawatiran mereka atas forum evaluasi. (jawaban mereka penting diperoleh untuk mengukur sejauhmana forum dan fasilitasi kita mencapai keberhasilan) 

c. Mengidentifikasi perkembangan kerja Pengurus PMII Cabang
Dengan bantuan metaplan lagi, kita minta peserta untuk menuliskan 3 hal: bayangan cita-cita ketika bergabung menjadi pengurus, kondisi kepengurusan sekarang, dan masalah terbesar yang dihadapi pengurus. Di sesi ini kami ingin melihat apakah sesama pengurus memiliki visi dan misi personal yang berbeda (yang kemudian perlu diakomodasi bersama) dan melihat perspektif mereka tentang persoalan utama di tingkat pengurus cabang.

d. Kerjasama Kelompok
Setelah kita mengetahui visi dan misi personal semua peserta, sesi berikutnya kami manfaatkan untuk menjelaskan tahap-tahap pembentukan kelompok. Penjelasan ini penting untuk mengenali sampai tahap mana sebenarnya sebuah kelompok (dalam hal ini pengurus Cabang) berfungsi, dan hal apa yang perlu dirumuskan agar kelompok berfungsi lebih maksimal. Kami menggunakan permainan knots of the people untuk menjelaskan tahap-tahap pembentukan kelompok tersebut. Setelah mengajak mereka berefleksi tentang manfaat game, kami menjelaskan ada 7 tahap perkembangan kelompok: forming, informing, storming, norming, performing, mourning, dan transforming. Dengan masing-masing ciri tahapan itu, kami meminta mereka menjelaskan di posisi mana kepengurusan PMII Cabang sekarang. Sebagian besar peserta berpendapat bahwa sekarang pengurus baru berada pada tahap storming (hanya satu yang menjawab norming). Berangkat dari kesimpulan peserta tentang tahapan kelompok mereka, sesi berikutnya kami gunakan untuk membentuk norma yang dibutuhkan agar pengurus cabang bergerak memasuki tahap performing.

2. Evaluasi Enam bulan Kepengurusan
Pada tahap ini,ada beberapa tujuan yang hendak dikejar: (1) membangun kembali komitmen kepengurusan untuk bekerja selama sisa masa kepengurusan (untuk membangun norma bersama lagi), (2) mengidentifikasi masalah kelembagaan selama enam bulan yang telah lewat, (3) membangun kembali visi dan misi bersama, (4) memodifikasi target kerja masing-masing departemen yang lebih realistis untuk sisa masa kepengurusan. 

Dari diskusi peserta, tampak sekali bahwa visi dan misi kepengurusan belum jelas. Program kerja yang dirumuskan di awal kepengurusan lebih sebagai keinginan masing-masing staf departemen, tanpa ada satu ide besar yang mengaitkan semua tujuan departemen itu. Parahnya, tujuan masing-masing departemen itu tidak didasarkan pada analisis persoalan dan pengenalan struktur PMII Cabang. Di akhir sesi, kita mencoba memodifikasi target masing-masing departemen dengan bekal analisis yang lebih tajam tentang struktur PMII cabang. 

3. Pemetaan Masalah
Setelah diperoleh persoalan di tingkat pengurus cabang, sesi keesokan harinya dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan masalah di tingkat departemen. Sesi ini memakan waktu hingga menjelang tengah malam. (Namun, beberapa orang pengurus tampak tidak memiliki keinginan yang kuat untuk mengidentifikasi masalah secara terperinci. Kemalasan dan keengganan berpikir total ini mengakibatkan pemetaan masalah tidak berjalan optimal di beberapa orang, terutama di departemen aksi dan jaringan). Sesi pemetaan masalah yang dilanjutkan hingga penentuan langkah pemecahannya itu berlangsung hingga menjelang tengah malam. 

4. Evaluasi Fasilitasi
Di akhir acara, kami meminta peserta untuk menilai materi dan “jasa” fasilitasi yang kami berikan. Dari 13 peserta, lima diantaranya menilai sangat berguna (termasuk salah seorang peserta yang kami anggap sangat potensial) dan sisanya menjawab berguna. Tidak ada satupun yang menjawab biasa saja, atau bahkan tidak berguna (kami meminta mereka memasang potongan kertas yang kami berikan pada empat kategori tersebut). Salah satu seorang peserta memberi masukan pada kita untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal.

Uzair Fauzan

Tabir Politik Globalisasi

Sabtu, 18 Maret 2006

Dewasa ini wacana globalisasi mendapat porsi besar dalam perbincangan pulik. Namun, porsi besar itu cenderung didominasi oleh wacana yang bersifat neoliberal dan lebih banyak mengafirmasi perkembangan politik mutakhir. Bisa dibilang tidak banyak kajian yang bersifat kritis terhadap wacana globalisasi. Terlebih yang membahas kemunculan gerakan antiglobalisasi yang justru lahir di negara-negara pelopor globalisasi.

Buku karya Wiliam K. Tabb ini merupakan salah satu dari sedikit kajian yang bersifat kritis terhadap globalisasi. Penerbitan edisi Indonesia dari Amoral Elephant: Globalization and the Struggle for Social Justice in Twenty-First Century ini diharapkan bisa menguatkan kesadaran publik tentang dampak negatif dari perkembangan ekonomi politik global dewasa ini.

Heru

Realino, 5 Maret 2006
Jam 10.30-13.15
Tema diskusi secara umum adalah demokratisasi dan gerakan kebudayaan. Selain Gayatri Spivak, ada dua orang pembicara lainnya, yaitu Kuan Hsing-Chen dari National Tsing Hua Taiwan dan Hilmar Farid dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).Tema diskusi secara umum adalah demokratisasi dan gerakan kebudayaan. Selain Gayatri Spivak, ada dua orang pembicara lainnya, yaitu Kuan Hsing-Chen dari National Tsing Hua Taiwan dan Hilmar Farid dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).Kesempatan pertama yang diberikan kepada Spivak dimanfaatkan olehnya untuk mengangkat beberapa tema sentral seputar hak memilih, esensi demokrasi, global civil society dan peranan gerakan kebudayaan. Dengan mengambil contoh pemilu di Algeria, Spivak mengatakan bahwa pemilihan umum bukanlah parameter sejati untuk menakar demokrasi. Berdasarkan pengalaman pribadinya, banyak para pemilih awam yang tidak mengerti hakikat dari hak pilih yang mereka miliki. Disinilah menurutnya terjadi kesenjangan besar antara elit dan rakyat awam yang membuktikan demokrasi tidak benar-benar bekerja. "Kita tidak bisa beranggapan bahwa orang lain senantiasa mengerti apa yang kita harapkan mereka untuk mengerti," begitu kira-kira kata Spivak. Menurutnya, dalam konteks seperti ini, pemilu hanya menghasilkan power block yang memungkinkan mereka yang duduk di kursi kekuasaan terpilih secara otomatis (self-elected). Kondisi seperti ini diperparah oleh keengganan aktor-aktor gerakan perubahan untuk bergerak dari tuntutan freedom from (fear etc yang lebih berorientasi diri) menuju freedom to (speak etc yang lebih berorientasi/menghargai orang lain). Jika ini yang terjadi, sesungguhnya sistem demokrasi telah gagal menjalankan fungsinya. Karena, menurut Spivak, demokrasi yang sejati adalah demokrasi yang memberi ruang kepada semua (tak satu orangpun boleh dilewatkan).

Di tengah situasi kesenjangan yang semakin akut akibat globalisasi ekonomi mutakhir, tugas para aktor perubahan adalah mengikutsertakan sebanyak mungkin mereka yang ada di strata sosial terbawah untuk ikut dalam proses-proses demokrasi. Menurut Spivak, satu cara yang paling riil bisa dilakukan ke arah itu adalah dengan mentransfer semua bentuk pengetahuan ke dalam bahasa lokal yang bisa dimengerti oleh kelompok sosial yang terpinggirkan. Alih-alih memberikan sumbangan riil pada gerakan pemberdayaan subaltern, global civil society justru cenderung memperbesar jarak antara elit dan rakyat karena sifat eksklusivitasnya. Meski tetap mengakui manfaat positif dari lingkungan bahasa internasional yang sudah dienyamnya, Spivak berpandangan bahwa bahasa (Inggris) merupakan barrier terbesar bagi kelompok subaltern untuk turut berpartisipasi dalam proses demokrasi. Subaltern itu sendiri didefinisikan oleh Spivak sebagai kelompok yang terputus secara total dari mobilitas sosial. Mereka yang menjadi bagian dari kampanye globalisasi bahasa Inggris, menurut Spivak, justru turut memperparah situasi kelompok-kelompok marginal. Lebih dari sekedar pengantar komunikasi, bahasa bagi Spivak berperan signifikan karena semua memori kolektif kita tersimpan dalam bahasa. Sehingga tidak mengherankan apabila Gayatri berkali-kali menggarisbawahi pentingnya menggunakan bahasa lokal untuk mendorong terjadinya perubahan. Meski mengakui pentingnya bergerak dalam sistem (kekuasaan), namun Spivak secara eksplisit menunjukkan preferensinya untuk bergerak di tingkat yang sangat lokal, antara lain lewat promosi penggunaan bahasa lokal yang mudah diakses oleh kelompok-kelompok subaltern. Di bagian akhir ceramahnya, Spivak menyatakan keyakinannya bahwa perubahan yang lebih tahan lama hanya bisa dilakukan di wilayah yang sangat lokal dan dalam skala kecil.

Khusus menyoal tentang globalisasi ekonomi, tak ubahnya seperti para pengamat ekonomi politik Marxis lainnya, Spivak menyatakan perlunya "reinventing the state" untuk memulihkan kekuasaan dan tanggung jawab negara atas rakyatnya. Baginya, kesalahan terbesar dari globalisasi perdagangan mutakhir adalah karena ia meruntuhkan pondasi welfare state di negara-negara maju dan development state di negara-negara berkembang. Situasi ekonomi politik dunia menjadi kian tidak menentu karena, menurut Spivak, kekuasaan tidak lagi ada pada negara.

Menyambung ide Spivak soal pelanggengan sistem dominasi internasional (diantaranya lewat bahasa), Kuan Hsing-Chen juga menyatakan bahwa kekuatan terbesar negara-negara Barat diantaranya terletak pada penguasaan media yang punya jalur distribusi dengan jangkauan dunia. Perusahaan penerbitan seperti Routledge atau Taylor and Francis memudahkan Barat "mendesakkan" gagasan mereka ke seluruh dunia. Menurutnya, salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk membendung gurita kekuasaan pengetahun Barat itu adalah lewat penciptaan jaringan gerakan kebudayaan Asia (baca: dunia non-Barat) dan balik mengekspor gagasan-gagasan kelompok non-Barat ini lewat terjemahan-terjemahan dalam bahasa Inggris.

Hilmar Farid sendiri dalam forum ini tak cukup memberikan umpan-umpan yang bagus kepada audiens atau dua pembicara lainnya. Dalam kesempatan berbicaranya, Hilmar lebih banyak menyoal tentang gerakan kebudayaan di negeri ini yang menurutnya tak bisa dilepaskan dari semangat pertarungan berebut kue kekuasaan (dia menyebut sejarah gerakan kebudayaan Indonesia baru seumur Orde Baru). Satu-satunya umpan yang bagus dari Hilmar Farid adalah gugatan kepada Spivak untuk menelorkan teori-teori yang mendedahkan celah kelemahan (vulnerability) sistem yang dominan (yang kemudian dijawab Spivak dengan jawaban yang standar: "saya sedang berusaha ke arah sana").

Secara umum, gaya orasi Spivak memang lumayan memukau. Namun, menurut penilaianku, her speech was not as good as I expected. Mungkin karena dalam diskusi ini dia tampaknya lebih banyak berbicara tentang wilayah demokrasi secara umum (yang kupikir bukan merupakan wilayah spesialisasinya).

Uzair Fauzan

Berbeda dengan jaman pra-modern ketika hampir tidak ada garis pemisah antara gila dan kebijaksanaan, di mata manusia modern gila adalah salah satu momok terbesar. Di jaman ini, menjadi gila berarti menjadi orang yang tersingkir karena dianggap tidak mampu memenuhi standar rasio umum atau dianggap tidak mampu berbicara bahasa akal sehat. Karena dianggap tidak mampu berbicara dengan bahasa akal yang objektif, si pengidap gila pantas dimasukkan program penyembuhan di bawah pengawasan ilmu jiwa yang diyakini memenuhi standar pengetahuan objektif tertinggi. Alih-alih menunaikan aksi pembebasan (act of liberation) pada si gila, ilmu pengobatan modern tersebut justru kemudian bertransformasi menjadi alat kekuasaan dan penaklukan atas individu si gila.

Tema Foucauldian itulah yang diangkat oleh Paul Sayer dalam novelnya yang berjudul The Comfort of Madness. Dalam novel yang akan diterbitkan oleh Lafadl dalam bahasa Indonesia pada bulan Januari 2005 ini, Sayer bercerita melalui narasi seorang gila yang mengisahkan bagaimana dunia sekelilingnya memperlakukan dirinya, bagaimana ia didisiplinkan, diatur, diawasi, dan dilabeli oleh masyarakat. Dengan kata lain, novel ini berisi tentang bagaimana dunia dilihat dari kacamata orang yang dianggap gila, tidak waras, dan abnormal. Orang yang oleh para staf One World— nama rumah sakit jiwa tempat ia menjalani “pengobatan”—dipanggil dengan nama Peter ini (meskipun ia sendiri meragukan bahwa dirinya bernama Peter) dicap gila karena ia berhenti berinteraksi dengan dunia di luar dirinya. Dalam monolognya, Peter menyatakan bahwa ia memilih untuk tidak merespon apapun yang menghampirinya meskipun sebenarnya ia bisa melakukannya. Dalam kacamata ilmu jiwa modern, pilihan cara hidup Peter ini sudah cukup untuk membawa dirinya ke mental institution yang mengklaim bisa memulihkannya menjadi orang “normal” lagi.

Pada satu sisi, Comfort of Madness ini bercerita tentang institusi tempat ia dirawat (One World), sistem kesehatan mental, dan model-model pembakuan akal yang diterapkannya. Dalam menyembuhkan pasien-pasiennya, One World menggunakan metode persis seperti yang dilakukan oleh York Retreat, sebuah lembaga pengobatan jiwa yang pernah diteliti oleh Foucault. Kedua lembaga itu sama-sama mengklaim menguasai pengetahuan dengan tanpa mengindahkan refleksi diri, suatu hal yang disyaratkan untuk mencapai kategori objektivitas. Sebagai landasan objektivitasnya, mereka menggunakan taktik pengawasan (surveillance) dan pelabelan (judgement). Mereka mendudukkan pasien-pasien mereka di bawah observasi dan evaluasi dengan menggunakan standar penilaian tingkah laku yang baku dan kaku. Di sisi lain, novel ini bercerita tentang bagaimana rasanya melihat dan mengalami dunia dari perspektif Peter, dari sudut kegilaan. Novel ini mengingatkan kita tentang keberadaan perspektif “lain”, yaitu perspektif pribadi diri kita sendiri, yang turut membingkai pemahaman kita tentang dunia. Dus, kita diingatkan untuk menyadari bahwa pada dasarnya segala proses yang terjadi bersifat subjektif.

Lewat penceritaannya, novel ini telah mempraktikkan saran Foucault untuk mengungkap limit dan melakukan transgresi (pembangkangan) terhadap pertentangan biner yang diciptakan oleh modernitas seperti “same” dan “other”; “waras” dan “gila”, “normal” dan “abnormal”, atau “civilized” dan “uncivilized”. Penggunaan kedua cara itu bisa menguak metode kekuasaan yang digunakan untuk memapankan satu kategori dan menindas dan kategori lainnya. Dengan bekal pengalaman sebagai mantan perawat di sebuah rumah sakit jiwa, Paul Sayer mampu menceritakan secara apik tragedi kemanusiaan di ruang pengobatan jiwa. Membaca novel ini akan semakin mempertajam imajinasi kita untuk lebih bisa memahami pemikiran-pemikiran Michel Foucault. Dan penghargaan prestisius Whitbread Book of The year Award tahun 1988 yang pernah diperoleh oleh novel ini (baik sebagai novel debutan terbaik maupun penggondol grand prize) membuktikan bahwa novel ini adalah karya yang sangat layak untuk dibaca.

Uzair Fauzan

Globalisasi sering diartikan sebagai penyusutan ruang dan waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mencerminkan peningkatan interkoneksi dan interdependensi sosial, politik, ekonomi, dan kultural dalam skala global. Namun tidak semua orang merasakan globalisasi dengan cara yang sama. Orang-orang yang hidup di berbagai belahan dunia dipengaruhi oleh transformasi besar struktur sosial dan zona kultural dengan sangat beragam. Globalisasi tampaknya melahirkan peluang dan kekayaan yang sangat luar biasa bagi sedikit orang tertentu, sembari menjerumuskan banyak orang ke dalam kemiskinan dan kesengsaraan yang memilukan.

Dan kita mesti ingat bahwa globalisasi merupakan proses awal, yang secara perlahan memunculkan kondisi globalitas baru yang kualitas dan hasil akhirnya belum bisa dipastikan. Namun yang jelas, berdasarkan pengalaman masa lalu, periode transformasi sosial yang cepat ini telah mengancam dan melemahkan batas-batas lama, serta merusak tradisi-tradisi yang telah mapan. Seperti Dewa Siwa, globalisasi bukan hanya menjadi perusak, tetapi juga menjadi pencipta berbagai gagasan, nilai, identitas, praktik, dan perubahan.

Interpretasi publik mengenai asal-usul, arah, dan makna perubahan besar yang disebut dengan “globalisasi” ini cenderung berkiblat pada kekuatan-kekuatan sosial dalam ideologi globalisme. Para pendukung globalisasi secara serempak memelintir realitas sosial, melegitimasi dan mengedepankan kepentingan kekuasaan mereka hingga membentuk identitas kolektif dan personal. Hal ini dilakukan dengan menyodorkan agenda pembicaraan, berbagai pertanyaan, dan pernyataan-pernyataan kepada publik.

Apa sebenarnya globalisme itu? Apa pernyataan-pernyataan utamanya? Bagaimana ia bekerja? Apakah ia ditentang oleh sistem ide lainnya? Inilah pertanyaan-pertanyaan penting yang ingin dijawab buku ini. Maksud utama dari buku ini bukanlah untuk mencela globalisasi, melainkan untuk memberikan analisis dan kritik tajam pada globalisme. Proyek kritik semacam ini akan mendorong para pembaca untuk mengenali kontradiksi internal dan berbagai bias dalam wacana para pendukung globalisasi.

Fokus buku ini pada dimensi gagasan dan normatif globalisasi adalah sangat penting karena berbagai alasan. Pertama, kebanyakan buku mengenai globalisasi cenderung berkonsentrasi pada aspek ekonominya. Memang, aspek ekonomi sangat penting, namun penting pula untuk mengeksplorasi peranan ide-ide dalam proses tersebut. Buku-buku konvensional mengenai globalisasi seringkali hanya mengambil salah satu aspek dari diseminasi global, seperti perdagangan atau investasi, dan berbicara tentang bagaimana proses material tersebut mengakibatkan berbagai perubahan di banyak tempat. Buku ini ingin mengatakan bahwa globalisasi juga merupakan praktik ideologis dan linguistik. Globalisasi juga merupakan kisah bujuk rayu. Karena itu, analisis buku ini menggunakan pendekatan yang tidak konvensional, yakni analisis wacana yang secara kritis mengamati narasi neoliberal tentang globalisasi.

Kedua, perhatian pada dinamika ideologis globalisme di wilayah publik bisa untuk mengeskplorasi secara lebih mendetail strategi diskursif kekuatan-kekuatan neoliberal ketika mereka berusaha memanfaatkan konsep globalisasi demi kepentingan mereka sendiri. Suatu “analisis wacana kritis” untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang kompleksitas dinamika ideologis di balik meluasnya globalisme. Tujuan buku ini adalah untuk mengungkapkan dengan jelas, dengan contoh sebanyak mungkin, bagaimana berbagai klaim dan asumsi globalisme itu melegitimasi, menguatkan, dan mempertahankan agenda politik tertentu.

Dengan menempatkan diri dalam bagian tradisi teori kritis, buku ini berupaya memberikan pemahaman mengenai bagaimana pandangan dominan tentang globalisasi mengkonstruksi realitas, serta menunjukkan bahwa gagasan-gagasan tersebut dapat diubah demi melahirkan tatanan yang lebih egalitarian dan kosmopolit. Pendeknya, buku ini adalah sebuah upaya untuk memahami bagaimana kekuatan-kekuatan global menciptakan tatanan pasar yang totaliter di abad kedua puluh satu.

Lafadl berharap buku yang akan terbit bulan Januari 2005 ini akan bermanfaat bagi para pemerhati globalisasi dan juga khalayak pembaca secara luas. Penerbitan buku ini ke dalam bahasa indonesia diharapkan akan semakin mempertajam perspektif kita dalam memahami fenomena globalisasi. Sehingga pada gilirannya akan membantu sekaligus mendorong proses gerakan menentang kekuatan-kekuatan global yang menindas tersebut. (Heru Prasetia—Lafadl)

“Tak perlu diragukan lagi, ini adalah buku terbaik mengenai teori dan praktik globalisme pasar…Sebuah buku yang sama-sama bernilainya bagi pemerhati globalisasi dan bagi mereka yang terlibat dalam praktik globalisasi itu sendiri—baik di kelas, di ruang-ruang pertemuan, maupun di jalanan”
–Benjamin Barber, dosen Civil Society di University of Maryland dan penulis buku Jihad Vs McWorld.

Heru Prasetia