Oleh: Luthfi Makhasin
Anggota Forum Lafadl, Faculty of Asian Studies (Southeast Asian Studies)
The Australian National University
Canberra-ACT, Australia

Menjelaskan sejarah sosial sebuah kota kecil dengan segala dinamika sosialnya selama rentang waktu  kurang lebih 175 tahun bukanlah pekerjaan yang ringan, jika bukan malah sebuah kemustahilan. Referensi dan data tentu saja adalah persoalan berat yang harus dipecahkan untuk bisa memberikan analisa komprehensif tentangnya. Di sisi lain, pilihan metode etnografis juga membawa persoalan sendiri karena keasyikan memberikan “thick description” seringkali melenakan keperluan untuk berjaga dan memberikan analisis kritis terhadap objek pengamatan.

Studi ini adalah sebuah ikhtiar untuk memberikan penjelasan tentang kaitan erat antara institusi dan pandangan keagamaan dalam turut membentuk perubahan sosial ekonomi masyarakat. Dengan mengambil kasus gerakan tarekat, studi ini ingin membangun argumen bahwa agama bukan hanya merupakan ekspresi kesolehan personal tapi juga mencerminkan prestis cultural, status sosial dan pembedaan berbasis kelas dari para penganutnya. Disamping itu, agama membentuk kesadaran, kontruksi kognitif, dan juga sumber referensi tindakan individual dan kolektif dalam berhubungan dengan dunia material dan sosial.

           

Geertz dan Tesis Modjokuto Revisited: Sebuah Penafsiran (yang lain)

Upaya untuk memberikan penjelasan tentang kaitan erat antara spiritualitas dengan perkembangan dunia material adalah satu bidang yang bisa dikatakan sudah usang, tapi dengan relevansi yang sebenarnya bisa terus-menerus terbarui. Komodifikasi sosial yang dibawa oleh pasar ternyata  tidak mengurangi peran agama dalam masyarakat, jika bukan malah memperkuatnya.

Karya monumental Weber dalam The Protestant Ethic berangkat dari tesis tentang peran ide dalam turut membentuk perubahan sosial dan dinamika material. Karya lanjutnya dalam sosiologi agama memperkuat tesis dasarnya bahwa hanya reformasi protestanlah yang mampu menciptakan asketisme duniawi sebagai conditio sin qua non bagi berkembangnya rasionalitas instrumental ekonomi pasar kapitalistik. Berbeda dengan Protestanisme, karya perbandingannya tentang Islam dipenuhi oleh sikap skeptiknya tentang kemampuan Islam untuk menumbuhkan rasionalitas instrumental dan orientasi keduniawian bagi para pengikutnya. Menurutnya, Islam yang dipenuhi ajaran sufistik dan orientasi petualangan para warrior penyebar Islam mencegahnya untuk menumbuhkan asketisme duniawi sebagaimana yang terjadi di Kristen. Baca entri selengkapnya »

Iklan

A Small Place

Jumat, 15 September 2006

Sepotong “Ruang” Di Tugu Kujang

Minggu, 10 September 2006

 

Oleh: Anggit Saranta:  Bengkel AO

“Saya tidak menyangka…ternyata kegelisahan kita ini sama”. Ini adalah sepenggal kalimat yang berhasil saya kutip dalam sebuah diskusi ringan di Saung Tegal Gundil. Sebuah tempat dimana saya biasa menghabiskan malam panjang akhir-akhir ini. Obrolan itu sebenarnya tidak terjadi begitui saja. Ternyata obrolan itu memang sudah menjadi agenda rutin beberapa teman untuk membicarakan seni dan kesenian di Bogor. Dan saya sendiri sebagai kapasitas pribadi baru bergabung di pertemuan keempat. Namun yang memicu perhatian saya dalam obrolan tersebut adalah obyek bahasan dan juga pribadi atau personel yang datang. Mereka cukup plural dan heterogen. Dalam pertemuan itu saya mengenal sosok emen seorang gitaris band indie yang cukup peka dengan masalah sosial, Kibaryesa seorang karyawan kantor pajak yang dekat dengan dunia minoritas. Kemudian ada Heru seorang pengamen bus jalur Bogor-UKI pp yang cukup idealis menyebut aksinya sebagai perang dan tugas negara. Ada juga sosok Bewok, seorang pengembara yang pernah aktif di sanggar-sanggar teater, penduduk TIM cikini jakarta, dan kini mendiami kawasan terminal Baranang siang untuk meneruskan prosesnya. Ada juga temen-temen teater kampus, dan kawan intelektual dari tegal gundil serta temen-temen kalam sendiri. Sebuah diskusi panjang yang sudah lama saya rindukan. Diskusi itu sebenarnya tak ubahnya dengan sharing masing-masing peserta, curhat seni ataupun curhat tentang situasi Bogor yang berkaitan dengan ekspresi seni tentunya. Sebagai orang baru saya lebih banyak mendengar curhatan-curhatan itu. Dari soal miskinnya karya yang tampil di Bogor hingga soal ruang publik yang belum termanfaatkan. Setelah melalui eksplore wacana masing peserta akhirnya kami yang berkumpul malam itu sepakat melakukan sesuatu. Masing-masing turut ambil peran dalam upaya perwujudan tersebut. Saat itu digagaslah sebuah aksi seni yang akan melibatkan beberapa komunitas seni & kreatif yang ada di bogor. “Bogor yeuh” , demikian kami menamakan judul acara tersebut. Targetnya kami akan melakukan performance 16 Agustus malam. Saat itu saya kebagian peran untuk merangkai acara itu. Yah akhirnya sebuah harapan timbul, akan ada kerja kreatif yang saya lakukan, kali ini saya tidak sendirian lagi. Baca entri selengkapnya »

Mentalitas di Stasiun

Minggu, 10 September 2006

 

Oleh: (Anggit Saranta : Bengkel AO, peserta Bengkel Kerja Budaya)

Entah mimpi apa yang dialami salah satu rekan saya di Bengkel AO, sebut saja Okta. Ini adalah nama sebenarnya. Hari itu minggu 6 Agustus 2006 jam 12 siang. Sebuah kejadian atau peristiwa yang akan dia ingat sebagai sejarah hidupnya. Boleh dikatakan di stasiun Bogor (lokasi peristiwa) dia memiliki kenangan yang tak terlupakan.

Kisahnya berawal dari pesan singkat (sms) yang saya kirim ke Handphone-nya. Dalam sms itu saya menghendaki dia untuk datang ke Bogor guna melaksanakan rencana-rencana yang sudah kami susun bersama sebelumnnya. Rencananya kami akan membersihkan/ beres-beres lokasi yang akan kami jadikan tempat usaha Dalam balasan sms-nya dia menyebutkan akan segera kesana (menuju Bogor) dari Depok dengan KRL. Posisi saya ketika menerima pesan tersebut ada di taman kencana, sebuah taman dekat kebun raya sebelah lapangan sempur. Saat itu saya sedang melakukan rapat dengan beberapa teman seniman untuk menggagas agenda budaya 17 Agustus nanti. Dari taman kencana rapat pindah ke Jl Bangbarung raya Tegal Gundil. Lokasi ini lebih jauh untuk akses menuju stasiun Bogor.

Sekitar dua tiga jam kemudian, ditengah-tengah rapat yang membahas schedule Okta menghubungi saya, mengabarkan bahwa ia sudah berada di Stasiun Bogor dan menyuruh saya langsung pulang ke rumah saja. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan (rapat masih berlangsung) saya menyuruhnya untuk tetap menunggu saja di stasiun sampai saya menjemputnya. Dan ketika rapat selesai sayapun menghubunginya untuk menuju taman topi agar saya mudah menjemputnya , tidak perlu masuk ke stasiun. Dari sinilah pengalaman berkesan itu dimulai.

Usai menerima telpon dari saya, Okta bergegas bangkit menuju pintu keluar. Sesaat langkahnya terhenti karena masuknya KRL Expres Pakuan di jalur 1. Dia terpaksa menunggu naik turunnya penumpang Pakuan. Sesudahnya bersama penumpang Pakuan lainnya Okta bergerak menuju pintu keluar. Dilihatnya antrian panjang penumpang yang hendak keluar. Dengan sabar dia ikut antri, tidak tampak kegelisahan dalam benaknya. Di sela-sela antrian dilihatnya petugas loket yang menarik kembali karcis kereta di pintu keluar. Tanpa ragu Okta menyiapkan karcis ekonomi yang dimilikinya. Tidak ada firasat atau curiga apapun diserahkannya karcis tersebut. Namun usai menyerahkan karcis, bukan kelegaan yang didapatkannya, tetapi sebuah cengkeraman kuat petugas diselingi pandangan penuh selidik. Sudah pasti Okta cukup terkejut dengan perlakuan ini. Dalam pikirannya tidak ada yang salah dengan dirinya. Dari Depok lama dia membeli karcis tujuan Bogor seharga Rp 1500 dengan tanggal hari itu. Karcis yang sama yang kini dipegang petugas tadi. Kemudian Okta digiring ke tempat sempit yang ada dibelakang loket karcis. Karena merasa tidak bersalah Okta protes.

Kamu naik Pakuan gak pake karcis ya..?”. Tanya Petugas yang menginterogasinya. Okta kaget dengan tuduhan itu. Merasa tidak naik Pakuan dia memberikan pembelaan. Dijelaskannya kalau dirinya sebenarnya naik ekonomi dari Depok lama. Dia sudah tiba sejak 2 jam sebelumnya. Ikut dijelaskannya pula bahwa dirinya harus menungggu dulu di dalam stasiun sembari menunggu jemputan. Tapi petugas tersebut tidak percaya dan mengharuskan Okta membayar denda. Baca entri selengkapnya »

Oleh: Slamet Thohari
Orang Difabel, Anggota Forum Lafadl, Alumnus Filsafat UGM.

Ungkapan Ibnu Khaldun, “Peradaban bergerak menyesuaikan diri dengan tabiatnya,” telah menemukan wujud yang paling “telanjang” dalam perjalanan peradaban manusia (Khaldun, 2000: vii). Ilmu pengetahuan yang merupakan instrumen sekaligus kebutuhan paling vital bagi manusia bergerak mengikuti zaman. Ilmu pengetahuan merupakan, “Muntaj at-Saqofah” (produk peradaban) sekaligus “Muntij at-Saqofah” (produsen peradaban). Keberadaanya berkembang fleksibel: dari zaman “gelap” bermuara ke zaman “terang”, dari zaman tradisional menggelinding ke zaman modern, dan seterusnya, hingga tak terhingga.

Pola kehidupan manusia yang beragam menjadikan beragam pula bentuk dan pola ilmu pengetahuan. Dalam berbagai dimensi, selalu saja termuat unsur-unsur yang baru sebagai bentuk dan pola dalam menangkap realitas dan permasalahan sosial yang memang selalu saja datang hal-hal baru pula. Sebagaimana dewasa ini, berbagai ubo rampe permasalahan bangsa yang mencakup mencakup kemelut ekonomi, hubungan agama dan negara, korupsi, kolusi nepotisme, subordinasi terhadap golongan tertentu, kekerasan, kedaulatan hukum yang melemah, menjadi “pernik- pernik” yang musti dituntaskan. Kerumitan pun semakin menjadi ketika ditarik pada masalah global. Kedaulatan bangsa Indonesia kini mengalami ancaman serius akibat sistem global yang selalu saja memasung negara – negara dunia ketiga—termasuk Indonesia —dalam palung ketidakmenentuan.

Salah satu permasalahan serius dan sulit digapai oleh bangsa ini adalah belum terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang “demokratis”, dalam pengertian “multikulturalis” . Yaitu “sebuah persekutuan di mana berbagai ruang-ruang dan wilayah, akses, ekspresi dan kemugkinan pemanfaatnya terbagi secara merata di antara berbagai individu maupun kelompok sosial dan kultur, dalam segi ekonomi, aktualisasi diri dan dasar-dasar yang menjadi prinsip-perinsip hak asasi manusia” (Baso, 2002: xiv; Kymlicka, 1995: 144-149).

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, belakangan ini berbagai kalangan baik para akademisi, aktivis LSM dan mereka yang terjun dalam gerakan sosial, mendengungkan diskursus yang sekiranya dapat diharapkan terwujudnya cita-cita tersebut. Hingga kita pun dapat menemukan berbagai kajian sampai gerakan seperti: gender, kebebasan agama, tuntutan hak-hak kaum adat, dan kelompok minoritas lainnya. Akan tetapi, suara-suara tersebut, sangat sedikit dan minim sekali, menjadikan “orang cacat” atau lebih tepatnya difabel (people with different ability) sebagai bagian dari “paket” yang turut diperjuangkan. Terutama dalam wilayah akademik: kajian humaniora. Kajian ini luput sentuhan, dan bahkan hampir tak terpikirkan, bila dibandingkan wilayah kajian seperti perempuan/gender, kaum gay/homoseksual, lesbi dan kelompok minoritas yang lain yang akhir-akhir ini menjadi “buzzword” dan seksi untuk dikaji. Baca entri selengkapnya »