Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl)

Posisi nusantara dalam perspektif geotektonika, selain rawan terhadap pelbagai bencana alam seperti yang menimpa beberapa daerah pada tempo-tempo belakangan ini: tsunami pada penghujung tahun 2004 di NAD, gempabumi dan ancaman gunungapi di Jogjakarta baru-baru ini; juga sangat kaya dengan pelbagai sumber daya alam (SDA). Antara lain berupa sumber daya minyak dan gas (migas) dan sumberdaya mineral. Tercatat sumberdaya migas misalnya, mulai cadangan-cadangan minyak bumi yang telah disedot dengan pompa-pompa angguk sejak zaman penjajahan Belanda dari cekungan-cekungan bagian utara dan tengah Pulau Sumatera, sampai yang belakangan ini selalu ramai diperdebatkan para pakar di pelbagai media: giant oil field di daerah Cepu. Di bidang sumberdaya mineral, di daerah timur Indonesia yang sebagian besar batuannya adalah batuan mafik-ultramafik misalnya, terdapat cebakan porfiri berupa dua gunung bijih di tanah Papua: Estberg dan Grasberg, cadangan nikel laterit raksasa di Sorowako, Sulawesi, dan emas di Nusa Tenggara.

Kesemuanya itu menjadi sebuah keunggulan sekaligus sumber problematika. Dikatakan sebagai keunggulan, jelas, karena cadangan-cadangan kekayaan alam tersebut tak ternilai harganya. Mendatangkan devisa yang besar bagi negara, dan seterusnya. Dikatakan sumber problematika, jelas, karena dalam pengelolaannya, hampir semua proyek ekstraksi SDA selalu saja menyisakan masalah. Mulai dari masalah jangka panjang berupak impak ekologis; permasalahan pembagian antara investor dengan pemerintah; permasalahan pembagian antara pemerintah pusat dengan daerah; permasalahan hak penduduk yang beridam di sekitarnya; community development (CD); dan seterusnya. Semua permasalahan tersebut sudah banyak ditulis, didiskusikan, ditulis lagi, didiskusikan lagi, dalam pelbagi fora.

Tulisan ini sendiri, hanyalah catatan ringan yang berisi ‘pandangan selayang’ pada suatu lokasi yang pernah tercatat sebagai salah satu lokasi tambang besar di Pulau Borneo. Saya merasa beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk memijak tanah di sekitar bekas tambang PT. Kelian Equatorial Mining (KEM), sebuah tambang emas di Kabuten Kutai Barat, Kalimantan Timut yang, pada zamannya merupakan sebuah tambang emas dengan gema yang ‘berdentum nyaring’ karena produksinya merupakan salah satu yang terbesar di tanah air ini. Keberuntungan ini semakin lengkap justru karena saya memijak lokasi tersebut pada saat aktivitas pertambangan sudah di penghujung nafas. Laksana, hingar-bingar ‘perhelatan’ Piala Dunia yang sudah usai, stadion-stadion tinggal menyisakan rumput-rumput yang hancur dipijak pemain; taman-taman yang penuh dengan tumpukan sampah dan botol bir akibat pesta bermalam-malam suntuk di luar stadion; demikian pula kondisi yang saya temui. Produksi gila-gilaan dalam skala raksasa sudah tak ada; jalan hauling di beberapa tempat mulai tak terpelihara; plang-plang desa dan tangki-tangki air yang di bagian bawahnya tergambar logo PT. KEM sudah mulai mengelupas catnya; para pelacur di lokalisasi yang dulu selalu wangi sekarang hanya dapat mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan saling mencari kutu karena jarangnya pria hidung belang yang datang berkunjung; para, dan juga bekas, pejabat pemerintah daerah mulai gemetaran karena satu-persatu kasus penilepan uang kompensasi untuk rakyat mulai terungkap; aktivis lingkungan mulai meninggalkan massa yang dulu diadvokasinya; beberapa petinggi adat sudah makmur dengan rumah baru di Pulau Jawa lengkap dengan garasinya yang berisi mobil sport berwarna hitam sebagai imbalan atas luasnya tanah mereka yang dulu direbut moyangnya melalu peristiwa pertimpasan yang menumpahkan darah; semuanya bak crescendo yang menandai pamungkas sebuah konser musik raksasa. Baca entri selengkapnya »

Iklan

NGO di Tengah Kepungan Kepentingan Global

Oleh: Ari Ujianto (Aktif di UPC dan UPLINK, anggota Forum Lafadl)

 

Banyak sekali bahasan soal NGO atau Ornop, atau seringkali dimasyarakat kita direduksi penyebutannya menjadi LSM. Hal ini tentu menggembirakan, karena akan lebih banyak informasi yang bisa diperoleh dengan kehadiran, manfaat, dan juga kegagalan dan keburukan mereka. Bahkan menurut Reimann, dalam tahun belakangan ini muncul banyak pustaka soal NGO yang terurai dalam beberapa disiplin, seperti politik, sosiologi, dan anthropologi (Reimann 2002).

Menjamur dan Beragamnya NGO

Kehadiran dan kemunculan yang begitu cepat dari apa yang disebut Non Governmental Organizations ( NGO) diseluruh dunia, tidak bisa dilepaskan dengan konferensi PBB yang mengajak kelompok-kelompok di luar negara dalam ikut membahas dan menangani agenda global. Tetapi menurut Edward dan Hulme, meledaknya jumlah NGO tersebut sangat berkaitan dengan semakin besarnya bantuan dana asing untuk NGO, sehingga kritik terhadap akuntabilitas dan eksistensi NGO kerap muncul dari titik ini. Tentu saja tidak sekedar dua hal tersebut yang menjadi stimulus dari meledaknya jumlah NGO di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Faktor lain yang memberi pengaruh bagi merebaknya NGO adalah perkembangan politik, demokrasi, pembangunan ekonomi, dan integrasi ke dalam ekonomi dunia melalui perkembangan informasi dan teknologi yang cepat.

Booming NGO tersebut bisa dilihat dari jumlah yang tersaji berikut: sejak 1997 di Perancis terdapat 54.000 NGO, Philipina 27.000, bangladesh lebih dari 10.000, dan di Indonesia ditaksir antara 4.000-7.000 ( Ivan Hadar, KCM 07/03/2000). Kemudian, menurut Departemen Dalam Negeri RI, di Indonesia pada tahun 2002 tercatat ada 13.500 NGO ( Kompas 13 Januari 2003). Jadi untuk waktu lima tahun, NGO di Indonesia telah bertambah sekitar 6.000-9.000 an. Hal ini belum dilihat NGO yang tidak tercatat di Departemen Dalam Negeri.

Dengan beberapa faktor yang telah disebutkan di muka, pertumbuhan NGO juga menyebabkan beragamnya concern atau wilayah/isu garapan. Isu-isu tersebut kemudian ditangani dengan berbagai macam paradigma, baik yang konformis maupun transformatif. Konsistensi pada paradigma tersebut seringkali menentukan apakah NGO tersebut ikut kemauan donor atau kemauan konstituen.

Menjamurnya NGO karena adanya perkembangan ekonomi, sosial, dan politik baik tingkat global maupun nasional, tidak menjadi persoalan bahkan dalam kondisi tertentu memang sebuah langkah yang tepat. Yang menjadi persoalan adalah jika tumbuhnya hanya disandarkan dengan semakin meningkatnya dana bantuan asing. Baca entri selengkapnya »

Oleh:Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI, anggota Forum Lafadl)


Pendahuluan
Pendapat Colombijn tentang peran penguasa terhadap pembentukan ruang urban di Sumatra selama abad XVII sampai awal abad XIX menarik untuk dibincangkan lebih lanjut. Selain mentekstualisasikan gagasan hegemoni, ruang urban menjadi arena kontestasi bagi penguasa untuk mengkomunikasikan posisi kekuasaan politiknya kepada pendukung-pendukung dan musuh-musuh mereka. Di tempat lain, Scott menulis bahwa desain ruang urban adalah bentuk pemudahterbacaan (legibility) dan penyederhanaan (simplification) yang dilakukan oleh negara untuk memudahkan kontrol terhadap alam dan masyarakat yang dikuasainya. Kalau Scott menyebut “modernisme tinggi” (high modernism) sebagai ideologi dibalik proyek kontrol negara itu, Colombijn menyebut “Islam” menjadi rujukan ideologis untuk melegitimasi kuasa politik penguasa Sumatra selama abad XVII sampai awal abad XIX dalam pemanfaatan ruang dengan menunjukan simbol-simbol yang dipercaya menjadi representasinya. Sampai sejauhmana “Islam” dan “modernitas tinggi” saling memperebutkan tempat dalam wacana kekuasaan politik tentu saja akan sangat terkait dengan konteks historisnya. Sangat mungkin pada satu konteks tertentu kedua wacana itu saling bersitegang, tetapi bukan tidak mungkin pada konteks yang lain keduanya saling membentuk. Ruang dan bentuk—dalam bahasa yang lebih canggih disebut sebagai “spasialitas”—adalah wacana yang tidak hanya dipengaruhi, tetapi juga mempengaruhi orang dalam cara melakukan interpretasi dan persepsi. Dalam tulisan Colombijn, lokasi masjid di pusat kota-kota Sumatra selama abad XVII sampai awal abad XIX menjadi simbol negara Islam yang memberikan perspektif pada penguasa untuk mendefinisikan siapa dirinya (the self) dan siapa yang lain (the other). Masjid memberikan rasa politik kepada penguasa sebagai pemimpin ummat untuk melegitimasi kekuasaan berdasar apa yang diyakininya sebagai titah Tuhan
Namun, rasa politik tersebut terbangun dalam relasi kuasa yang berlangsung secara terus menerus dengan elemen-elemen kekuasaan politik lain, termasuk dengan penduduk atau rakyat yang dikuasainya. Dengan kata lain, perspektif yang diberikan oleh spasialitas selalu bersifat diskursif. Interpretasi orang terhadap spasialitas dan pengaruh spasialitas terhadap interpretasi orang adalah kontestasi wacana yang selalu diperebutkan. Rakyat yang sekilas tampak diam dan tunduk sebenarnya sedang melakukan interpretasi dengan caranya sendiri untuk memberikan perspektif terhadap ruang di mana mereka tinggal. Oleh karena itu, dominasi yang dilakukan oleh penguasa terhadap wacana spasialitas pada akhirnya adalah sebuah kontestasi untuk menegosiasikan kekuasaan dengan hasil yang selalu bersifat multi-vokal. Baca entri selengkapnya »

Resensi Buku

Sabtu, 8 Juli 2006

Resensi buku-buku lafadl telah dimuat di berbagai media massa nasional. berikut ini adalah link ke sebagian resensi tersebut.

Resensi buku Sudut Gelap Kemajuan
1. Media Indonesia,Minggu, 12 Desember 2004. Oleh: Isfandiar, mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

2.Sinar Harapan 29 Mei 2004. oleh: Basilius Triharyanto

Resensi buku Globalisme: Bangkitnya Ideologi pasar
1. Media Indonesia,Sabtu, 31 Desember 2005.oleh: Maria Emi S, peminat masalah ekonomi tinggal di Yogyakarta