Belasungkawa

Selasa, 24 Juni 2008

Lafadl Initiatives turut berbelasungkawa atas wafatnya Bapak Fauzan, ayah dari Achmad Uzair. Semoga Tuhan memberi beliau tempat terbaik di sisiNya. Semoga para kerabat, keluarga, dan sahabat yang ditinggalkan tetap diberi kesabaran dan ketegaran untuk menjalani kehidupan…


Beberapa waktu lalu, saya diminta menulis untuk majalah mahasiswa Mahkamah—majalah mahasiswa fakultas hukum UGM. Ketika masih mahasiswa dulu saya aktif di majalah Sintesa yang berkawan sangat akrab dengan majalah Mahkamah ini. Hitung-hitung sebagai cara merawat rasa kangen yang bernuansa nostalgia gitu, saya penuhi permintaan tersebut. Saya tidak tahu apakah majalah Mahkamah yang akan memuat tulisan saya itu sudah terbit atau belum, atau bahkan jadi terbit atau tidak saya juga tidak tahu. Saya tahu persis bagaimana kesulitan pers mahasiswa untuk terbit secara rutin dan tepat waktu. Nah, inilah tulisan saya yang buat majalah mahkamah itu:

Aliran Sesat dan Wacana Multikulturalisme

Belakangan ini media disibukkan dengan isu maraknya aliran-aliran agama yang kemudian dituduh sebagai ”sesat” oleh MUI. Sebenarnya fenomena munculnya kelompok aliran keagaamaan bukanlah gejala baru. Hal itu muncul di mana-mana dan di agama apa saja. Sejak sebelum negeri ini berdiri, sudah ada gerakan keagamaan yang berbeda dengan mainstream. Gerakan-gerakan tersebut biasanya berciri mesianistik atau revisionis yang menganggap mainstream agama yang ada sudah tak sesuai lagi dengan hakikat tujuan agama itu sendiri. Aliran-aliran semacam ini mulai banyak dibicarakan ketika ada kecenderungan untuk melihatnya sebagai ancaman terhadap kemanaan dan stabilitas negara.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keamanan dan ketertiban adalah sesuatu yang sangat dijaga oleh negara. Segala sesuatu seperti diabdikan untuk menjaga ketertiban dan stabilitas. Ini tidak lain tidak bukan demi proyek pembangunan dan modernisasi. Segala sesuatu yang tak sesuai dengan jalan pembangunan harus disingkirkan dan dibungkam. Tertib beragama, misalnya, dalam imajinasi negara adalah masyarakat masuk ke dalam kotak-kotak agama yang diakui oleh pemerintah. Dampak kebijakan semacam ini adalah munculnya terma ”komunitas sesat” untuk merujuk pada komunitas agama yang tak sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh negara dan agama negara. Karena itu, di negeri ini hampir seperti tak ada bedanya antara paham kegamaan yang ”sesat” dengan komplotan pengacau keamanan: keduanya adalah pengancam ketertiban yang harus disingkirkan. Tentara dan polisi pun ikut menggunakan kata “sesat” untuk mengendalikan situasi dan keamanan. Ini bisa dilihat pada kasus aliran Al-Qiyadah baru-baru ini. Sejumlah kelompok yang difatwa sesat oleh MUI beberapa waktu lalu, misalnya, juga dianggap sebagai kelompok ilegal dan dilarang keberadaannya di negeri ini sebut misalnya Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII, Mujahidin’nya Warsidi (Lampung), Syi’ah, Baha’i, “Inkarus Sunnah”, Darul Arqam (Malaysia), Jamaah Imran, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawwuf berfaham wahdatul wujud, Tarekat Mufarridiyah, dan gerakan Bantaqiyah (Aceh), dan lain-lain.

Sejak republik ini berdiri, kelompok-kelompok kecil yang berbeda dengan arus mainstream keagamaan Indonesia selalu diawasi dan dikontrol oleh Negara. Keberadaan Lembaga Pengawasan Agama dan Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) sejak awal 1960-an menunjukkan bahwa di Indoneisa negara memang sangat berhasrat untuk mengontrol warganya dalam soal keyakinan. Kontrol ini tidak hanya pada paham keagamaan yang muncul belakangan atau ”baru” namun juga pada komunitas-komunitas lokal yang usianya bisa jadi lebih tua dari republik ini. Sebut saja komunitas Kajang Sulawesi Selatan, Wetutelu di Nusa Tenggara Barat, Sedulur Sikep di Jawa Tengah, Parmalim di Medan, dan masih banyak lagi. Komunitas-komunitas agama lokal tersebut diangap sebagai keyakinan primitif yang harus dintegrasikan atau diagamakan ke dalam kotak-kotak agama besar yang diakui negara. Kelompok-kelompok tersebut tetap dianggap sebagai –meminjam istilah Vargas Llosa—”archaic obstacle”, hambatan warisan masa lalu yang harus diretas. Baca entri selengkapnya »

Samurai

Senin, 23 Juni 2008

Malam-malam belakangan ini, saat hendak berangkat tidur, saya menghabiskan tenaga mata dengan membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Novel samurai yang terkenal itu. Sayang memang, baru sekarang saya mulai membacanya dengan serius. Dulu saya cuma mengenalnya lewat buku-buku kecilnya, dan filmnya—yang membosankan itu. Tapi tak apa, lebih baik sedikit terlambat. Klise ya? Tak apa, klise kan tidak selalu berarti buruk.

Kisahnya apalagi kalau bukan tentang Samurai. Kebanyakan cerita tentang samurai—kalau bukan nyaris semuanya—berkisah tentang samurai pada masa era Tokugawa atau sesudahnya. Era ini, kita tahu, adalah saat ketia para samurai kehilangan pekerjannya. Mereka tidak lagi punya tuan. Tidak ada lagi perang antar daimyo. Semua berada dalam masa damai di bawah kuasa tunggal Shogun Tokugawa. Samurai yang berunutung, bisa bergabung dengan barisan militer Tokugawa, yang buntung hidup luntang-lantung mencari untung. Film Akira Kurosa, Seven Samurai, menggambarkan situasi gelap bagi samurai tak bertuan itu dengan terang benderang. Pada masa itu, Samurai yang baik hati, yang saleh, akan menjalani hidup dengan baik pula—kendati dalam situasi terasing dan pahit. Ia digambarkan sebagai sosok pahlawan yang membela orang kecil. Yang berhati busuk—atau terpaksa karena tidak punya cara lain bertahan hidup—menjadi perampok. Tapi dua kelompok ini punya kesamaan: mengalami keterasingan—rontok dari derajat yang sebelumnya sangat tinggi. Baca entri selengkapnya »

Sensor adalah …..

Sabtu, 14 Juni 2008

Sensor adalah s e n s o r

Secara sederhana sensor bisa diartikan sebagai pengawasan dan kontrol atas gagasan yang bersemi di tengah masyarakat. Biasanya sensor mengacu pada penyelidikan dan pengawasan ketat terhadap buku, majalah, naskah drama, film, siaran televisi, radio, berita, dan media komunikasi lainnya. Tujuannya adalah mengubah atau menghapus bagian-bagian yang diangap melanggar patokan tertentu, misalnya melanggar moral, mengancam keamanan nasional, dan lain-lain.
Konon, sensor sudah dikenal sejak jaman yunani kuno. Adalah socrates, orang pertama yang gigih melwan sensor, dia bahkan harus mati demi mempertahankan kebebasan berpikir. Socrates selalu mengajarkan pada murid-muridnya untuk mengembangkan kebebasan intelektual. Ironisnya, justru muridnya, Plato, yang menjadi filsuf pertama yang merumuskan konsep sensor di masa itu. Bagi plato, seni harus tunduk pada moralitas, seni yang tidak bisa memberi inspirasi prinsip moral haruslah dilarang. Demikian pula kepercayaan pada tuhan yang tidak tepat.
Sejarah mencatat bahwa konsep semacam itu memakan banyak korban. Tak terhitung jumlahnya orang yang harus mati karena diangap menyebal. Itu terjadi baik dalam sejarah masyarakat Barat (Roma dan Kristen) maupun sejarah Islam. Jika kita baca lembar-lembar sejarah, tak bisa dihitung berapa banyak buku yang harus dibakar dan dimusnahkan.


Di masa modern, sensor tidak lenyap. Bahkan ketika orang mulai merayakan kemenangan kebebasan individu melalui demokrasi liberal, sensor ternyata mewujud melalui pengawasan negara atas warganya. Atau, jia tidak demikian, sensor tampil dalam bentuk larangan atas gagasan lain di luar gagasan mainstream, terutam ayang dianggap mengancam tatanan yang sudah mapan.
Dalam bentuknya yang lebih canggih, sensor hadir melalui mekanisme surveillance:pengawasan 24 jam sehari atas tubuh warganegara.
Jadi?

Say Cheese Say Alkmaar

Jumat, 13 Juni 2008

Achmad Uzair
Dutch people have been commonly stereotyped as “cheese head”society. The term does not only refer to their food habit, but also lexically refers to the way Dutch militia protected their head with cheese “balls” in war against Spaniards. We have a lot more to learn about Dutch cheese if we visit Alkmaar.

Alkmaar is located about 40 km in the North of Amsterdam. This small town can be reached by trains (Nederland Spoor) from all over the country. From the Hague, there is always train to Alkmaar every 30 minutes. If you want to know more about Dutch cheese culture and its industry, this is the place you should visit. There are at least two distinctive attracting sites in Alkmaar: cheese market and cheese museum, both are located in the centrum. If you do not really know Alkmaar, do not worry of getting lost. All you need is to open your eyes and find “the living signs”. I mean, if you drop at Alkmaar train station and you find many people walking in groups like tourists, follow them. I bet they are coming to visit Alkmaar cheese market. It is not surprising because it is a typical tourist site frequently promoted by local tourism board. Baca entri selengkapnya »

Kekerasan Monas

Sabtu, 7 Juni 2008

Kekerasan Monas

1 Juni adalah hari ketika Pancasila dirumuskan. Hari ketika kebhinnekaan dan pondasi hidup berbangsa dibangun. Namun 1 juni lalu kita menyaksikan kelompok kecil orang yang tidak juga memahami semangat pancasila sebagai pijakan bersama untuk hidup sebagai satu bangsa.