Bengkel Kerja Budaya:
Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat
Kerjasama Lafadl dan Desantara Institute for Cultural Studies
Yogyakarta, 13-17 Juni 2006

LATAR BELAKANG

Ketika kemerdekaan dunia ketiga banyak diproklamirkan mulai paruh kedua 1940-an, para leluhur bangsa-bangsa itu barangkali membayangkan berakhirnya tradisi penjajahan. Hengkangnya para penguasa kolonial dari wilayah jajahan mereka, yang oleh Samuel Huntington disebut sebagai gelombang demokratisasi kedua, mungkin saat itu diyakini menjadi tanda matinya relasi dominasi. Tetapi, alih-alih menandai akhir penindasan, kemerdekaan itu justru bak membuka kotak pandora yang memuntahkan beragam persoalan kekerasan dan dominasi. Kolonialisme modern ternyata tak serta merta hengkang bersama tuannya. Seperti yang dikatakan oleh Ania Loomba, perubahan besar dalam struktur sosial, ekonomi, kebudayaan akibat relasi produksi antara negara imperialis dengan jajahannya membuat pengaruh kolonialisme modern tertancap jauh dalam masyarakat pasca-kolonialis (Ania Loomba, 2003). Dan pengaruh itu bahkan bertahan hingga sekarang, setelah berpuluh-puluh tahun negara-negara itu mengklaim merdeka.

Di dalam batas-batas nation-state (yang juga merupakan warisan kolonial) yang baru merdeka itu, dominasi dan penindasan terus berlangsung. Kali ini, tidak lagi antara “orang luar” dan “orang dalam,” antara bangsa pendatang dengan inlander, atau antara kulit putih dengan kulit berwarna. Tapi antara “orang dalam” sendiri yang menyebut dirinya saudara sebangsa, dengan alasan apapun, entah itu kemajuan, perbaikan ekonomi, kesehatan dan entah apa lagi. Penindasan dan dominasi yang dilakukan oleh kalangan sendiri itu menjadi sangat ironis, seperti yang diceritakan dengan sangat menyentuh oleh Mahasveta Devi dalam tulisannya, Shishu, tentang rakyat suku-suku asli India yang mengalami pembuntungan secara figuratif dan harfiah pascakemerdekaan. “Pembangunan” nasional yang diluncurkan oleh Pemerintah India pascakemerdekaan tidak menyediakan ruang untuk berkembangnya budaya dan kepercayaan suku-suku tersebut; dan sikap pejabat pemerintah yang berhati emas sekalipun, seperti Mr Singh, kepada suku-suku itu tak ubahnya seperti pandangan kolonialis terhadap rakyat non-Barat. Mereka yang membangkan pada kebijakan pemerintah pascakolonial itu terdesak memasuki hutan-hutan dan menderita kelaparan bertahun-tahun. Pada klimaks yang mencekam dari kisah ini, kita berhadapan dengan “anak-anak” yang menyodorkan tubuhnya pada Mr Singh, sehingga pejabat pemerintah itu melihat bahwa mereka itu sama sekali bukan anak-anak, melainkan warga negara India yang dewasa, yang dicebolkan oleh India yang merdeka (dalam Ania Loomba, 2003).

Kelompok warga dengan sejarah penindasan semacam itulah yang disebut sebagai subaltern. Secara sederhana kelompok ini didefinisikan sebagai mereka yang sama sekali tidak punya akses pada sumberdaya ekonomi, politik atau sosial, bahkan untuk menentukan nasib dan otonominya sendiri. Parahnya, penindasan itu kian pahit ketika kumpulan warga subaltern itu mengambil perilaku “menyimpang” karena pengalaman sejarahnya penuh kekerasan (yang biasanya dilakukan oleh kelompok mayoritas). Mereka dituduh tidak lagi berpihak pada bangsa. Kejadian-kejadian semacam ini jamak dijumpai di banyak penjuru dunia pascakolonial, termasuk di negeri kita sendiri. Kita mendengar banyak masyarakat suku asli dan kelompok minoritas dipaksa berubah dengan alasan untuk tunduk pada norma-norma umum yang dianggap lebih indah, maju, atau sesuai peradaban. Dari sini bisa jadi muncul pertanyaan: jika perlakuan-perlakuan itu tak ubahnya seperti masa kolonialisme dulu, kenapa sekarang tidak muncul perlawanan atau bahkan pergolakan sosial? Apakah publik luas menyetujui penindasan semacam itu?

Di sinilah ideologi berperan maksimal meredam tentangan-tentangan itu. Beragam jargon dan simbol dengan cita-cita normatif digunakan penguasa untuk menghasilkan apa yang disebut tata wacana. Wacana penguasa ini menjadi dasar untuk memutuskan apa yang bisa ditetapkan sebagai fakta atau untuk menentukan cara pemahaman yang paling benar untuk memahami fakta-fakta yang kemudian ditetapkan. Praktik diskursif yang menyusup masuk ke berbagai wilayah kehidupan sosial semacam inilah yang membuat individu sulit berpikir di luarnya. Di sini mulai dipertanyakan asumsi humanis bahwa individu merupakan sumber tunggal makna atau tindakan. Bahasa menjadi lebih unggul dari subjektivitas, karena ia tidak diciptakan sendiri oleh subjek yang berbicara, melainkan sebagai cangkokan dari ideologi yang dominan. Rangkaian kata bukan lagi sekedar menunjukkan suara individu, tetapi juga kesadaran historis masyarakat yang tengah bekerja. Budaya dan sejarah bukan lagi sekedar warisan yang dihantarkan dari satu generasi ke generasi. Ketika subjek dikonstruksi oleh kekuatan lain di luar dirinya (terutama bahasa) inilah hegemoni berlaku. Hegemoni menjadi penanda bahwa kekuasaan tidak lagi dipatuhi lewat paksaan dan kekerasan, tetapi juga dengan kerelaan.

Menyingkap selubung ideologi dan hegemoni ini menjadi tugas mereka yang percaya bahwa kesetaraan harus dibuka untuk semua kelompok masyarakat tanpa memandang kebangsaan, asal suku, agama, ras, atau rupa identitas lainnya. Perjuangan diskursif menggugat ideologi dan kekuasaan yang menindas itu semestinya juga dilengkapi dengan kemampuan mengenali resistensi dan perlawanan subaltern sebagai bukti otentik perlunya pengakuan kesetaraan itu. Karena bagi kelompok subaltern, kekuasaan akan selalu mengalami destabilisasi. Seperti yang dibilang oleh Foucault, when there is power, there is resistance. Karena mereka yang coba ditaklukkan (the colonized), mengutip Homi Bhabha, bukanlah realitas yang ajeg.

Namun, kemampuan-kemampuan tersebut acapkali bukanlah kemampuan yang begitu saja diperoleh. Diperlukan perjumpaan dan refleksi untuk mengenali penindasan, menyingkap selubung ideologi/hegemoni, dan mengumpulkan bukti resistensi atau bahkan transkrip tersembunyi dari kelompok-kelompok tertindas itu. Apalagi ketika kemampuan tersebut harus bisa ditransformasikan ke dalam dokumentasi tertulis dan disyaratkan mampu dipahami secara lugas oleh publik, seperti yang selama ini dirintis oleh Majalah Desantara yang menempatkan dirinya sebagai bagian dari gerakan literasi (literacy movement) mengkampanyekan isu multikulturalisme.

Dalam konteks inilah kami mengusulkan penyelenggaraan pelatihan menulis cultural studies yang kami namai Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat.

NAMA KEGIATAN

Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat

TUJUAN KEGIATAN

q Tujuan Umum
· Mengembangkan kajian budaya dan multikulturalisme serta merumuskan bangunan infrastrukturnya di wilayah Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat

q Tujuan Khusus
· Memperluas jaringan intelektual organik dalam jaringan Bengkel Kerja Budaya
· Menyiapkan lapisan penulis-aktivis muda yang dapat mengembangkan perspektif kajian budaya
· Mendorong terbentuknya komunitas epistemik kajian budaya di beberapa daerah
· Merumuskan dan membangun ruang publik bagi pertukaran gagasan diskursif antar penulis-aktivis muda di daerah-daerah

PENYELENGGARAAN

Bengkel Kerja Budaya ini dijadwalkan akan berlangsung di Yogyakarta, dari tanggal 13 sampai 17 Juni 2006.

MATERI WORKSHOP

Materi-materi yang akan diberikan bertujuan untuk:
· Mengenali situasi sosial-politik kontemporer masyarakat Indonesia
· Membangun perspektif kebudayaan dalam konteks cultural studies
· Mengembangkan kemampuan analisis masalah sosial dalam perspektif cultural studies
· Mengembangkan kecakapan menulis dalam perspektif cultural studies
· Mengembangkan jaringan penulis muda antarkota di wilayah Jateng, Jabar, dan DIY

JADWAL ACARA

q Hari Pertama, 13 Juni 2006
· Brainstorming
· Pengenalan situasi sosial-politik kontemporer masyarakat Indonesia
· Belajar bersama membangun perspektif kajian budaya
q Hari Kedua, 14 Juni 2006
· Perkenalan konsep dan analisis masalah dalam cultural studies
· Pengembangan kecakapan reportase dan penulisannya
q Hari Ketiga, 15 Juni 2006
· Praktik Lapangan-menggali fakta dan menuliskannya dalam kerangka cultural studies
q Hari Keempat, 16 Juni 2006
· Diskusi dan evaluasi hasil lapangan
q Hari Kelima, 17 Juni 2006
· Rencana Tindak Lanjut

JUMLAH DAN KRITERIA PESERTA

Demi efektivitas forum, peserta hanya dibatasi 15 orang.
Kriteria peserta adalah sebagai berikut:
· Anak muda berusia kurang atau sama dengan 30 tahun
· Berdomisili di Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat
· Diutamakan mempunyai basis komunitas dan berkomitmen membangun komunitasnya
· Berminat membangun jaringan
· Memiliki kecakapan menulis dan salah satu karya tulisnya harus diserahkan ke panitia selambat-lambatnya satu minggu sebelum acara dimulai

Bengkel Kerja Budaya:
Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat
Kerjasama Lembaga Kajian dan Penerbitan Lafadl dan Desantara Institute for Cultural Studies
Yogyakarta, 13-17 Juni 2006

Karena sifat budaya yang akumulatif dan waris, acapkali kita gagal menelisik ideologi, asumsi, dan cara keduanya dibentuk, diproduksi, dan direproduksi di dalamnya. Kegagalan itu bukan hanya membuat kita miskin refleksi, tapi juga mandul mendaur ulang dunia. Lembaga Kajian dan Penerbitan Lafadl dan Desantara Institute for Cultural Studies berpandangan bahwa refleksi dan daur ulang dunia menuju itu bisa dimulai dengan menulis ulang sejarah sosial masyarakat. Sebagai bagian dari literacy movement, menulis adalah ikhtiar mempertanyakan kebakuan tatanan sosial demi perubahan sosial yang lebih baik. Sejarah menunjukkan bahwa tak ada yang lebih menakutkan bagi modal  dan kekuasaan ketimbang para penulis.
Lafadl dan Desantara mengajak Anda menjadi bagian dari penulis muda perintis perubahan dengan bergabung menjadi peserta Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat  yang akan diselenggarakan  pada  13-17 Juni 2006 di Yogyakarta.
Fasilitas yang Disediakan
Peserta tidak dipungut biaya. Panitia menyediakan akomodasi, transportasi, dan materi  pada para peserta selama mengikuti bengkel kerja ini. Ongkos perjalanan dari dan ke tempat asal peserta ditanggung oleh peserta sendiri. Panitia tidak menyediakan uang saku bagi peserta.

Jumlah dan Kriteria Peserta
Peserta bengkel kerja budaya ini hanya dibatasi 15 orang. Panitia memberi dorongan khusus pada perempuan untuk ikut mendaftar.
Kriteria peserta adalah sebagai berikut:
·    Anak muda berusia kurang atau sama dengan 30 tahun
·    Berdomisili di DIY, Jawa Tengah, atau Jawa Barat
·    Diutamakan untuk mereka yang punya basis komunitas dan berkomitmen membangun komunitasnya
·    Berminat membangun jaringan

Persyaratan Peserta
Calon peserta disyaratkan untuk mengirimkan curriculum vitae (CV) dan contoh tulisan dalam bentuk soft-file (file komputer) ke panitia paling lambat tanggal 31 Mei 2006. CV dan contoh tulisan tersebut dikirimkan via e-mail ke lafadl@gmail.com <mailto:lafadl@gmail.com> atau dikirimkan via pos ke:
LAFADL
Jl. Dayu Baru No. 1A
Sinduharjo, Ngaglik, Sleman,Jogjakarta
Telp. (0274) 888726

Pengumuman Peserta
Peserta yang terpilih akan diberitahu tanggal 6 Juni 2006, via telpon dan atau e-mail.

Mengenai materi, jadwal acara, dan Informasi lebih lanjut bisa diperoleh di lafadl.wordpress.com dan bengkelkerjabudaya.wordpress.com. Bisa juga hubungi langsung panitia via e-mail ke lafadl@gmail.com <mailto:lafadl@gmail.com>  atau via telp ke (0274) 888726

Lebih jauh mengenai Desantara Institute for Cultural Studies kunjungi desantara.org
Lebih jauh mengenai Lembaga Kajian dan Penerbitan Lafadl kunjungi lafadl.atspace.org

Diskusi Lafadl-Interseksi

Jogjakarta 22 April 2006

 

Pembicara: M. Nurkhoiron

Tulisan ini disarikan dari diskusi oleh Heru Prasetia

Biasanya di negeri ini berbagai wacana semacam posmodernisme, liberalisme, dan multikulturalisme ini hanya menjadi riak-riak belum menyentuh perdebatan yang lebih serius, khusunya dalam public discourse. Maka adalah penting untuk mengangkat discourse multikulturalisme ke dalam konteks dan situasi indonesia. Meskipun demikian, diperlukan juga sikap kritis. Sebab konsep ini tidak lahir dari sejarah masyarakat Indonesia. Multikulturalisme muncul dari sejarah sosial politik negara Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan lain-lain.Negara-negara yang berhadapan dengan isu rasialisme dan kaum imigran. Isu-isu rasialisme ini menjadi perrsoalan yang lebih luas karena hubungan antar ras dan antar nation meimbulkan problem tertentu yang tidak hanya bisa diatasi dengan pola-pola agenda pembangunan yang sudah dimiliki oleh negara-negara menghadapinya. Jadi multikulturalsme muncul ketika satu wadah nation-state menghadapi pergolakan internal dari dalam. Pergolakan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang masih mengikatkan dirinya dengan semangat-semangat primordial. Baca entri selengkapnya »

Kerja Bersama Lafadl-Desantara

Rabu, 26 April 2006

Selama dua hari (22-23 April 2006) Tim Kerja Lafadl berdiskusi dengan M. Nurkhoiron (Direktur Eksekutif Desantara) untuk membahas rencana kerjasama antara Lafadl dengan Desantara selama tahun 2006 ini. Hari pertama (Sabtu) membahas rencana workshop penulisan untuk para penulis muda di wilayah Jateng dan DIY. Workshop ini bertajuk “Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat”. Tujuannya adalah untuk melahirkan para penulis-aktivis muda dan terbentuknya jaringan kerja. Workshop akan digelar awal bulan Juni di Yogyakarta. Lafadl dan Desantara akan segera mengumumkan prosedur pendaftaran serta hal-hal yang lebih detail mengenai workshop ini. Sabtu (22/4/06), Lafadl mengadakan diskusi tentang Multikulturalisme dengan pembicara M. Nurkhoiron yang juga Direktur Program Yayasan Interseksi Jakarta ini. Diskusi dihadiri sekitar 15 peserta dari berbagai kalangan. Review diskusi ini bisa dibaca di bagian lain di weblog ini.

Hari Mingu (23/4/06), dilakukan pembahasan mengenai Majalah Desantara yang akan terbit di tahun 2006 ini. Majalah Desantara akan terbit sebanyak empat kali. Lebuh jauh tentang majalah ini silahkan kunjungi http://www.desantara.org. Lafadl akan bekerja sebagai redaktur pelaksana untuk edisi-edisi di tahun ini. Dalam majalah ini inijuga akan dimuat esai-esai kebudayaan dari berbagai kalangan. Karena itu, jika anda punya tulisan atau sedang berencana menulis dengan tema-tema resistensi, subaltern, masyarakat lokal, dan lain-lain, anda bisa kontak kami melalui alamat surat elektronik (surel) kami: lafadl@gmail.com. Heru Prasetia

Ada sesuatu yang menarik ketika beberapa waktu lalu saya pergi ke Stasiun Tugu Jogja untuk pesan tiket. Bukan soal harga tiket yang harganya tak menentu atau soal calo yang tak habis-habis atau soal kekusutan stasiun atau soal-soal lain yang selalu menjadi keluhan pada usrusan kereta api negeri ini itu. Tapi soal buku. Ya, buku. Saat hendak keluar peron, perhatian saya tercuri oleh deretan buku yang berjajar rapi di rak-rak dan meja-meja. Sesaat saya mengira ada orang sedang berjualan buku. Ternyata bukan. Setelah saya perhatikan, terpampang tulisan yang kira-kira berbunyi seperti ini: ”perpustakaan umum, pinjam gratis.” Perpustakan di stasiun kereta? Dalam sejarah persinggungan saya dengan stasiun kereta api, baru kali ini saya mendapati sebuah layanan pinjam-meminjam buku. Mungkin saya yang alpa, mungkin memang sering ada perpustakaan semacam ini di stasiun-stasiun. Mungkin. Tapi, yang jelas, baru pertamakali ini saya menjumpainya sendiri. Baca entri selengkapnya »

Diskusi Rumah Lafadl bulan April

Jumat, 21 April 2006

Diskusi Rumah Lafadl bulan April
Tema: Multikulturalisme di Indonesia:antara disiplin dan fashion.
Pembicara: M. Nur Khoiron (Direktur Desantara Cultural Studies/Program Director Yayasan Interseksi)
Waktu: Sabtu 22 April 2006 Pkl. 16.30
Tempat: Rumah Lafadl Jl. Dayu Baru No. 1A Jogakarta

Contact Person: Obi (08175463015) atau di (0274) 888726.
Atas perhatian dan kehadiran Anda kami ucapkan terimakasih.


Lafadl
Jl. Dayu Baru No. 1A Telp (0274) 888726
Jogjakarta
lafadl.atspace.org
lafadl.wordpress.com

Cecilia Hurtado was invited by Urban Poor Linkage (UPLINK) to train Acehnese women in making arpillera, patchworks which is well known by the world for being a tools of trauma healing, of women empowerment and of political resistance under Augusto Pinochet authoritarian rule. During her last days in Indonesia, Cecilia who prefers to describe herself as an artist was very pleased to share about her own personal experience in arpillera groups with KOMPOR-LAFADL. Following is KOMPOR-LAFADL’s interview with Cecilia, a mother of two sons from Quilpué City, Chile.

KOMPOR-LAFADL (K): When did you join arpillera group and what was your reason of joining the group?Cecilia (C ): In 1985, I divorced from my husband. I left my house and I went to my mother's in Santiago. At the same time, there was a change of economic and political orientation, from paternalistic economic system to a Neoliberal economic system. It produced economic difficulties for many people; rate of unemployment was very high. Under such conditions, I needed to work and money to raise my two children. In Santiago, I looked for women solidarity groups because through the groups we could earn some money from making handicrafts. Here, Catholic churches played important role. Through these churches, the catholic germans bought the handicrafts. Baca entri selengkapnya »