Selamat Merayakan Idul Adha 1427 H

Jumat, 29 Desember 2006

PARA MUNAFIK ISMAIL

para ismail yang munafik
bergegas menyodorkan leher:
— sembelihlah kami!

Ibrahim yang hanif bilang:
— tak, kalian tak boleh mati
agar menjadi pertanda biar umat waspada
Sutardji Calzoum Bachri

Alangkah indahnya jika semua orang makan daging, sama rata sama rasa, tidak hanya di Idul Adha…

Djogdja Gitu Loh… (‘Ngangeni’)

Jumat, 29 Desember 2006

Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl)


Akhirnya, aku menemukan juga mengapa setiap liburan dari pekerjaan aku selalu memilih untuk pulang ke Djogdja, tidak pulang ke kampungku di tanah Tapanuli sana. Selama ini aku tak begitu jelas mengapa pilihan itu kuambil, tetapi tadi pagi, setidaknya salah satu alasan pengambilan pilihan tersebut dapat kuketahui.
Ceritanya sederhana. Seperti biasa, setelah bangun pagi, masih dalam pelukan udara sejuk khas pegunungan di Dayu, ketika matahari masih malu-malu, belum sepenuhnya bersinar, dan udara masih terasa dingin, begitu selesai mengepel teras depan rumah lafadl, maka bersama koordinator, Uzair, berdua kami keluar ‘cangkang’ untuk mencari makan.
Ada beberapa pilihan yang disodorkan oleh pagi kepada kami ketika itu. Pertama, sarapan dengan makan soto ayam di warung berdinding gedhek yang ada di Jalan Damai, sekira sepelemparan batu dari rumah lafadl. Pilihan pertama ini tak kami ambil, dengan pelbagai pertimbangan. Antara lain bosan, dan karena (menurut Uzer) soto itu banyak penyedap rasanya. Kedua, mencari makan ke arah barat, ke arah Jalan Palagan. Tetapi entah kenapa, pilihan kedua ini tidak dihiraukan lebih lanjut. Umurnya hanya sebentar dalam perbincangan. Kami memutuskan untuk mencoba warung baru yang terletak persis di samping warung soto ayam di jalan yang sama. Tentunya dengan salah satu alasan: “mencoba sesuatu yang baru.”


Ada baiknya kujelaskan sedikit tentang kondisi warung makan baru ini. Rumahnya sendiri bercat hijau, di depannya sudah dipasangi tulisan-tulisan dari kain yang terikat kuat pada sebatang kayu yang ditancapkan dengan kuat di pinggir jalan, “Coto Makassar, gulai ayam, Rp. 3000, dan setersusnya.” Ruang makannya sendiri hanya kecil. Sebenarnya adalah sebuah garasi yang disulap. Menurut Uzer warung ini termasuk ke dalam golongan ‘usaha informalitas,’ “belum ada mobil jadi garasi ‘disulap’ menjadi warung makan,” katanya. Aku mengamini, meski sebenarnya aku melihat mobil berwarna hijau diparkir di bagian lain rumah tersebut.
Ruangan terbuka menghadap ke arah selatan, peralatan seperti meja-meja dan kursi masih bersih, mungkin karena warung itu buka belum terlalu lama. Di masing-masing meja sudah terdapat daftar menu, lengkap dengan harga-harganya. Pagi itu Uzer makan dengan sepotong paha ayam, sambel teri, dan minum air putih hangat. Aku sendiri makan dengan 2 potong tempe, 2 potong tahu, 1 mangkuk semur jengkol dan minum teh tawar hangat. “Nasi putihnya belum matang mas, adanya nasi kuning,” kata sang Ibu (tampaknya ibu kita ini adalah ibu rumah tangga sekaligus pemilik warung sekaligus pelayan warung). Dan pagi itu kami pun makan dengan nasi kuning.
Singkat kata, pada saat pembayaran tiba, dengan raut muka yang biasa si Ibu pelayan tadi mengatakan, “semuanya empat ribu Mas.” Kemudian Uzer menyerahkan satu lembar uang sepuluhan. Selagi ibu itu mengambil uang kembalian ke dalam, kami sudah saling berkomentar bahwa makan di sini ternyata murah. Aku sendiri, pada waktu itu masih berfikir bahwa harga empat ribu adalah untuk satu orang. Tetapi kami terkejut, ternyata si Ibu mengembalikan enam ribu rupiah lagi. Artinya untuk makan kami berdua dengan menu seperti di atas semuanya hanya empat ribu rupiah. Busyeeeet empat ribu rupiah. Empat ribu rupiah!!! Baca entri selengkapnya »

Selamat Natal

Senin, 25 Desember 2006

Untuk umat kristiani yang merayakannya, Lafadl mengucapkan selamat Natal 2006. Semoga Berkat Tuhan selalu bersama kita…Semoga tak ada lagi ketimpangan di antara umat manusia…

Oleh:
Amin Mudzakkir (Anggota Forum Lafadl, Peneliti LIPI)

Pendahuluan
Tulisan ini hendak menunjukan tanggapan pengusaha santri terhadap tantangan dan kesempatan ekonomi di Tasikmalaya, sebuah kota kecil di Jawa Barat, sejak 1930 sampai 1980-an. Rentang waktu sepanjang lima puluh tahun itu akan melewati satu episode yang belakangan kembali menjadi isu aktual dalam debat historiografi Indonesia, yaitu dekolonisasi ekonomi. Lebih dari sekedar episode temporal, dekolonisasi ekonomi menjadi isu konseptual yang ditandai secara historis dengan peralihan kekuasaan negara, dari negara kolonial ke negara pasca-kolonial. Pada satu sisi, sejauh mana peranan negara, termasuk dalam periode peralihan kekuasaan, berdampak terhadap kehidupan ekonomi, sampai sekarang masih menjadi sebuah pertanyaan besar. Pada sisi lain, bagaimana tanggapan dan dinamika internal pengusaha terhadap kebijakan negara merupakan satu pertanyaan yang masih menjadi debat menarik.


Akan tetapi, Mc Vey (1998) mencatat bahwa debat yang berlangsung di kalangan pengamat masih berkutat pada kenyatan di tingkat nasional, sementara kenyatan pada tingkat lokal hampir terabaikan. Sampai tingkat tertentu, tulisan ini hendak menjawab catatan Mc Vey tersebut dengan memperlihatkan pasang-surut perkembangan ekonomi pada tingkat lokal. Akan tetapi, alih-alih membahas perkembangan ekonomi secara umum, bagian terbesar tulisan ini berisi penjelasan tentang bagaimana sebuah komunitas ekonomi di  Tasikmalaya menanggapi dua kekuatan struktural yang telah menjadi dua bandul utama dalam spektrum kehidupan ekonomi, yaitu negara dan pasar.
Komunitas ekonomi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kaum santri. Terlepas dari debat konseptual di sekitar istilah ‘santri’, banyak kajian yang menyebut mereka sebagai wakil masyarakat pribumi yang paling mampu dan paling berpotensi untuk menjadi kelas kapitalis dalam struktur masyarakat Indonesia. Sebagian penjelasannya dicari pada akar-akar budaya dan agama yang menumbuhkan etos kewirausahaan mereka, sementara penjelasan yang lain dicari pada akar struktur dan jaringan yang dimilikinya. Tanpa hendak bermaksud terlalu jauh masuk ke dalam debat perspektif tersebut, tulisan ini lebih berkonsentrasi untuk menjelaskan bahwa kaum santri bukanlah entitas tunggal yang seragam. Apalagi ketika mereka masuk ke dalam dunia ekonomi, kompleksitas yang berakar pada relasi kuasa antara negara dan pasar tampaknya menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam usaha untuk menjelaskan perkembangan ekonomi mereka. Baca entri selengkapnya »

Membaca Using dari Masa Ke Masa

Minggu, 17 Desember 2006

Oleh: Paring Waluyo Utomo (Peneliti Kebudayaan, tinggal di Malang)

Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggulirkan reperda tentang adat. Melalui raperda ini, Pemkab Banyuwangi hendak mengatur mengenai kewenangan masyarakat adat. Berbagai tanggapan masyarakat masuk dan merespon raperda tersebut. Kabarnya, beberapa seniman di Dewan Kesenian Blambangan menolak rancangan tersebut.


Dalam pertimbangannya, raperda ini hendak melestarikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang ada di Banyuwangi dalam menghadapi arus globalisasi. Untuk menjalankan agar nilai-nilai adat tetap terlaksana dengan baik, maka Pemkab Banyuwangi memberikan jaminan kepada masyarakat adat untuk membentuk lembaga adat diluar struktur pemerintahan desa.
Upaya untuk memberikan perlindungan warisan leluhur terutama kesenian sebenarnya telah jauh-jauh dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi, terutama di era 90 an. Melalui proyek Jenggirat Tangi, Pemkab Banyuwangi telah membentuk “desa adat” yang merupakan desa wisata di Kemiren. Bahkan sebelumnya pula telah ditetapkan kesenian Gandrung sebagai maskot kota Banyuwangi. Melalui Desa Kemiren inilah, wisatawan diharapkan dapat melihat Banyuwangi “tempo doeloe”, dengan segenap warisan kebudayaan yang ada dari masyarakat using.
Membaca persoalan diatas memang kita harus meletakkan dulu analisisnya pada konteks sosio-politik masyarakat Banyuwangi, atau dalam konteks historiografi Banyuwangi. Hal ini penting agar amatan kita tidak sekedar melihat rumusan raperdanya, atau Desa Kemiren dan gandrung, akan tetapi maksud politik-kebudayaannya.
Using menurut Stoppelaar (1927: 146) merupakan kontruksi untuk mendefinisikan orang kulonan. Orang kulonan yang dimaksudkan oleh Stoppelaar adalah para imigran dari Jawa Tengah, Bali, Bugis, dan Mandar yang tinggal dan menetap di Semenanjung Blambangan itu. Karena Using merupakan identitas campuran, maka kontruksi yang berkembang menyebutkan bahwa Using bukanlah bagian dari kebudayaan Jawa.
Bukan bagian dari Jawa, istilah inipula yang dipakai oleh orang-orang Using pada jaman Majapahit, sebab mereka dalam target penundukan Majapahit. Sementara kejawaan waktu itu selalu merujuk pada kebudayaan yang dikembangkan oleh Majapahit, atau pusat-pusat kekuasaan pada jamannya. Ketika pusat kekuasaan politik pindah ke Jawa Tengah (Mataram), maka kejawaan juga berpusat kesana.
Masyarakat Using adalah masyarakat yang memiliki riwayat kekerasan dengan pusat-pusat politik di Jawa pra kemerdekaan. Tidak saja Majapahit yang mengincar Using untuk ditundukkan, tetapi juga Mataram, dan  VOC. Bahkan beberapa kadipaten  di Jawa Timur juga ingin mengembangkan kekuasaannya hingga ke Semenanjung Blambangan ini. Baca entri selengkapnya »

Sabtu, 16 Desember 2006

Perempuan Dayak Benuaq

Sabtu, 9 Desember 2006

Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl).

Tulisan ini akan bercerita tentang kehidupan perempuan Dayak Benuaq. Khususnya Bu Kotek dan Bu Neglon. Harapannya dari cerita tentang kedua orang ini, maka dapat sedikit tergambarkan peran-peran perempuan dalam suku Dayak Benuaq. Dalam keseharian, tampaknya tidak ada pembagian kerja yang begitu jelas antara perempuan dan lelaki Dayak Benuaq. Para perempuan, sebagaimana lelaki, juga menjala dan memancing ikan di sungai dan rawa-rawa, pergi ke ladang, menyandang air dalam jerigen-jerigen dengan anjat dari pancuran, sama-sama menenteng mandau, dan seterusnya.
Dayak Benuaq sendiri adalah salah satu kelompok dari sekian banyak sub suku yang ada dalam silsilah orang Dayak. Mereka tersebar di beberapa kampung di tepi Sungai Kedang Pahu, anak Sungai Mahakam. Secara kepamongprajaan termasuk ke dalam Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Propinsi Kalimantan Timur. Kampung-kampung tersebut meliputi Dasaq, Tembisak, Jerang Dayaq, dan Peninggir.


Tentang penaman Benuaq sendiri, versi salah seorang warga Desa Dasaq yang sempat berbincang-bincang dengan penulis, Pak Tontok, mengatakan bahwa nama Benuaq disematkan bagi siapa saja yang beragama Katolik dan Protestan. Jadi dalam pemahaman Pak Tontok, seseorang dari Suku Batak yang beragama Katolik misalnya, adalah seorang Benuaq. Di lain sisi seseorang muslim disebut dengan Pahu. Baca entri selengkapnya »