App Shopper: Titanic Made by Lapindo (Books)

Posted using ShareThis

Iklan

Pagi tadi saya lihat di tivi ada berita tentang pemberian gelar pahlawan pada Bung Tomo. Beberapa waktu lalu saya memang sempat heran, ternyata Bung Tomo bukan “pahlawan”, maksudnya tidak mendapatkan gelar pahlasan dari pemerintah. Padahal sepanjang sekolah dari SD sampai SMA, buku-buku PSPB selalu memuat fotonya, apalagi bila sedang bercerita tentang pertempuran surabaya. Dulu, ketika sekolah, saya mengira bung tomo ini adalah pahlawan yang sejajar dengan jendral sudirman dan lain-lain. Ternyata tidak. Ternyata pahlawan tanpa tanda jasa bukan hanya bapak dan ibu guru. Saya tidak tahu persis tentang kenapa gelar itu baru tersemat pada dirinya hari ini. Padahal peran Bung Tomo ini tak sepele. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang sedikit agak luas. Kala itu dialah salah satu operator dari resolusi jihad yang dikeluarkan kiai-kiai NU.

Saya juga tak menemukan soal resolusi jihad ini di lembar-lembar buku sejarah resmi di sekolah. Saya tahu tentang ini justru dari sumber tak resmi. Padahal resolusi ini punya makna penting—teramat sangat penting, malah—dalam konteks membangun negara-bangsa indonesia. Terlebih pada hari-hari seperti sekarang ini ketika makna jihad telah direbut demi kepentingan mereka yang berpikiran cekak, sempit, dan tak punya visi kebangsaan. Termasuk mereka yang sangat hobi menebar kekerasan. Resolusi yang dikeluarkan para kiai itu berisi seruan pada segenap kaum muslim untuk berperang melawan tentara sekutu, sebuah jihad yang dilancarkan untuk membela sebuah negara baru: republik Indonesia yang bukan sebuah negara islam. Bagi mbah Hasyim Asyari dan kawan-kawan, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berdasar Pancasila dan bersandar pada kemajemukan itu adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah. Jihad, bagi mereka, tak harus ada kaitannya dengan bendera islam, jubah, jenggot, dan simbol-simbol keislaman. Tak perlu anda bandingkan pengertian jihad ini dengan doktrin dari mereka yang memimpikan ide usang yang sudah karatan seperi khilafah, bandingkan saja resolusi ini dengan gagasan jihad yang sezaman seperti gerakan Darul Islam Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo yang terbit di sulawesi dan jawa barat. Anda akan bisa lihat betapa penting resolusi jihad ini dalam konteks kebangsaaan Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Sejak jaman kuliah dulu, saya suka sekali makan di angkringan. Favorit saya adalah teh manisnya yang kuenthel dan manis. The sejenis ini hampir bisa ditemukan di hampir semua angkringan yang saya singgahi. Dulu, nyaris setiap malam saya dinner di warung pinggir jalan beratap terpal ini. Berdesak-desakan di bangku kecil, makan sego kucing dua atau tiga bungkus ditambah sate usus dan tempe goreng dan krupuk. Sedap. Kenyang? Mungkin tidak. Tapi entah kenapa saya tidak merasa lapar setelah itu, paling tidak sampai esok paginya. Bukan semata soal makanannya yang membuat angkringan bisa menyeret saya malam-malam, tapi atmosfer “nongkrongnya” itu lho…Saya bahkan bisa menghabiskan berjam-jam hanya dengan satu gelas teh, tanpa rasa malu pula. Sampai larut malam bisa ngobrol kemana-mana. Topiknya bisa macam-macam, dari yang ringan sampai yang gagah-gagahan.

Namun sejak punya anak saya tidak terlalu sering lagi makan di angkringan. Meski begitu dalam beberapa kesempatan saya mampir ke sejumlah angkringan, baik yang baru maupun yang “klasik”. Saya merasa ada yang berubah. Terutama di angkringan-angkringan baru. Saya merasa angkringan sudah mengalami sesuatu yang membuatnya jauh berbeda degan angkringan seperti ketika saya kuliah. Barangkali ini adalah angkringan format baru. Angkringan yang mengalami komodifikasi. Maksud saya bukan komodifikasi dalam arti menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan, lha angkringan kan memang dagangan. Tapi maksud saya begini: bahwa yang sesungguhnya sedang dijajakan bukanlah sego kucing, sate usus, dan teh manis, tapi citra tentang sego kucing dan saudara-saudaranya itu. Di sini yang dijadikan komoditas adalah kesan dan imajinasi tentang angkringan, bukan barang dagangannya. Itulah yang saya maksud dengan komodifikasi angkringan

Angkringan-angkringan baru ini berupaya sebisa mungkin untuk menjual suasana angkringan—dengan gerobak dan sego kucingnya—namun dipoles sedemikian rupa menjadi lebih bersih, lebih manusiawi, dan—tentu saja—lebih mahal. Di beberapa tempat bahkan dengan menyediakan koneksi internet (hot spot), tapi disertai kualitas teh yang mengharukan. Baca entri selengkapnya »

Belasungkawa

Selasa, 24 Juni 2008

Lafadl Initiatives turut berbelasungkawa atas wafatnya Bapak Fauzan, ayah dari Achmad Uzair. Semoga Tuhan memberi beliau tempat terbaik di sisiNya. Semoga para kerabat, keluarga, dan sahabat yang ditinggalkan tetap diberi kesabaran dan ketegaran untuk menjalani kehidupan…

Sensor adalah …..

Sabtu, 14 Juni 2008

Sensor adalah s e n s o r

Secara sederhana sensor bisa diartikan sebagai pengawasan dan kontrol atas gagasan yang bersemi di tengah masyarakat. Biasanya sensor mengacu pada penyelidikan dan pengawasan ketat terhadap buku, majalah, naskah drama, film, siaran televisi, radio, berita, dan media komunikasi lainnya. Tujuannya adalah mengubah atau menghapus bagian-bagian yang diangap melanggar patokan tertentu, misalnya melanggar moral, mengancam keamanan nasional, dan lain-lain.
Konon, sensor sudah dikenal sejak jaman yunani kuno. Adalah socrates, orang pertama yang gigih melwan sensor, dia bahkan harus mati demi mempertahankan kebebasan berpikir. Socrates selalu mengajarkan pada murid-muridnya untuk mengembangkan kebebasan intelektual. Ironisnya, justru muridnya, Plato, yang menjadi filsuf pertama yang merumuskan konsep sensor di masa itu. Bagi plato, seni harus tunduk pada moralitas, seni yang tidak bisa memberi inspirasi prinsip moral haruslah dilarang. Demikian pula kepercayaan pada tuhan yang tidak tepat.
Sejarah mencatat bahwa konsep semacam itu memakan banyak korban. Tak terhitung jumlahnya orang yang harus mati karena diangap menyebal. Itu terjadi baik dalam sejarah masyarakat Barat (Roma dan Kristen) maupun sejarah Islam. Jika kita baca lembar-lembar sejarah, tak bisa dihitung berapa banyak buku yang harus dibakar dan dimusnahkan.


Di masa modern, sensor tidak lenyap. Bahkan ketika orang mulai merayakan kemenangan kebebasan individu melalui demokrasi liberal, sensor ternyata mewujud melalui pengawasan negara atas warganya. Atau, jia tidak demikian, sensor tampil dalam bentuk larangan atas gagasan lain di luar gagasan mainstream, terutam ayang dianggap mengancam tatanan yang sudah mapan.
Dalam bentuknya yang lebih canggih, sensor hadir melalui mekanisme surveillance:pengawasan 24 jam sehari atas tubuh warganegara.
Jadi?

Say Cheese Say Alkmaar

Jumat, 13 Juni 2008

Achmad Uzair
Dutch people have been commonly stereotyped as “cheese head”society. The term does not only refer to their food habit, but also lexically refers to the way Dutch militia protected their head with cheese “balls” in war against Spaniards. We have a lot more to learn about Dutch cheese if we visit Alkmaar.

Alkmaar is located about 40 km in the North of Amsterdam. This small town can be reached by trains (Nederland Spoor) from all over the country. From the Hague, there is always train to Alkmaar every 30 minutes. If you want to know more about Dutch cheese culture and its industry, this is the place you should visit. There are at least two distinctive attracting sites in Alkmaar: cheese market and cheese museum, both are located in the centrum. If you do not really know Alkmaar, do not worry of getting lost. All you need is to open your eyes and find “the living signs”. I mean, if you drop at Alkmaar train station and you find many people walking in groups like tourists, follow them. I bet they are coming to visit Alkmaar cheese market. It is not surprising because it is a typical tourist site frequently promoted by local tourism board. Baca entri selengkapnya »

Kekerasan Monas

Sabtu, 7 Juni 2008

Kekerasan Monas

1 Juni adalah hari ketika Pancasila dirumuskan. Hari ketika kebhinnekaan dan pondasi hidup berbangsa dibangun. Namun 1 juni lalu kita menyaksikan kelompok kecil orang yang tidak juga memahami semangat pancasila sebagai pijakan bersama untuk hidup sebagai satu bangsa.