Oleh:Deden Rukmana (Assistant Professor of Urban Studies at Savannah State University, USA)

Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam the 2005 Annual Meeting of the Urban Affairs Association, April 13-16 2005 di Salt Lake City, Utah

Main Description

The concept of empowerment has been developed and employed in a wide array of definitions in social-science research. Zimmerman (1995) distinguishes between empowering process and empowered outcomes. The first refers to how people, organizations, and communities become empowered, and the latter refers to the consequences of those processes. The concept of empowerment is applicable for those who lacks power or those whose potential is not fully developed in improving the quality-of-life, including urban poor. This concept encourages the poor to reacquire the power and control over their own lives (Friedmann, 1992).

Indonesia with a population of over 220 million is experiencing rapid urbanization. This rapid urbanization has led to many problems. Urban development in Indonesia does not much improve the welfare of urban poor. In many Indonesian cities, poverty is becoming more visible and serious.

 

To address such issues, the government of Indonesia has implemented the Urban Poverty Program (UPP). The program applies empowerment-oriented approach. The paper examines the extent to which the concept of empowerment applying in the UPP addresses the problems of poverty in Indonesia. This question is examined through case study of communities in Indonesia that received the programs. This examination includes the empowering processes and the empowered outcomes of those programs. The comparison between the empowerment-oriented programs and conventional programs will also be discussed. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Oleh: M Nurkhoiron (Anggota forum Lafadl, Direktur Eksekutif Desantara Institute for Cultural Studies Jakarta)

Gunretno adalah teman sekaligus “saudara”(sedulur) saya. Saya sering tidak pernah tega ketika tilpun tangan saya berdering lalu suara Gunretno muncul di tilpun itu dan dia meminta kedatangan saya bersua ke Pati, rumahnya. Tentu saya menganggapnya ini bukan undangan pribadi. Tapi undangan kepada Desantara agar masih bersedia terlibat dengan seluruh usaha yang dilakukan Gunretno untuk mengorganisasi petani di Pati.

Karena saya sendiri bertemu Gunretno di suatu pertemuan workshop kebudayaan Desantara di Pati Jawa Tengah. Kira-kira empat tahun yang lalu. Persisnya April 2002. Undangan dari Desantara seperti pada workshop-workshop sebelumnya, mengundang “kelompok-kelompok minoritas” untuk mempresentasikan pengalaman agama-agama lokal menghadapi sikap represi dan dominasi dari negara dan agama resmi. Mengundang mereka tentu bukan pilihan mana suka. Mereka diundang karena dalam berbagai literatur dan informasi di berbagai media, kelompok ini ternyata masih bertahan dengan segala tradisi ”keagamaannya”. Yang menarik pula, dari beberapa informasi di lapangan, kelompok ini masih enggan dianggap sebagai bagian dari umat Islam di Pati. Bahkan sebagian diantara mereka menolak mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) lantaran keharusan untuk mencantumkan label agama (agama resmi) di dalam kartu identitias tersebut.

Namun, terus terang saya harus mengakui dengan jujur, bayangan semula saya mengenai komunitas sedulur sikap adalah bayangan yang serba menyeramkan, tapi juga sekaligus menggelikan. Pengetahuan saya sangat sedikit mengenai kelompok ini. Belum lagi begitu menginjak kaki di kota Pati, saya bukannya mendapatkan pengetahuan yang lebih baik mengenai masyarakat Samin. Informasi dan pengetahuan populer di kalangan masyarakat Pati pada umumnya ternyata banyak dipenuhi oleh stereotipe yang negatif.

Di kalangan orang Pati, istilah “Samin” sesungguhnya lebih menyerupai sebagai sosok yang polos, banal, dan tidak jarang dicitrakan sebagai sosok “keras kepala”. Setidaknya kenyataan ini pernah saya rasakan ketika kali pertama berkunjungke desa Bombong Sukolilo Pati. Tepatnya pada tahun 2002, selang beberapa bulan setelah pertemuan workshop Desantara. “Mas, dimana ya Bombong itu?” Tanya saya suatu ketika, sambil meletakkan sepeda motor buntut dan istirahat sebentar usai perjalanan jauh dari kota Pati ke arah selatan. “Bombong mana ya?” Itu lho, kelompok Masyarakat Samin. “Oh saminan?” Tegasnya sambil matanya memandang saya penuh selidik. Nampaknya dia juga tidak sendirian. Pandangan orang-orang yang kebetulan bersebelahan dengan percakapan saya tadi, juga menyiratkan hal yang sama. Banyak mata tengah memandang saya. Tentu saja saya harus menyesauikan diri, bersikap bersahabat, dan menyembunyikan suatu reaksi yang kira-kira malah akan mencurigakan. Akhirnya, tak peduli dengan semua pendangan ini, begitu percakapan usai, saya lalu meneruskan perjalanan. Sialnya, pengalaman yang sama malah kembali berulang. Begitu saya tiba di desa Bombong, semua orang memandang penuh selidik ketika saya membuka pertanyaan mengenai posisi rumah Gunretno. “Saminan kuwi tho (orang Samin itu kan)?” Jawabnya singkat. Baca entri selengkapnya »

Tabir Politik Globalisasi Cetak Ulang

Senin, 13 November 2006

 

Lafadl kembali menerbitkan buku Tabir Politik Globalisasi karya William K Tabb. Edisi cetakan kedua ini disertai dengan epilog untuk edisi bahasa Indonesia. Anda bisa mendapatkan buku ini di toko-toko buku seperti Gramedia, Toga Mas, dan lain-lain atau dengan memesan langsung melalui e-mail ke lafadl@gmail.com. Harga buku Rp. 57.000. Review mengenai buku ini bisa di baca di sini, sini, sini, sini, dan sini.

Oleh: Heru Prasetia (Anggota Tim Kerja Lafadl)

Ini adalah buku pertama George Orwell. Sebuah buku cerita yang bersifat sangat otobiografis, lebih mendekati catatan harian ketimbang sebuah novel kendati banyak pula fiksi di dalamnya. Karya pertama Orwell ini ditolak oleh sejumlah penerbit, termasuk editor—sekaligus penulis—ternama, TS Elliot dari penerbit Faber&Faber. Barangkali karena gambaran mengenai kehidupan jalanan yang diceritakannya terlalu tidak nyaman untuk dibaca. Karena alasan komersial, buku yang tidak membuat nyaman pembacanya memang selalu dihindari oleh banyak penerbit. Realitas kemiskinan yang terlalu pedih tentu tidak akan membuat nyaman pembaca yang kebanyakan adalah kalangan kelas menengah ke atas. Naskah Orwell ini berdasar pada pengalamannya hidup sebagai seniman bohemian di Paris dan London. Kehidupan gelandangan yang dijalaninya menginspirasinya untuk menulis naskah yang berjudul “Down and Out in Paris and London” ini. Akhirnya, setelah ditolak di mana-mana, naskahnya ini diterima dengan tidak antusias oleh Victor Gallanz yang lantas menerbitkannya. Pada buku pertamanya inilah nama pena George Orwell diperkenalkan ke publik. Pada mulanya nama pena ini ia gunakan agar orang tuanya tidak shock jika tahu kehidupannya di Paris dan London. Namun sejak itu pula nama pena ini selalu dipakainya meski ia tak pernah mengubah namanya secara resmi.

Judul : Melarat

Judul Asli : Down and Out in Paris and London

Penulis : George Orwell

Penerbit : Lafadl Pustaka

Orwell sendiri terlahir bernama Eric Arthur Blair di Montihari Bengal India pada 25 Juni 1903. Orang tuanya adalah pegawai negeri sipil Inggris dan termasuk bagian dari apa yang ia sebut “kelas menengah atas yang paling bawah”. Pada 1905 ia pulang ke Inggris bersama ibunya lalu masuk ke sekolah dasar yang mewah, St Cyprian. Di sini ia mulai menyadari pembedaan kelas. Ia selalu dihina dan dipandang sebelah mata karena tidak datang dari keluarga kaya. Setelah itu ia melanjutkan studi ke sekolah Eton yang sangat ternama itu. Namun ia menolak untuk melanjutkan studinya ke Oxford atau Cambridge tapi malah masuk ke Kepolisian Imperial India di Burma, sebuah sikap yang oleh banyak pengamat disebut sebagai sikap pemberontak Orwell yang akan menjiwai karya-karyanya nanti. Di dinas kepolisian, sebagai seorang polisi yang dibenci masyarakat, kesadaran kelasnya semakin menguat. Muak pada perannya sebagai bagian dari sekrup imperialis, ia memutuskan untuk keluar dari dinas kepolisian. Setelah keluar dari dinas, ia pulang ke Inggris tahun 1927 dan menyatakan ingin menjadi penulis pada orang tuanya. Ia kemudian hidup sebagai seniman bohemian di Paris selama beberapa bulan hingga melahirkan karya pertamanya ini.

Kendati tidak sukses secara komersial, buku pertama Orwell ini mendapatkan banyak pujian dari para kritikus sastra. Ini adalah sebuah prestasi besar untuk seorang penulis tak dikenal semacam dirinya pada waktu itu. Meski tak banyak mendapat uang dari buku pertamanya ini ia tidak menyerah dan terus hidup sebagai penulis. Selanjutnya ia melahirkan karya yang sukses secara komersial. Karyanya yang sukses di pasaran adalah Coming Up for Air (1939). Kemudian Animal Farm (1945) dan 1984 (1949) mengangkat namanya ke jajaran penulis terkemuka pada zaman itu. Buku Animal Farm sendiri pada mulanya ditolak oleh penerbit-penerbit Inggris dan Amerika yang mengkuatirkan dampak dari mempromosikan karya yang kritis terhadap Revolusi Rusia, sebuah negara sekutu Inggris dan AS saat itu. Kegigihan Orwell sebagai seorang penulis –dan sebagai seorang manusia—juga tergambar di buku Down and Out in Paris and London yang dalam edisi Indonesia kami translasikan menjadi berjudul Melarat ini. Cara ia mengatasi kesulitan dan bagaimana ia menertawakan kepahitan hidupnya sendiri paling tidak telah memberi gambaran tentang bagaimana Orwell memandang hidup. Baca entri selengkapnya »

Oleh: Luthfi Makhasin (Anggota Forum lafadl, Pengajar di UNSOED purwokerto)

Dalam catatannya tentang perkembangan tarekat Naqsabandi-Kholidiyah di Indonesia, Bruinessen menyatakan bahwa tarekat ini biasanya mencari pengikut di kalangan ningrat dan kalangan elit politik, sebelum akhirnya menyebar di kalangan masyarakat umum. Gejala “ningratisasi” tarekat ini erat kaitannya dengan perkembangan politik Jawa akhir abad ke-19. Menyiasati pembatasan yang dilakukan Belanda terhadap gerakan tarekat setelah pemberontakan petani Banten 1888, Naqsabandi-Kholidiyah mencari patronase di kalangan elit politik pribumi untuk penyebarannya.

Tarekat Naqsabandi-Kholidiyah di Sokaraja pun bukan pengecualian. Pendiri dan penyebar pertama tarekat ini, Syekh Muhammad Ilyas, berasal dari latar belakang keluarga ningrat/bangsawan. Di samping seorang kyai, dia seorang bangsawan dengan gelar Bendoro Raden Mas dari keraton kasultanan Jogjakarta. Perkawinannya dengan Khadidjah makin mengukuhkan klaim keningratan ini, karena istrinya adalah putri Haji Abubakar, seorang penghulu landraat kabupaten. Pada masanya, penghulu landraat adalah seorang elit agama berpengaruh dari keluarga bupati. Penghulu bertanggung jawab dalam urusan hukum Islam di bawah perlindungan Belanda. Baca entri selengkapnya »

Oleh: Heru Prasetia (Anggota Tim Kerja Lafadl)

Saya mendapatkan buku A Small Place ini dari seorang teman bernama Kate Skillman. Ia seorang ekspatriat yang sekitar dua tahun silam tinggal di Jogja, mengajar bahasa Inggris di UGM. Saat saya berkunjung di kediamannya di perumahan Sekip sekitaran UGM, kami ngobrol tentang sastra Amerika Latin. Lentas ia menyodorkan buku karya Jamaica Kincaid ini. Bukunya tipis. Tak butuh banyak waktu untuk melahapnya. Ia menyebutnya sebagai buku yang memaparkan kondisi poskolonial dengan bahasa yang enteng dan renyah khas karya seorang sastrawan. Saya langsung tertarik untuk membaca buku itu. Sebab, sejauh yang saya tahu, berbagai tulisan tentang poskolonialisme selalu disajikan dengan paparan yang rumit. Entah kebetulan entah tidak, saya saat itu memang sedang memburu naskah populer tentang poskolonialisme. Banyak memang novel poskolonial, tapi biasanya tebal-tebal. Padahal, saya tahu, Lafadl tak mampu mengongkosi penerbitan buku-buku tebal semacam itu. Karena itu pulalah saya mencari naskah tipis namun berbobot. Akhirnya, saya putuskan untuk meminjam buku itu—belakangan buku itu tak pernah kembali pada Kate, sebab ia memutuskan untuk menghadiahkan buku itu pada saya.

Buku Kincaid ini bukan novel bukan pula cerpen. Ini adalah sebuah esei, sebuah narasi. Di buku ini Kincaid bercerita tentang Antigua, sebuah pulau seluas sembilan kali dua belas mil di British West Indies. Antigua adalah tempat lahir Jamaica Kincaid. Di tempat yang sangat indah inilah Kincaid dibesarkan. Antigua, kini adalah sebuah tempat pariwisata favorit di kepulauan Karibia. Ia punya keindahan alam luar biasa—langit cerah tanpa awan, lautan biru, dan sunset yang mengagumkan. Tapi apa yang tidak bisa dilihat orang—sebagai turis—adalah korupsi yang merajalela, berbagai sekolah dan rumah sakit yang bobrok, dan kemiskinan yang parah. Inilah yang disebut Kincaid sebagai warisan masa-masa kolonial yang memalukan. Kincaid memang menulis seolah sedang bicara dengan seorang turis—orang yang tidak sedang hendak berpikir terlalu serius dan rumit, orang yang sedang ingin menikmati indahnya dunia. Bagi Kincaid, apa yang mereka nikmati adalah semacam kutukan bagi penghuni tempat penuh kenikmatan tersebut. Seorang turis kulit putih yang membaca buku ini di perjalanan turistiknya pasti akan merasa masygul. Itulah barangkali mengapa Dictionary of Literary Biography menyebut buku ini sebagai an antitravel narrative. Saya sendiri membaca buku ini pada konteks-situasi yang bisa membangkitkan perasaan semacam itu, kendati saya bukan kulit putih (dan secara literal, kulit saya memang tidak putih hehehe…). Saya melahap tulisan Kincaid ini ketika sedang menemani istri saya mengikuti Ubud Literary Festival di Bali. Betapapun, Bali merupakan surga pariwisata di negeri ini. Nyaris seluruh denyut nadi kehidupan Bali didedikasikan untuk pariwisata. Membaca A Small Place di tempat seperti Bali membuat saya bisa merasakan atmosfir yang melingkupi Antigua sebagai sesama tempat tujuan wisata. Pada pariwisata atau turismelah kita bisa menyaksikan atau merasakan hubungan antara colonizer dan colonized di masa kini dengan sangat kentara. Dan bukankah dahulu Nusantara juga dicitrakan sebagai mooi indie yang menawan hati orang-orang kaya di Belanda? Baca entri selengkapnya »