Oleh: Nunung Q (Tim Kerja Lafadl Initiatives)

Hari itu 29 Agustus 2007, langit Banyuwangi yang merona indah masih setia menemani kami dalam pelatihan jurnalistik perempuan multikultural. Semua perasaan beradu– penat, haus ilmu, dan senam otak nampaknya juga setia menjadi bagian hidup kami dalam pelatihan jurnalistik yang mencoba menggabungkan dua tauhid – yang berbeda ini: penelitian dan jurnalisme. Tiada terasa 28 hari telah kami lalui bersama, bergulat dengan buku, lapangan, dan belajar banyak hal dalam pelatihan yang difasilitasi oleh Kajian Perempuan Desantara (KP Desantara)– sebuah LSM yang berkutat pada isu-isu perempuan dan feminisme multikultural.
Hari itu adalah hari-hari menjelang berakhirnya acara pelatihan yang begitu melelahkan raga dan otak kami.  Pada sepuluh hari pertama pelatihan,  kami diasupi materi dasar oleh Kirik Ertanto dari Save The Children  tentang akar penindasan pada perempuan, relasi kuasa dan dominasi akal budi. Otak dan kesadaran kami terasa terbolak-balik dengan pengetahuan baru yang disuguhkan Kirik. Semua yang dulunya kami pahami biasa nan alamiah, ternyata penuh gurat kuasa dan hegemoni kesadaran. Setelah puas dengan cerita penindasan, pelatihan dilanjutkan dengan pemetaan formasi sosial Banyuwangi dan diakhiri dengan proses penulisan. Masa penulisan inilah proses terberat yang kami harus lalui, setidaknya bagi beberapa teman dan saya—di mana menulis adalah sesuatu yang masih jarang kami lakukan. Melihat betapa hari-hari terakhir itu  kami berkutat dengan buku dan laptop,  barangkali panitia menangkap kepenatan yang kami rasakan. Sehingga secara tiba-tiba mereka mengajak kami mengunjungi salah satu dari 26 tempat wisata terkenal di Banyuwangi yakni kawah ijen—Kawah danau terbesar di Pulau Jawa. Terbayang sebuah kawasan gunung nan elok seperti yang tepampang dalam brosur wisata Dinas Pariwisata Banyuwangi.
Tawaran itu kami sambut dengan senang hati, hitung-hitung bolehlah kami sejenak melupakan rumitnya merangkai data riset lapangan kami. Setelah sebelumnya melihat Banyuwangi dari sisi kebudayaanya, inilah saatnya mengudara melihat sisi lain kota yang letaknya di paling ujung Jawa ini. Bagi saya sendiri ini adalah pengalaman pertama mendaki gunung yang tingginya lebih dari 3000 meter. Sebenarnya ada puluhan tempat wisata di Banyuwangi. Namun kawah ijen tempatnya  relatif paling dekat dengan tempat penginapan kami di Desa Wisata Using Kemiren yang kurang lebih 8 km arah barat dari kota Banyuwangi. Kawah Ijen sendiri berada 37 km di selatan desa Kemiren, yang memang berada dikaki gunung itu. Jika perjalanan dimulai dari Desa Wisata Using dengan menggunakan mobil pick-up berselimut terpal, yang jadi mobil angkutan penumpang utama daerah kaki Ijen, dibutuhkan waktu tidak kurang dari 3 jam karena jalan menanjak. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Selamat Berpuasa

Selasa, 11 September 2007

Lafadl Initiatives mengucapkan Selamat Berpuasa. Semoga dengan berpuasa kita diberi kerendahan hati untuk tidak memaksa orang lain mengistimewakan bulan puasa dan kita yang berpuasa….

Oleh: Uzair fauzan (anggota Perkumpulan Lafadl Initiatives)

The increasing need for acquisition of technology and modern sciences has been making traditional institutions of religious education losing more and more admirers. These institutions are often regarded as something backward, providing no contemporary knowledge needed for the current life, and thus producing generation who does not have enough compatability compared with those graduated from modern one. However, bahtsul masa’il meeting held in Jepara yesterday provided example that that is not the case. In the event, graduates from pesantren, Indonesian style of traditional moslem boarding school, proved to be in the supremation of logics over leading scientists from Jakarta.

Bahtsul masa’il, literally means discussing problems/issues, is a forum in the organization of Nahdlatul Ulama (the largest traditional moslem organization in Indonesia) to discuss social-contemporary issues exclusively from the perspective of fiqh (Islamic law). For NU followers, it is such a significant forum where they can have fatwa or hukm on certain (important) issues based on the agreement of majority of ulama’. In the organization of NU itself, it exists from national up to sub-district level. It even has its own special body, called Lajnah Bahtsul Masa’il (Body of Bahtsul Masa’il, commonly abbreviated as LBM) within NU structure. Since it is very related with fiqh which is considered quite significant in moslem’s daily life, the forum is usually prepared well. Days before the commencement of forum, issue(s) to discuss and questions to be answered are already distributed, attached to the invitation letter. This is intended to give opportunity for participants to study the case and collect ta‘bir, or reference or quotation from great ulamas to support their arguments. In the forum itself, there will be a moderator and a secretary who will write down all the discussion traffic, mustasyar team consisting of several leading old kyais, perumus team who will formulate the hukm agreement, and participants whose job is to give comments on the discussed issue and submit their takbir to the committee. Baca entri selengkapnya »

Nonton Pesta Rakyat di Pesantren

Sabtu, 1 September 2007

 Oleh: Sohib Masykur (Anggota Lafadl Initiatives)

Hingar-bingar suara tabuhan diiringi tari-tarian di sebuah halaman rumah di pinggir jalan itu tak mengganggu kekhusyukan para peserta pengajian yang lokasinya hanya berjarak tiga rumah di sebelah baratnya. Pentas kesenian, di satu sisi, dan pengajian, di sisi yang lain, seolah-olah diselenggarakan di dua dunia yang berbeda. Padahal jarak penyelenggaraan keduanya hanya berkisar 50 meter. Dari tempat pengajian suara tabuhan bisa didengar, sedangkan dari tempat pentas kesenaian suara MC yang membawakan acara pengajian juga masuk ke telinga. Baca entri selengkapnya »