Angkutan Sungai di Kalimantan Timur

Jumat, 25 Agustus 2006

Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl)

 

Kata orang, Kalimantan adalah pulau seribu sungai. Dan memang benar, di Pulau Borneo ini, beberapa sungai besar mengalir mengikis kulit bumi, dari hulu hingga ke hilir. Sebut saja misalnya, Sungai Barito di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur (Kaltim). Suatu ketika, saya mendapat kesempatan melakukan ekspedisi di Pulau yang wilayahnya hingga saat ini dimiliki oleh tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam ini.

Di Pulau Jawa, ketika orang berbincang tentang transportasi, maka kemungkinan besar imaji mereka akan terfokus pada transportasi darat seperti mobil dan kereta api. Atau di Pulau Sumatera, ketika orang berbicara tentang transportasi, yang tergambar mungkin adalah angkutan darat. Dan bagi penduduk di kedua Pulau, transportasi air adalah barang yang langka. Tentunya dengan beberapa pengecualian, seperti misalnya bagi penduduk yang berdiam di tepi sungai Sungai Musi di Kota Palembang. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Mata Air di Tegal Gundil

Jumat, 25 Agustus 2006

Oleh: Anggit Saranta : BengkelAO, Peserta Bengkel kerja Budaya lafadl-Desantara

Sabtu itu sebenarnya sama dengan sabtu-sabtu yang lain, tidak ada yang istimewa. Lalu lalang warga Bogor dan juga orang-orang Jakarta yang hendak meniju Puncak menjadi pemandangan biasa sebagaimana sabtu-sabtu sebelumnya. Jalanan ramai dan sesekali ada kemacetan akibat antrian di lampu merah. Beberapa pasangan muda-mudi juga terlihat asyik bercengkerama, entah apa yang mengasyikan mereka pastinya hanya mereka jugalah yang tahu.

Namun bagi saya sabtu itu adalah sabtu yang lain. Berbeda dengan sabtu malam biasanya dimana saya biasa menghabiskan waktu dengan nongkrong di air mancur, ke warnet atau main Playstation 2. Sabtu itu saya menuju Jl Bangbarung Raya, sebuah jalan yang ada di wilayah Tegal Gundil Bogor Utara, tepatnya jalan yang menuju Indraprasta. Di jalan itu ada sebuah warung yang bukan warung biasa. Para pengelolanya menyebutnya dengan “warteg”, singkatan dari Warung Tegal Gundil. Yang menarik warung tersebut ternyata dikelola muda-mudi warga kampung tegal Gundil yang menamakan kelompok/ komunitasnya dengan sebutan “KALAM” Komunitas Kampung Halaman. Warteg di jalan Bangbarung dalam pengamatan saya tidak sekedar warteg dalam arti sebenarnya. Di warung itu terdapat Distro, Perpustakaan baca, dan juga radio komunitas yang mereka namakan BeTe Radio. Lokasi Warteg yang ada di pinggir jalan saya nilai cukup strategis sehingga memudahkan siapapun yang hendak menuju lokasi tersebut. Seperti halnya saya sabtu itu. Meskipun kunjungan saya kali ini bukan yang pertama kali bahkan ini adalah kali ke empat saya berkunjung, tetap saja kedatangan kali ini sangat berkesan bagi saya. Baca entri selengkapnya »

A Small Place Not For A Small Mind..

Jumat, 18 Agustus 2006

Acara bengkel kerja yang kami gelar tempo hari pada akhirnya juga melahirkan berbagai komentar. Para peserta umumnya memberi tanggapan positif terhadap acara ini. Seorang peserta mengeluhkan kritik dan kecaman tajam dari fasilitator. Namun sebagian besar peserta justru menganggap kritik itu sebagai pemacu dan motivasi untuk menulis lebih baik. Mereka juga merasa bengkel semacam ini sebagai pengalaman baru justru karena tidak banyak materi ceramah namun lebih banyak menulis dan sharing. Para peserta umumnya memang tidak membayangkan acara pelatihan yang miskin materi ceramah ini. Fuad, misalnya, melukiskannya dengan mengatakan bahwa di acara ini peserta tidak ditempatkan sebagai gelas kosong yang diisi air, namun sebagai orang yang harus mencari gelas sendiri, mencari air sendiri, dan memberi warna sendiri pada air itu. Baginya, acara semacam ini punya manfaat besar karena membuatnya untuk selalu berpikir dan mengolah dirinya. Peserta lain, Tarlen, mengungkapkan bahwa bertemu dan sharing dengan berbagai orang dari berbagai latar belakang memberinya pengalaman baru (lihat di SINI).Angggit menuliskan pengalamannya di blog ini. Lihat di SINI.

Hal yang paling menggembirakan adalah bahwa peserta menyatakan ingin meneruskan dan mengembangkan kemampun menulisnya. Anggit bahkan “menuntut tanggungjawab panitia dan fasilitator” yang telah menyeretnya ke dunia tulis menulis. Maksudnya, ia merasa harus ada tindak lanjut dari proses belajar selama empat hari ini. Mereka juga bersepakat untuk membuat blog sebagai ajang belajar menulis. Blog tersebut bisa dilihat di SINI.

Para fasilitator juga punya tanggapan tersendiri atas acara ini. Hikmat merasa ada proses kemajuan yang sangat baik dibanding dengan draft awal tulisan para peserta.

Lebih jauh, Hikmat menuliskan pengalamannya di SINI. Mas Bisri menyatakan proses menulis juga harus mengalami bongkar pasang baik melalui proses kritik dari orang lain. Sebagai proses belajar, menulis dan menulis selama empat hari berturut-turut bengkel ini tidak memberi ruang bagi para peserta untuk “turun mesin”. Karena itu yang paling penting adalah proses selanjutnya setelah acara bengkel kerja ini untuk terus menulis dengan menyisakan ruang bongkar pasang dan terus memperbaiki…

BELAJAR MENULIS BELAJAR MENYIMAK

Jumat, 18 Agustus 2006

Sesuai tajuk acaranya, sebagian besar jadwal acara didesain sebagai forum untuk menulis. Materi model ceramah hanya disampaikan pada hari pertama (25 Juli), dengan pembicara St Sunardi (dosen pascasarjana IRB USD Yogyakarta) pada sesi pertama dan Lono Simatupang dan Hairus Salim pada sesi kedua. Selebihnya, forum digunakan untuk sharing antar peserta, menulis, dan presentasi. Forum dipimpin oleh dua fasilitator utama Hikmat Budiman (salah seorang anggota board Yayasan Desantara) dan Hairus Salim (majalah Gong), dan di-back up oleh Sujud Dartanto. Belakangan, Mas Bisri Effendi bergabung menjadi fasilitator dan sekaligus wakil dari Desantara. Dengan mencoba mempraktekkan pola pendidikan orang dewasa, forum memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk saling bertanya, mengkritik dan memberikan masukan.

Pada sesi pertama ceramah, St Sunardi secara umum membicarakan tentang perbedaan tradisi menulis dalam penulisan sejarah sosial dengan membandingkan karya Sartono Kartodirjo tentang Pemberontakan Petani dan karya EP Thompson yang berjudul The Making of the English Working Class. Dua perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada proses mengalami dan misi yang diemban. Berbeda dengan Thompson yang menjelaskan fenomena kebangkitan kelas pekerja melalui proses “mengalami” (induksi), St Sunardi menjelaskan fenomena dan fakta sejarah lewat kacamata teori (deduksi). Keduanya juga memiliki semangat yang berbeda dalam mengurai sejarah; Thompson menulis dengan semangat “to transform his class”, sedangkan Sartono hanya “to explain”. Lebih lanjut, Sunardi menekankan pentingnya penulisan sejarah-sejarah alternatif oleh para pelakunya sendiri, seperti yang digagas oleh Thompson.

Pada sesi kedua yang dilakukan setelah makan malam, Lono Simatupang menjelaskan secara panjang lebar konsep-konsep kunci dalam penulisan cultural studies yang kita pinjam konsepnya untuk penulisan sejarah sosial alternatif (materi presentasi bisa dilihat di SINI). Menegaskan presentasi St Sunardi siang sebelumnya, Lono secara khusus mendekonstruksi apa yang disebut sebagai sejarah dan data dalam pengertian akademis. Menurutnya, data bukan hanya kumpulan wawancara dan literatur, tetapi juga meliputi pengalaman pribadi. Hairus Salim, yang juga menjadi pembicara, menegaskan pentingnya metode dan teknik penulisan sebagai political acts pasca-penelitian dan pengumpulan data.

Pada pagi hari berikutnya (26 Juli), acara diisi dengan sharing pengalaman dari Sujud Dartanto, dosen muda dari Jurusan Seni Rupa ISI Yogya yang sekaligus pegiat kebudayaan anak muda. Dengan materi presentasi tentang acara September Something yang digagas sebagai media ekspresi anak muda seputar peristiwa G 30 S/PKI, Sujud berhasil menunjukkan contoh konkrit perlawanan anak muda terhadap bangunan Sejarah dominan versi negara. Pernak-pernik peristiwa dalam September Something yang ditampilkan secara visual dengan bantuan LCD itu menguatkan pesan yang disampaikan pada dua sesi hari sebelumnya. Sisa siang hari kedua itu kemudian dihabiskan untuk berdiskusi tentang sharing tema awal penulisan masing-masing peserta.

Memasuki agenda diskusi sebagian tulisan yang sudah jadi, panitia mulai dihadapkan pada mundurnya beberapa peserta. Malam itu, dua orang peserta meminta ijin pulang karena harus melakukan advokasi untuk komunitasnya. Pasca diskusi tulisan Anggit dan Firdaus yang mendapatkan banyak gugatan dari sisi tema dan isi malam hari kedua itu, kasus mundurnya peserta semakin menjadi-jadi. Pagi hari berikutnya (27 Juli), ketika menjelang sesi presentasi, kami mendapati 3 orang peserta lain mundur. Kali ini, mereka pergi meninggalkan acara tanpa pemberitahuan kepada panitia. Bagi kami tindakan mereka sungguh sangat mengecewakan. Sempat muncul pula pertanyaan kenapa tidak sejak awal diberlakukan semacam “kontrak belajar” kepada peserta. Tetapi, kami sendiri merasa tidak memerlukan kontrak semacam itu karena kami menganggap bahwa semua peserta adalah orang dewasa yang tidak perlu diberitahu what to do dan what should not do. Kami menduga format acara yang lebih banyak berupa diskusi dan presentasi adalah faktor terbesar yang mendorong mereka pergi tanpa pamit. Format seperti ini kemungkinan berbeda tajam dengan ekspektasi para peserta tersebut. Baca entri selengkapnya »

 

Setelah mengalami penundaan, acara Bengkel Kerja Budaya:Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat akhirnya bisa terselenggara pada tanggal 25-29 Juli 2006 di Jogjakarta. Semula, program ini direncanakan berlangsung pada tanggal 13-17 Juni 2006 (block note untuk peserta yang dipesan jauh hari sebelumnya pun bertanggal itu). Tetapi sebagai bentuk solidaritas kepada korban gempa bumi yang menimpa Yogya dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006 lalu, kami akhirnya sepakat untuk mengundur jadwal acara menjadi dengan tempat penyelenggaraan yang masih sama, di Studia Audio Visual PUSKAT Sinduharjo Sleman Yogyakarta.

Sebelumnya, untuk mempublikasikan acara ini, kami menggunakan dua metode yaitu melalui mailing-list (milis) dan penyebaran pamflet. Panitia mempublikasikan acara ini di lebih 30 milis. Informasi via milis ini banyak disebarluaskan kembali oleh para pengguna internet, entah itu lewat japri (jalur pribadi) atau di-forward lagi ke milis yang lain. Publikasi ini juga terpampang di sejumlah blog komunitas selain, tentu saja, di blog lafadl ini. Lihat di SINI dan SINI. Jaringan komunikasi via internet terbukti sangat efektif untuk publikasi acara semacam ini. Karena jangkauan internet yang tak mengenal ruang dan batas, beberapa lembaga di luar Jawa menerima publikasi acara ini dan sempat menyatakan ketertarikan untuk melamar menjadi peserta.

Publikasi via pamflet dilakukan terutama ke daerah-daerah yang diperkirakan akses jaringan internetnya lemah. Kami mengirimkan pamflet via pos ke sedikitnya 20 daerah, dengan sasaran lembaga yang kami perkirakan menjadi tempat berkumpulnya calon-calon penulis-aktivis, seperti perpustakaan daerah, komunitas-komunitas baca, LSM, CBO atau ormas. Hingga batas akhir aplikasi, terhitung ada 53 pelamar melalui email lafadl@gmail.com dan 4 pelamar lainnya mengirimkan aplikasi lewat pos.

Di dalam publikasi itu, selain menetapkan batas usia peserta (maksimal 30 tahun), kami hanya menetapkan syarat minimal bagi pelamar, yaitu menyertakan data diri dan komunitas pelamar (tanpa formulir khusus dari panitia), serta contoh tulisan dengan tema apapun. Data diri dan komunitas pelamar diperlukan untuk melihat peluang penyebaran gagasan multikulturalisme, sedangkan contoh tulisan diperlukan untuk mengkonfirmasi apakah pelamar sudah menguasai teknik menulis (karena program secara khusus dirancang untuk memberikan perspektif, bukan wawasan tentang teknik penulisan). Belakangan, kami baru sadar menemui banyak kesulitan dalam menseleksi peserta karena “syarat minimal” tersebut. Baca entri selengkapnya »

Nggelar Ngelmu Ngruwat Bumi

Selasa, 15 Agustus 2006

Oleh: Sobirin (Tim Kerja Lafadl)

Desa Golo malam itu mempunyai hajatan untuk melakukan ruwatan agar penduduk desa ini terlepas dari segala bala. Sudah beberapa bulan belakangan penduduk desa ini dicekam oleh teror dengan meninggalnya beberapa orang secara tidak wajar. Sekitar sebulan yang lalu Mbah Lami ditemukan telah meninggal didasar jurang yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Malam sebelum ditemukan, penduduk desa telah mencari-cari Mbah Lami karena dilaporkan hilang secara mendadak dari rumahnya. Pencarianpun dilakukan malam itu juga dengan bantuan warga sekitar. Keesokan harinya Mbah Lami ditemukan telah meninggal di dasar jurang dengan hanya mengalami luka gores didadanya. Anehnya, Mbah Lami ditemukan dalam posisi duduk di atas sebuah batu kali. Berita tentang meninggalnya Mbah Lami segera tersebarkeseluruh desa.Ini menambah daftar meninggalnya pendudukdesaini secara tidak wajar setelah sebelumnya Lik Suparto dan Mbah Rijem yang meninggal gantung diri, Kang Sarju yang mengalami kecelakaan motor didekat kuburan dan beberapa orang lainnya yang juga meninggal secara tidak wajar.
Baca entri selengkapnya »