Oleh: Tata Khoiriyah

Semua orang sepakat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sistem ini diperkenalkan ketika Islam mulai masuk di Indonesia. Bahkan keberadaan pesantren yang tetap survive hingga sekarang di tengah arus globalisasi, dan individualisme, yang kian mengental, pesantren konsisten menyuguhkan kitab kuning dan sistem pendidikan yang oleh sebagian orang dianggap  masih tradisional, merupakan keunikan tersendiri yang dimilikinya. Di samping itu Pesantren turut menorehkan sejarah panjang di Indonesia. Keberadaannya kerapkali memberikan andil dalam usaha penyelamatan generasi muda dari ancaman dekadensi moral.

Pada awalnya kehadiran pesantren hanyalah untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pembelajaran agama. Sistem yang digunakan hanya sebatas pengajian yang dilakukan pada malam hari dilanggar atau musholla yang ada. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat mulai banyak yang mempercayakan anak-anak mereka kepada para alim ulama untuk dididik secara intensif. Celah ini dibaca oleh Sunan Ampel yang mulai mengenalkan sistem padepokan dimana santri mulai menetap di tempat guru yang kini dikenal dengan istilah pondokan. Tradisi ini kemudian menjadi budaya masyarakat jawa yang lebih memilih pondok pesantren sebagai ‘sekolah’ anak-anak mereka sebagaimana mereka dititipkan orang tua mereka kepada sang kyai. Salah satu kelebihan dari sistem pendidikan pesantren adalah sistem pendidikan yang mensistesakan dimensi sosial, budaya dan agama. Sehingga antara kurikulum materi dengan kurikulum kehidupan yang tidak bisa dipisahkan secara pasti, semua berbaur dan mengalir begitu saja. satu keunikan yang dimiliki dalam kehidupan pesantren adalah keterkaitan emosi yang terjalin di pondok tidak sekedar hubungan antara kyai dan murid saja melainkan orang tua dan anak.

Selama ini pesantren dibedakan berdasarkan kyai, jumlah santri, dan jenis kitab-kitab yang diajarkan. dari sinilah pondok pesantren dikalisifikasikan menjadi dua jenis, yaitu : pesantren tradisional dan pesantren modern. Dikatakan pesantren tradisional karena dilihat dari sistem pengajarannya yang masih menggunakan sistem pesantren-pesantren terdahulu. Pesantren jenis ini relatif mempertahankan tradisi pengajaran nahwu dan fiqih orientied yang tidak memperhitungkan waktu, strategi, dan metode yang lebih kontekstual dengan perkembangan zaman. Disamping itu sistem pembagian waktu belajar pada umumnya berpatokan pada waktu sembahyang. Mengapa harus nahwu dan fiqih? Nahwu dipercaya sebagai kunci untuk memahami berbagai jenis ilmu dari kitab-kitab yang ada. Sedangkan fiqih merupakan ilmu yang banyak berhubungan dengan masalah sosial keseharian. pesantren jenis ini pada umumnya memiliki figur kyai yang kharismatik dan menjadi panutan tidak hanya santri itu sendiri melainkan masyarakat sekitar yang tinggal disekitar pesantren tersebut. Jumlah santri yang tinggal di pesantren ini biasanya berjumlah sedikit, namun ciri khas yang terasa adalah sikap keikhlasan, kemandirian dan tirakat yang tertanam erat pada diri kyai dan santri. Baca entri selengkapnya »