Busana, Identitas, dan Makna…

Rabu, 18 Maret 2009

Konon, setiap kali mencoba duduk di singgasananya, Raden Patah, raja pertama kesultanan demak itu, tiba-tiba jatuh sakit, tak sadarkan diri, dan terjungkal. Baru setelah ia melepas pakaian hajinya dan menggantikannya dengan tutup kepala Jawa, lengkap dengan ornamen-ornamen di telinganya, ia dapat duduk di singgasananya dengan selamat. De Graaf, sebagaimana dikutip Van Dijk dalam tulisannya yang berjudul Sarung, Jubah, dan Celana. Penampilan sebagai Sarana Pembedaaan dan Diskriminasi, mencatat anekdot ini untuk mejelaskan arti penting pakaian dalam kontestasi identitas Jawa-Islam di masa lalu. Tentang pertarungan islam dan jawa ini, banyak ahli telah menuliskan analisisnya.

Secara sederhana ada dua pendapat mengenai hal ini. pertama pendapat yang mengatakan bahwa seislam-islamnya orang jawa, ia tetaplah orang jawa. Pendapat ini tentu merujuk pada kuatnya resistensi jawa atas islam. Jadi, islam yang ada di jawa, adalah islam yang telah dijinakkan, telah dijawakan. Sementara pendapat lain mengatakan bahwa sejawa-jawanya orang islam, ia tetap orang islam. Maksudnya, meski ada aroma jawa, meski ada unsur jawa dalam praktik keagamaan orang islam-jawa, sejatinya itu adalah praktik yang juga berakar pada tradisi islam. Pendapat semacam ini diwakikli oleh Woodward. Sedangkan pendapat pertama tadi tercermin pada penilaian Geertz atas apa yang ia sebut sebagai agama orang jawa. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Warna-Warni Kalimasada

Senin, 20 Oktober 2008

Sewaktu masih kecil, menjelang bobo, saya paling sendang mendengar cerita wayang dari Bapak saya. Ceritanya bisa dari epos mahabarata maupun Ramayana. Saya lebih menyukai cerita Mahabarata. Bagi saya lebih seru ketimbang Ramayana yang saat itu hanya saya mengerti sebagai dua orang berebut kekasih. Menginjak remaja saya mulai senang mendengarkan siaran wayang di radio. Dalang favorit saya adalah Ki Hadi Sugito. Dalang ini sungguh luar biasa. Saya baru sekali melihat pentas dia secara langsung, selebihnya saya mendengarkannya lewat radio. Konon, kata para penggemar wayang, dalang satu ini memang lebih enak didengar ketimbang dilihat karena dia tak punya sabetan dahsyat macam Ki Manteb. Tapi bagi saya, sebagai pendengar radio, Ki Hadi Sugito adalah seorang maestro. Dia bisa menyuarakan dengan sangat baik hampir semua tokoh wayang dengan suara khas masing-masing. Mulai dari Kresna saat di istana, Kresna saat di lapang perang, Bagong, Werkudara, maupun suara perempuan seperti Sembadra atau Banowati. Selain itu, dalang ini juga sangat pintar mbanyol. Tidak jarang saya tertawa cekikian di tengah malam larut. Ingat, siaran wayang di radio disiarkan semalam suntuk. Demikianlah, sejak remaja saya menggemari wayang dan menghafal nama-nama termasuk nama-nama pusaka. Salah satunya yang paling populer bahkan di kalangan orang yang tak mengerti wayang adalah pusaka atau jimat Kalimasada.

Kalimasada adalah pusaka yang diberikan para Dewa kepada Pandawa, terutama Puntadewa, sulung Pandawa. Puntadewa ini memang tokoh istimewa. Dia mewakili keutamaan ksatria, mewakili manusia purna. Bahkan nanti di akhir cerita dia adalah satu-satunya Pandawa yang berhasil mencapai surga. Barangkali karena itulah, pusaka paling sakti ini disematkan kepadanya. Konon, puntadewa menyimpan pusaka ini di gelung rambutnya.

Kesaktian pusaka ini pernah menjadi lakon tersendiri dalam dunia pewayangan. Lakon paling populer menyangkutnya adalah lakon “Petruk dadi ratu”. Ketika para pandawa sibuk membangun tempat peribadatan, pusaka-pusaka mereka menghiang. Termasuk Kalimasada. Somehow, Petruk—punakawan, abdi para pandawa—menemukan pusaka itu. Sontak ia mendapati dirinya mempunyai kekuatan super maha dahsyat. Sebuah negeri ditaklukkannya dan dia menjadi ratu, menjadi penguasa. Dalam dunia wayang, ini adalah kisah jungkir balik. Petruk bertindak semaunya, mengacaukan segala tatanan. Pertama kali mendengar cerita ini saya hanya mengertinya sebagai kisah penuh kelucuan. Tak terpikir oleh saya apakah kisah ini menyorongkan dongeng bahwa orang kecil tak bisa jadi penguasa? Ataukah kisah dengan moral cerita betapa orang tak perlu sibuk membangun bangunan pemujaan dan melupakan esensi spiritualitasnya? Yang saya tahu saat itu, Petruk menjadi tak terkalahkan dengan Kalimasada di tangannya. Baca entri selengkapnya »