Oleh: Salma Ibrahim

Sekolah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Semacam memiliki ketidaksadaran kolektif [1]–meminjam istilah Jung-, setiap kita pada umumnya melewati tahapan sekolah begitu saja, merasa bahwa tahapan tersebut memang sudah seharusnya dilalui tanpa harus mempertanyakan kembali alasannya. Saya termasuk orang yang juga mengalami hal tersebut. Sejak usia 4 tahun, saya telah disekolahkan di TK. Selanjutnya secara berjenjang saya masuk SD, SMP, SMA, hingga kini ada di bangku kuliah. Tak pernah sekalipun saya mempertanyakan, apalagi menolak untuk bersekolah. Saya berfikir bahwa setiap orang memang harus sekolah, karena hanya orang bodohlah yang tidak sekolah. Dan orang menjadi bodoh karena tidak sekolah. Padahal, apakah benar seperti itu?

Pandangan saya tentang sekolah berubah ketika saya dipertemukan dengan kehidupan yang sangat berbeda dengan saya. Sekelompok masyarakat yang tinggal di pinggir kali Code. Bagi saya, ini sebuah keberuntungan karena pertemuan itu membuka pikiran saya yang selama ini ternyata masih sangat sempit. Dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, sepertinya saya masih belum mengenal dengan baik rata-rata masyarakat Indonesia. Saya selama ini menikmati keberadaan saya di sisi kanan-meski bukan yang paling ujung- dari kurva normal masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Dan permasalahan yang dihadapi sebegitu kompleksnya. Salah satu permasalahan yang turut menghantui adalah tentang sekolah.

Tidak semua masyarakat dapat bersekolah dengan mudah, tinggal mendaftar pada tahun ajaran baru, melengkapi persyaratan, dan masuk sekolah. Dalam tulisan ini saya ingin menceritakan sepenggal kisah tentang seorang anak dari pinggir kali Code yang dalam usianya yang belum dewasa, dia sudah harus merasakan dan dituntut untuk menempati posisi sebagai orang dewasa. Bagaimana dia pada suatu malam mengeluarkan kalimat dalam suara lirih,”Capek, Mbak Tadi di sekolah banyak pelajarannya…” Bagaimana sekolah dalam pandangan seorang Jepi-nama anak tersebut- yang selama ini tidak pernah dipertanyakan oleh pengamat maupun ahli pendidikan. Baca entri selengkapnya »