Mahalnya Demokrasi

Kamis, 12 Februari 2009

Demokrasi memang mahal, tapi bukan untuk mengongkosi hal-hal konyol. Paling konyol, tragis, memalukan, damenyesakan, adalah yang terjadi baru-baru ini:ketua DPRD Sumatera Utara tewas dikeroyok massa demonstran yang meinta pemekaran wilayah. Bahkan, ihwal pemekaran wilayah ini sudah konyol sejak dalam bahasa. Perhatikanlah: pemekaran artinya adalah menjadikan sesuatu menjadi mekar, bertambah banyak, meluas. Tapi adakah wilayah itu meluas? Tidak. Justru menyempit. Yang mekar bukan wilayah, tapi pemerintahan. Yang bertambah adalah pemerintah daerah, bukan wilayah suatu daerah. Itu dari segi bahasa. Lalu adakah pemekaran ada hubungannya dengan kesejahteraan. Ada, tentu saja. Tapi cuma bagi elit politik lokal yang tidak mendapat bagian di daerah yang sudah ada. Maka mereka minta daerah baru, supaya bisa menduduki pos-pos tinggi sebagai kepala daerah dan sejenisnya. Kesejahteraan rakyat?Ah, itu nomor tiga puluh empat.

Dalam konteks ini saya pernah mendengar usul yang cukup menarik: sebaiknya anggaran tidak dialokasikan berdasarkan pada pemerintahan, tapi pada wilayah. Satu pemerintahan daerah bisa saja mendapatkan jatah alokaso dana yang lebih besar ketimbang dua atau tiga pemerintah karena pertimbangan prioritas pembangunan. Dengan begini, hasrat orang untuk berebut kue melalui pemerintahan daerah baru bisa dikendalikan. Saya bukan ahli politik, jadi tidak tahu bagiamana diskursus yang lebih detail tentang kekonyolan satu ini. Yang jelas, dengan akal sehat saja, sudah terlihat bahwa tidak ada visi yang jelas tentang bagaimana pembagian daerah dan stategi pembangunan di negeri ini. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Komik Nabi, Mencintai Nabi

Jumat, 21 November 2008

Nabi Muhammad. Semua orang islam—yang taat maupun yang tidak—pasti kenal nama itu. Semua orang yang mendaku beragama islam pasti mengaguminya. Bahkan yang paling tidak taat sekalipun tak pernah berani menghinanya secara sungguh-sungguh. Di kalangan santri, kecintaan pada nabi bahkan sudah ditiupkan sejak dalam kandungan. Sewaktu masih orok, tembang-tembang pujian pada nabi diperdengarkan di telinganya. Menginjak remaja, ia akan belajar mendendangkan pujian itu. Saya masih ingat ketika masih bocah dulu berdengang barjanzi sampai larut malam dengan suara yang pasti tidak karuan.

Tak perlu menjadi ahli islam untuk tahu bahwa nabi muhammad adalah sentral dalam keyakinan orang islam. Sebagai manusia historis, semua orang islam sepakat bahwa ia adalah nabi, rasul, dan pemimpin. Dalam khazanah sufi, muhammad sebagai konsep bahkan mendahului segala sesuatu, bahwa dunia ini tercipta demi apa yang disebut “nur muhammad”.

Ketika hari-hari ini muncul komik nabi di sebuah blog (saya sendiri belum sempat melihatnya karena keburu diblokir), orang-orang islam begitu marah meski belum seheboh ketika gambar sejenis muncul di Eropa beberapa waktu lalu. Reaksi sejumlah kalangan menurut saya sudah pantas dan patut. Misalnya dengan ramai-ramai memblokir blog bersangkutan. Tapi sebagian yang lain bertindak lucu, ngawur, dan menggelikan, misalnya ketika orang-orang depag tasikmalaya melakukan sweeping ke warnet-warnet di kota itu (aduh pak, apa salahnya warnet?), atau ketika Roy Suryo menyalahkan para blogger karena mengumbar berita tak benar. Atau ketika orang mulai ramai-ramai menebarkan serangan kebencian serupa untuk agama lain: sebuah tindakan konyol yang konon demi membela nabi. Padahal nabi tidak akan terkurangi kemuliaannya hanya dnegan selembar komik. Baca entri selengkapnya »

Pagi tadi saya lihat di tivi ada berita tentang pemberian gelar pahlawan pada Bung Tomo. Beberapa waktu lalu saya memang sempat heran, ternyata Bung Tomo bukan “pahlawan”, maksudnya tidak mendapatkan gelar pahlasan dari pemerintah. Padahal sepanjang sekolah dari SD sampai SMA, buku-buku PSPB selalu memuat fotonya, apalagi bila sedang bercerita tentang pertempuran surabaya. Dulu, ketika sekolah, saya mengira bung tomo ini adalah pahlawan yang sejajar dengan jendral sudirman dan lain-lain. Ternyata tidak. Ternyata pahlawan tanpa tanda jasa bukan hanya bapak dan ibu guru. Saya tidak tahu persis tentang kenapa gelar itu baru tersemat pada dirinya hari ini. Padahal peran Bung Tomo ini tak sepele. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang sedikit agak luas. Kala itu dialah salah satu operator dari resolusi jihad yang dikeluarkan kiai-kiai NU.

Saya juga tak menemukan soal resolusi jihad ini di lembar-lembar buku sejarah resmi di sekolah. Saya tahu tentang ini justru dari sumber tak resmi. Padahal resolusi ini punya makna penting—teramat sangat penting, malah—dalam konteks membangun negara-bangsa indonesia. Terlebih pada hari-hari seperti sekarang ini ketika makna jihad telah direbut demi kepentingan mereka yang berpikiran cekak, sempit, dan tak punya visi kebangsaan. Termasuk mereka yang sangat hobi menebar kekerasan. Resolusi yang dikeluarkan para kiai itu berisi seruan pada segenap kaum muslim untuk berperang melawan tentara sekutu, sebuah jihad yang dilancarkan untuk membela sebuah negara baru: republik Indonesia yang bukan sebuah negara islam. Bagi mbah Hasyim Asyari dan kawan-kawan, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berdasar Pancasila dan bersandar pada kemajemukan itu adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah. Jihad, bagi mereka, tak harus ada kaitannya dengan bendera islam, jubah, jenggot, dan simbol-simbol keislaman. Tak perlu anda bandingkan pengertian jihad ini dengan doktrin dari mereka yang memimpikan ide usang yang sudah karatan seperi khilafah, bandingkan saja resolusi ini dengan gagasan jihad yang sezaman seperti gerakan Darul Islam Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo yang terbit di sulawesi dan jawa barat. Anda akan bisa lihat betapa penting resolusi jihad ini dalam konteks kebangsaaan Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Sejak jaman kuliah dulu, saya suka sekali makan di angkringan. Favorit saya adalah teh manisnya yang kuenthel dan manis. The sejenis ini hampir bisa ditemukan di hampir semua angkringan yang saya singgahi. Dulu, nyaris setiap malam saya dinner di warung pinggir jalan beratap terpal ini. Berdesak-desakan di bangku kecil, makan sego kucing dua atau tiga bungkus ditambah sate usus dan tempe goreng dan krupuk. Sedap. Kenyang? Mungkin tidak. Tapi entah kenapa saya tidak merasa lapar setelah itu, paling tidak sampai esok paginya. Bukan semata soal makanannya yang membuat angkringan bisa menyeret saya malam-malam, tapi atmosfer “nongkrongnya” itu lho…Saya bahkan bisa menghabiskan berjam-jam hanya dengan satu gelas teh, tanpa rasa malu pula. Sampai larut malam bisa ngobrol kemana-mana. Topiknya bisa macam-macam, dari yang ringan sampai yang gagah-gagahan.

Namun sejak punya anak saya tidak terlalu sering lagi makan di angkringan. Meski begitu dalam beberapa kesempatan saya mampir ke sejumlah angkringan, baik yang baru maupun yang “klasik”. Saya merasa ada yang berubah. Terutama di angkringan-angkringan baru. Saya merasa angkringan sudah mengalami sesuatu yang membuatnya jauh berbeda degan angkringan seperti ketika saya kuliah. Barangkali ini adalah angkringan format baru. Angkringan yang mengalami komodifikasi. Maksud saya bukan komodifikasi dalam arti menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan, lha angkringan kan memang dagangan. Tapi maksud saya begini: bahwa yang sesungguhnya sedang dijajakan bukanlah sego kucing, sate usus, dan teh manis, tapi citra tentang sego kucing dan saudara-saudaranya itu. Di sini yang dijadikan komoditas adalah kesan dan imajinasi tentang angkringan, bukan barang dagangannya. Itulah yang saya maksud dengan komodifikasi angkringan

Angkringan-angkringan baru ini berupaya sebisa mungkin untuk menjual suasana angkringan—dengan gerobak dan sego kucingnya—namun dipoles sedemikian rupa menjadi lebih bersih, lebih manusiawi, dan—tentu saja—lebih mahal. Di beberapa tempat bahkan dengan menyediakan koneksi internet (hot spot), tapi disertai kualitas teh yang mengharukan. Baca entri selengkapnya »

Warna-Warni Kalimasada

Senin, 20 Oktober 2008

Sewaktu masih kecil, menjelang bobo, saya paling sendang mendengar cerita wayang dari Bapak saya. Ceritanya bisa dari epos mahabarata maupun Ramayana. Saya lebih menyukai cerita Mahabarata. Bagi saya lebih seru ketimbang Ramayana yang saat itu hanya saya mengerti sebagai dua orang berebut kekasih. Menginjak remaja saya mulai senang mendengarkan siaran wayang di radio. Dalang favorit saya adalah Ki Hadi Sugito. Dalang ini sungguh luar biasa. Saya baru sekali melihat pentas dia secara langsung, selebihnya saya mendengarkannya lewat radio. Konon, kata para penggemar wayang, dalang satu ini memang lebih enak didengar ketimbang dilihat karena dia tak punya sabetan dahsyat macam Ki Manteb. Tapi bagi saya, sebagai pendengar radio, Ki Hadi Sugito adalah seorang maestro. Dia bisa menyuarakan dengan sangat baik hampir semua tokoh wayang dengan suara khas masing-masing. Mulai dari Kresna saat di istana, Kresna saat di lapang perang, Bagong, Werkudara, maupun suara perempuan seperti Sembadra atau Banowati. Selain itu, dalang ini juga sangat pintar mbanyol. Tidak jarang saya tertawa cekikian di tengah malam larut. Ingat, siaran wayang di radio disiarkan semalam suntuk. Demikianlah, sejak remaja saya menggemari wayang dan menghafal nama-nama termasuk nama-nama pusaka. Salah satunya yang paling populer bahkan di kalangan orang yang tak mengerti wayang adalah pusaka atau jimat Kalimasada.

Kalimasada adalah pusaka yang diberikan para Dewa kepada Pandawa, terutama Puntadewa, sulung Pandawa. Puntadewa ini memang tokoh istimewa. Dia mewakili keutamaan ksatria, mewakili manusia purna. Bahkan nanti di akhir cerita dia adalah satu-satunya Pandawa yang berhasil mencapai surga. Barangkali karena itulah, pusaka paling sakti ini disematkan kepadanya. Konon, puntadewa menyimpan pusaka ini di gelung rambutnya.

Kesaktian pusaka ini pernah menjadi lakon tersendiri dalam dunia pewayangan. Lakon paling populer menyangkutnya adalah lakon “Petruk dadi ratu”. Ketika para pandawa sibuk membangun tempat peribadatan, pusaka-pusaka mereka menghiang. Termasuk Kalimasada. Somehow, Petruk—punakawan, abdi para pandawa—menemukan pusaka itu. Sontak ia mendapati dirinya mempunyai kekuatan super maha dahsyat. Sebuah negeri ditaklukkannya dan dia menjadi ratu, menjadi penguasa. Dalam dunia wayang, ini adalah kisah jungkir balik. Petruk bertindak semaunya, mengacaukan segala tatanan. Pertama kali mendengar cerita ini saya hanya mengertinya sebagai kisah penuh kelucuan. Tak terpikir oleh saya apakah kisah ini menyorongkan dongeng bahwa orang kecil tak bisa jadi penguasa? Ataukah kisah dengan moral cerita betapa orang tak perlu sibuk membangun bangunan pemujaan dan melupakan esensi spiritualitasnya? Yang saya tahu saat itu, Petruk menjadi tak terkalahkan dengan Kalimasada di tangannya. Baca entri selengkapnya »

Darah Muda

Kamis, 24 Juli 2008

Darah Muda. Itu judul lagu Rhoma Irama. Inti pesan lagu itu, kalau tidak salah ingat, adalah bahwa anak muda yang berdarah muda punya kecenderungan untuk bertindak labil, selalu merasa gagah dan menang sendiri. Waktu menyusun lagu itu Rhoma sepertinya juga masih muda, tapi saya tidak tahu apakah darahnya juga muda, cuma sampai sekarang Rhoma memang masih tampak berdarah muda alias suka menang sendiri hehehe…

Kategori anak muda dan pemuda di negeri ini memang tak pernah jelas. Ia kadang rancu dengan kategori remaja dan di saat lain rancu pula dengan orang yang menjelang tua. Lihat saja organisasi-organisasi kepemudaan itu, pengurusnya sudah tidak muda lagi jika dilihat dari sisi usia, paling tidak jika merujuk pada pengertian “youth” yang dirilis unesco yang menyebut bahwa mereka adalah orang yang berusia 15-24 tahun.

Lalu siapa sih pemuda itu? Jika merujuk ukuran paling sederhana, itu bisa dibaca dari sisi umur. Usia muda berarti orang yang sudah lewat masa kecil dan masuk usia dewasa. Dari sisi legal sebenarnya tak ada kategori pemuda, yang ada adalah anak-anak dan dewasa. Pemuda, dengan begini, masuk dalam kategori dewasa. Di negara mapan, biasanya secara legal pemuda adalah mereka yang sudah melewati usia 16. Konsekuensinya adalah mereka lantas bisa memilih dalam pemilu, bisa punya surat ijin mengemudi, boleh minum alkohol, dan sebagainya. Dengan kata lain, anak muda adalah kelompok yang punya kuasa sosial dan agensi lebih besar daripada anak-anak, sudah punya keterkaitan dengan dunia kerja—jika tidak, berarti disebut pengangguran atau masih menjalani dunia pendidikan. Kekompok ini secara kultural mengonsumsi budaya yang berbeda dengan anak-anak dan orang dewasa, misalnya dalam hal berpakaian, dan seterusnya.

Nah, di negeri kita orang begitu gemar memuja golongan ini. Dalam ihwal politik, misalnya, orang menyebut tapak-tapak waktu yang disebut dengan periode, seperti angkatan 08,28,45, 66,78, 98 dan seterusnya. Di semua periode itu, peran pemuda begitu diagung-agungkan. Dengan begini, pemuda tidak semata-mata dilihat sebagai fenomea demografis, tapi juga historis, dan ideologis. Angkatan 08 dikatakan sebagai pemupuk nasionalisme yang diperingati sebagai kebangkitan nasional hingga sekarang, angkatan 28 disebut-sebut sebagai penggalang persatuan nasional, angkatan 45 sebagai penegak kemerdekaaan, begitu seterusnya dengan berbagai peran berbeda setiap “angkatan” menandai diri. Intinya, pemuda adalah aktor yang sangat penting dalam proses perubaha. Tanpa pemuda, sulit mengharapkan perubahan. Bahkan hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (2007), mengatakan bahwa salah satu kendala utama dalam menuntaskan agenda reformasi adalah sulitnya mencari sosok muda tampil mengimbangi peran elite mapan produk kepemimpinan politik Orde Baru. Asumsinya jelas: pemuda mampu menuntaskan agenda reformasi. Baca entri selengkapnya »

Belasungkawa

Selasa, 24 Juni 2008

Lafadl Initiatives turut berbelasungkawa atas wafatnya Bapak Fauzan, ayah dari Achmad Uzair. Semoga Tuhan memberi beliau tempat terbaik di sisiNya. Semoga para kerabat, keluarga, dan sahabat yang ditinggalkan tetap diberi kesabaran dan ketegaran untuk menjalani kehidupan…