Teman-temanku dari Atap Bahasa

Jumat, 29 Februari 2008

Afrizal Malna dikenal sebagai penyair yang mampu melakukan pembebasan kata dari makna-makna sosial yang sudah melekat padanya. Sehingga—tanpa harus ”dimengerti”—puisi-puisi Afrizal menyuguhkan semacam tata visual yang bisa dirasakan oleh tubuh kita. Melalui puisi-puisi di buku ini Afrizal mengajak kita menguji kembali penglihatan mata kita—yang lazim dianggap sebagai indera utama—untuk memahami dunia.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Analisis Gramscian atas Tatanan Dunia Kontemporer
(Sebuah proposal riset)

Oleh: Shohib Masykur
Permulaan abad dua puluh satu diwarnai dengan fenomena politik dunia yang amat penting dan menentukan. Satu dasawarsa setelah berakhirnya perang dingin muncul perang baru yang tidak kalah kerasnya dengan perang dingin: perang melawan terorisme (war on terrorism). Meski terorisme bukanlah fenomena baru, namun pemaknaan atasnya menemukan kebaruannya pada awal abad dua satu setelah terjadinya sebuah peristiwa yang menggemparkan seluruh planet pada bulan September tanggal sebelas tahun 2001 di Amerika Serikat: runtuhnya gedung WTC akibat serangan dengan menggunakan pesawat yang (konon) dilakukan oleh teroris.[i] Segera setelah tragedi yang kemudian dikenal sebagai “nine-eleven” tersebut, dunia disibukkan dengan perang baru yang diberi tajuk “Perang Melawan Terorisme” (War on Terrorism). Terorisme yang dulunya merupakan persoalan parsial masing-masing negara—atau maksimal bersifat regional—berubah menjadi persoalan global yang menuntut perhatian semua pihak, mulai dari negara super maju sampai negara super miskin. Pada level individu, semua orang di seluruh dunia secara tiba-tiba menjadi berkepentingan terhadap isu terorisme.

Merujuk pada Buzan et.al (1998), kita bisa memaknai propaganda war on terrorism ini sebagai proses sekuritisasi, yakni proses di mana aktor sekuritisasi (securitizing actor) melakukan speech act untuk mengarahkan pandangan umum agar memandang suatu persoalan sebagai ancaman terhadap keamanan. Suatu isu menjadi isu kemanan bukan (semata-mata) karena adanya ancaman eksistensial (existential threat) yang riil di dalamnya, melainkan lebih karena isu tersebut dihadirkan sebagai sebuah ancaman (presented as a threat). Cara pandang terhadap security semacam ini merupakan bagian dari tradisi kontstruktivisme. Dalam tradisi konstruktivisme, politik internasional tidak dipahami sebagai sesuatu yang given, melainkan constructed. Alexander Wendt, misalnya, mengemukakan bahwa “anarchy is what states make of it” (Maja Zehfuss, 2002). Baca entri selengkapnya »

(Penggalan dari satu tulisan panjang berjudul Amuk Rakus Industri dan Napas Sengal Perempuan Seni Tradisi yang akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Kajian Perempuan Desantara-Srinthil)

Macho

Oleh: Nunung Q
Bokong Semok..semok…semok
Bokong Semok..semok…semok
Rambut disanggul.. sanggul nganggo culuk
Bokong Semok..semok…semok
Bokong Semok..semok…semok
Rambut digelung.. gelung..digelung miring
Sopo baen mesti ngomplong melengok

Aran Bokong Nongko sesigar Eyae
Aran Alis Nanggal Sepisan
Kulit Kuning Lare
Kulit Kuning Langsat
Gawe Kang Nyawang
Ngeleg Idu Gorokan Asat

Itulah dua penggal bait lagu yang masih hangat ditelinga saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi pada 1 Agustus 2007 lalu. Ada begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti saya ketika pertama kali lagu itu terdengar. Lebih-lebih selama satu bulan penuh saya tinggal di desa yang terletak di kaki Gunung Ijen–ujung paling timur pulau Jawa ini tak pernah sekalipun saya mendengar lagu-lagu yang kebanyakan anak muda sekarang gandrungi. Apakah itu lagu-lagu manis khas Ungu, Krisdayanti, Dewa atau Chrisye, tiada pernah saya mendengarnya barang sekalipun.
Keheranan saya memuncak ketika lagu-lagu semacam itu—orang menyebutnya lagu Banyuwangen—diputar tak henti-hentinya di belakang penginapan saya. Usut punya usut lagu itu berasal dari rumah jejaka muda bernama Anto (27th). Ternyata dia memang pecinta lagu-lagu Banyuwangen. Hampir 80 persen koleksi kasetnya adalah musik tradisi Banyuwangi. Anto bukanlah satu-satunya penyuka musik Banyuwangi. Pak Haji Safi’i juga kerap sekali memutar lagu-lagu tersebut. Bahkan terkadang dia juga meminta kami untuk turut menikmati. Dan, setiap kali berjalan menuju suatu tempat, musik yang sama terdengar begitu kerasnya dari setiap rumah yang saya lewati. Musik ini sepertinya banyak digandrungi oleh hampir seluruh masyarakat Kemiren. Terbukti, selain di putar di setiap rumah, ia juga kerap sekali diputar pada setiap perhelatan, seperti: perkawinan, khitanan dan acara Agustus-an.
Balai desa yang terletak 50 m disebelah timur pemondokan juga tidak ubahnya dengan tempat yang lain, memutar musik yang sama: musik Banyuwangen. Saya menduga pemutaran musik di balai desa merupakan tanda agar warga kampung segera datang karena biasanya ada sebuah acara penting yang perlu dihadiri. Barangkali ini sudah menjadi kesepakatan warga Kemiren tanpa harus dituliskan dengan jelas. Seperti yang pernah saya lihat, ketika ada acara sosialisasi program kepala desa di desa tersebut tak henti-hentinya musik Banyuwangen diputar dengan kerasnya. Tentunya ada panitia yang turut mengumumkan disela-sela lagu itu didendangkan bahwa ada pertemuan penting di balai desa tersebut. Dan beberapa saat kemudian satu dua orang datang kemudian disusul dengan yang lain. Baca entri selengkapnya »

Oleh: Uzair fauzan (anggota Perkumpulan Lafadl Initiatives)

The increasing need for acquisition of technology and modern sciences has been making traditional institutions of religious education losing more and more admirers. These institutions are often regarded as something backward, providing no contemporary knowledge needed for the current life, and thus producing generation who does not have enough compatability compared with those graduated from modern one. However, bahtsul masa’il meeting held in Jepara yesterday provided example that that is not the case. In the event, graduates from pesantren, Indonesian style of traditional moslem boarding school, proved to be in the supremation of logics over leading scientists from Jakarta.

Bahtsul masa’il, literally means discussing problems/issues, is a forum in the organization of Nahdlatul Ulama (the largest traditional moslem organization in Indonesia) to discuss social-contemporary issues exclusively from the perspective of fiqh (Islamic law). For NU followers, it is such a significant forum where they can have fatwa or hukm on certain (important) issues based on the agreement of majority of ulama’. In the organization of NU itself, it exists from national up to sub-district level. It even has its own special body, called Lajnah Bahtsul Masa’il (Body of Bahtsul Masa’il, commonly abbreviated as LBM) within NU structure. Since it is very related with fiqh which is considered quite significant in moslem’s daily life, the forum is usually prepared well. Days before the commencement of forum, issue(s) to discuss and questions to be answered are already distributed, attached to the invitation letter. This is intended to give opportunity for participants to study the case and collect ta‘bir, or reference or quotation from great ulamas to support their arguments. In the forum itself, there will be a moderator and a secretary who will write down all the discussion traffic, mustasyar team consisting of several leading old kyais, perumus team who will formulate the hukm agreement, and participants whose job is to give comments on the discussed issue and submit their takbir to the committee. Baca entri selengkapnya »

Disadur oleh Uzair Fauzan dari tulisan Chris Pollock dan Jules Pretty di Weekly NewScientist, 21 April 2007. Chris Pollock adalah mantan direktur Institute of Grassland and Environmental Research di Aberystwyth, UK. Jules Pretty adalah profesor lingkungan dan masyarakat di University of Essex di Colchester, UK

Pertanian akan menghancurkan planet kecuali kita segera mencari cara baru yang lebih “berkelanjutan”, kata Chris Pollock dan Jules Pretty.

Pembangunan berkelanjutan adalah mantra abad 21. Konsep ini diterapkan pada semua hal, mulai dari energi hingga air bersih dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai efek dari pembicaraan yang bertubi-tubi, walhasil kita acapkali sulit mempertanyakan asumsi-asumsi dasarnya atau penerapannya. Hal ini terutama terjadi pada wilayah pertanian, satu wilayah ekonomi yang paling kerap dianggap sebagai satu-satunya ladang pembuktian pembangunan berkelanjutan tanpa disertai oleh perspektif kultural dan historis.

Penting untuk diingat di awal bahwa hakikat pertanian–keuntungan dan dampaknya pada lingkungan–telah banyak berubah sepanjang sejarah, dan akan selalu berubah. Rotasi pertanian abad pertengahan di Eropa Utara menyuplai dan melindungi masyarakat desa berpenduduk padat dengan efek yang lebih rendah daripada sekarang. Rotasi itu berdampak kecil pada keragaman hayati, dan polusi yang ditimbulkannya umumnya bersifat lokal. Dalam hal pemanfaatan energi dan nutrisi yang ada dalam produknya, masa-masa itu bisa dibilang tidak efisien.

Pertentangkanlah pertanian masa-masa itu dengan awal revolusi industri. Persaingan yang dipicu oleh para petani dari luar negeri berdampak pada spesialisasi dan peningkatan produk pangan. Sepanjang periode (persaingan) ini, makanan menjadi lebih murah, aman dikonsumsi dan lebih bisa diandalkan. Tetapi, perubahan ini juga menciptakan kerusakan lingkungan dan membahayakan keragaman hayati di tanah pertanian dan desa-desa sekitarnya. Flora dan fauna di UK sekarang dalam kondisi yang sangat buruk, dan menurut Badan Lingkungan, pertanian menjadi pemicu terpenting timbulnya berbagai kasus polusi yang serius. Baca entri selengkapnya »

Tata Kota dan Penggusuran

Kamis, 5 April 2007


Oleh Muhammad Syihabuddin (Anggota Forum Lafadl Initiatives, dosen di Universitas Negeri Lampung)

Tak yakin penataan kota tanpa penggusuran…
(Sjahroedin ZP, Radar Lampung, Jumat 16 Maret 2007)

Bulan-bulan ini perbincangan ihwal penataan kota Bandar Lampung kembali menghangat. Beberapa kali media massa di Lampung juga menurunkan statemen para petinggi Lampung tentang urgensi penataan kota. Merujuk pada paparan Eddy Sutrisno, Walikota Bandar Lampung, ada enam program yang diprioritaskan untuk mempercantik Bandar Lampung dalam waktu dekat: water front city (WFC), pengembangan pariwisata, penataan pasar, penataan transportasi, ruang terbuka hijau dan taman kota, serta pengendalian banjir.

Gubernur Lampung, Sjahroedin ZP, pun lantas mendukung proyek penataan kota tersebut. Bahkan, pemprov Lampung menjanjikan akan memasukkan proyek ini dalam ABT APBD tahun 2007 (Radar Lampung, Jumat 16 Maret 2007).

Namun, dibalik rencana penataan kota, ada satu kegelisahan yang terus mengendap di benak masyarakat miskin: penggusuran! Sebagaimana tersirat dari komentar Gubernur di awal tulisan ini, bahwa tak yakin penataan kota tanpa (memakan korban) penggusuran. Baca entri selengkapnya »

Maulid di Komunitas Wetutelu

Selasa, 3 April 2007


Oleh: Heru Prasetia (kru Lafadl Initiatives)
31 maret 2007 lalu bertepatan dengan tangal 12 rabiulawal jika kita menghitung hari dengan kalender hijriyyah yang berdasar lunar sistem. 12 rabiulawal adalah hari ketika Nabi Muhammad dilahirkan. Kita tahu, ia adalah orang paling penting di dunia ini—dan juga di akhirat—menurut kepercayaan orang Islam.Maka pada hari ultahnya ini umat islam merayakan apa yang disebut dengan maulid nabi. Konon nabi sendirti tak pernah merayakan ultah-nya ini, dan bahkan orang pernah meributkan apakah maulid itu bidaah atau bukan. Tapi tentu saja saya tidak akan membahas itu. Di sini diantaranya saya cuma akan menampilkan petikan cacatan lapangan saya ketika melakukan penelitian Hak Minoritas bersama Yaysan Interseksi  di Lombok beberapa waktu silam. Tepatnya di komunitas wetutelu. Rentang waktu penelitian saya tidak berisrisan dengan perayaan maulid, sehingga saya ketarangan yang saya dapat hanya bersumber pada informasi dan cerita tutur kawan-kawan wetutelu saya.


Di komunitas wetutelu Lombok kelahiran nabi ini bahkan menjadi seremoni paling sentral komunitas tersebut. Diselenggarakan pada bulan Rabiulawal setiap tanggal 14 (dalam hitungan wetutelu adalah tangal 11 maulud). Acara Maulid diselenggarakan di mesigit (masjid wetutelu).Acara maulid di sejumlah masjid wetutelu punya detil yang beragam, namun pada dasarnya punya pokok yang serupa. Di masjid bayan, misalnya, diadakan arak-arakan sepsang laki-perempuan yang menjadi simbol adam dan hawa (ini adalah perayaan kelahiran Muhammad, namun mereka melakukan simbolisasi dengan adam-hawa sebagai pengantin pertama di muka bumi), mereka menyebutya ”praja maulid”. Hal serupa tidak dijumpai dalam perayaan maulid di masjid semokan. Masyarakat membawa berbagai makanan menuju tempat upacara di tengah hutan semokan. Dari rumah pembekel—semacam kepala dukuh— dibawa seperangkat gamelan, ditabuh sepanjang jalan menuju masjid. Hewan-hewan disembelih. Biasanya masyarakat membawa hewan untuk disembelih demi memenuhi kaulnya (nazdar).
Pada malam harinya, Amaq kiai dan santri kiai melakukan sholat maghrib dan isya. Pelaksanaan sholat ini merupakan pertistiwa istimewa, sebab para kiai tersebut hanya menjalankan sholat di masjid ini pada waktu-waktu tertentu: Hari raya Lebaran Tinggi (Idul Fitri), Lebaran Pendek (Idul Adha), Ramelan (Ramadhan), dan Maulid Setiap melakukan upacara sholat ini para santri membawa sendiri tikarnya dari rumah. Mereka melepas dodot (ikat pinggang) dan digunakannya sebagai sarung hingga menutupi lutut. Tak ada doktrin yang menuntun itu. Semua berdasar pada apa yang pernah dilakukan sebelumnya. Baca entri selengkapnya »