Tidak Semua Pahlawan Menjadi “Pahlawan”

Senin, 10 November 2008

Pagi tadi saya lihat di tivi ada berita tentang pemberian gelar pahlawan pada Bung Tomo. Beberapa waktu lalu saya memang sempat heran, ternyata Bung Tomo bukan “pahlawan”, maksudnya tidak mendapatkan gelar pahlasan dari pemerintah. Padahal sepanjang sekolah dari SD sampai SMA, buku-buku PSPB selalu memuat fotonya, apalagi bila sedang bercerita tentang pertempuran surabaya. Dulu, ketika sekolah, saya mengira bung tomo ini adalah pahlawan yang sejajar dengan jendral sudirman dan lain-lain. Ternyata tidak. Ternyata pahlawan tanpa tanda jasa bukan hanya bapak dan ibu guru. Saya tidak tahu persis tentang kenapa gelar itu baru tersemat pada dirinya hari ini. Padahal peran Bung Tomo ini tak sepele. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang sedikit agak luas. Kala itu dialah salah satu operator dari resolusi jihad yang dikeluarkan kiai-kiai NU.

Saya juga tak menemukan soal resolusi jihad ini di lembar-lembar buku sejarah resmi di sekolah. Saya tahu tentang ini justru dari sumber tak resmi. Padahal resolusi ini punya makna penting—teramat sangat penting, malah—dalam konteks membangun negara-bangsa indonesia. Terlebih pada hari-hari seperti sekarang ini ketika makna jihad telah direbut demi kepentingan mereka yang berpikiran cekak, sempit, dan tak punya visi kebangsaan. Termasuk mereka yang sangat hobi menebar kekerasan. Resolusi yang dikeluarkan para kiai itu berisi seruan pada segenap kaum muslim untuk berperang melawan tentara sekutu, sebuah jihad yang dilancarkan untuk membela sebuah negara baru: republik Indonesia yang bukan sebuah negara islam. Bagi mbah Hasyim Asyari dan kawan-kawan, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berdasar Pancasila dan bersandar pada kemajemukan itu adalah bagian dari perjuangan di jalan Allah. Jihad, bagi mereka, tak harus ada kaitannya dengan bendera islam, jubah, jenggot, dan simbol-simbol keislaman. Tak perlu anda bandingkan pengertian jihad ini dengan doktrin dari mereka yang memimpikan ide usang yang sudah karatan seperi khilafah, bandingkan saja resolusi ini dengan gagasan jihad yang sezaman seperti gerakan Darul Islam Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo yang terbit di sulawesi dan jawa barat. Anda akan bisa lihat betapa penting resolusi jihad ini dalam konteks kebangsaaan Indonesia.

Tapi memang di negeri ini tak semua orang besar dengan peran besar bagi bangsa ini lantas disebut sebagai pahlawan. Lihat saja Tan Malaka. Tak ada yang meragukan sumbangan dia pada republik, tapi di lembar-lembar sejarah resmi ia tak punya tempat.

Tidak harus menjadi seorang jenius untuk mengerti bahwa sejarah selalu ditulis dengan sebuah kepentingan. Sejarah, kita tahu, kadang memang ditulis sebagai glorifikasi pada mereka yang berkuasa. Soal pahlawan di negeri ini, sudah bukan rahasia lagi jika semua berorientasi pada potur politik yang hendak dibangun. Gelar pahlawan adalah satu dari sekian banyak alat yang digunakan untuk menopang imajinasi tentang bangsa dan negara yang dikehendaki oleh mereka yang berkuasa.

Tengok saja gelar pahlawan nasional dari abad 17an, nyaris semua merujuk pada para penguasa militer yang ingin menaklukan berbagai daerah sambil sesekali bertempur dengan kekuatan Belanda. Yang hadir pada kita dari masa-masa itu adalah nama-nama seperti Sultan Agung, Sultan Iskandar muda, Sultan Banten, dan lain-lain, para penguasa militer yang sepanjang mereka berkuasa selalu menjadi ancaman bagi daerah sekitarnya. Mereka dipuja dan mendapat gelar sebagai pahlawan, padahal mereka juga meluluhlantakkan kota-kota, menyiksa orang, dan menghancurkan lahan pertanian rakyat mereka sendiri.

Tak pernah ditulis di lembar sejarah resmi kepahlawanan bahwa pada masa itu juga ada orang semacam Karaeng Pattinggaloang yang membangun dasar-dasar bagi masyarakat modern dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dia membeli Teleskop Galileo yang dibuat 43 tahun sebelumnya yang di Eropa saja masih sangat terbatas penggunaannya. Dia juga membangun perpustakaan berisi buku-buku buku Eropa yang cukup lengkap ketika para bangsawan nusantara di zaman itu baru belajar mengeja namanya sendiri dan masih sibuk mempercayai kekuatan gaib. Ia sangat mengagumi aspek budaya dan tradisi ilmiah bangsa Eropa serta telah melahap semua karangan Luis de Granada yang termasyhur itu meski ia tetap beragama islam sampai akhir hayatnya. Pada masa kepemimpinanya pula satu-satunya penerjemahan risalah teknik Eropa ke dalam bahasa lokal nusantara berlangsung. Termasuk dalam hal ini adalah teknik pembuatan peta pelayaran oleh para pelaut bugis.

Lalu masihkan orang harus beriman pada sejarah resmi? Saya jadi teringat pada masa ketika buku-buku sejarah dijarah penguasa dari toko-toko buku hanya karena punya cerita yang berbeda….

6 Responses to “Tidak Semua Pahlawan Menjadi “Pahlawan””

  1. bosman Says:

    tag-nya buanyak banget…

  2. nun1k04a Says:

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur http://www.infogue.com/info/cinema/& http://www.infogue.com/game_online & http://www.infogue.com/kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://nasional.infogue.com/tidak_semua_pahlawan_menjadi_pahlawan

  3. click Says:

    daftar pahlawan nambah lagi to?

    saya malah bnere kpingin usul sama pemerintah, mbok daftar nama pahlawan itu dikurangi saja jumlahe
    klo trus ditambah kasihan itu murid2 sekolah bwt menghafalnya

  4. rio_nisafa Says:

    pahlawan kan dari kata pahala + akhiran wan sebagai pembentuk kata manusia… jadi klo saya ibadah, memberi sedekah, menjadi orang baik, tidak mencuri, pasti saya dapat pahala…. dan saya pasti jadi pahlawan…..

    benerkan kan mas heru ?

    tapi siapa yg mo ngakuin “kepahlawan ” saya itu ? siapa ?

  5. ciwir Says:

    pahlawan bertopeng…

  6. ACI Says:

    Saya setuju bahwa tidak semua pahlawan menjadi “pahlawan”. Namun sebaliknya, apakah semua “pahlawan” itu memang benar-benar pahlawan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: