Angkringan dengan teh yang menyedihkan…

Rabu, 5 November 2008

Sejak jaman kuliah dulu, saya suka sekali makan di angkringan. Favorit saya adalah teh manisnya yang kuenthel dan manis. The sejenis ini hampir bisa ditemukan di hampir semua angkringan yang saya singgahi. Dulu, nyaris setiap malam saya dinner di warung pinggir jalan beratap terpal ini. Berdesak-desakan di bangku kecil, makan sego kucing dua atau tiga bungkus ditambah sate usus dan tempe goreng dan krupuk. Sedap. Kenyang? Mungkin tidak. Tapi entah kenapa saya tidak merasa lapar setelah itu, paling tidak sampai esok paginya. Bukan semata soal makanannya yang membuat angkringan bisa menyeret saya malam-malam, tapi atmosfer “nongkrongnya” itu lho…Saya bahkan bisa menghabiskan berjam-jam hanya dengan satu gelas teh, tanpa rasa malu pula. Sampai larut malam bisa ngobrol kemana-mana. Topiknya bisa macam-macam, dari yang ringan sampai yang gagah-gagahan.

Namun sejak punya anak saya tidak terlalu sering lagi makan di angkringan. Meski begitu dalam beberapa kesempatan saya mampir ke sejumlah angkringan, baik yang baru maupun yang “klasik”. Saya merasa ada yang berubah. Terutama di angkringan-angkringan baru. Saya merasa angkringan sudah mengalami sesuatu yang membuatnya jauh berbeda degan angkringan seperti ketika saya kuliah. Barangkali ini adalah angkringan format baru. Angkringan yang mengalami komodifikasi. Maksud saya bukan komodifikasi dalam arti menjadikan sesuatu sebagai barang dagangan, lha angkringan kan memang dagangan. Tapi maksud saya begini: bahwa yang sesungguhnya sedang dijajakan bukanlah sego kucing, sate usus, dan teh manis, tapi citra tentang sego kucing dan saudara-saudaranya itu. Di sini yang dijadikan komoditas adalah kesan dan imajinasi tentang angkringan, bukan barang dagangannya. Itulah yang saya maksud dengan komodifikasi angkringan

Angkringan-angkringan baru ini berupaya sebisa mungkin untuk menjual suasana angkringan—dengan gerobak dan sego kucingnya—namun dipoles sedemikian rupa menjadi lebih bersih, lebih manusiawi, dan—tentu saja—lebih mahal. Di beberapa tempat bahkan dengan menyediakan koneksi internet (hot spot), tapi disertai kualitas teh yang mengharukan. Barangkali karena yang dijajakan adalah kenangan pada angkringan, pada suasana “ngangkring,” maka kualitas rasa teh yang menyedihkan itu pun tetap dimafhumi. Jadi bagi mereka yang ingin makan di angkringan tapi takut kotor, takut tidak higienis, dan masih bisa berselancar di dunia maya, maka datanglah ke angkringan-angkringan baru itu. Angkringan semacam ini bertebaran di sekujur Jogja. Tapi kalau mau minum the yang kental anget dan mantep, ya jangan sekali-kali mampir ke angkringan model baru itu. Ketika saya masih kuliah, SPP satu semester cuma 250 ribu rupiah sementara kini bisa mencapai angka 5 juta. Anda bisa bayangkan dari kalangan mana mahasiswa yang menyerbu Jogja hari ini. Dan mereka juga butuh “ngangkring,” tapi tentu harus ada angkringan yang sesuai dengan martabat mereka. barangkali dari sinilah mengapa angkringan-angkringan nyaman nan bersih itu bersemai.

Di angkringan model lama, setahu saya, penjaga angkringan biasanya adalah penyedia minuman dan space untuk menu yang lain. Maksud saya, di belakang angkringan itu, di balik makanan di meja angkringan itu, ada rumah tangga-rumah tangga yang giat membuat sego kucing, membuat gorengan, membuat sate usus, membuat krupuk, dan seterusnya. Saya tidak tahu persis berapa rumah tangga yang mengais rejeki dengan membuat makanan kemudian dititipkan pada angkringan itu, yang jelas cara sedemikian itu pasti menciptakan rantai kekuatan ekonomi yang tidak bisa diremehkan.

Sementara, selain tehnya yang tidak enak itu, saya tidak tahu apakah angkringan-angkringan dengan hotspot, meja bagus, lampu listrik, dan kondisi bersih itu punya jaring ekonomi informal semacam itu atau malah berbasis pada pemodal besar yang sebenarnya bisa membangun restoran mewah…

6 Responses to “Angkringan dengan teh yang menyedihkan…”

  1. amin Says:

    tulisan yg romantis, lalu?

  2. bosman Says:

    zaman berubah mas…

  3. misbach Says:

    Apa kabar angkringan Kang Panut di lapangan klebengan ya?
    Her… kalok dulu kita ngangkring karena memang kantong cekak. Kalok sekarang… tentu lain ceritanya….

  4. Edi Purwanto Says:

    kapan ya kira2 saya bisa menikmati angkringan itu?
    Semenjak saya tidak lolos UMPT di fakultas Psikologi beberapa tahun yang lalu saya sudah tidak lagi bisa main ke jogja. Menikmati nasi kucing di alun-alun, melihat gadis-gadis semlohey di depan malioboro. Ataupun muter-muter di ring road. Waktu itu bayarnya masih 500 rupiah jadi bisa naik terus kaya komedi puter.😀

    wakakak, nanti kalau main ke jogja tak main ke angkringan ah siapa tau dapat kopi gratisan.

    edhenk

  5. anggit Says:

    hahahaha…angkringan dicaci ning yo tetep dicari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: