Warna-Warni Kalimasada

Senin, 20 Oktober 2008

Sewaktu masih kecil, menjelang bobo, saya paling sendang mendengar cerita wayang dari Bapak saya. Ceritanya bisa dari epos mahabarata maupun Ramayana. Saya lebih menyukai cerita Mahabarata. Bagi saya lebih seru ketimbang Ramayana yang saat itu hanya saya mengerti sebagai dua orang berebut kekasih. Menginjak remaja saya mulai senang mendengarkan siaran wayang di radio. Dalang favorit saya adalah Ki Hadi Sugito. Dalang ini sungguh luar biasa. Saya baru sekali melihat pentas dia secara langsung, selebihnya saya mendengarkannya lewat radio. Konon, kata para penggemar wayang, dalang satu ini memang lebih enak didengar ketimbang dilihat karena dia tak punya sabetan dahsyat macam Ki Manteb. Tapi bagi saya, sebagai pendengar radio, Ki Hadi Sugito adalah seorang maestro. Dia bisa menyuarakan dengan sangat baik hampir semua tokoh wayang dengan suara khas masing-masing. Mulai dari Kresna saat di istana, Kresna saat di lapang perang, Bagong, Werkudara, maupun suara perempuan seperti Sembadra atau Banowati. Selain itu, dalang ini juga sangat pintar mbanyol. Tidak jarang saya tertawa cekikian di tengah malam larut. Ingat, siaran wayang di radio disiarkan semalam suntuk. Demikianlah, sejak remaja saya menggemari wayang dan menghafal nama-nama termasuk nama-nama pusaka. Salah satunya yang paling populer bahkan di kalangan orang yang tak mengerti wayang adalah pusaka atau jimat Kalimasada.

Kalimasada adalah pusaka yang diberikan para Dewa kepada Pandawa, terutama Puntadewa, sulung Pandawa. Puntadewa ini memang tokoh istimewa. Dia mewakili keutamaan ksatria, mewakili manusia purna. Bahkan nanti di akhir cerita dia adalah satu-satunya Pandawa yang berhasil mencapai surga. Barangkali karena itulah, pusaka paling sakti ini disematkan kepadanya. Konon, puntadewa menyimpan pusaka ini di gelung rambutnya.

Kesaktian pusaka ini pernah menjadi lakon tersendiri dalam dunia pewayangan. Lakon paling populer menyangkutnya adalah lakon “Petruk dadi ratu”. Ketika para pandawa sibuk membangun tempat peribadatan, pusaka-pusaka mereka menghiang. Termasuk Kalimasada. Somehow, Petruk—punakawan, abdi para pandawa—menemukan pusaka itu. Sontak ia mendapati dirinya mempunyai kekuatan super maha dahsyat. Sebuah negeri ditaklukkannya dan dia menjadi ratu, menjadi penguasa. Dalam dunia wayang, ini adalah kisah jungkir balik. Petruk bertindak semaunya, mengacaukan segala tatanan. Pertama kali mendengar cerita ini saya hanya mengertinya sebagai kisah penuh kelucuan. Tak terpikir oleh saya apakah kisah ini menyorongkan dongeng bahwa orang kecil tak bisa jadi penguasa? Ataukah kisah dengan moral cerita betapa orang tak perlu sibuk membangun bangunan pemujaan dan melupakan esensi spiritualitasnya? Yang saya tahu saat itu, Petruk menjadi tak terkalahkan dengan Kalimasada di tangannya.

Saya, saat itu, lantas bertanya pusaka jenis apakah Kalimasada itu. Ada yang mengatakan pada saya bahwa kalimasada adalah sepucuk surat berisi tulisan kalimat syahadat. Konon, ini saya ketahui belakangan hari, Kalimasada adalah satu dari sekian banyak elemen wayang yang baru dimasukkan ketika epos besar dari India itu masuk ke Jawa. Anda tidak akan menemukannya di versi India, sebagaimana tidak diketemukannya Semar, Petruk, dan nabi Adam, Sang Hyang Tunggal, dan semacamnya. Kalimasada adalah elemen yang dimasukkan para sunan penyebar islam (yang paling sering disebut adalah sunan kalijaga) ke dunia wayang. Kalimasada adalah pusaka tertinggi, dan pusaka tertinggi itu adalah kalimat syahadat alias menjadi muslim. Demikian kisah itu mengatakan.

Namun belakangan saya tahu bahwa penjelasan kalimasada sebagai syahadat itu hanya populer di kalangan islam santri. Penjelasan lainnya adalah bahwa Kalimasada berarti Kali-Maha-Usaddha atau ‘obat mujarab dewi Kali” (lihat di sini) atau ada pula yang mengatakan Kali Maha Husada yang berarti waktu adalah penyembuh segala dan tak ada sangkut pautnya dengan syahadat atau menjadi muslim. Kalimasada adalah cara orang jawa memaknai sesuatu yang paling berharga:waktu. Kemudian memasukkannya sebagai unsur paling hebat itu ke dunia wayang.

Saya tidak tahu apakah para dalang dan pemerhati wayang masih berdebat soal ini. Yang jelas, makna kalimasada tidaklah tunggal. Hampir sama dengan ritus “slametan” , Andrew Beatty di buku Agama Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi mengatakan bahwa orang-orang memang berangkat slametan ke tempat dan waktu yang sama, namun di kepala mereka dan orientasi dan pemahaman yang berbeda tentang slametan itu sendiri. Orang yang teguh dengan islam, misalnya, akan merujukkan simbol-imbol dalam slametan kepada pengertian-pengertian dalam tradisi islam, sebaliknya kalangan lain bisa tanpa kesulitan mengacukan simbol yang sama pada danyang desa atau leluhur mereka. Begitu pula dengan bagaimana orang menonton dan mendengar kisah wayang, ada simbol, tokoh, pusaka, dan narasi yang maknanya mengandung multivokalitas. Kalimasada adalah salah satu misalnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: