Darah Muda

Kamis, 24 Juli 2008

Darah Muda. Itu judul lagu Rhoma Irama. Inti pesan lagu itu, kalau tidak salah ingat, adalah bahwa anak muda yang berdarah muda punya kecenderungan untuk bertindak labil, selalu merasa gagah dan menang sendiri. Waktu menyusun lagu itu Rhoma sepertinya juga masih muda, tapi saya tidak tahu apakah darahnya juga muda, cuma sampai sekarang Rhoma memang masih tampak berdarah muda alias suka menang sendiri hehehe…

Kategori anak muda dan pemuda di negeri ini memang tak pernah jelas. Ia kadang rancu dengan kategori remaja dan di saat lain rancu pula dengan orang yang menjelang tua. Lihat saja organisasi-organisasi kepemudaan itu, pengurusnya sudah tidak muda lagi jika dilihat dari sisi usia, paling tidak jika merujuk pada pengertian “youth” yang dirilis unesco yang menyebut bahwa mereka adalah orang yang berusia 15-24 tahun.

Lalu siapa sih pemuda itu? Jika merujuk ukuran paling sederhana, itu bisa dibaca dari sisi umur. Usia muda berarti orang yang sudah lewat masa kecil dan masuk usia dewasa. Dari sisi legal sebenarnya tak ada kategori pemuda, yang ada adalah anak-anak dan dewasa. Pemuda, dengan begini, masuk dalam kategori dewasa. Di negara mapan, biasanya secara legal pemuda adalah mereka yang sudah melewati usia 16. Konsekuensinya adalah mereka lantas bisa memilih dalam pemilu, bisa punya surat ijin mengemudi, boleh minum alkohol, dan sebagainya. Dengan kata lain, anak muda adalah kelompok yang punya kuasa sosial dan agensi lebih besar daripada anak-anak, sudah punya keterkaitan dengan dunia kerja—jika tidak, berarti disebut pengangguran atau masih menjalani dunia pendidikan. Kekompok ini secara kultural mengonsumsi budaya yang berbeda dengan anak-anak dan orang dewasa, misalnya dalam hal berpakaian, dan seterusnya.

Nah, di negeri kita orang begitu gemar memuja golongan ini. Dalam ihwal politik, misalnya, orang menyebut tapak-tapak waktu yang disebut dengan periode, seperti angkatan 08,28,45, 66,78, 98 dan seterusnya. Di semua periode itu, peran pemuda begitu diagung-agungkan. Dengan begini, pemuda tidak semata-mata dilihat sebagai fenomea demografis, tapi juga historis, dan ideologis. Angkatan 08 dikatakan sebagai pemupuk nasionalisme yang diperingati sebagai kebangkitan nasional hingga sekarang, angkatan 28 disebut-sebut sebagai penggalang persatuan nasional, angkatan 45 sebagai penegak kemerdekaaan, begitu seterusnya dengan berbagai peran berbeda setiap “angkatan” menandai diri. Intinya, pemuda adalah aktor yang sangat penting dalam proses perubaha. Tanpa pemuda, sulit mengharapkan perubahan. Bahkan hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (2007), mengatakan bahwa salah satu kendala utama dalam menuntaskan agenda reformasi adalah sulitnya mencari sosok muda tampil mengimbangi peran elite mapan produk kepemimpinan politik Orde Baru. Asumsinya jelas: pemuda mampu menuntaskan agenda reformasi.

Yang luput dari pembicaraan semacam di atas biasanya adalah pemberian konteks ketika apa yang disebut angkatan-angkatan itu lahir. Kita tahu ada konteks politik etis sekaligus perubahan sosial politik di Eropa ketika anaka-anak muda hindia belanda di tahun 08-an mulai membentuk organisasi. Ada perubahan situasi perang pasifik ketika anak-anak muda indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ada perubahan drastis dalam arus kapital sekaligus ada kekuatan supranasional luar biasa ketika anak-anak muda 98-an muali beraksi. Kadang semua itu dilupakan orang.

Tentu saja, saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa angkatan-angkatan tersebut tak punya peran apa-apa dan hanya menjadi pelengkap, sebab sebagai agen sosial mereka tetap melakukan sesuatu yang penting. Masalahnya adalah peran-peran itu kemudian berubah menjadi mitos, menjadi sesuatu yang tak tersentuh namun meninabobokkan. Pada akhirnya itu seperti kisah tentang betapa pentingnya peran perempuan di dunia ini dengan berbagai mitos dan puja-puji semcam “perempuan adalah tiang negara” tapi pada kenyataannya tak pernah mereka diberi peluang untuk ambil peran. Anak muda juga sering dibubuhi gelar “tulang punggung bangsa”. (padahal, kata seorang kawan, menjadi “tulang punggung” artinya tidak punya kepala –tempat otak bersemayam—dan kaki). Sebegitu pentingnya pemuda, sebegitu dihayatinya artipenting itu oleh negara maka harus ada seorang menteri yang mengurusinya. Konon kabarnya juga akan ada UU kepemudaan. Secara kebetulan atau tidak, sama dengan perempuan, pemuda juga punya kementrian sendiri, namanya kementrian pemuda dan olahraga. Tak jelas persisnya kenapa harus digabung dengan olahraga entah karena yang berolahraga biasanya anak muda atau olah raga adalah urusan anak muda. Atau barangkali ini cuma soal kebiasaan yang salah kaprah saja, sama dengan penggabungan antara pariwisata dengan kebudayaan, dan lain-lain.

Kembali ke soal peran yang minimal tadi, belakangan muncul wacana atau tuntutan tentang kepemimpinan kamu muda. Hari-hari ini koran-koran banyak memuat tentang isu presiden muda. Ada tokoh politik yang meminta para orang tua mundur saja dari gelangang politik dan membiarkan yang muda tampil. Seruan serupa juga berbunyi sedemikian beberapa waktu lalu dengan seruan satnya anak muda memimpin. Bahkan sampai ada deklarasi tentang itu. Secara serampangan, itu bisa ditunjuk sebagai bukti betapa peran pemuda di masa kini, terutama di wilayah politik, adalah sangat minimal kalau bukan cuma jadi pupuk bawang. Selain hanya menjadi hiasan bibir, pemuda cuma jadi pemain yang tak sesungguhnya bermain, ia ditempel begitu saja supaya ada kesan bahwa anak muda terlibat. Lihatlah di hampir semua organisasi massa. Barangkali terinspirasi oleh negara yang punya kementrian kepemudaan, semua ormas selalu punya organ pemuda, bahkan beberpa organisasi pemuda pun punya bidang atau departemen yang khusus mengurusi kepemudaan. Dikatakan secara lebih sederhana, pemuda dalam konteks seperti ini lebih berupa simbol ketimbang realitas. Apalagi jika dicermati lebih lanjut, orang-orang yang bergerak di organisasi kepemudaan justru datang dari kalangan usia tua.

Kantong masalah

Sebagai sebuah kelompok sosial, meski di berbagai tempat penuh dengan puja puji, anak muda juga dianggap sebagai kantong masalah, apalagi jika kita memasukkan lagi pada kategori yang juga kerap ditukartempatkan dengan anak muda: remaja. Istilah “kenakalan remaja”, misalnya, memberi petunjuk tentang betapa anak muda juga dilihat sebagai persoalan ketimbang jawaban tentang masa depan.

Di titik yang berbeda tapi pada saat yang sama, anak muda juga dilihat sebagai biang persoalan. Tengok misalnya tentang betapa anak muda selalu dikaitkan dengan gerombolan yang belum matang dan tak tahu diri. Dari sisi politik, ia kerap digambarkan sebagai kelompok yang belum matang dan mudah dihasut, dari sisi sosial ia adalah sumber masalah pada gangguan kemananan dan ketertiban, dari sisi kultural mereka adalah kelompok penyempal yang tidak lebih seperti kalangan pemberontak tapi ringkih. Disebut ringkih karena kelompok ini adalah sasaran paling empuk dari kapitalisme. Lihat misalnya begitu banyak orang mengeluhkan tentang kelamnya masa depan ketika anak-anak muda (biasanya disebut dengan genareasi muda) hanyut dalam buaian budaya konsumerisme. Konsumerisme yang saya maksud di sini maksudnya adalah budaya memamah dan menelan poduk dan simbol pasar dengan riang gembira, bukan konsumrisme dalam pengertian gerakan kesadaran konsumen, kendati penggrak gerakan konsumen juga adalah anak muda.

Dilihat dari sisi kacamata negatif, keterbukaan dalam mencerna benda dan simbol-simbol pasar adalah sebuah dekadensi: sebuah budaya yang tanpa nilai-nilai luhur sebagaimana tradisi. Tapi ada pula yang melihatnya dari sikap yang lebih optimis: ini adalah sebuah budaya baru yang lain daripada yang lain. Sesuatu yang tak harus dipertanyakan tentang nilai tinggi atau nilai rendah. Douglas Kellner, misalnya, menyebut tentang global youth culture untuk menunjuk pada bentuk-bentuk budaya hibrid dan identitas yang muncul pada anak muda di seluruh dunia karena menyebarnya media seperti film, musik, internet, dan lain-lain. Tidak semua orang punya sikap seoptimis kellner, tentu saja. Kebanyakan justru melihat budaya-budaya hibrid itu akan merusak budaya nasional. Tapi dua pandangan ini juga punya titik serupa: pemain kunci dari semua ini adalah industri kebudayaan yang dikuasai hollywood.

Selain itu, kelompok anak muda juga mengandung problem demografisnya sendiri. Ledakan demografi melahirkan begitu banyak anak muda yang jika tanpa ada keluasan akses pada pendidikan dan pekerjaan akan menerbitakn generasi pengangguran yang sangat besar. Tingkat pengangguran anak muda selalu lebih tinggi dari tingkat pengangguran orang dewasa. Banyaknya pemuda pengangguran di kota-kota besar masa kini memperlihatkan fenomena itu. Dalam konteks ini, pemuda adalah masalah yang harus diselesaikan: ia adalah anak kandung ledakan demografi yang sarat dengan masalah juga. Urusan pemuda, dengan begini, adalah urusan tentang kebijakan yang meyangkut demografi, pendidikan, dan lapangan kerja, bukan olahraga. Tanpa lapangan kerja memadai dan pendidikan yang cukup, ujungnya adalah kriminalitas yang meningkat.

Lalu apa?

Dua sisi perbicangan tentang kaum muda tadi tetap menempatkan pemuda tidak lebih sebagai pihak yang dibaca, sebagai obyek. Dalam pandangan yang melihat anak muda sebagai aktor penting, pemuda dan kaum muda adalah pemanis bibir. Peran pemuda berhenti pada simbol-simbol seperti nama-nama angkatan di atas. Cukup dinenag dalam lembaran sejarah dan puja-puji. Kelanjutan dari pandangan semcam ini adalah rententan jargon tentang peran pemuda dalam pembangunan, peningkatan sumberdaya pemuda, undang-undang tyengangg anak muda, dan lain-lain. Jadi, kendati dianggap sebagai aktor penting, pemuda tetap lebih banyak dibicarakan ketimbang menjadi subyek yang bicara. Dari sust pandang yang memandang anak muda sebagai bisang masalah, lebih kentara lagi: anak muda adalah kelompok yang harus dididik dan dibimbing. Jika melihat jargon pemerintah, misalnya, tampak bertaburan berbagai petuah tentang pentingnya menjaga moral generasi muda dari tarikan budaya global yang amoral, narkoba, dan lain-lain.

Dari sini tampak bahwa konsep pemuda punya makna yang berbeda dalam setiap konteks pembicaraan. Dalam pembicaraan tentang perubahan sosial, pemuda dianggap sebagai agen paling mumpuni. Dalam pembicaraan tentang ide baru, mereka dianggap sebagai kelompok yang paling adaptif. Dalam konteks pembangunan, mereka adalah agen erubahan dan generasi penerus di masa depan. Makna pemuda akan berbeda ketika diperbincangkan dalam konteks kisruh sosial, pemuda disebut sebagai biang kerusuhan. Dalam konteks penyakit sosial, pemuda adalah palku paling dominan. Dalam pembicaraan tentang moral, pemuda dianggap sebagai kelompok paling mudah melakukan tindak di luar moral. Demikian seterusnya. Jadi ketika berbicara tentang peran anak muda, orang harus jelas dulu tentang dalam konteks apa anak muda ini dibicarakan.

Lalu mengapa orang begitu ribut dengan presiden muda?

4 Responses to “Darah Muda”

  1. nun1k04a Says:

    artikel anda :

    http://politik.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/darah_muda

    promosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

  2. ahsinmuslim Says:

    pemuda?
    ia adalah seorang inovator, yang selalu memiliki inovasi dalam aksinya, tak pernah habis mencipta sebuah ide-ide cemerlang.
    ia sebagai ” the agent of change”. lewat jiwa muda dan semangat hidupnya, sebuah peradaban menunggu sentuhan tangan kreatifnya, untuk mengubah peradaban.
    teruslah berkarya wahai pemuda!!!!

  3. nadya Says:

    anak muda juga punya kepekaan untuk milih kok. gimana coba? masak mo milih terlibat di “formal birokratis” gitu, yang … penuh kebulsyitan? kiprah anak muda di bidang kreatif jangan dilupain juga kali mas,,,


  4. tidak sembarang pemuda tentunya
    seperti tidak sembarang orang tua
    yang terpenting adalah
    Indoneia butuh perbaikan
    Bukan perubahan
    Kalo cuma ubah Presiden tapi gak ada perbaikan
    kan percuma😀

    Salam semangat muda


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: