Samurai

Senin, 23 Juni 2008

Malam-malam belakangan ini, saat hendak berangkat tidur, saya menghabiskan tenaga mata dengan membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Novel samurai yang terkenal itu. Sayang memang, baru sekarang saya mulai membacanya dengan serius. Dulu saya cuma mengenalnya lewat buku-buku kecilnya, dan filmnya—yang membosankan itu. Tapi tak apa, lebih baik sedikit terlambat. Klise ya? Tak apa, klise kan tidak selalu berarti buruk.

Kisahnya apalagi kalau bukan tentang Samurai. Kebanyakan cerita tentang samurai—kalau bukan nyaris semuanya—berkisah tentang samurai pada masa era Tokugawa atau sesudahnya. Era ini, kita tahu, adalah saat ketia para samurai kehilangan pekerjannya. Mereka tidak lagi punya tuan. Tidak ada lagi perang antar daimyo. Semua berada dalam masa damai di bawah kuasa tunggal Shogun Tokugawa. Samurai yang berunutung, bisa bergabung dengan barisan militer Tokugawa, yang buntung hidup luntang-lantung mencari untung. Film Akira Kurosa, Seven Samurai, menggambarkan situasi gelap bagi samurai tak bertuan itu dengan terang benderang. Pada masa itu, Samurai yang baik hati, yang saleh, akan menjalani hidup dengan baik pula—kendati dalam situasi terasing dan pahit. Ia digambarkan sebagai sosok pahlawan yang membela orang kecil. Yang berhati busuk—atau terpaksa karena tidak punya cara lain bertahan hidup—menjadi perampok. Tapi dua kelompok ini punya kesamaan: mengalami keterasingan—rontok dari derajat yang sebelumnya sangat tinggi.

Di masa kini tak ada lagi kelompok sosial bernama Samurai. Tapi kelompok bersenjata yang absah itu ada: tentara. Bedanya, samurai mengabdi pada tuan tanah, tentara mengabdi pada negara. Tapi sebagai sebuah kekuatan, dua-danya adalah kekeuatan bersenjata. Di masa jaya, samurai menduduki deajat begitu penting, dan ini berarti sumberdaya ekonomi yang melimpah.Tentara—di negeri ini—juga punya kedudukan sosial yang sangat penting. Bahkan ketika dwi-fungsi sudah dikikis. Orang menganggap kelompok bersenjata ini adalah kelompok istimewa yang mampu mengatasi banyak hal. Ketika ada rusuh di mana-mana, banyak yang mengandalkan mereka. Rusuh pilkada di sulawesi selatan, misalnya, dituntaskan dengan menunjuk seorang tentara jadi pejabat gubernur. Pesan dari semua ini: tentara adalah pengayom. Ini mirip kisah-kisah kepahlawanan tentara di film-film perjuangan.

Dulu, di masa orde baru, tentara banyak yang jadi gubernur atau bupati(mungkin malah semua pejabat daerah adalah tentara), mereka duduk di parlemen dengan begitu saja, menjadi menteri, dan hampir semua jabatan publik. Kini, di masa yang disebut reformasi ini, posisi-posisi bebas diperebutkan. Orang sipil boleh berebut posisi itu dengan relatif bebas, kendati mantan tentara pun berduyun-duyun menyerbu pos-pos jabatan publik itu. bahkan presiden kita sekarang juga bekas tentara.

Seperti samurai yang kehilangan kerja? Tidak jelas juga. Sebab para mantan tentara dan tentara aktif jelas bukan kelompok yang kini terasing atau jadi penganggur yang luntang-lantung. Mereka memang menganggur karena tak ada perang, tapi tetap mengenyam kenikmatan kedududkan sosial dan ekonomi yang sangat baik. Tak harus mendapat gaji banyak, sumber pendapatan bisa beroleh dari mana saja: ini soal memainkan status sosial dan kekuatan simbolik: bisa mewartakan diri sebagai pengayom lantas maju jadi capres, berderma kemana-mana supaya banyak orang berutang budi, atau mengabdi pada kekuatan ekonomi supaya hidup semakin bahagia.

Hari-hari ini ada kabar tentang tentara yang menjadi centeng pedagang yang nyogok jaksa. Anda tentu tahu kenapa…

One Response to “Samurai”

  1. nadya Says:

    wah, tebakan Anda mleset … saya ndak tahu tu???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: