FORUM INTERSEKSI

Kamis, 7 Februari 2008

FORUM INTERSEKSI 2007 TERSELENGGARA ATAS KERJASAMA ANTARA YAYASAN INTERSEKSI,PERKUMPULAN LAFADL INITIATIVES, PERKUMPULAN PERGERAKAN, DAN PERKUMPULAN INISIATIF

Yayasan Interseksi bekerjasama dengan Perkumpulan Lafadl Initiatives Yogyakarta, Perkumpulan Inisiatif, Bandung, dan Perkumpulan Pergerakan Bandung, akan menyelenggarakan putaran ke-7 Forum Interseksi 2008 di Yogyakarta pada bulan Maret 2008 (tentatif). Tema umum Forum Interseksi 2008 adalah Kaum Muda Indonesia Pasca Orde Baru. Seperti biasa, Forum ini terbuka bagi kalangan generasi muda (di bawah 40 tahun), tidak peduli etnis, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, dan nasionalitasnya. Syarat utamanya adalah menulis makalah yang sesuai dengan tema umum Forum Interseksi 2008 untuk mengikuti selekasi pemilihan peserta oleh panitia di Yayasan Interseksi. Di samping itu, seperti tahun 2007 yang lalu, setiap peserta harus menanggung sendiri biaya transportasi ke dan dari lokasi penyelenggaraan Forum Interseksi. Biaya di luar itu, kecuali pengeluaran personal, akan ditanggung oleh panitia.

Tema Umum: Kaum Muda Indonesia Pasca Orde Baru

Kerangka Referensi (ToR)
Gambaran umum di sekitar detik-detik terakhir kejatuhan Orde Baru pada 1998 ditandai dengan pemberitaan yang luas atas peran gerakan kaum muda. Mahasiswa, seperti sudah tidak mungkin terelakkan lagi, selalu menjadi wakil terpenting gerakan tersebut. Aksi-aksi demonstrasi jalanan mereka yang tampak herois seolah menjadi penegasan bahwa kaum muda adalah leksikon yang mempunyai makna perubahan dalam definisi mengenai dirinya. Ditambah dengan mitos-mitos yang direproduksi dalam narasi-narasi sejarah, gerakan kaum muda adalah sosok yang terus menerus diperbincangkan, peran mereka dirindukan, meski dalam keadaan tertentu keberadaannya kadang dipermasalahkan.

Secara historis dapat dikatakan bahwa kaum muda Indonesia adalah fenomena abad XX. Kemunculan mereka merupakan konsekuensi dari modernisasi kolonial setelah dibukanya sekolah yang memungkinkan anak-anak pribumi mengalami sebuah ‘masa belajar’ sebelum mereka terintegrasikan ke dalam kesatuan sosial tertentu (Onghokham, 1991). Fenomena ini, pada awalnya, tentu saja menggoncangkan alam pikiran masyarakat petani yang tidak memberi tempat bagi kalangan di luar orang dewasa. Kaum muda dianggap belum dewasa, sehingga oleh karena itu mereka dianggap belum mempunyai kalayakan yang dibutuhkan seseorang yang hendak menerima status dan peran sosial tertentu dalam masyarakatnya. Akan tetapi, ide-ide kemoderenan yang menghasilkan fakta-fakta empiris mengenai perubahan telah memberi tempat penting bagi kaum muda dalam struktur masyarakat Indonesia yang baru.

Memasuki masa pasca kemerdekaan, jika dilihat dari sudut pandang historiografi tertentu, terutama yang ditulis di bawah pengaruh kekuasaan Orde Baru, terdapat paling tidak dua momen historis yang menggambarkan peran kaum muda Indonesia dengan intensi kesadaran politik yang radikal. Momen pertama terjadi di sekitar Revolusi 1945, sementara momen kedua terjadi di sekitar peristiwa 1965. Dalam dua momen perubahan penting tersebut, sosok kaum muda digambarkan sebagai kelompok yang mempunyai kesadaran politik tinggi, meskipun tingkat dan cakupan kesadaran politik dalam genre historiografi tersebut akan selalu dibatasi oleh pengertian yang diperkenankan oleh negara. Secara politik, negara Orde Baru jelas mempunyai kepentingan dalam usahanya untuk mendefinsikan siapa sosok kaum muda Indonesia. Sebuah kementerian yang mengurusi kaum muda dibentuk dengan tujuan untuk memobilisasi potensi mereka dalam ‘pembangunan’. Agar tujuan tersebut memberi dampak yang luas, televisi Orde Baru akan menyiarkan siapa saja kaum muda yang dianggap menjadi pelopor pembangunan, sambil pada saat yang sama mereka diorganisasir ke dalam wadah-wadah yang diresmikan negara sampai ke desa-desa.

Akan tetapi, dalam ranah kebudayaan, agak berbeda dengan kebijakan pada masa Orde Lama yang menolak secara vulgar kehadiran bentuk-bentuk kebudayaan Barat di ruang publik, negara Orde Baru justeru tampak lebih berhati-hati. Film-film dan musik-musik yang berasal dari Barat diperbolehkan masuk dan kemudian dikonsumsi oleh masyarakat, meski sensor terhadap hal tersebut tetap dijalankan dengan standar tertentu. Sikap yang berhati-hati Orde Baru itu merupakan cerminan arus globalisasi kebudayaan yang tidak mungkin dihindari bahkan oleh negara paling otoriter sekalipun. Seperti terjadi di negara-negara maju di Barat, kaum muda Indonesia pada masa Orde Baru adalah kelas konsumsi dari fenomena global tersebut, sebuah kenyataan yang menyulitkan identifikasi tunggal terhadap afiliasi dan afinitas mereka dengan ikatan-ikatan sosial politik tradisional.

Konsekuensi dari sikap hati-hati negara Orde Baru terhadap kaum muda menghasilkan ambivalensi dalam tubuh kaum muda itu sendiri. Secara politik, mereka dianggap ‘massa mengambang’, sebuah leksikon politik Orde Baru yang menyiratkan ketidakmandirian kaum muda dalam menentukan sikapnya terhadap perubahan. Akan tetapi, jikapun leksikon itu benar-benar sebuah fenomena faktual, makna yang terkandung dari fenomena itu adalah fakta bahwa kaum muda Indonesia sesungguhnya tidak pernah mempunyai afiliasi dan afinitas tunggal, bahkan terhadap negara Orde Baru sekalipun. Oleh karena itu, ketika Orde Baru mendekati detik-detik kejatuhannya, kaum muda tampak berdiri paling depan untuk menuntut perubahan. Sementara itu, secara sosial, afiliasi dan afinitas kaum muda Indonesia jelas lebih mengakar pada identitas primordial yang menjadi habitus mereka sehari-hari. Hal ini menyiratkan argumen bahwa kaum muda Indonesia bukanlah sebuah kategori tunggal. Peran yang dimainkannya akan selalu berkaitan dengan kategori-kategori lain dalam lingkungan yang lebih luas.

Ketika Orde Baru harus menyaksikan kekuasaannya berakhir pada 1998, pendefinisian yang dilakukan negara tentang siapa sosok kaum muda Indonesia dengan sendirinya mengalami tantangan. Historiografi Indonesia pasca Orde Baru, misalnya, memberi penekanan berbeda tentang peran kaum muda dalam sejarah Indonesia. Seolah ingin mencari preseden terhadap fenomena kekerasan yang menggejala dalam kasus-kasus konflik sosial pasca Orde Baru, seorang penulis menekankan afinitas kaum muda dengan budaya kekerasan dalam sejarah politik Indonesia (van Dijk, 2002). Pandangan ini sebenarnya tidak sama sekali baru, sebab beberapa penulis (misalnya Anderson, 1974 dan Reid, 1996) telah sejak lama memberi gambaran tentang peran kaum muda yang dekat dengan budaya kekerasan pada masa sekitar Revolusi 1945. Ada satu kontinuitas menarik yang bisa diamati dari fase-fase tertentu dari sejarah politik Indonesia itu dalam hal bagaimana kaum muda dikonstruksikan. Kalau pada masa Revolusi 1945 kaum muda dibayangkan sebagai sosok laskar pejuang dengan simbolisme fisikalnya yang khas, paralelisme serupa dapat ditemukan pada sosok satuan tugas (satgas) yang dimiliki partai politik yang tumbuh subur pada masa pasca Orde Baru. Afinitas yang berbau militerisme tersebut seolah menjadi penegas atas kedekatan kaum muda Indonesia dengan budaya kekerasan.

Pandangan historiografis di atas tentu saja hanyalah satu dari sekian banyak pandangan mengenai bagaimana kaum muda Indonesia didefinisikan. Dalam konteks Indonesia pasca Orde Baru yang salah satunya ditandai dengan meningkatnya gejala fundamentalisme agama, menarik kiranya untuk melihat sosok kaum muda dalam isu tersebut. Mengikuti argumentasi Amartya Sen (2007), persoalan fundamentalisme sesungguhnya tidak semata berakar pada soal identitas agama, tetapi juga merupakan konsekuensi dari perseteruan identitas-identitas sosial politik. Bagi Sen, membatasi pemahaman fundamentalisme hanya pada soal identitas agama adalah ilusi soliteris yang akan gagal menangkap makna dari beragamnya asosiasi dan afiliasi sesorang dalam sebuah tindakan sosial. Lebih lanjut Sen berargumentasi bahwa keyakinan agama seseorang tidak menentukan semua keputusan yang mesti kita ambil dalam hidup, termasuk keputusan yang terkait dengan prioritas sosial-politik kita serta hal-hal yang berkenaan dengan tatakrama dan tindakan.

Selain isu fundamentalisme agama, masih banyak isu lain yang bisa digali di sekitar proses perubahan politik pasca jatuhnya Orde Baru. Bahkan jika dipandang sebagai sebuah kategori, ‘pasca Orde Baru’ adalah leksikon dalam bahasa kekuasaan Indonesia yang masih bisa diperdebatkan maknanya. Dalam semua isu itu, kaum muda adalah adalah sosok yang terus menerus dipertanyakan keberadaannya, dan yang lebih penting adalah bagaimana kita memberi makna terhadap peran yang dimainkannya. Oleh karena itu, Forum Interseksi mempunyai kepentingan besar untuk membincangkan kembali apa yang dimaksud sebagai kaum muda dan bagaimana ia digunakan sebagai kategori untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam konteks Indonesia pasca Orde Baru

Sub-sub tema diskusi

  1. Analisis tentang sejarah yang melahirkan budaya kaum muda Indonesia pasca Orde Baru
  2. Analisis tentang keberagaman asosiasi dan afiliasi kaum muda Indonesia pasca Orde Baru
  3. Analisis tentang peran kaum muda dalam dinamika politik dan kebudayaan Indonesia Indonesia pasca Orde Baru
  4. Rekomendasi mengenai peran yang seharusnya dimainkan kaum muda dalam sub tema diskusi di atas

Jumlah Peserta Diskusi
Untuk memelihara kualitas diskusi dan relasi antar peserta dalam Forum Interseksi, jumlah peserta akan dibatasi paling banyak 25 orang (sudah termasuk panitia). Usia peserta dibatasi maksimum di bawah 40 tahun. Di luar ketentuan usia, Forum Interseksi terbuka bagi peserta laki-laki maupun perempuan dan kaum difable.

Sasaran Peserta
Peserta Forum Interseksi pada dasarnya akan berasal dari kalangan intelektual publik yang berusia muda. Ada bermacam-macam batasan tentang terminologi yang dirujuk orang di dunia, tapi kami membatasinya menjadi “orang atau kumpulan orang yang kapasitas intelektualnya tidak dikurung oleh benteng-benteng kehidupan akademis belaka, melainkan secara kritis dan independen didayagunakan untuk perbaikan kehidupan sesama”. Dengan batasan tentatif semacam itu, sasaran peserta Forum Interseksi 2008 meliputi:

  • Aktivis LSM atau lembaga masyarakat sipil lainnya
  • Akademisi Kampus
  • Peneliti independen
  • Jurnalis


Syarat Peserta dan Makalah

Untuk menjadi peserta Forum Interseksi 2007 setiap calon diharuskan:

  • Menulis makalah dengan tema yang relevan dengan tema umum Forum Interseksi tahun 2008
  • Berpendidikan minimal S-1
  • Mengirimkan makalah kepada panitia selambat-lambatnya tgl. 15 Maret 2008. Makalah dikirim melalui surat elektronik ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM. Panitia tidak menerima pengiriman makalah melalui pos.
  • Berusia maksimal 39 tahun waktu melamar menjadi calon peserta.
  • Memiliki waktu kosong paling sedikit selama tiga hari tiga malam.
  • Dalam kondisi sehat dalam arti tidak sedang menderita penyakit yang bisa mengganggu partisipasinya dalam Forum.
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian acara Forum Interseksi dari awal sampai akhir.
  • Bersedia menanggung biaya transportasi untuk dirinya sendiri ke dan dari lokasi penyelenggaraan Forum Interseksi.
  • Panjang makalah antara 15 – 20 halaman spasi rangkap, tidak termasuk daftar pustaka dan/atau catatan kaki dan end notes, dan menggunakan jenis huruf Times New Roman 12
  • Makalah bisa ditulis menggunakan pengolah kata apa saja tapi harus dikirim dalam format RTF atau PDF.
  • Makalah harus merupakan karya sendiri, dan belum pernah dipublikasikan pada media apa pun (peserta yang setelah terpilih kemudian terbukti mengirimkan naskah makalah yang bukan karyanya sendiri akan dibatalkan keikutsertaannya dan diminta pulang meninggalkan Forum Interseksi).
  • Makalah ditulis dengan gaya penulisan esai dan bukan makalah akademis yang rigid.

Batas Waktu Pengiriman Makalah
Makalah paling lambat dikirim pada tanggal 15 Maret 2008.

Tata Cara Pendaftaran

  • Kirim makalah ke alamat INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM
  • Lampirkan biodata atau curriculum vitae yang lengkap
  • Cantumkan alamat lengkap (termasuk nomor telepon/HP yang bisa dihubungi), dan alamat email
  • Tunggu pengumuman hasil seleksi dari panita

Publikasi Makalah Peserta
Tim Editorial Yayasan Interseksi akan menyeleksi makalah yang ditulis oleh peserta Forum Interseksi untuk kebutuhan publikasi. 15 makalah terbaik, setelah dimintakan revisi kepada masing-masing penulisnya, akan diterbitkan dalam buku Seri Interseksi. Syarat-syarat dan kriteria penulisan akan ditentukan kemudian.

Hak Peserta

  • Penginapan dan konsumsi selama forum berlangsung.
  • Menjadi pembicara, pembahas, dan moderator.
  • Membatalkan keikutsertaannya dalam Forum Interseksi tanpa alasan spesifik paling lambat seminggu sebelum tanggal pelaksanaan.
  • Memberikan usul perbaikan Agenda Acara kegiatan Forum Interseksi.
  • Merekomendasikan calon peserta Forum Interseksi berikutnya.

Kewajiban Peserta

  • Datang ke tempat acara minimal satu jam sebelum Forum berlangsung.
  • Mengikuti seluruh Agenda Forum Interseksi yang telah disepakati bersama-sama peserta yang lain.
  • Menyerahkan makalah untuk Forum Interseksi paling lambat tgl. 15 Maret 2008
  • Mengisi dengan benar dan menandatangani Formulir Partisipasi yang telah disediakan, dan menyerahkannya kembali kepada panitia sebelum Forum berlangsung.

Kecuali kalau ditetapkan lain kemudian, Forum Interseksi Tahun 2008 ini akan dilaksanakan pada:
Hari/Tgl: Jum’at – Minggu, 28 – 30 Maret 2008
Tempat: PUSKAD Yogyakarta.
(Untuk informasi lebih lengkap tentang lokasi, silakan kontak Perkumpulan Lafadl (0274)888726, email: lafadl@gmail.com)

Setiap peserta yang sudah lolos seleksi makalah dan menyatakan kesediaan partisipasinya akan dihubungi langsung oleh panitia bilamana terjadi perubahan jadwal dan tempat berlangsungnya Forum Interseksi.

Hasil seleksi calon peserta Forum Interseksi akan diumumkan pada tgl. 20 Maret 2008 melalui:

  • Situs web internet Yayasan Interseksi atau Intereksi.org (http://www.interseksi.org)
  • Melaui email kepada semua peserta yang telah mendaftarkan diri
  • Melalui kontak telepon oleh pihak Yayasan Interseksi hanya kepada mereka yang dinyatakan lolos seleksi

Keputusan panitia bersikap final dan tidak bisa diganggu gugat.

YAYASAN INTERSEKSI
Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
Jakarta Selatan 12610
Telp./Fax.: 021 7820 444

PERKUMPULAN LAFADL INITIATIVES
Jl. Dayu Baru No. 1A Sinduharjo
Ngaglik Sleman 55581
Telp (0274) 888726
Jogjakarta – Indonesia

PERKUMPULAN INISIATIF
JL. GUNTUR SARI IV NO. 16
BANDUNG 40264
TLP. 0227309987

FORUM PERGERAKAN
Jl. CIGADUNG SELATAN I NO. 31 BANDUNG 40191
TLP. 022-2505531

3 Responses to “FORUM INTERSEKSI”

  1. ardHy_Lau Says:

    Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hari ini genap berumur 61 tahun. Tema yang diusung dalam memperingati perjalanan 61 tahun itu ialah Meretas Arah Baru Kepemimpinan Nasional Indonesia

  2. bassiskgahbem Says:

    Hi !
    Sangat menarik nama oleh lafadl.wordpress.com forum

    Dan ada output lain?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: