‘Budaya Kerja’ NGO dengan Korporasi

Jumat, 18 Januari 2008

Oleh Bosman Batubara

(Exploration Geologist PT KPC, tulisan ini refleksi pribadi)

 

 

Tanpa bermaksud melepaskan diri dari diskusi dan perdebatan mengenai ideologi, tulisan ini hendak memaparkan mengenai beberapa hal yang sempat terekam oleh penulisnya sehubungan dengan ‘budaya kerja’, sebut saja begitu, antara lembaga sosial, dalam hal ini mungkin NGO, dengan korporasi. Catatan ini tak mengacu kepada referensi tertentu sebagai landasan teori. Hanya murni berdasarkan pengalaman personal penulisnya dalam bekerja di kedua jenis organisasi/lembaga di atas.

Salah satu yang paling membuat mangkel ketika bekerja di NGO adalah masalah waktu. Katakanlah rapat. Dalam beberapa kali kesempatan rapat yang pernah saya lalui, di NGO biasanya para peserta sudah menjadwalkan waktu tertentu untuk mengadakan rapat. Dan hasilnya biasanya rapat molor setengah, bahkan tak jarang mencapai satu jam.  Dalam rapatnya sendiri sering terjadi rapat yang berputar-putar. Membahas ini itu dengan pelbagai macam sudut pandang. Tak jarang apa yang sebenarnya menjadi tujuan para peserta rapat untuk dibicarakan malah tertinggal. Pembicaraan melebar ke sana kemari sehingga tujuan itu sendiri kadang meluas dan tak terbahas.

Beberapa rapat yang saya alami di korporasi biasanya lebih disiplin soal waktu, tema, dan uraian para peserta rapat. Rapat-rapat di korporasi, katakanlah weekly atau monthly, biasanya sudah memiliki jadwal tertentu. Katakanlah setiap hari senin pukul 07.00 untuk weekly, dan setiap Selasa pertama pukul 07.00 untuk monthly. Perubahan biasanya terjadi kalau hari yang bersangkutan terhalang oleh tanggal merah pada kalender. Dalam setiap rapat biasanya sudah ada item-item yang mesti dibicarakan. Jadi para peserta rapat sudah siap dengan materi masing-masing. Katakanlah saya misalnya, karena pekerjaan saya wellsite geologist, maka isi laporan saya berupa perkembangan rig yang saya supervisi selama satu minggu; hal ini dapat meliputi masalah-masalah yang terjadi dalam pengeboran, seperti blow out gas yang terjadi, accident, tidak tercapainya target pemboran, penyebabnya, dan seterusnya. Setelah itu biasanya berisi laporan kondisi kenderaan yang dipakai, apakah masih layak pakai, kerusakan, kalau ada terjadi di bagian mana, dan jadwal check untuk service. Berikutnya biasanya berupa ide-ide baru, inovasi-inovasi, dan kreativitas yang dapat dilakukan di lingkungan kerja kita. Dan biasanya rapat ditutup dengan pembicaraan masalah safety di seputar tambang.

Hal kedua mungkin yang layak didiskusikan adalah soal deadline pengumpulan sebuah laporan. Dalam beberapa kali kesempatan saya menggarap laporan di NGO, baik berupa artikel, matriks, ataupun laporan keuangan, sering juga mengalami kemoloran. Dalam bidang penerbitan misalnya, kadang-kadang karena molor yang disebabkan oleh satu section, maka kemoloran terjadi pada tim secara keseluruhan, katakanlah, waktu terbit media yang kita maksudkan menjadi molor. Dan ini sangat mengganggu sebenarnya. Karena sekali terjadi kemoloran, maka mau tak mau, ke depannya kita harus melakukan banyak perencanaan ulang. Kadang kemoloran terjadi hanya karena hal sepele, katakanlah editornya sedang uring-uringan karena patah hati, maka molorlah semua pekerjaan tim. Ini mungkin terjadi karena NGO tempat saya bekerja dulu belum terlalu ketat dalam hal manajemen waktu. Tidak ada sanksi atau tindakan yang jelas bagi seseorang yang tak bisa menyelesaikan pekerjaannya sesuai jadwal yang telah ditetapkan, sebaliknya apabila seseorang mengerjakan sesuatu lebih cepat dari jadwal, juga tak ada penghargaan yang diberikan oleh lembaga.

Di korporasi, yang saya alami jelas. Jadwal pengumpulan laporan, katakanlah sebuah rekonsel lubang bor untuk jenis coring, itu adalah tujuh hari. Kalau melebihi tujuh hari, maka yang bersangkutan akan dicatat keterlambatannya berapa hari. Dan catatan-catatan seperti ini akan diakumulasikan pada akhir tahun. Salah satu penilaian performance pegawai adalah dari kemampuannya memenuhi deadline pengumpulan laporan, tentunya disamping hal-hal lain yang kadangkala tak jelas juga tolok ukurnya. Biasalah.

Hal ketiga mungkin yang dapat didiskusikan adalah persoalan database. Hampir setiap hari di lembaga kita mungkin terjadi perkembangan data dan informasi yang sangat lekas. Pada akhirnya data itu sudah sedemikian banyak. Kalau data tidak dikelola dengan baik, maka pada saat tertentu kita akan kebingungan sendiri dengan tumpukan data yang menggunung dan tak jelas alamatnya. Untuk NGO, katakanlah perpustakaan. Hari-hari pertama saya memulai bekerja di PT Kaltim Prima Coal, saya memiliki kesempatan memasuki tempat penyimpanan file-file lama di salah satu gedung di daerah Tanjung Bara. Dan saya terkejut bukan main, karena data base itu sedemikian rapinya. Mulai dari data-data geologi, data-data lubang bor dari tahun capek, data-data karyawan, invoice, perihal pembayaran dengan kontraktor, dan seterusnya, semua terarsip dengan sangat rapi, mudah dicari, jelas alamatnya, dan dalam kondisi terawat. Saya cuma terbengong-bengong pada waktu itu.

Keempat, permasalahan maintenance. Di NGO dulu saya sering mengalami maslah, mulai dari komputer yang ngadat, printer rusak yang bertumpuk, sampai pompa air yang macet. Semuanya itu tentunya sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan dan semangat kerja kita. Hal berbeda saya alami di korporasi. Semua alat dan barang memiliki jadwal service masing-masing. Mulai dari alat berat, ini sudah jelas, kenderaan ringan, hingga sampai colokan kabel listrik mesti memiliki sebuah label, atau informasi dalam bentuk lain, yang selalu dapat dilihat. Biasanya label atau papan informasi ini, atau apa punlah bentuknya, minimal berisi jadwal service berikutnya. Ada yang lebih kompleks berisi, jadwal service terakhir, permasalahan terakhir, dan juga jadwal service berikutnya.

Kelima, masalah kerja tim. Bekerja di pengeboran adalah pekerjaan yang memakan waktu lama, kadang tak selesai berhari-hari. Dan karena rig bekerja siang malam, maka para pekerjanya adalah pekerja shift-shiftan. Ada shift malam dan ada shift siang. Dan satu hal yang pasti dalam kondisi pekerjaan shift-shiftan adalah meyakinkan bahwa pekerjaan kita dapat diteruskan oleh orang lain dengan baik. Hal ini tentunya menyaratkan para pekerjanya untuk benar-benar menguasai segala macam permasalahan teknis, pengodean dan sebagainya. Menjaga jangan sampai menambah beban kerja bagi shift berikutnya karena kita tak dapat menyelesaikan pekerjaan pada waktu shift kita, sangatlah penting. Karena ini hubungannya adalah ke soliditas dalam sebuah tim kerja. Jadi untuk menjaga kemenerusan kerja tim, harus dipastikan bahwa semua kejadian dan informasi yang kita miliki tentang pekerjaan, harus sampai ke teman over shift kita.

Hal berikutnya mungkin masalah kompetensi. Dulu sering ada pertanyaan dari seorang kawan, “NGO anu itu fokusnya apa sih?” Dan sambil guyon biasanya dijawab, “kalo NGO Anu itu fokus pada semua hal, bisa mengerjakan semuanya. Tergantung sponsor.” Begitu biasanya. Seperti halnya NGO-nya, sering juga aktivisnya bekerja lintas bidang. Maksudnya mengerjakan hal-hal yang diluar job desc resminya. Hal seperti ini lazim terjadi di NGO, (minimal NGO kecil tempat saya dulu bekerja). Misalnya saya pernah jadi reporter, jadi penata perpus, jadi marketing, dan seterusnya. Pokoknya all thing.

Di korporasi yang terjadi adalah sebaliknya. Sebuah pekerjaan hanya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. Katakanlah dalam mengendarai alat, misalnya Light Vehicle (LV), maka dibutuhkan Kartu Izin Mengemudi Perusahaan (KIMPER). Jadi mesti anda sudah memiliki SIM dari polisi, tetapi di korporasi (dalam hal ini PT KPC), anda mesti dites terlebih dahulu dalam mengendarai LV. Kalau lulus barulah anda mendapat KIMPER, yang bentuknya seperti SIM itu, dan baru boleh mengendarai LV dalam lingkungan perusahaan. Kalau anda tak punya KIMPER ini, dan suatu ketika tertangkap oleh petugas (security) mengendarai LV. Maka tak pelak, sanksi tertinggi dijatuhkan kepada anda: PHK! Karena ia termasuk golden rule yang diterapkan oleh perusahaan.

Tentang ini saya punya sebuah cerita. Kolega saya, seorang supervisor drilling, adalah seorang pekerja yang sangat tangguh. Dia menguasai hampir semua lekuk-liku di drilling. Suatu ketika, rig sedang rusak. Hujan baru saja usai, jalanan eksplorasi basah bukan main. Mungkin mengalahkan rute-rute yang sering dipakai untuk off-road. LV tak bisa masuk. Hanya dozer yang bisa masuk. Kebetulan kolega saya ini pernah menjadi operator dozer. Pendek cerita, ia pun masuklah ke lokasi dengan mengendarai dozer. Mungkin karena ia merasa pernah menjadi operator dozer. Tapi apa lacur? Ternyata KIMPER yang dia miliki bukanlah untuk spesifikasi dozer yang dia pakai waktu masuk ke lokasi tersebut. Akibatnya dia pun di hazard (dilaporkan melakukan pekerjaan yang bukan kompetensinya). Sampai sekarang kasus tersebut masih dalam investigasi. Padahal niatnya bagus: memperbaiki alat yang rusak. Tetapi caranya salah: memakai kenderaan yang ia tak punya KIMPER-nya. Runyam kan? Jadi niat bagus bisa menjadi salah karena caranya.  

Hal berikutnya, yang sangat serius diperhatikan oleh korporasi adalah masalah kesehatan, safety dan lingkungan. Hampir di semua korporasi besar selalu ada departemen sendiri berupa Healt, Safety and Environment (HSE Department) yang mengurusi permasalahan ini. Terlepas dari kritik yang banyak dialamatkan kepada program-program HSE perusahaan, tetapi hal tersebut rasanya sangat layak diperhatikan dengan serius. Karena untuk perusahaan tambang yang bekerja dengan kondisi high-tech, high-risk, dan high-cost, sedikit saja melakukan kesalahan, maka akan terjadi kerugian/kecelakaan besar-besaran, baik dalam bentuk nyawa maupun bentuk lainnya.

Untuk mengatasinya biasanya korporasi memiliki startegi tersendiri. Antara lain dengan adanya aturan dalam bentuk Job Safety Analysis (JSA) atau Analisis Keselamatan Kerja dan Standard Operation Procedure (SOP) atau Prosedur Pengoperasian Standar. Dan aturannya: dilarang melakukan sebuah pekerjaan tanpa memahami JSA dan SOP-nya. Bagaimana dengan NGO? Untuk yang terakhir ini tampaknya NGO belum menemukan formulanya. Atau memang tak perlu? Entah juga. 

Mungkin memang tidak pada tempatnya saya membandingkan sebuah NGO kecil seperti lafadl initiatives dengan korporasi kelas dunia seperti PT KPC, tetapi hitung-hitung dari pada tidak ada pekerjaan, saya pikir tak ada buruknya juga. Kali kali aja ada pelajaran yang dapat dipetik oleh kedua belah pihak itulah.

6 Responses to “‘Budaya Kerja’ NGO dengan Korporasi”

  1. Fauzul Says:

    Akur…

    Ornop di Indonesia, sebagian tentu saja, memang sering menggunakan alasan keterbatasannya sebagai dalih untuk sikap2 tidak profesional gituan. Mungkin memang susah ya, organisasi2 sosial di Indonesia bekerja dengan pola pikir profesional begitu?

  2. Hanif Says:

    saya jd teringat cerita Ibu Gedong -tokoh spritual dari Ashram Gandhi Bali- yang suatu saat ngobrol2 dengan anak muda Bali. sang anak muda Bali dengan bangganya memperkenalkan dirinya sebagai aktivis pembela petani. Sembari tersenyum bersahaja ibu gedong bertanya kepada sang aktivis: “Jam berapa biasanya kamu bangun?”. “sekitar pagi jam 8, ibu” jawab sang Pemuda dengan gagah. ibu Gedong kemudian mengomentari jawaban itu: “tahu tidak, para petani yang kamu bela itu, jam 3 sudah bangun. dini hari mereka sudah menginjakkan kakinya dan berjalan menelusuri pematang sawah demi menjalankan ritual hidup mereka.bagaimana mungkin sesorang yang bangun jam 8 bisa merasa bangga sebagai pembela mereka?”..
    (Cerita dengan sedikit modifikasi)

  3. Bosman Batubara Says:

    Wah, membaca komentar Mas Hanif saya jadi teringat dengan guyonan salah seorang teman aktivis di fisipol dulu, saya yakin Mas Hanif pernah mendengar guyonan ini. Suatu ketika di kalangan para teman2 aktivis mahasiswi/a di Jogja sedang ngetrend isu ‘anti militer(isme)’. Salah seorang kawan yang kritis langsung nyletuk: “gimana mau melawan militer? Mahasiswa jam 8 masih tidur, militer jam 5 sudah bangung. Olahraga,” hahahaha… Tampaknya tentang etos ini kita masih harus banyak belajar.

  4. Tya Says:

    Walaupun ditulis pada tahun 2008, tapi hingga saat ini perbedaan mencolok seperti itu masih ada. Pengalaman mas Bosman kurang lebih sama dengan saya yang pada awalnya bekerja pada sebuah Perusahaan multinasional migas dan sekarang di salah satu NGO Internasional di Indonesia.

    Sayapun awalnya kaget melihat struktur dan manajemen yang sangat longgar seperti ini.

  5. Rusmiyati Says:

    saya ngo baru saya kepingin kerja orsos saya dapat kerja korporasi cranya ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: