CATATAN PERJALANAN DI KAWASAN LERENG MERAPI BOYOLALI

Jumat, 14 Desember 2007

Urung Memotret Gara-gara Mas Ipung

Oleh: Y.C. Kelik Prirahayanto

Malu bertanya sesat di jalan. Karena masih mengingat bunyi peribahasa populer tadi, juga dalam rangka menghindarkan diri dari sesat, saya dan Sobirin berulangkali memraktekkan jurus bertanya ini ke berbagai orang  selama lawatan kami di kawasan lereng Merapi Kabupaten Boyolali awal Desember kemarin. Kalau dihitung-hitung, kami berdua bertanya mungkin sampai lebih dari 10 kali di sepanjang perjalanan, dimana orang-orang yang kami tanyai jamak memberi jawab dengan intro yang kurang lebih semacam ini.
“O, masih jauh.”
atau
“Terus saja.”
atau
“Aduh, sudah kebablasen, Mas.”
Kami paling banyak bertanya ketika sedang mencari sebuah daerah bernama Tlogolele, yang para penduduknya setahu kami giat bergiat dalam sejumlah kesenian rakyat semacam jathilan dan kuda lumping. Dari hasil beberapa kali bertanya, juga mengamati selembar peta milik sebuah restoran, pencarian kami akhirnya terbawa ke sebuah pertigaan di pinggir desa Jrakah, tak seberapa jauh dari gapura tapal batas Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Pertigaan itu menggiring kami meninggalkan ruas jalan tembus Boyolali – Magelang via Selo dan Ketep Pass yang beraspal halus. Kami kemudian ganti menyusur sejalur jalan aspal sempit, “berjerawat”, sepi, berkelak-kelok, pula turun naik; membuat sepeda motor bebek tunggangan kami harus kerap menggeram karena dipaksa bekerja lebih keras.

Kampung yang Dikitari Ladang dan Kebun Sayuran
Selepas beberapa kali bertanya (lagi) dan di kala tampilan waktu di skrin henfon saya telah berhiaskan angka 16 lebih sekian belas menit, penjelajahan kami kemudian berujung pada suatu daerah pemukiman penduduk yang dikitari oleh ladang-ladang pertanian serta sejumlah kebun sayuran. Rumah-rumah penduduk  serta bangunan-bangunan lainnya saya temukan berdiri terserak pada suatu areal berkontur miring. Bangunan-bangunan di daerah tersebut terbagi menjadi dua jenis. Sebagian dari rumah-rumah itu adalah rumah-rumah tembok berdinding batu, bata atau batako. Sebagian lagi sisanya adalah rumah-rumah kayu berbentuk limasan. Kebanyakan dari rumah-rumah tersebut memiliki halaman yang cukup luas. Sore itu, beberapa dari halaman itu saya dapati sedang dimanfaatkan oleh para pemilik rumahnya untuk menjemur jagung serta mengikat ternak sapi mereka. Sepenglihatan saya, bangunan terbaik di kampung tersebut adalah sebuah masjid yang pucuk atapnya terhiasi mustaka logam mengkilap berbentuk bawang,  sedangkan lantai serta dinding-dindingnya tampak resik bersalutkan keramik.
Setelah menempuh kira-kira setengah dari tanjakan jalan kampung yang sedang dirayapi oleh motornya, Sobirin kemudian memutuskan untuk berhenti.  Kami berdua kemudian mencoba untuk bertanya kepada satu kerumunan orang yang tengah asyik berbincang di tepi jalan, mencari tahu apakah kami telah benar sampai di daerah Tlogolele ataukah belum. Jawaban dari orang-orang itu melegakan kami. Kami ternyata memang telah sampai di daerah yang kami tuju. Tempat yang kami sedang datangi ini adalah satu dari delapan dusun yang dimiliki oleh Desa Tlogolele. Takeran, demikianlah merupakan nama dusun kecil tersebut. Dari kawasan dusun ini, asalkan kabut sedang tak bermain-main, kerucut kekar Gunung Merapi dapat dilihat dengan jelas berdiri menjulang di sebelah timur kampung. Dusun yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali ini memang berada sangat dekat dengan Gunung Merapi, hanya sekitar 4 kilometer saja jaraknya dari puncak.
Untuk beberapa saat, saya dan Sobirin kemudian sedikit berbincang dengan orang-orang yang tadi sempat kami tanyai. Saat mereka mendengar kalau kami berdua sedang mencari tahu tentang keberadaan kelompok kesenian rakyat di daerah tersebut, seorang dari mereka kemudian menyarankan agar kami menyambangi kediaman dari Darmo Jimu, sesepuh kelompok kesenian rakyat kampung tersebut. Seorang remaja laki-laki yang hendak mengambil air ke bak penampungan air di bagian tengah dusun berbaik hati mengantar kami ke kediaman Darmo Jimu.

Kethoprak dan Kuda Lumping
Sore itu, Darmo Jimu kebetulan baru saja pulang dari bekerja memerbaiki rumah salah seorang tetangganya. Ia kemudian mengajak kami masuk ke rumahnya, sebuah rumah kayu berbentuk limasan yang berlantai tanah serta lumayan gelap bagian dalamnya. Dalam sebuah obrolan yang ditemani dengan suguhan teh tawar dingin, pria berusia sekitar 50-an tahun itu kemudian bercerita banyak hal kepada kami tentang kehidupan kesenian rakyat di kampungnya.
Rupanya, ada tiga jenis kesenian rakyat di dusun yang para penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani sayur, peternak sapi serta penambang pasir di Kali Apu itu. Kesenian-kesenian tersebut adalah ketoprak, kuda lumping dan jathilan. Sayang, tak ada satu pun ketiga kesenian tersebut bisa dikategorikan sebagai sehat. Ketoprak, sebagai kesenian tertua dan paling awal berkembang di Takeran, kini boleh dibilang telah mati. Menurut Darmo Jimu, ketoprak mereka sudah bertahun-tahun tak pernah lagi berpentas. Kostum-kostum, kelir panggung , juga perangkat pentas lainnya, saat ini telah banyak rusak karena tak lagi terawat. “Ketua kethoprakya tidak pintar mengurus. Tidak berani nombok!” Darmo Jimu sedikit menjelaskan penyebab kematian grup kethoprak di kampungnya. Pentas kethoprak disebutnya membutuhkan banyak dana, baik untuk kostum, perangkat pentas lainnya, latihan, juga penyelengaraan pentas. Hal itu karena kethoprak milik Dusun Takeran dulu lebih sering tampil pada perayaan-perayaan di kampung mereka sendiri. Jadi, boleh dibilang memang tak pernah mendapatkan banyak pemasukan dari tanggapan. Inilah mengapa keberadaan ketua grup lantas sangat menentukan kelangsungan hidup kelompok. Dari dia dan kreativitasnya, yang dalam hal ini termasuk pula untuk urusan menalangi kekurangan dana, kelompok kesenian rakyat semacam kethoprak sepenuhnya menggantungkan pembiayaan operasional rutin mereka.
Kesenian lain yang sejak lama ada di Takeran adalah kuda lumping. Kata Darmo Jimu, kuda lumping milik kampungnya telah ada sejak sekitar 15 tahun silam. Semasa mudanya, Darmo Jimu adalah seorang pemain yang ikut menari dalam kesenian ini. Kelompok kesenian rakyat ini acap tampil di sejumlah hajatan semacam perkawinan ataupun khitanan yang diselenggarakan warga setempat. Namun, seperti halnya ketoprak, kesenian rakyat ini sekarang juga mulai terseok-seok jalannya.  Jarangnya kesempatan berpentas di luar Dusun Takeran serta masalah klise keterbatasan dana sekali lagi disebut Darmo Jimu sebagai penyebab kemunduran grup kuda lumping kampungnya.

Geliat Jathilan yang Terhambat
Ketidakberhasilan warga Dusun Takeran dalam menjaga kelangsungan hidup seni kethoprak dan kuda lumping yang mereka miliki tak lantas membuat mereka kapok. Sejak setahun terakhir, melihat geliat beberapa dusun sekitar yang berhasil mengembangkan jathilan, warga Dusun Takeran kini sedang mencoba untuk turut mengembangkan kesenian yang merupakan bentuk modifikasi lanjut dari kuda lumping ini. Sedikit berbeda dari kuda lumping yang menitikberatkan pementasan pada kelompok penari yang berjoget dengan memakai kuda kepang, jathilan tampil dengan beberapa kelompok penari lain yang berkostum mirip-mirip pelakon wayang orang. Ada yang memakai kostum butha atau raksasa, ada yang memakai kostum wanara atau kera model anoman, ada pula yang memakai kostum batak atau raja model Baladewa.
Keantusiasan warga Takeran dalam kesenian membuat mereka sampai perlu mengundang pelatih gerak dari Trono, suatu dusun lain di lereng Merepi juga. Kesenian jathilan tersebut mulai sering tampil di depan umum. Dalam hal ini, mereka mengikuti pola yang relatif sama dengan yang dulu dipakai oleh kethoprak dan kuda lumping, yakni tampil di hajatan yang diselenggarakan warga setempat, pula berpentas saat Lebaran.
Untuk urusan kostum, grup jathilan yang sampai sekarang belum mempunyai nama ini dipaksa untuk berpintar-pintar mengakali keadaan. Maklum, kelengkapan pentas mereka, terutama kostum, masih jauh dari lengkap. Sejauh ini mereka memanfaatkan beberapa kostum lama yang masih bisa digunakan milik kethoprak dan kuda lumping. Banyak kekurangan lainnya mereka tutupi dengan meminjam perangkat pentas dari grup kesenian dusun tetangga, yakni Tlogomulyo dan Tlogolele.
Namun, ketidaklengkapan perangkat pentas terutama kostum, menurut Darmo Jimu, tetap saja menghambat geliat kesenian jathilan mereka. Grup mereka jadinya tak selalu bisa menerima semua tawaran pentas yang datang. Jathilan Dusun Takeran hanya bisa tampil ketika grup jathilan dusun tetangga sedang tak memakai kostum mereka untuk berpentas dan bisa memberi pinjaman kostum. Ketidaklengkapan perangkat pentas itu pula lah yang sampai sekarang menghalangi jathilan Dusun Takeran untuk bisa berpentas di luar kampung mereka. Selain itu, kata Darmo Jimu, ia sebagai pemimpin grup jadi selalu minder ketika harus berinteraksi dengan pemimpin-pemimpin kelompok kesenian rakyat lain yang lebih lengkap peralatanya.
“Rasanya malu, Mas. Bingung tidak tahu caranya omong. Yang lain sudah punya kostum bagus-bagus, juga main di tempat-tempat jauh masalahnya.” Begitulah cerita Darmo Jimu tentang pengalamannya ketika ikut berkumpul dengan perwakilan kelompok-kelompok kesenian rakyat sekecamatan Selo sekian bulan silam. Karena itu, walau beberapa kali menerima undangan lagi, ia sekarang memilih menghindar dari pertemuan-pertemuan serupa.
Darmo Jimu dan para anggota grup jahilan yang dipimpinnya sebenarnya tak berpangku tangan dengan keterbatasan yang mereka miliki sekarang. Selain masih terus menghimpun dana di antara mereka guna membeli kostum baru, untuk tujuan yang serupa mereka pernah pula mencoba membuat proposal permohonan bantuan kepada Pemkab Boyolali. Namun, karena dimintai uang pelicin oleh seorang oknum di Kecamatan Selo, mereka memilih membatalkan niat mereka.
“Kalau membayar itu bantuannya juga belum pasti keluar.” Darmo Jimu berucap memberi tambahan pada tuturannya.
Akhirnya, kini mereka harus bersabar menunggu sampai tabungan mereka cukup untuk bisa melengkapi kostum yang mereka damba-dambakan.

Hasrat Untuk Memiliki Dokumentasi Pementasan
Menurut Darmo Jimu, sekitar setengah tahun silam, Hari, seorang anggota senior grup jathilan Dusun Takeran, berinisiatif untuk mencari jasa audo visual untuk mendokumentasikan penampilan kelompoknya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir itu mencoba mencari info ke Boyolali dan sekitar Magelang. Pada akhirnya, dengan cara yang tak terlalu jelas, Hari kemudian bertemu seorang pria yang mengaku bernama Ipung. Pria itu menyebut dirinya berasal dari Yogyakarta. Kepada Hari, Ipung menyatakan kesediannya untuk membantu merekam aksi pentas grup jathilan. Singkat kata, Hari selanjutnya mebawa Ipung ke dusunnya serta mengenalkan kenalan barunya itu ke teman-teman sekelompoknya.
Dengan sebuah kamera handycam, yang menurut Darmo Jimu berukuran sekepalan tangan, Ipung kemudian sempat sekitar tiga kali muncul ke merekam penampilan grup jathilan. Untuk semua itu, Ipung tak pernah mau menerima imbalan. Bahkan, diberi rokok pun Ipung menolak.
Sayang, selepas kedatangannya yang terakhir,Ipung seakan menguap. Ia tak pernah lagi berkirim kabar ataupun menginjakkan kakinya di Takeran. Beberapa orang warga Takeran, termasuk juga Hari, pernah beberapa kali mencoba mengirimkan pesan pendek ke nomor milik Ipung. Namun, semua pesan pendek itu tak satu pun yang dibalas oleh Ipung.
“Padahal Mas Ipung itu janji ke saya mau memberi 8 kaset.” Darmo berujar dengan nada kecewa. Sampai sekaranng, grup jathilan Dusun Takeran memang belum menerima CD-CD dokumentasi pementasan yang dahulu pernah dijanjikan oleh Ipung kepada mereka.
“Paling kasetnya sekarang itu sudah dijual sendiri sama dia.” Darmo Jimu meneruskan ceritanya. Kepada kami berdua, Darmo Jimu bahkan sempat bertanya apakah kami mengenal pria yang tadi diceritakannya itu. Tampaknya, Darmo Jimu masih belum benar-benar putus harapan untuk coba mendapatkan dokumentasi pementasan grup jathilan dusunnya yang pernah dijanjikan Ipung. Andainya kami tahu siapa Ipung dan dimana alamat laki-laki itu, mungkin Darmo Jimu atau salah seorang anggota grupnya akan menyempatkan waktu untuk datang mencari ke Jogja. Sayang sepotong nama tanpa keterangan lebih itu tak terkenali sama sekali baik oleh saya ataupun Sobirin.
Bagi penduduk Takeran semacam Darmo Jimu, sepotong nama Ipung itu bisa jadi akan selalu diingat sebagai cerminan orang kota yang tega membohongi dan mengakali orang – orang desa seperti mereka. Sedangkan bagi saya sore itu, nama Ipung adalah sebuah nama yang membuat saya gemas, pula sekaligus jadi tak enak hati untuk mengeluarkan kamera dari dalam tas. Gara-gara nama Ipung, saya akhirnya urung untuk memotret Darmo Jimu dan bangunan rumahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: