My Bday Night

Minggu, 2 Desember 2007

Oleh: Deva (Sekretaris Lafadl) 

Dering handphone menggugah tidurku. Dengan sedikit rasa sadar, kucoba meraih benda itu dan masih dengan kesadaran yang minim aku membukanya dan mengucapkan kata halo dengan suara lirih.  Di kejauhan kudengar suara yang sudah sangat tak asing lagi ditelingaku. “Selamat Ulang Tahun ya nduk.” Ibuku,dengan suara yang kurasa juga masih  setengah sadar, kuyakin dengan susah payah mencoba tetap sadar hanya untuk mengucapkan selamat untuk anak perempuan satu-satunya. Hal ini memerlukan kerja keras mengingat beliau tersistem untuk tidur tak lebih dari jam 10 dan bangun di saat jam menunjuk angka 5. Kulirik jam di kamar, jam 12 tepat! Perfect timing, mom!  

Setelah kalimat pertama yang kujawab dengan terima kasih yang singkat, ibuku kembali membuka suaranya. “Ojo lali skripsimu yo nduk. Yen ra rampung-rampung, kapan arep luluse?” dan aku pun terdiam. Mungkin itu hanya pertanyaan yang biasa dan sebenarnya sudah sering beliau tanyakan kepadaku, namun kali ini berbeda. Entah mengapa! Hari ini, malam ini, detik ini, pertanyaan itu terdengar berbeda. Biasanya aku akan menjawab “tunggu aja tanggal maennya” atau “ehm kapan ya ma? Nantilah kalau mama dah bosen nanya.” Tapi kali ini aku hanya bisa menjawab “iya”. Singkat, padat dan sangat pelan. Tenggorokanku tercekat, ada sesuatu yang mencekiknya sehingga aku tak bisa mengeluarkan kata-kata selain “iya”. Hatiku pun tak bisa diajak kompromi. Aku merasa seperti ada ratusan jarum yang menusuk sehingga aku tak bisa bergerak. Mengapa hari ini, pertanyaan semudah itu, pertanyaan yang seharusnya sudah sangat familiar di telinga, pertanyaan yang sebenarnya aku mempunyai 1001 candaan untuk menjawabnya dan pertanyaan yang sangat membosankan itu hanya bisa kujawab dengan sebuah kata pendek dengan suara lirih tanpa keyakinan, tanpa kekuatan dan hanya penuh kehampaan. Mungkin jawaban paling masuk akal sehatku adalah karena ini hari ulang tahunku dan aku seorang wanita. Mengapa kukemukakan dua hal itu? Karena mereka saling mendukung satu sama lain. Hari ulang tahun memang seharusnya menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi orang yang berulang tahun, namun bagiku itu hanya hari biasa. Hanya jumlah sms dan telepon, serta email, yang sedikit lebih banyak dari hari-hari lainnya. Beberapa mengatakan seharusnya kita bersyukur karena telah diberi 1 tahun oleh Yang Punya kita, ada yang mengatakan jatah hidup sudah berkurang satu tahun, tapi bagiku hari ulang tahun adalah hari paling sensitif. Diluar fakta bahwa ulang tahunku yang jatuh pada akhir bulan (yang berarti aku berada dalam lingkup PMS), ucapan selamat, traktiran, kado dan tetek bengek yang lain hanya sebagai simbol. Apa bedanya bila hari ultahku dengan sengaja kugeser 5 hari kedepan atau kebelakang? Toh 25 november tahun kemarin juga berjarak 1 tahun dari 25 november tahun ini. Penambahan 1 tahun belum tentu membuat seseorang menjadi seseorang yang berbeda secara drastis. Ada yang beralasan hari ultah digunakan untuk merenungkan apa yang telah kita lakukan 1 tahun ini. Namun mengapa tidak dilakukan dilain hari? Toh kita punya 365 hari selama setahun, dan mengapa merenungkan perjalanan hidup kita hanya pada hari ulang tahun?

Ada kemungkinan peringatan ulang tahun merupakan acara untuk mengenang kembali proses kelahiran kita. Memang proses melahirkan menjadi suatu pertarungan hidup-mati ibu-ibu kita baik dengan cara normal maupun dengan operasi. Setiap proses itu merupakan arena tempur ibu kita dengan maut. Aku amat setuju apabila ada pendapat bahwa hari ulang tahun adalah hari mengenang perjuangan ibuku agar aku dapat mengecap rasanya hidup di dunia. Berarti setiap hari ulang tahun ku, aku seharusnya mengucapkan selamat kepada ibuku karena pada hari itu bertahun-tahun yang lalu beliau memenangkan pertempuran dengan maut! Bukan sebaliknya, yaitu meminta tambahan uang saku untuk menraktir teman-teman mencicipi semangkuk mie ayam atau minuman bersoda! Seharusnya aku menyisihkan uang saku ku untuk membelikan ibuku bunga atau secuil cenderamata guna berterima kasih atas semua perjuangan, jerih payah dan pengorbanan agar aku dapat hidup dan telah melalui tahun-tahun di dunia ini. So, instead of my mom called me to say happy bday, I should have called her and said thank you! 

Oya, aku lupa sesuatu. Keberadaanku menjadi seorang wanita, bukannya aku mengingkari atau menyesali (dan aku sangat tidak menyesali), namun ini membuat segalanya lebih kompleks. Lingkup PMS diakhir bulan membuat kestabilan emosi menjadi sangat melenceng dan membuat segala hal yang sangat kecil menjadi besar. Bulan-bulan selain bulan November telah membuktikan pernyataan ini. Permasalahan telat jemput atau cuaca yang panas menjadi permasalahan yang sangat besar apabila akhir bulan sedang dijalani. Sehingga, hari ulang tahun, akhir bulan dan kenyataan sebagai wanita, telah membuat diriku menjadi seorang yang tidak dapat dikompromikan. Segala sesuatu menjadi sangat sensitive, walau hanya sepenggal kalimat dari ibuku tercinta. Sepenggal kalimat yang membuatku tetap terjaga hingga 5 jam setelah kata itu dinyatakan dan membuat bantal dan gulingku menjadi lembab tertetesi air mata………….       

7 Responses to “My Bday Night”

  1. batanggadis Says:

    Tulisannya bagus, ulang tahun yang ke berapa Deva?
    Tapi ya slamat ulang tahun juga ya.


  2. Salam kenal.
    Selamat ulang tahun, ya. Beda sehari dengan saya.😀

  3. syihab asfa Says:

    tulisan dan pesona yang, saya kira, akan mampu menggetarkan hati sang geolog–yang juga sastrawan –lafadl. (aku puji ya her biar kerasan di lafadl, hehehe).

  4. devamanies Says:

    hwaaaaaaaaaaa…..

    ternyata responnya baik… dah atut dicibir karena ketidak mampuan menuliskan sesuatu😉

    buat mas pandu, met ultah jugaaaaa…..

    salam kenal semuanya…..

    NB: DIMAZZZZZZZZZZ!!!!!! namanya kurang!!!!!! kan yang bener Devamanies (ting…ting… mata centil)

  5. heru Says:

    manis kaya tebu?trus, jadinya kapan luluse? hehehe

  6. sobar Says:

    selamat. biasanya yang bintangnya Sagitarius orangnya Cerdas. so jangan malu2in korp lo ya…

  7. syihab asfa Says:

    komentar pertama aku cabut, ternyata (dari pantauan jauh) sang penulis centil, dan ini agak mengganggu selera membaca ku. moga deva tabah menghadapi heru dan anak2 lafadl lain.

    sukses fadl…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: