Perang Melawan Terorisme: Dari Hegemoni ke Dominasi AS?

Sabtu, 6 Oktober 2007

Analisis Gramscian atas Tatanan Dunia Kontemporer
(Sebuah proposal riset)

Oleh: Shohib Masykur
Permulaan abad dua puluh satu diwarnai dengan fenomena politik dunia yang amat penting dan menentukan. Satu dasawarsa setelah berakhirnya perang dingin muncul perang baru yang tidak kalah kerasnya dengan perang dingin: perang melawan terorisme (war on terrorism). Meski terorisme bukanlah fenomena baru, namun pemaknaan atasnya menemukan kebaruannya pada awal abad dua satu setelah terjadinya sebuah peristiwa yang menggemparkan seluruh planet pada bulan September tanggal sebelas tahun 2001 di Amerika Serikat: runtuhnya gedung WTC akibat serangan dengan menggunakan pesawat yang (konon) dilakukan oleh teroris.[i] Segera setelah tragedi yang kemudian dikenal sebagai “nine-eleven” tersebut, dunia disibukkan dengan perang baru yang diberi tajuk “Perang Melawan Terorisme” (War on Terrorism). Terorisme yang dulunya merupakan persoalan parsial masing-masing negara—atau maksimal bersifat regional—berubah menjadi persoalan global yang menuntut perhatian semua pihak, mulai dari negara super maju sampai negara super miskin. Pada level individu, semua orang di seluruh dunia secara tiba-tiba menjadi berkepentingan terhadap isu terorisme.

Merujuk pada Buzan et.al (1998), kita bisa memaknai propaganda war on terrorism ini sebagai proses sekuritisasi, yakni proses di mana aktor sekuritisasi (securitizing actor) melakukan speech act untuk mengarahkan pandangan umum agar memandang suatu persoalan sebagai ancaman terhadap keamanan. Suatu isu menjadi isu kemanan bukan (semata-mata) karena adanya ancaman eksistensial (existential threat) yang riil di dalamnya, melainkan lebih karena isu tersebut dihadirkan sebagai sebuah ancaman (presented as a threat). Cara pandang terhadap security semacam ini merupakan bagian dari tradisi kontstruktivisme. Dalam tradisi konstruktivisme, politik internasional tidak dipahami sebagai sesuatu yang given, melainkan constructed. Alexander Wendt, misalnya, mengemukakan bahwa “anarchy is what states make of it” (Maja Zehfuss, 2002).

Kita bisa menyimak proses sekuritisasi ini misalnya dalam pidato yang disampaikan oleh Presiden Bush di The National Cathedral pada tanggal 14 September 2001, “just three days removed from this events, American do not yet have the distance of history. But our responsibility to history is already clear: to answer these attacks and rid the world evil. War has been waged against us by stealth and deceit and murder. This nation is peaceful, but fierce when stirred to anger.”[ii] Di bagian lain dia menyatakan “our nation’s cause has always been larger than our nation’s defense. We fight, as we always fight, for a just peace—a peace that favours liberty”.

Segera setelah itu dunia terbagi menjadi dua: teroris dan kontra-teroris. “Either you are with us or against us,” sebuah bionary opposition yang luar biasa diwacanakan oleh Presiden Bush: kita (yang damai) dan mereka (yang teroris). Pertempuran melawan terorisme kemudian diidentikkan dengan perjuangan menciptakan perdamaian: yang tidak mendukung perjuangan melawan terorisme berarti anti-perdamaian.

Dalam rangka menjalankan misi besar “menciptakan perdamaian dengan memusnahkan terorisme” ini, Amerika Serikat memposisikan dirinya sebagai the leader. Hal ini dikarenakan disamping fakta bahwa dalam tragedi 11 September AS lah yang menjadi sasaran, juga mengingat posisi AS sebagai kekuatan paling dominan dalam kancah politik internasional saat ini. Tidak heran jika dalam perang melawan terorisme ini “The United States with its unique ability and to build partnership and project power, will lead the fight against terrorism organizations of global reach.” [iii]

Ada dua poin yang perlu diperhatikan di sini. Pertama, speech act yang dilakukan oleh Presiden Bush telah membentuk opini dunia tentang makna terorisme dan perdamaian. Itu artinya terorisme dan lawannya, perdamaian, merupakan sesuatu yang constructed dan invented. Pemaknaan atasnya dilakukan oleh aktor sekuritisasi. Yang mana yang teroris dan yang mana yang bukan teroris ditentukan oleh aktor sekuritisasi tersebut, yakni AS dan negara-negara sekutunya. Pada saat yang sama, terorisme mengalami penarasian. Kaum teroris dinarasikan sebagai the other yang benci perdamaian, pembuat onar, dan berbahaya. Adalah kewajiban “kita” (yang cinta damai) untuk memusnahkan “mereka” (yang merusak perdamian) demi terciptanya perdamaian. Penarasian ini penting dalam rangka melakukan propaganda global anti-terorisme (Ahmad L. Hakim dan Mustafid, 2005). Di sinilah relevansi apa yang dikemukakan oleh Edward W. Said (2001; 2002) tentang bagaimana konstruksi Barat melalui kekuatan medianya telah menghadirkan “realitas” tentang Timur di mata dunia. “There is no such thing as a delivered presence; there is only re-presence, or representation”, ungkapnya.

Dampak lebih jauh dari penarasian tersebut, yang membawa kita ke poin perhatian yang kedua, adalah bahwa perang melawan terorisme dianggap sebagai perang yang “lain dari pada yang lain”. Karenanya, cara menghadapinyapun harus “spesial”. “The struggle against international terrorism is different form any other war in our history. We will not triumph solely or even primarily through military might. We must fight terroirst networks, and all those who support their efforts to spread fear around ther world, using every instrument of national power—diplomatic, economic, law enforcement, financial, information, intellegence, and military”.[iv] Karena “mereka” bukan bagian dari “kita”, apapun cara yang “kita” lakukan adalah sah. Di sinilah doktrin pre-emptive strike menemukan legitimasinya.

Implikasi lebih jauh dari “penghalalan segala cara” ini adalah sangat mungkinnya tindakan unilateralisme (tentu saja dengan mengatasnamakan kepentingan umum: peradaban, sejarah, perdamaian dunia). Misalnya lontaran Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri AS bahwa Washington “will act alone when necessary”.[v] Ini telah dibuktikan dengan invasi AS ke Irak tanpa restu PBB. Hasilnya, seluruh dunia melihat. Alih-alih mendatangkan perdamaian, yang muncul justru konflik yang terus menerus yang mengakibatkan jatuhnya banyak sekali korban baik di pihak sipil maupun militer, baik di pihak AS maupun Irak.

Persoalan utama yang akan diangkat dalam riset ini adalah tentang status AS dalam tatanan dunia dikaitkan dengan war on terrorism. Berangkat dari asumsi bahwa AS (pernah) merupakan hegemon dalam tatanan politik internasional, riset ini bermaksud mengatakan bahwa dengan adanya war on terrorism, AS sedang mengalami pergeseran posisi dalam tatanan global dari yang tadinya merupakan aktor hegemoni menjadi aktor dominasi. Tatanan politik global pun berubah dari yang tadinya “dihegemoni” oleh AS menjadi “didominasi” oleh AS.

Gramsci, Hegemoni, dan Amerika Serikat

Menurut Sugiono (1999, hal. 117-118), pembahasan oleh para penulis ekonomi politik mengenai menurunnya hegemoni Amerika Serikat kiranya bukan sesuatu yang baru. Perdebatan mengenainya sudah dimulai sejak akhir dekade 70-an. Beberapa penulis semisal Robert Keohane (1984), Robert Gilpin (1975), Immanuel Wallerstein (1979) beranggapan bahwa hegemoni AS sudah mengalami kemerosotan pada waktu tulisan mereka tersebut dibuat. Sementara beberapa penulis lain semisal Susan Strange (1982; 1987), Bruce Russet (1985), dan Joseph Nye (1990) beranggapan sebaliknya, yakni bahwa gagasan tentang menurunnya hegemoni AS hanyalah “mitos”. Perdebatan itu dipicu oleh adanya fenomena perubahan signifikan yang terjadi dalam tatanan ekonomi internasional di tahun 70-an, yakni keputusan AS untuk menarik pasak emas yang menopang Sistem Bretton Wood yang berakibat pada berakhirnya sistem tersebut.

Sugiono sendiri meski tidak secara langsung mengemukakan pendapatnya tentang posisi hegemonik AS, namun dari telisikannya tentang hegemoni wacana neoliberal yang diusung oleh para intelektual Kanan Baru dan secara aplikatif prekteknya dipelopori oleh AS (Reagan) dan Inggeris (Tatcher) pada dekade 80-an, dia tampak bermaksud mengemukakan bahwa hegemoni AS masih kukuh.[vi] Meskipun muncul blok historis (historic bloc) baru yang menggantikan hegemoni wacana ekonomi Keynesian, namun aktor politik (dalam pengertian state) yang berada di baliknya masih tetap sama, yakni Amerika Seriakat dan negara-negara maju yang menjadi sekutunya (Sugiono, 1999).

Riset ini akan menggunakan perspektif Gramscian dalam melakukan analisis atas tatanan dunia kontemporer. Perspektif Gramscian, sebagaimana ditulis Sugiono, merupakan perkembangan baru dalam studi Hubungan Internasional (HI). Dirintis oleh Robert W Cox (1981; 1987), perspektif ini menjadi “pisau analisis” yang penting dalam rangka menjelaskan krisis hegemoni pasca-perang dan transformasinya menuju tatanan pasca-perang (Sugiono, 1999, hal. 17). Menurut Stephen Gill, perspektif ini memang belum begitu berkembang dalam studi HI. Hal ini barangkali dikarenakan dari sekian banyak tema yang diusung Gramsci, hanya sedikit di antaranya yang terfokus pada pembahasan mengenai ekonomi politik per see. Selain itu juga karena Gramsci dianggap berada dalam kurungan asumsi-asumsi Marxisme klasik tentang ekonomi politik kapitalisme dan feodalisme (Stephen Gill dalam Stephen Gill, ed., 1993, hal 4).

Mengingat sifat dari tulisan-tulisan Gramsci sendiri yang menyerupai serpihan-serpihan terpotong, bisa dimengerti jika darinya tidak bisa diharapkan suatu teori politik yang komprehensif dan finished. Namun demikian, seluruh karyanya berada dalam satu tema tunggal hegemoni (Sugiono, 1999, hal. 17). Pengertian hegemoni dalam perspektif Gramscian merujuk pada dua kata kunci, yakni persetujuan (consent) dan pemaksaan (coercion). Sebuah tatanan yang hegemonik, dalam perspektif Gramscian, adalah suatu kondisi di mana hubungan antar klas dan antara negara dan masyarakat sipil dicirikan oleh persetujuan (consent) alih-alih paksaan (coercion) (Stephen Gill dan David Law dalam Gill, 1993, hal. 93). Agar yang dikuasi mematuhi yang menguasi, menurut Gramsci, yang pertama tidak saja harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma-norma yang diusung oleh yang kedua, tetapi juga lebih dari itu mereka harus memberikan persetujuan atas subordinasi mereka (Sugiono, 1999, hal. 31). Inilah yang oleh Gramsci dinamakan “kepemimpinan moral dan intelektual”. Dalam hal ini Gramsci membedakan antara dominasi dan hegemoni: yang pertama lebih menekankan kepada aspek paksaan (coercion), sementara yang kedua lebih menekankan aspek persetujuan (consent) (Gramsci, 1971, hal. 57). Meningkatnya paksaan, karenanya, berimplikasi pada semakin melemahnya hegemoni dan semakin dominannya kondisi dominasi.

Perlu dicatat bahwa “wilayah operasi” pemikiran Gramsci berkutat pada level negara. Artinya, dia berbicara tentang relasi-relasi sosial yang berlangsung di dalam suatu negara. Namun demikian, meski Gramsci tidak secara spesifik berbicara tentang hubungan internasional, secara tidak langsung dia mengatakan bahwa logika hubungan internasional tidak jauh beda dengan logika yang berlaku pada level negara. Ini tampak dari kalimat:

Do international relations precede or follow (logically) fundamental social relations? There can be no doubt that they follow. Any organic innovation in the social structure, through its technical military expression, modifies organically absolute and relative relations in the international field too (Gramsci, 1971, hal 176).

Dari pernyataannya ini, kita bisa mengatakan bahwa bagi Gramsci analisis atas situasi politik internasional bisa menggunakan perangkat yang sama dengan perangkat yang dia gunakan untuk melakukan analisis atas situasi nasional.

Argumen yang penulis bangun adalah bahwa alih-alih meneguhkan posisi hegemonik Amerika Serikat dalam mempertahankan tatanan dunia (world order), fenomena war on terrorism justru menunjukkan kepada kita runtuhnya hegemoni AS atas tatanan dunia. Dengan meminjam pemikiran Antonio Gramsci, riset ini bermaksud mengatakan bahwa kebrutalan yang ditunjukkan oleh AS dalam menghadapi terorisme menunjukkan pergeserannya dari consent menuju coercion. Pergeseran ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya pihak yang menyuarakan ketidaksukaannya kepada AS (antiamerikanisme) dengan menggunakan metode perlawanan yang keras (kekuatan militer) dan direspon dengan cara yang sama oleh AS. Ini berarti, kondisi hegemoni yang dulu diperlihara oleh AS tampaknya sedang mengalami proses meruntuhnya. Pada saat yang sama, kondisi dominasi pun terbangun.

 

 


[i] Kebaruan pemaknaan atas terorisme ini bisa kita amati jika kita menyimak Time Line of Terrorist yang disusun oleh US Department of Defense. Dalam rentang waktu yang dibuat yang meliputi 1960-1969, 1970-1979, 1980-1989, 1990-1999, dan 2000-2006, terdapat pergeseran kecenderungan peristiwa terorisme. Sebagai misal, sebelum era 2000-2006, hampir semua kejadian yang dirujuk sebagai kegiatan teroris tidak terkait dengan Islam maupun Timur Tengah. Namun pada era 2000-20006, kecenderungan ini berbalik 180 derajat: hampir semuanya terkait dengan Islam dan atau Timur Tengah (lihat di http://www.army.mil/terrorism/1989-1980/index.html).

[ii] Pernyataan-pernyataan senada bertebaran di mana-mana. Lebih lengkap tentangnya terkumpul dalam The National Security Strategy of United States yang terbit September 2002 (Bisa diintip di http://www.whitehouse.gov/nsc/nss/2002/nss.pdf).

[iii] National Strategy for Combating Terrorism, hal. 2, dikutip dari: https://www.cia.gov/terrorism/publications/Counter_Terrorism_Strategy.pdf

[iv] Ibid, hal. 1.

[v] Dikutip dari Ahmad L. Hakim dan Mustafid (2005), hal 121.

[vi] Perlu dicatat bahwa Sugiono membuat tulisannya yang merupakan naskah tesis ini di penghujung abad dua puluh, saat di mana konstruksi tentang terorisme belum mencapai level sekarang. Menarik untuk mengira-ngira apakah Sugiono masih memiliki pandangan yang sama tujuh tahun kemudian.

Daftar Pustaka

Buzan, Barry, et al. (1998). Security, A New Framework for Analysis. London: Lynne Rienner Publisher.

Cox, Robert W. (1987), Production, Power, and World Order: Social Forces in the Making of History.

Gill, Stephen (1993), Gramsci, Historical Materialism and International Relations, Cambridge: Cambridge University Press.

Hakim, Ahmad L., dan Mustafid, Diskursus Politik Global: Politik Luar Negeri AS, Terorisme, dan Antiamerikanisme, dalam Tradem, Rethinking Revolution in the Age of Globalisation, Februari-April 2005, Jogjakarta: PMII Cabang Sleman.

National Strategy for Combating Terrorism, Februari 2003, https://www.cia.gov/terrorism/publications/Counter_Terrorism_Strategy.pdf, diakses pada tanggal 19 September 2007.

Said, Edward W. (2002). Covering Islam, Bagaimana Media dan Pakar Menentukan Cara Pandang Kita Terhadap Dunia. Yogyakarta: Jendela.

Said, Eward W. (2001). Orientalisme. Bandung: Penerbit Pustaka.

Sugiono, Muhadi (1999), Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

The National Security Strategy of United States, September 2002, http://www.whitehouse.gov/nsc/nss/2002/nss.pdf, diakses pada tanggal 19 September 2007.

Time Line of Terrorist, 2006, http://www.army.mil/terrorism/1989-1980/index.html, diakses pada tanggal 19 September 2007.

Zehfus, Maja (2002). Constructivism in International Relations, The Politic of Reality, Cambridge: Cambridge University Press.

 

13 Responses to “Perang Melawan Terorisme: Dari Hegemoni ke Dominasi AS?”

  1. teroris Says:

    Mbuh mas, tulisanmu mbulet.Bisa nggak dibikin yang agak santai gitu. Wong tulisan yang bawahnya bisa luwes gandes gitu kok, yang ini ngaceng methentheng. Ga semua subyek yang serius harus ditulis dengan bahasa yang serius. Gitu kan? Nah k’lo gaya tulisannya gini kan yang nyambung cuman dosen sampeyan ato terorisnya langsung, kecuali teroris gadungan kaya ane hehe…
    Dari tulisan mbulit (mbulet n bikin sembelit hehe…) ada satu yang perlu dipertanyakan, apakah Amerika pernah punya hegemoni dalam wacana terorisme? Setahu saya dia koar-koar itu ya setelah WTC itu. Nah k’lo gitu kan mungkin dia baru mulai membangun bangunan wacananya tentang terorisme, itu setau saya lho.
    Salam
    Teroris

  2. mantan teroris Says:

    he-eh neh! sepakat sama “penerusku” si pak teroris (gadungan)..

    Salam
    Mantan Teroris

  3. Mbah Usamah Says:

    Maaf ya mas, jangan sakit hati
    Mbah Usamah mau bilang:
    Dasar Mahasiswa, Teoritis maunya!!!

    salam buat mbah Maridjan di Jogja

  4. Mbah Usamah Says:

    Merujuk catatan nomer 6 mas, mbah ingin menambahi bahwa:

    Setahu saya Si Muhadi Sugiono itu mengkritik Pembangunan Dunia Ketiga dengan menggunakan teori hegemoni nya Antonio Gramsci. Waktu Gramsci masih hidup, dia tidak tahu apa itu dunia ketiga…Jadi harusnya dalam catatan mas dikasih keterangan pula apakah Muhadi masih konsisten dengan teorinya dan garis bawahi bahwa buku itu adalah kritik Muhadi dengan menggunakan nama Antonio Gramsci sebagai pembenar.

  5. amin Says:

    sebagai sebuah rancangan skripsi mahasiswa S1 lumayan bagus..comprehensif comment nyusul.

  6. nelma Says:

    Nelma says:
    Thank’s yach Mas,,,, dengan tulisan Anda bisa membantu gue ngerjain tugas artikel tentang Antonio Gramsci. Gue harap LEBIH SEMANGAT MENULIS,,,OCEY

  7. restoe tok Says:

    markohib….kok ngomongin teroris…kejauhan…mending ngomongin preman…
    apalagi preman depan sekre tuh..wuih…layak tuh jadi perbincangan……
    apalagi kalo diantemi langsung….sepakat banget tuh…
    bikin ga nyaman…lama2 di sekre….
    BTW..tulisanmu bosenin…bener tuh commentnya teroris di atas…subjek serius..ga mesti ditlis dengan serius pula…santei men…..

  8. Penginyongan... Says:

    la wong nulis kok ga boleh, mbok jangan hanya mencela… sesama teroris dilarang saling menyanjung AS….


  9. makasi yaa..
    tulisan mu jdi bahan referensi saya untuk bahan tugas.
    kbetulan ada tugas ttg cara menulis footnote dan daftar pustaka dalam skripsi. walaupun bru latian c.. hehehe..
    nuhun y mas.. (^o^)/

  10. li Says:

    ao brother…
    sumpe li kaget buanget,,,lagi enak2 searching bahan buat ujian PLN AS malah liat penampakan sso yang dah familiar buanget mukanya!!!

    sebagai adek angkatan yang masih minim pengetahuan soal Gramsci li mw minta ijin bwat nge-save tulisanmu,,,
    mayan bwat nyonto format proposal ntar, he2!
    makatiii
    P.S. jadikan kritik dan tulisan-tulisan sirik sebagai pemantik yang membangun, Key!

  11. fayza Says:

    hehe… q jg lagi bikin skripsi soal hegemoni nih…
    masalahnya hegemoni media(time) dalam wacana terorisme asia

    yang q bingungin, yang melakukan hegemoni tu siapa yah?
    apakah media itu sendiri (pemilik modal time dan atau afiliasi jaringan time) apakah negara tempat time hidup (as of course)?
    klo nurut km gmn?
    mohon bantuannya yah?:)
    thx b4

  12. nanDha Says:

    gramsci itu yang bilang klw hagemoni tidak hanya berkutat pada milter ekonomi ta juga budaya bukan c?

  13. Mahdin S Says:

    Dulunya komunist lalu Suara Terrorist sejak twin tower, tapi ini orang Amrik sendiri yang menganalisa,
    buka:
    http://www.serendipity.li/wtc5.htm

    terus setelah itu USA memburu Sadam telah mati di gantungan dan Bin Laden buron seumur hidup sampai sekarang.
    Bin Laden adalah bekas tentara USA yang bertugas mengusir Soviet dari Afganistan.
    Apa mau nya pandai pandai lah jadi orang Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: