Nonton Pesta Rakyat di Pesantren

Sabtu, 1 September 2007

 Oleh: Sohib Masykur (Anggota Lafadl Initiatives)

Hingar-bingar suara tabuhan diiringi tari-tarian di sebuah halaman rumah di pinggir jalan itu tak mengganggu kekhusyukan para peserta pengajian yang lokasinya hanya berjarak tiga rumah di sebelah baratnya. Pentas kesenian, di satu sisi, dan pengajian, di sisi yang lain, seolah-olah diselenggarakan di dua dunia yang berbeda. Padahal jarak penyelenggaraan keduanya hanya berkisar 50 meter. Dari tempat pengajian suara tabuhan bisa didengar, sedangkan dari tempat pentas kesenaian suara MC yang membawakan acara pengajian juga masuk ke telinga. Hari itu hari ke-25 di bulan Agustus tahun 2007. Hari itu adalah hari terakhir rangkaian acara khataman yang ke-33 Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang Jawa Tengah.

Bagi saya yang baru pertama kalinya menghadiri acara khataman di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, fenomena tersebut sungguh menarik. Tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa dua hal yang selama ini cenderung dipandang dan dimaknai secara kontradiktif, yakni pengajian (yang islami) dan kesenian (yang abangan-sekuler), bisa manunggal dalam satu wadah: khataman.

Bagi kalangan pesantren, khataman adalah sebuah event yang amat penting, semacam hari raya pribadi. Semangat, energi, ketekunan, dan kerja keras yang telah dijalani baik oleh sang kyai maupun santri selama satu tahun berklimaks pada satu momen rutin tahunan yang dinamakan khataman. Dengan khataman itu mereka menyajikan kepada publik hasil capaian yang telah mereka peroleh selama satu tahun. Selain sebagai wahana sosialisasi, khataman juga merupakan wujud pertanggungjawaban dari pesantren kepada publik, khususnya para wali santri, atas santri-santri yang telah diserahkan oleh orangtua mereka untu dididik di pesantren. Dalam beberapa hal kita bisa menyamakan khataman ini dengan upacara wisuda di perguruan tinggi. Mengingat arti penting acara tersebut bagi mereka, hampir semua pesantren berupaya keras untuk membuat hari(-hari) tersebut menjadi istimewa dengan berbagai hal, mulai dari lomba-lomba, bazaar, pentas seni, hingga pengajian akbar. Hampir seluruh stakeholder pesantren, seperti kyai, santri, para alumni, dan warga di sekitar pesantren, berpartisipasi dalam acara khataman ini.

Di Ponpes API Tegalrejo, kita akan menemukan keistimewaan yang lebih istimewa dibanding dengan pesantren-pesantren lain. Sudah menjadi tradisi tahunan rutin bagi pesantren ini untuk menyelenggarakan khataman dengan sangat meriah. Rangkaian acara pentas kesenian tradisional digelar selama seminggu penuh. Untuk khataman yang ke-33 tahun ini, rangkaian acara dimulai pada tanggal 17 Agustus dan diakhiri tanggal 25 Agustus. Berbagai macam kesenian tradisional, mulai dari jathilan, warokan, tari lengger, wayang, kethoprak, hingga barongsai digelar tak putus-putus. Peserta pentas kesenian yang bertajuk Pawiyatan Budaya Adat (PBA) ini berasal dari seluruh penjuru Jawa Tengah dan DIY (beberapa bahkan dari Jawa Barat). Tidak kurang dari 200 komunitas seni tradisional turut andil memeriahkan acara tersebut. Pada malam tanggal 24 Agustus diadakan karnaval yang diikuti baik oleh komunitas seni yang sudah pentas maupun yang belum (tidak). Menilik dari berjubelnya penonton tiap harinya, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa penontonnya berjumlah ribuan. Seturut pengakuan pak Rochanie, salah seorang panitia PBA, penontonnya berasal dari seluruh Jawa, bahkan ada yang dari Sumatera. Hal ini rasanya bisa dimengerti mengingat jumlah santri Ponpes API sendiri berjumlah ribuan dan berasal dari seluruh penjuru nusantara (bukan tidak mungkin mereka mengajak famili mereka di rumah menghadiri acara tersebut, terutama bagi santri yang menjadi peserta khataman).

Menyaksikan keramaian yang tersaji di hadapan kami, saya teringat suasana sekaten di alun-alun jogjakarta yang rutin diadakan setiap bulan maulud. Dalam pandangan saya acara keramaian di tegalrejo ini sekelas dengan acara keramaian di sekaten (kecuali bahwa durasinya lebih pendek dan frekuensi massa yang mendatanginya lebih sedikit). Selain pementasan berbagai kesenian tradisional, acara khataman Ponpes API juga dimeriahkan oleh pasar malam yang mirip-mirip dengan acara Sekaten di Jogja. Berbagai macam permainan hiburan disewakan. Para pedagang menggelar dagangan mereka di lapangan. Orang-orang berjubel memadati lapangan; ada yang ingin membeli sesuatu, ada yang ingin menikmati permainan yang disewakan, ada pula yang hanya ingin jalan-jalan sambil menikmati keramaian.

Sekitar pukul 19.30, karnaval dimulai. 64 kelompok berganti beriringan menampilkan kreativitas seni masing-masing dengan ditonton oleh penonton yang berjubel di sepanjang pinggiran jalan. Meski ada beberapa yang berasal dari santri dan agak bernuansa islami (juga arabis), namun kebanyakan dari kelompok yang tampil adalah kelompok-kelompok kesenian tradisional semisal jathilan, jaran kepang, warokan, gagak ireng, barongsai, dll. Setelah karnaval selesai, sekitar pukul 23.00, acara dilanjutkan dengan pengajian.

Keesokan paginya jalanan kembali ramai. Di jalan beraspal depan asrama pesantren yang telah diberi tenda mulai didirikan panggung. Kursi-kursi juga mulai ditata. Pentas kesenian di depan rumah gus muh juga sudah dimulai. Penontonnya berjubel. Silih berganti berbagai kesenian tradisional dipentaskan, ada kuda lumping, lengger, jathilan, dll. Salah seorang peserta mengibaratkan tempat itu seperti segoro (laut): dari yang hitam sampai yang putih semuanya masuk. Artinya, dari kesenian yang dianggap abangan sampai yang berbau islami diterima di pesantren tersebut. Semua tumpleg-bleg jadi satu dalam keriuhan festival rakyat di Pesantren Tegalreojo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: