Negeri Konyol atawa Negeri Kekonyolan

Senin, 25 Juni 2007

Oleh: Heru Prasetia (pegiat lafadl initiatives)
Jika anda mengikuti berita di media akhir-akhir ini, anda akan segera menjumpai hal-hal konyol. Tak ada yang lebih konyol satu sama lain karena masing-masing telah mencapai tingkat kekonyolan yang paling mumpuni. Deret kekonyolan di bawah ini bisa anda tambahi sendiri karena saya sebenarnya tak banyak mengikuti berita-berita konyol ini:
Satu, beberapa waktu lalu ada orang ngaku terima duit yang tidak bener dari mantan pejabat. Sesaat setelah itu orang itu dipuja-puji sebagai orang yang berani dan penuh kejujuran (jujur kok setelah ketahuan belangnya…). parahnya lagi, banyak yang membela agar orang ini tak dimasukkan penjara karena dia telah berjasa pad bangsa ini. maksudnya: pernah jadi pejabat (padahal, kalau memang pernah berjasa, jasanya itu sudah dibayar bangsa ini dengan gaji yang ia telan bersama keluarganya itu. Lha wong sudah dapat bayaran kok masih dianggap berjasa. Berjasa dari hongkong?).
Kedua, oarang-orang yang disebut wakil rakyat ribut pengen ketemu presiden mau menanyakan urusan tentang negeri tempat permdani dianyam. Begitu ribut hinngga penuh sesak ruang media merekam keributan ini.padahal itu sama sekali tak punya hubungan dengan naiknya harga pisang goreng akibat harga minyak yang melangit. Orang-orang yang disebut wakil rakyatr itu barangkali sudah kehilangan kontak dengan realitas rakyat yang konon diwakilinya.
Ketiga, masih tentang orang-orang aneh yang disebut wakil rakyat itu. Sekelompok dari mereka batal menggugat pemerintah soal lumpur akibat lapindo dengan alasan interpelasi semacam itu sudah mempolitisir persoalan. Lah? Namanya saja politisi kok tidak mau mempolitisir sesuatu?
Keempat, ya soal lapindo tadi. Sudah lebih dari setahun, tak juga kunjung selesai. Orang-orang sudah dirugikan, tapi mau minta ganti saja susahnya minta ampun. Seandainya (cuma seandainya, semoga sih tidak—naudzubillah—lapindo berhasil dalam proyek pengeborannya itu, orang-orang yang sekarang bernedam lumpur itu pasti ga bakal kecipratan untung). Saya bahkan sempat berpikir, jangan-jangan para pemilik lapindo tidak akan pernah merasa bertanggungjawab soal lumpur sebelum dari lobang toilet di rumahnya juga muncrat lumpur-lumpur panas itu.
Kelima, Presiden nangis bombay mendengar keluhan korban Lapindo. hare geneeee.. masih pakai nangis-nangis? di sidoharjo air mata sudah kering (barangkali sudah menjadi air mata darah…). Kalau cuma mau tangis-tangisan, nonton aja kuch kuch hotahai…dijamin ndlewer..
Seterusnya? Tentu masih banyak. Anda bisa menambahkan sendiri. Soalnya saya sendiri sudah merasa konyol karena masih sempat-sempatnya bikin tulisan beginian hehehehe….

One Response to “Negeri Konyol atawa Negeri Kekonyolan”

  1. dimas Says:

    1. cuma sinisme (berlebihan) aja. gak perlu gw tanggapi.
    2 & 3. begitulah.. lantas?
    4. apakah anda, kita, yg peduli dgn lapindo sudah cukup memberikan tekanan kepada mereka? jangan2 mereka tenang2 aja karena kita, yg “jauh” dari bencana membiarkan korban lapindo “sendirian”, kita cuma bisa menggerundel dalam hati, nggosip sama nyamuk, misah-misuh ke tembok?!
    5. sukur deh masih bisa nangis..
    6. ternyata gue lebih konyol kasih komentar tulisan pak heru yg konyol tentang hal-hal konyol. hehehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: