Ruang Belajar Lafadl

Senin, 11 Juni 2007

Oleh: Heru Prasetia (Pegiat Lafadl Initiatives)

I have always imagined that Paradise will be a kind of library
–Jorge Luis Borges

Beberapa waktu lalu kami secara resmi membuka Perpustkaan kecil kami kepada publik. Koleksi di rak-rak buku kami memang tak banyak. Cuma sekitar seribu judul buku. Terdiri dari koleksi milik lembaga dan beberapa buku titipan milik anak-anak lafadl sendiri. Sejak pendirian lafadl kami memang memimpikan punya sebuah perpustakaan. Dengan modal mimpi dan semangat, kami mulai meretas jalan. Awalnya cuma sekumpulan buku dan majalah milik masing-masing kru yang disimpan di dalam rak kantor, kemudian bertambah dengan sumbanga-sumbangan buku dari sejumlah kolega. Kepentingan menata buku-buku itu cuma untuk mempermudah kerja-kerja kami, misalnya mempermudah mencari buku refernsi ketika harus menulis sebuah esai atau membuat laporan penelitian. Lambat laun buku-buku tersebut semakin banyak. Kami memutuskan untuk membuat rak-rak buku yang lebih baik. Dengan menyewa tenaga tukang dari jepara kami membuat rak-rak buku (dan sejumlah perabot kantor) dari kayu jati belanda. Akhirnya dua rak buku sederhana bisa buat menampung koleksi buku-buku kami.

Setelah rak-rak buku terisi, kami mulai berpikir untuk membuka perpustakaan ini kepada publik. Kami pikir, buat apa mengoleksi buku jika tak dimanfaatkan oleh khalayak yang lebih luas. Kami tentu tak ingin membuat tempat seperti ruang finis Africae dalam novel Name of The Rose yang menyimpan naskah-naskah kuno rahasia tanpa boleh seorang pun menyentuhnya. Itulah kenapa kami menempatkan rak-rak buku tersebut justru di ruang tamu kantor, tempat paling mudah diakses oleh siapapun, termasuk tamu yang tak dikenal dan tak diundang hehehehe…..Sebab, kata William of Baskerville dalam novel karya Umberto Eco tadi: The good of a book lies in being read. A book is made up of signs that speak of other signs, which in their turn speak of things. Without an eye to read them, a book contains signs that produce no concepts; therefore it is dumb…

Demikianlah, beberapa waktu lalu, kami mulai membuka perpustkaan ini untuk umum. Seorang pustakawan akan melayani pengunjung setiap hari (kecuali minggu dan senin) mulai ba’da ashar hingga ba’da isya, atau kalau mau lebih tepat: pukul 16.00 hingga pukul 20.00 WIB. Rentang waktu ini kami pilih karena pada waktu seperti inilah perpustkaan-perpustkaan lain mulai tutup, dan jika pintu yang mulai ditutup semestinya ada pintu lain yang dibuka. Kami mencoba menjadi yang membuka pintu ketika yang lain menutup pintu…

2 Responses to “Ruang Belajar Lafadl”

  1. ragil Says:

    Buku-bukunya apa aja sih? apakah bisa ditampilkan koleksi bukunya dalam satu tabel, yang tersusun dalam kategori sepersepuluhan ala dewey, untuk memudahkan kita menelusur tema buku? btw, kalo pintu lafadl sudah dibuka, apakah masih pake ketok pintu?🙂

    salam jaya

  2. Pustakawan Says:

    Buku-buku yang ada di pustaka lafadl cukup beragam, muli dari sastra dunia, antropologi, sampai buku do’a sehari-hari. K’lo mau lihat reviewnya bisa di pustakalafadl.wordpress.com tapi belum semua koleksi kami tampilkan. Ada koleksi film juga lho.
    Nggak perlu kentok pintu kok, cuman sampaikan kata selamat sore atau selamat malam. C U…
    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: