Tentara Kita Hari Ini

Minggu, 10 Juni 2007


Oleh: Heru Prasetia (pegiat Lafadl Initiatives)

Minggu ini, kita kembali menjadi saksi atas aksi kekerasan yang dilakukan tentara republik ini kepada warganegaranya sendiri. Saya tak perlu mengulang kasus apa yang terjadi dan bagaimana kisah penembakan itu terjadi. Anda bisa baca di sana dan di sini. Saya pertama kali mengetahui kabar itu ketika bermain-main bersama anak saya sambil nonton liputan 6 sisang di SCTV. Gambar-gambar yang disajikan sungguh dramatis: orang-orang menangis, menjerit, berguling-guling. Sesaat saya mengira ini berita kriminal biasa yang setiap hari meloncat dari tabung televisi. Tapi ternyata saya salah: ini aksi penembakan tentara kepada para petani. Saya harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengingatkan diri bahwa sekarang saya hidup di zaman reformasi dan Orde Baru telah tumbang sembilan tahun lalu. Tapi sungguh berita itu seperti menyeret jarum jam berputar berbalik menembus waktu seperti di film: saya dibawa kembali ke masa ketika tentara menguasai negeri ini. Ataukah saya yang terlampau banyak berharap bahwa perilaku tentara sudah berubah? Di masa lalu (di masa Orde Baru maksud saya) sudah menjadi rahasia umum jika orang mesti mengendalikan mobil dengan penuh hati-hati dan sangat pelan saat melintas di perumahan milik tentara, atau jika anda hidup di Magelang, anda harus menyingkir dari trotoar jika ada rombongan anak-anak akademi militer mau lewat, atau Anda harus percaya begitu saja jika ada orang ditembak tentara maka ortang-orang itu adalah PKI atau yang sejenisnya.

Kini, korban di Pasuruan memang tak disebut sebagai PKI—setidaknya sampai ketika saya menulis ini—tapi mereka sudah disebut sebagai ”yang sejenisnya” itu. Kita tahu, sesaat setelah peluru menembus tubuh-tubuh lemah itu, siaran pers tentara mengatakan bahwa para petani itu menyerang dengan kalap tentara yang tengah bertugas. Dari situ berbagai hal disemburkan: keputusan pengadilan tentang status tanah, adanya provokasi, debu yang mengepul menghalangi pandangan, penembakan ke arah tanah, pengusutan akan dilakukan. Kita yang hidup di dunia nyata—ingat ini bukan fim hollywood—pasti sudah bisa membayangkan ujung dari semua ini.

Barangkali saya terlampau naif, tapi yang terbersit di kepala saya adalah: perlukan segerombolan tentara merebut sepetak tanah yang sedang ditanami singkong oleh petani-petani bersahaja? Jikapun itu tanah milik tentara, tak bisakah diselesaikan dengan jalan di luar kekerasan. Namun itu barangkali hanya ada di negeri impian. Orang yang paham tentang tentara barangkali akan mengatakan bahwa satu-satunya bahasa yang dimiliki tentara adalah kekerasan: menembakkan senjata dan berperang. Mereka dibentuk, dididik, dan dibayar memang untuk itu. Bukan yang lain.

Ketika gambar-gambar di TV belum usai menayangkan adegan memilukan itu, tangan saya segera menyambar remote dan mematikan TV karena melihat anak saya yang baru berusia 16 bulan memandangi layar TV itu dengan mulut melongo. Saya tak tahu apa yang dipikirkannya, tapi saya tak ingin membuatnya berpikir itu adalah hiburan seperti film Madagascar yang sering ia tonton itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: