satu bab dari a small place

Kamis, 3 Mei 2007

Semalam saya membuka-buka lagi buku yang berjudul  The Post-Colonial Studies Reader. Di sana saya menjumpai satu bab yang ditulis oleh Jamaica Kincaid. Tulisan itu diambil dari satu bagian dalam bukunya yang berjudul Small Place. Jika kita baca Small Place, memang pada bagian inilah terasa sekali nuansa poskolonial dalam tulisan Kincaid itu. Dan itulah kenapa Lafald memberi tagline ”sebuah narasi poskolonial” pada terjemahan karya besar ini. Berikut ini adalah penggalan  buku Small Place  yang dimuat di buku The Post-Colonial Studies Reader tersebut.

Heru.


Antigua yang kukenal, Antigua tempat aku dibesarkan, bukanlah Antigua yang kamu—seorang turis—lihat saat ini. Antigua tersebut tidak ada lagi. Sebagian karena alasan lazim, yakni berlalunya waktu, dan sebagian lagi karena orang-orang jahat yang dulu menguasainya, yaitu bangsa Inggris, tidak lagi berkuasa. (Namun dewasa ini orang-orang Inggris telah menjadi sekumpulan orang yang begitu menyedihkan, yang hampir-hampir tidak menyadari apa yang telah terjadi pada diri mereka, yakni bahwa seperempat penduduk bumi tak lagi bersujud di hadapan mereka. Mereka tampaknya tidak tahu bahwa imperium bisnisnya itu adalah salah sehingga mestinya mereka—paling tidak—bertobat atas kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, sebab kerusakan yang telah mereka buat begitu luar biasa sampai-sampai tak ada kerusakan akibat bencana alam yang sebanding dengannya. Kematian yang sebenarnya mungkin lebih baik. Demikian juga dengan segala tetek bengek soal imperium ini —apa yang salah dengan ini, apa yang salah dengan itu—selalu membuatku gila, sebab aku bisa katakan pada mereka: seharusnya mereka tidak pernah meninggalkan tanah air mereka, Inggris mereka yang agung, tempat yang sangat mereka cintai, tempat yang mereka tinggalkan tapi tak pernah dapat mereka lupakan. Sehingga ke mana saja mereka pergi, mereka mengubahnya menjadi Inggris, dan semua orang yang mereka jumpai mereka jadikan orang Inggris. Namun tidak ada tempat yang benar-benar dapat menjadi Inggris, dan tak seorang pun yang tidak tampak seperti mereka akan menjadi orang Inggris. Jadi bisa kau bayangkan kerusakan bangsa dan wilayah yang berasal dari hal semacam itu. Orang Inggris saling membenci dan mereka benci Inggris, dan mengapa mereka begitu menyedihkan saat ini adalah karena mereka tidak memiliki tempat lain untuk dituju dan tidak mendapati orang lain yang bagi mereka terasa lebih rendah). Namun akan kutunjukkan padamu Antigua yang dulu kukenal.
Di Antigua yang kukenal, kami tinggal di jalan yang dinamai dengan nama seorang kriminal perairan Inggris, Horatio Nelson. Semua jalan lainnya di sekitar kami dinamai dengan nama sejumlah kriminal perairan Inggris yang lain. Ada Rodney street, Hood street, Hawkins street, dan Drake street. Di situ dulu ada pohon-pohon flamboyan dan mahogani berjajar sepanjang East Street. Gedung Pemerintahan, tempat tinggal Gubernur, orang yang merepresentasikan Sang Ratu, ada di East Street. Gedung Pemerintahan dikelilingi tembok putih yang tinggi—dan untuk menunjukkan bagaimana takutnya kami dulu, tidak ada seorang pun yang pernah menuliskan hal-hal buruk di atasnya. Tembok itu tetap bersih, putih, dan tinggi. (aku pernah sekali berdiri di tengah terik matahari selama berjam-jam agar dapat melihat seorang Putri bermuka-pucat dari Inggris menghilang di balik tembok ini. Aku berumur tujuh tahun waktu itu, dan menurutku, dia memiliki muka yang pucat). Dulu juga ada perpustakaan di jalan High Street di bagian yang lebih rendah, di atas Departemen Keuangan, dan di bagian jalan High Street tersebut, semua urusan pemerintahan kolonial itu berlangsung. Di bagian High Street tersebut, kamu bisa menguangkan cek di Bagian Keuangan, membaca buku di perpustakaan, mengeposkan surat di kantor pos, menghadap hakim di pengadilan. (Karena kami dikuasai Inggris, kami juga menggunakan hukum mereka. Ada hukum yang melarang penggunaan kata-kata kasar. Bisakah kau bayangkan hukum seperti itu diperlakukan di kalangan orang-orang yang menganggap bahwa menampilkan diri melalui kata-kata adalah segalanya? Ketika orang-orang Hindia Barat pergi ke Inggris, polisi di sana harus mendapatkan daftar kata-kata Hindia Barat yang buruk agar mereka bisa tahu apakah mereka mendengar kata-kata kasar atau tidak). Di bagian High Street yang sama kamu bisa mendapatkan paspor di sebuah kantor pemerintahan lainnya. Di High Street bagian tengah ada Bank Barclays. Barclay bersaudara, yang mendirikan Bank Barclay, dulunya adalah pedagang budak. Begitulah cara mereka mendapatkan uang. Ketika Pemerintah Inggris menyatakan perdagangan budak adalah ilegal, Barclay bersaudara memasuki dunia perbankan. Itu membuat mereka lebih kaya. Kemungkinan ketika mereka melihat bagaimana perbankan membuat mereka kaya, mereka menghukum diri sendiri karena telah menentang penghapusan perdagangan budak (karena tentu saja mereka menentang itu), namun mungkin saja mereka selama ini memiliki pandangan jauh ke depan dan bersemangat menyambut penghapusan perbudakan, karena telah melihat betapa kayanya mereka dengan bank-bank mereka yang meminjam uang dari anak cucu para budak (melalui uang tabungan mereka) kemudian meminjamkannya lagi pada mereka. Namun orang-orang yang hanya sedikit lebih tua dari aku dapat menyebut nama dan hari saat orang hitam pertama direkrut sebagai kasir di Bank Barclays di Antigua. Pernahkah kamu ingin tahu mengapa ada orang yang mau meledakkan sesuatu? Aku dapat membayangkan bahwa jika jalan hidupku berbelok ke arah tertentu, ada Bank Barclays di sana, dan kami berdua akan menjadi debu. Pernahkah kamu mencoba memahami mengapa orang-orang sepertiku tidak bisa melupakan masa lalu, tidak dapat memaafkan dan melupakan? Bank Barclays masih ada. Barclay bersaudara telah meninggal. Manusia yang mereka perdagangkan, manusia yang bagi mereka hanya merupakan komoditas, telah meninggal. Tidak seharusnya mereka sampai pada akhir yang sama, dan surga bukanlah balasan yang setimpal untuk satu pihak atau neraka merupakan hukuman yang cukup untuk yang lain. Orang yang memikirkan hal ini percaya bahwa setiap perbuatan buruk, bahkan setiap pikiran buruk, memiliki konsekuensi ganjarannya sendiri. Jadi, apa kamu melihat hal yang aneh dengan orang-orang sepertiku? Terkadang kami membawa ganjaranmu.


Ada pula tempat lain yang disebut Klub Mill Reef. Tempat itu dibangun oleh beberapa orang dari Amerika Utara yang ingin tinggal di Antigua dan menghabiskan liburan mereka di Antigua. Namun mereka kelihatannya sama sekali tidak menyukai orang Antigua (orang kulit hitam), karena Klub Mill Reef menyatakan sendiri bahwa ia adalah privat sepenuhnya sehingga orang Antigua (orang kulit hitam) yang diperbolehkan ke sana hanyalah para pelayan. Orang dapat menyebutkan nama orang Antigua (berkulit hitam) pertama yang makan sandwich di clubhouse dan hari terjadinya peristiwa itu; orang dapat menyebutkan nama orang Antigua (berkulit hitam) pertama yang bermain golf di kursus golf dan hari terjadinya peristiwa itu. Pada hari-hari itu, kami berpikir bahwa orang-orang di Klub Mill Reef punya sikap buruk, seperti babi; mereka berkelakuan buruk, seperti babi. Itulah mereka, orang-orang asing di rumah orang lain kemudian menolak berbicara dengan tuan rumah atau berhubungan dengan mereka. Aku percaya bahwa mereka setiap tahun memberikan beasiswa pada satu-dua orang yang pintar agar dapat ke luar negeri dan belajar; aku percaya mereka mendermakan uangnya untuk anak-anak; hal-hal semacam ini tentu telah membuat mereka merasa sangat hebat dan baik, namun bagi kami mereka adalah babi-babi yang tinggal di kandang itu (Klub Mill Reef). Lalu apa yang dilakukan orang-orang dari Amerika Utara, dari Inggris, dari Eropa itu di pulau kecil ini dengan kebiasaan buruk mereka? Sebab mereka demikian menikmati berlaku buruk, seolah-olah ada kesenangan tak terhingga yang didapatkan dengan tidak berlaku seperti manusia. Biar kuceritakan padamu tentang seorang pria; meski dididik sebagai seorang dokter gigi, dia menganggap diri sebagai dokter spesialis anak. Tidak ada yang berkeberatan—kami juga tidak. Ia datang ke Antigua sebagai pengungsi (yang melarikan diri dari Hitler) dari Cekoslovakia. Pria ini sangat membenci kami hingga dia akan mengirim istrinya untuk menginspeksi kami sebelum menemui kami, dan istrinya itu akan memastikan kami tidak bau, tidak ada kotoran di bawah kuku jari-jari kami, dan tidak ada hal lain dari kami—selain warna kulit kami—yang akan mengganggu dokter ini. (Aku ingat, pernah ketika aku batuk dan bertambah parah, ibuku, sebelum memakaikan pakaian tebal padaku dan mengantarkanku menemui pria ini, memeriksaku dengan teliti untuk melihat bahwa aku tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap atau tidak ada kotoran di lipatan leherku, di belakang telingaku, atau di mana saja. Segala hal mengerikan yang bisa diperbuat seekor lalat sudah diketahui luar kepala oleh ibuku, dan dalam keluguannya, dia berpikir bahwa dia dan dokter itu punya obsesi gila yang sama —pada kuman). Kemudian ada kepala sekolah di sekolah putri yang direkrut melalui kantor kolonial di Inggris dan dikirim ke Antigua untuk mengelola sekolah yang baru mulai menerima gadis-gadis yang lahir di luar nikah pada generasi saya; semua orang di Antigua tidak akan pernah menduga bahwa hal ini merupakan sebuah cara untuk mencegah anak-anak kulit hitam masuk ke sekolah ini. Wanita itu berusia dua puluh enam tahun, belum terlalu lama lulus dari universitas, dari Irlandia Utara, dan dia selalu saja mengatakan pada para gadis untuk berhenti bersikap seperti monyet yang baru keluar dari pepohonan. Tidak ada seorangpun yang pernah membayangkan bahwa sebutan semacam itu adalah rasisme. Menurut kami orang-orang ini begitu buruk sikapnya dan kami sungguh terkejut olehnya, karena mereka sangat jauh dari rumah mereka, dan kami percaya bahwa semakin kamu jauh dari rumahmu, semakin baik seharusnya kamu bersikap. (Karena jika sikap burukmu membuatmu berada dalam masalah, keluargamu tidak terlalu jauh untuk membelamu). Menurut kami mereka tidak seperti orang Kristen; Menurut kami mereka berpikiran kerdil; Menurut kami mereka seperti binatang, sedikit di bawah standard manusia seperti standard yang kami pahami. Kami merasa superior terhadap semua orang itu; kami pikir bahwa mungkin orang-orang Inggris di antara mereka yang bersikap seperti ini sama sekali bukan orang Inggris, karena orang Inggris seharusnya beradab, sedangkan kelakuannya sama seperti kelakuan seekor binatang, seperti kami dulu sebelum orang Inggris menyelamatkan kami, bahwa barangkali mereka sama sekali tidak berasal dari Inggris yang sebenarnya namun dari Inggris yang lain, Inggris yang tidak kami kenal, sama sekali bukan dari Inggris yang kita bicarakan, sama sekali bukan dari Inggris yang kita tidak akan pernah bisa berasal darinya, Inggris yang begitu jauh, Inggris yang bahkan kapal tidak bisa membawa kami ke sana, Inggris yang, tak peduli apa yang kami lakukan, tidak akan pernah bisa menjadikan kami sebagai bagian darinya. Kami merasa superior, karena kami bersikap jauh lebih baik dan kami penuh tata krama, sedangkan orang-orang ini bersikap sangat buruk dan mereka benar-benar tidak tahu tata karma. (Tentu saja, sekarang aku tahu bahwa perilaku yang baik adalah sikap yang pantas bagi orang lemah, bagi anak-anak). Kami diajari nama Raja-Raja Inggris. Di Antigua, tanggal 24 Mei adalah hari besar—ulang tahun resmi Ratu Victoria. Kami tidak membatin, Bukankah orang yang luar biasa tidak menarik ini telah meninggal bertahun-tahun lalu? Kami senang hanya karena liburnya. Suatu ketika, pada waktu makan malam (ini terjadi pada kehidupanku sekarang), aku duduk di seberang seorang pria Inggris, satu dari sekian orang bijak yang tahu bagaimana menjalankan segala sesuatunya ketika Inggris masih menguasai dunia, namun sekarang—sejak kematian imperium itu—tidak bisa berbuat apa-apa; mereka tampak begitu sedih, duduk di atas timbunan sampah sejarah. Aku sedang mengucapkan hal-hal yang aku tentang dari Inggris dan orang Inggris, dan untuk mengakhirinya aku berkata, “Dan apakah kamu tahu bahwa dulu kami harus merayakan ulang tahun Ratu Victoria?” Lantas ia mengatakan bahwa setiap tahun, di sekolah yang diikutinya di Inggris, mereka memperingati hari wafatnya Ratu. Aku berkata, “Well, lepas dari fakta bahwa dia adalah milikmu sehingga apapun yang kamu lakukan berkaitan dengannya adalah pantas, tapi paling tidak kamu tahu bahwa dia sudah mati.” Jadi demikianlah Inggris bagi kami—Ratu Victoria dan hari kelahirannya yang penuh berkah ke dunia, sebuah tempat yang indah, tempat yang terberkati, sesuatu yang hidup dan diberkati, bukan individu yang buruk, seperti babi yang kami jumpai. Tidak bisa kulukiskan padamu bagaimana marahnya aku mendengar orang-orang Amerika Utara bilang padaku betapa mereka begitu mencintai Inggris, betapa cantiknya Inggris dengan berbagai tradisinya. Bagi mereka, yang tampak adalah orang-orang kumuh dan kusut yang melintas di keramaian. Namun yang tampak bagiku adalah jutaan orang, aku salah satunya, yang kehilangan orang tua akibat tindakan mereka: tanpa tanah air, tanpa tumpah darah, tanpa dewa-dewa, tanpa sepetak tanah untuk tanah suci, tanpa cinta yang mungkin akan menuntun pada hal-hal yang terkadang dibawanya dan—yang paling buruk serta paling menyakitkan dari semuanya—tanpa bahasa. (Karena bukankah aneh jika satu-satunya bahasa yang kukuasai untuk mengutarakan kejahatan adalah bahasa milik penjahat yang melakukan kejahatan itu? Apa artinya itu? Sebab bahasa penjahat hanya dapat mengungkapkan kebaikan dari perbuatan penjahat. Bahasa penjahat hanya dapat menjelaskan dan menggambarkan perbuatan tersebut dari sudut pandang penjahat. Bahasa itu tak bisa memuat horor yang diciptakan perbuatan mereka, ketidakadilan mereka, serta penderitaan dan penghinaan yang ditimpakan padaku. Ketika aku berkata pada penjahat itu, “ini salah, ini salah, ini salah,” atau, “perbuatan ini buruk, dan perbuatan itu buruk, dan yang ini juga sangat, sangat buruk,” penjahat itu memahami kata “salah” tersebut seperti ini: adalah salah jika “dia” tidak mendapatkan pembagian keuntungan yang adil dari kejahatan yang baru dilakukan; yang dia pahami dari kata “buruk” adalah: sesama penjahat mengkhianati kepercayaan. Itulah sebabnya mengapa, ketika aku berkata, “Aku penuh kemarahan,” penjahat itu berkata, “Kenapa?” Dan ketika aku meledakkan segala sesuatunya dan membuat hidup tidak lagi nyaman bagi sang penjahat (bukankah hidupku juga tak lagi nyaman dijalani?) penjahat itu terkejut, terguncang. Namun tak ada yang dapat menghapus kemarahanku—tidak sebuah apologi, uang yang banyak, ataupun kematian penjahat itu—atas kesalahan yang tak akan pernah bisa diperbaiki ini, dan hanya kemustahilan yang bisa membuatku diam: bisakah ditemukan sebuah cara untuk membatalkan yang sudah terjadi? Dan oleh sebab itu lihat betapa pedih ulu hatiku, betapa hanya dengan duduk dan memikirkannya telah membuatku sedih dan perih. Aku mengikuti sekolah yang bernamakan seorang Putri Inggris. Bertahun-tahun kemudian, aku membaca bahwa putri ini menjalani tur ke Hindia Barat (termasuk Antigua, dan pada tur itu dia meresmikan sekolahku) karena dia telah jatuh cinta pada seorang pria beristri, dan karena dia tidak diizinkan menikahi seorang pria yang telah bercerai maka dia dikirim mengunjungi kami untuk melupakan hubungannya dengan pria itu. Betapa aku mengingat dengan baik bagaimana seluruh Antigua hadir demi melihat Sang Putri, bagaimana setiap bangunan yang akan dimasukinya segera diperbaiki dan dicat agar terlihat seperti baru, bagaimana setiap pantai tempat dia akan berjemur harus terlihat seolah-olah tidak seorangpun pernah berjemur di sana sebelumnya (sekarang aku bertanya-tanya apa yang telah mereka lakukan dengan laut malang itu? Maksudku, bisakah sebuah laut dibuat terlihat baru?), dan bagaimana setiap orang yang ditemuinya adalah orang Antigua dengan tubuh paling indah, dan tak seorang pun mengatakan pada kami bahwa orang yang membuat kami kesusahan, orang yang membuat kami kerepotan seolah-olah dia adalah Tuhan, hadir ke tengah-tengah kami karena sesuatu yang sangat lazim terjadi, sangat biasa: hidupnya tidak berjalan sesuai harapannya, hidupnya kacau. Apakah aku memberi kesan padamu bahwa Antigua tempatku tumbuh tak bisa lepas dari Inggris? Ya, memang demikian. Aku menjumpai dunia melalui Inggris, dan jika dunia ingin menemuiku, mereka harus melakukannya melalui Inggris.
Apakah kamu membatin, “Tidak bisakah dia melupakan semua itu, segala sesuatunya telah lama terjadi, dan bagaimana dia bisa memastikan bahwa jika keadaannya berbeda, para leluhurnya tidak akan bertingkah sama buruknya, karena, bagaimanapun juga, bukankah setiap orang bersikap buruk bila ada kesempatan untuk itu?”
Persepsi kami tentang Antigua —persepsi yang kami miliki tentang tempat yang dikuasai orang-orang berpikiran buruk ini—bukan sebuah persepsi politis. Bangsa Inggris itu bersikap buruk, tapi tidak rasis; kepala sekolah lebih bersikap buruk, ketimbang rasis; sang dokter itu gila—dia bahkan tidak berbahasa Inggris dengan benar, dan dia berasal dari tempat yang namanya asing, dia juga bukan rasis; orang-orang di klub Mill Reef membingungkan (mengapa pergi dan tinggal di sebuah tempat yang didiami kebanyakan oleh orang-orang yang tidak dapat kamu sukai), bukan rasis.

Pernahkah kamu menanyakan pada dirimu sendiri kenapa yang dipelajari orang-orang sepertiku dari kalian adalah bagaimana saling memenjarakan dan membunuh, bagaimana memerintah dengan buruk, dan bagaimana mengambil kekayaan negeri kami dan memasukkannya ke sejumlah rekening di Bank Swiss? Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa sepertinya yang kami pelajari dari kalian adalah bagaimana merusak masyarakat dan bagaimana menjadi tiran? Mau tidak mau, kalian harus menerima bahwa ini sebagian besar adalah kesalahan kalian. Biar kutunjukkan padamu bagaimana kalian memandang kami. Kalian datang. Kalian mengambil apa yang bukan milik kalian, dan kalian bahkan tidak bertanya terlebih dulu, sekalipun hanya basa-basi. Kalian bisa mengatakan, “Bolehkah saya minta ini, please?” dan sekalipun akan menjadi jelas bagi setiap orang bahwa kata “iya” atau “tidak” dari kami tidak akan membawa konsekuensi apapun, kalian tentu akan terlihat jauh lebih baik. Percayalah, itu akan membuatnya berbeda jauh. Aku mau tidak mau akan mengakui bahwa paling tidak kalian bersikap sopan. Kalian membunuh orang. Kalian tangkapi orang. Kalian merampok orang. Kalian membuka bank-bank kalian sendiri dan memasukkan uang kalian ke dalamnya. Rekeningnya atas nama kalian. Tentu ada orang-orang baik di antara kalian, namun mereka tetap tinggal di rumah. Dan itulah intinya. Karena itulah mereka orang baik. Karena mereka tetap tinggal di rumah. Namun tetap saja, ketika kalian memikirkannya, pastilah kalian sedikit sedih. Orang-orang sepertiku, akhirnya, setelah bertahun-tahun bergejolak, menyampaikan pidato-pidato yang tegas dan membakar semangat untuk menentang dominasi kalian atas kami, dan kemudian akhirnya, setelah tubuh kalian, tubuh istri kalian, dan tubuh anak-anak kalian yang tercacah-cacah ditemukan dalam bungalow yang bagus dan luas di tepi perkebunan karet milik kalian—ditemukan oleh salah-satu dari pelayan kalian yang banyak jumlahnya (tidak satupun di antara mereka yang menjadi milik kalian; tidak akan pernah menjadi milik kalian)—kalian berkata padaku, “Baik, aku berlepas tangan atas kalian semua, aku pergi sekarang,” dan kalian pun pergi, lantas dari jauh kalian menyaksikan sebagaimana kami menyaksikan pada diri kami sendiri hal-hal yang dulu kalian lakukan pada kami. Dan mungkin kalian merasa bahwa masih banyak yang bisa kalian capai, kalian mungkin merasa memahami makna Abad Pencerahan (meskipun, sejauh yang dapat aku lihat, hal itu manfaatnya sedikit sekali buat kalian); Kalian mencintai pengetahuan sehingga ke mana pun kalian pergi, kalian pasti membangun sekolah dan perpustakaan (ya, dan di kedua tempat inilah kalian mengubah atau menghapus sejarah kami dan mengagungkan sejarah kalian). Namun kemudian, barangkali saat kalian memperhatikan kegagalan dan kehancuran hidup kami, kalian teringat bahwa kalian selalu merasa bahwa orang-orang seperti kami tidak dapat menjalankan segala sesuatunya dengan baik, tidak akan pernah memahami gagasan Gross National Product, tidak akan pernah dapat memimpin sesuatu yang bahkan dapat dikuasai oleh orang paling bodoh di antara kalian, tidak akan pernah bisa memahami pandangan tentang kekuasaan berdasar hukum, tidak bisa berpikir abstrak, dan tidak bisa objektif sebab kami menjadikan segala sesuatunya sangat personal. Kalian akan melupakan peran kalian, bahwa birokrasi merupakan salah-satu rekaan kalian, bahwa Gross National Product adalah salah satu rekaan kalian, dan semua hukum yang kalian kenal secara misterius lebih memihak pada kalian. Tahukah kamu mengapa orang-orang sepertiku malu menjadi kapitalis? Ini karena kami—sepanjang kami mengenak kalian—adalah kapital bagi kalian, sebagaimana layaknya berbal-bal kapas dan berkarung-karung gula, sedangkan kalian adalah kapitalis yang berkuasa dan lalim. Kenangan itu demikian kuat, pengalaman itu begitu mutakhir, hingga kami tidak bisa memaksa diri untuk memeluk gagasan yang sangat kalian yakini itu. Mengenai seperti apa kami sebelum bertemu dengan kalian, aku tidak lagi peduli. Tak ada periode waktu di mana para leluhurku memegang kekuasaan, tak ada dokumentasi tentang peradaban yang kompleks, yang bisa menghiburku. Bahkan jika aku memang benar-benar berasal dari orang-orang yang hidup seperti monyet di atas pohon, itu lebih baik ketimbang apa yang terjadi padaku, ketimbang diriku setelah berjumpa dengan kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: