Menghalau Jaman dari Kafe

Jumat, 20 April 2007

muhibah di dataran merdeka

Oleh Uzair Fauzan (koordinator Lafadl Initiatives)

Semula tak ada niat bersua dengan komunitas anak-anak muda Kuala Lumpur, hingga Rayna (seorang kawan dari Amrik yang menjadi volunteer di sebuah LSM Malaysia) merekomendasikan kafe alternatif di kawasan Central Market. Selepas perjumpaan dengan Jimmy Yap di NUS Press dua hari berselang, rasanya menarik juga bisa bertemu dan mengobrol dengan anak-anak muda pelbagai negeri tentang transformasi sosial. Dengan berbekal coretan Rayna di atas peta jalur LRT Kuala Lumpur yang kucetak sejak dari Jogja, aku merunut jalur menuju Central Market dari Stasiun Pasar Seni. Hampir setengah jam lamanya, saya bolak-balik di sekitar stasiun Pasar Seni untuk mencocokkan peta Kuala Lumpur dan coretan Rayna. Pencarian arah menuju Central Market menjadi sangat terbantu dengan keberadaan ibu pejabat pos Malaysia yang menjulang (dalam bahasa Indonesia, ibu pejabat pos adalah kantor pusat pos). 

Omong-omong soal Central Market, tempat ini biasanya dimasukkan sebagai salah satu tempat tujuan wisata di Kuala Lumpur. Menurut wikipedia, pasar pusat ini dibangun pertama kali oleh pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1888 dan mengalami beberapa kali renovasi (terakhir tahun 1933) hingga mencapai luas seperti sekarang. central market malaysiaKarena tekanan perkembangan kota, pasar ini pernah terancam gusur beberapa kali. Berkat penolakan yang gigih dari kalangan pemerhati sejarah, rencana-rencana penggusuran itu akhirnya urung dilakukan. Dulunya, pasar ini adalah pasar tradisional. Tetapi sekarang ia didisain menjadi salah satu tempat tujuan pariwisata penting yang khusus menyediakan cindera mata bagi para turis. Namun, bagi mereka yang sering jalan ke malioboro, temuan cindera matanya tak beda jauh dengan yang dijual di jogja.

The café is run by a group of punk community, I strongly recommend it to you (to come there),” ujar Rayna menggebu-gebu. Kafe Bau-Bau dan Ricecooker sendiri terletak di gedung bagian belakang Central Market yang disebut Annexe. Agak berbeda dengan bagian depan Central Market, gedung Annexe tak dilengkapi penerangan yang gemerlap. Dengan sedikit ragu-ragu, saya menaiki tangga ke lantai dua. Namun, keberadaan dua tempat itu sebagai “single fighter” di lantai dua, membuat keduanya gampang ditemukan. Dari tangga, aku tinggal berbelok kiri dan menemukan Ricecooker di sebelah kiri dan kafe Bau-Bau di sebelah kanan. Aku pilih mampir dulu ke Ricecooker. Di dalam toko ini, kita langsung bisa merasakan aura indie dan semangat anak muda. Di samping kiri pintu masuk terpampang berbagai grafiti yang didominasi warna merah. gambar ricecooker shop dari blog komunitas mereka sendiriNada-nada politis terungkap tajam dalam berbagai gambar dan tulisan di sana. Di bagian tengah, ada sofa yang tampak sengaja ditaruh di dalam toko untuk tempat ngobrol-ngobrol. Di depan sofa terdapat meja dan PC, barangkali untuk desain, nge-game atau juga menghitung penjualan. Di samping meja itu ada etalase kecil berisikan dagangan kaos-kaos produksi mereka. Terselip di antara display kaos, terpampang poster Munir yang diimbuhi tulisan “HOMICIDE”. Mengelilingi tempat itu, terpasang rak-rak yang menjajakan kaset dan cd-cd kelompok musik/band indie, tidak hanya dari Malaysia, tetapi juga dari Indonesia. 

Sembari melakukan transaksi pembayaran kaos, saya membuka percakapan kecil dengan Joe Kidd, salah satu pentolan komunitas itu. Joe mengatakan bahwa komunitas mereka juga berjaringan dengan grup-grup band indie sebangsa saya. Dia bilang mereka beberapa kali bertemu dengan komunitas band indie dari Jogja, Bandung dan Jakarta. Tak lama berselang, komunitas indie Indonesia itu sempat main bareng di Kuala Lumpur. munir in KLSayangnya, saya alpa mencatat nama band indie Indonesia itu. Joe sendiri juga lupa nama-nama band yang pernah manggung bersama grupnya. Minimnya intensitas pertemuan barangkali memberi kontribusi penting pada penghapusan nama-nama itu di kepala Joe. Seorang anggota komunitas ricecooker kemudian memperkenalkan saya dengan pengurus kafe yang belakangan memperkenalkan diri sebagai Ibrahim. Ibrahim inilah yang kemudian banyak bercerita tentang aktivitas mereka, kondisi sosial, dan gerakan sosial di Kuala Lumpur. “Di sini kondisinya teruk (=buruk),” ujarnya. Dia menuturkan bahwa anak-anak muda banyak yang tak peduli dengan lingkungan sosial-politik mereka. Seperti yang sudah lazim diketahui, pemberlakuan ISA (internal security act) yang mirip dengan pasal-pasal karet untuk para aktivis di Indonesia membuat pelirihan suara menjadi pilihan utama bagi banyak orang dan gerakan sosial di Malaysia. Niat menghidupkan budaya berpikir kritis di tengah jaman yang gersang itulah yang melatari berkumpulnya komunitas kafe Bau-Bau. 

Selain sebagai tempat kongkow, kafe yang mereka dirikan itu sebenarnya juga punya misi menghimpun dana mandiri untuk pembiayaan kegiatan komunitas. “Kalo punya acara, bisa pakai tempat ini. Kami bisa masak makanan Malay,” ujar Ibrahim berpromosi. Duit yang diperoleh hanya cukup untuk menghidupkan kegiatan komunitasnya. Awak komunitas biasanya punya pekerjaan full time yang lain agar bisa tetap hidup dan aktif dalam komunitasnya. Ibrahim menyebutkan bahwa sekarang ini mereka punya beberapa kegiatan seperti memberikan hiburan wayang untuk anak-anak korban gusuran di daerah Penang, pemutaran film seminggu dua kali, dan diskusi. “Saya baru buat film tentang anak-anak muda komunitas ini. Kami baru mulai membuat documentary movie,” tambah Ibrahim. Ia terdorong untuk membuat film pertamanya itu karena sejauh ini belum ada kesadaran pendokumentasian di komunitasnya. Mendengar minat yang sama dari komunitas lafadl, dia mengundang kita untuk presentasi film dan diskusi jika berkunjung ke kafenya lain kali. 

Di tengah situasi sosial kota besar yang tidak seluruhnya terbuka untuk demokrasi, semangat yang ditunjukkan anak-anak muda Kuala Lumpur ini tentu sangat layak diapresiasi. Keterbatasan ruang ekspresi dan tantangan ekonomi justru tampak menjadi pemicu ikhtiar transformasi sosial. Semangat mereka mungkin akan lebih menentukan upaya mereka menanak nasi demokrasi di masa depan. 

Foto ruang dalam ricecooker shop diperoleh dari http://maladroited.blogspot.com

Tentang komunitas ricecooker shop dan cafe bau-bau bisa dilihat di http://www.ricecooker.kerbau.com

2 Responses to “Menghalau Jaman dari Kafe”

  1. -tikabanget- Says:

    ayo k jogja. saya ajak tour de kafe disinih juga..
    hihihi…

  2. Lasmini Says:

    greay idea 4 my assignment…
    thanx yow… ;p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: