Satu Jam di NUS Press Singapura

Kamis, 19 April 2007

Oleh Uzair Fauzan 

Jam baru menunjukkan pukul 07.45 ketika saya selesai sarapan. Tetapi, saya segera bergegas meninggalkan wisma YMCA (Young Women Christian Association) di kawasan Fort Canning, setengah berlari ke Stasiun Dhobby Gaut untuk mengejar MRT terdekat, agar tidak terlambat sampai ke kantor NUS (National University of Singapore) Press. MRT, kependekan dari mass rapid transportation, adalah sejenis kereta cepat yang melayani rute titik-titik penting di negeri kota itu. Pagi itu, 12 April 2007, saya memang sudah membuat janji ketemu dengan Dr Kratoska, pimpinan NUS Press, pada pukul 9. Sohib dari sekretariat lafadl sudah membuat janji dengannya sejak seminggu sebelumnya, ketika saya masih di Indonesia. 

Saya memilih berangkat awal, karena saya harus berganti 2 kali MRT dan 1 kali naik taksi agar sampai ke kantornya. Dari Dhobby Gaut Station yang berada di jalur North East Line, saya harus berpindah MRT East West Line di interchange station di Outram Park, dan ketika berhenti di Stasiun Clementi harus berganti dengan taksi. Sebenarnya bisa aja ambil taksi dari hotel minta antar langsung ke NUS, tetapi ongkosnya akan sangat mahal (minimal untuk ukuran saya). Saya mengikuti anjuran sopir taksi pertama yang saya jumpai, agar naik-turun stasiun MRT dan baru ambil taksi di Clementi, agar saya bisa irit beberapa puluh singdol. Meski ketika itu adalah jam-jam sibuk (peak hours), MRT berjalan sangat laju dan nyaman hingga membuat kecemasan saya urung datang. Kecemasan mulai menghinggap ketika sopir taksi yang saya tumpangi mengaku tidak paham lika-liku NUS, apalagi kantor NUS Press. Untunglah, saya menyimpan peta kantor NUS Press yang diberikan oleh Dr Kratoska. Dengan peta itu, Pak Kusir taksi mengantarkan saya tepat di muka gedung kantor. Saya tiba di kantor itu sekitar sepuluh menit lebih awal. Saya bersyukur tidak terlambat, agar bisa mereka citra baik untuk lembaga kami. Segera setelah masuk, seorang perempuan muda menghampiri dan menanyakan keperluan saya. Melihat kegesitannya membantu menelpon Dr Katoska yang masih belum sampai di kantor, saya menduga dia adalah sekretaris NUS Press. 

Sembari menunggu kedatangan Dr Kratoska, saya melihat buku-buku terbitan NUS yang dipajang di muka kantor. Dilihat dari ukurannya, kantor itu tidaklah besar. Sebelah kiri dan kanan pintu masuk sebuah ruang etalase didesain dengan gaya yang simple dan transparan. Ruang etalase itu sendiri mungkin hanya berukuran 2,5 kali 2,5 meter. Sisa ruangan depan dipakai untuk meja sekretaris dan meja-meja pegawai dengan dinding-dinding kayu seukuran dada sebagai pembatas antar-ruangan. Dengan gaya yang minimalis, ruangan itu terasa sedap dipandang. Sekira pukul 9 lebih sedikit, seorang berbadan besar dan tinggi masuk dengan sedikit tergesa. Seolah sudah pernah jumpa, kami bersalaman dan langsung tahu jati diri masing-masing. Dr Kratoska segera membawa saya masuk ke bagian dalam kantor itu. Di balik ruangan kerja yang tertata rapi itu ternyata tersimpan gudang penyimpanan buku dan ruang tamu yang sederhana. Di ruang tamu ini, sayalah yang lebih banyak bercerita tentang alasan kepergian ke Singapura, gagasan-gagasan komunitas lafadl, dan kegiatan kita selama ini. Dr Kratoska memberikan kartu namanya, dan sayangnya, saya tidak bisa membalas pemberiannya dengan barang serupa. Karena tampaknya perbincangan akan lumayan panjang, Dr Kratoska mengajak saya untuk sarapan dan minum kopi di kedai yang hanya beberapa depa dari kantornya. 

Setelah mendengar penuturan saya tentang aktivitas komunitas lafadl yang lebih banyak ditujukan pada anak-anak muda tradisional dan semi-urban, Dr Kratoska mengajak Jimmy Yap, seorang editorial director dengan tampang umur di bawah 30-an yang sekarang tengah bekerja untuk NUS Press. Jimmy dulunya adalah mahasiswa Dr Kratoska. Di muka kedai kami berkenalan dan bertukar cerita tentang aktivitas lembaga kami masing-masing. Selain sebagai editor professional (selain bekerja untuk NUS Press, dia sendiri punya perusahaan jasa editing dan desain), bersama istrinya dia juga menjalankan organisasi yang melawan child trafficking  di Kamboja dengan cara-cara yang praktis seperti membuka vocational schools (sekolah ketrampilan). Melihat aura Singapura yang sangat kental nuansa profitnya, minat dan kepedulian Jimmy Yap boleh dibilang sangat langka. Ia bahkan mengumpulkan dana mandiri (fund raising) di Singapura untuk membiayai organisasinya di Kamboja itu. (Ternyata banyak anak muda di luar negeri yang punya kepekaan sosial tinggi. Selain Jimmy Yap, ada juga kelompok ricecooker dan komunitas café bau-bau yang saya temui di Kuala Lumpur. Saya akan menceritakan komunitas ini pada bagian tulisan lainnya).

Di meja kedai, pembicaraan kami silih berganti antara kondisi Kamboja, Indonesia dan Singapura. Di bagian akhir perbincangan, Dr Kratoska lebih banyak mengajak bicara soal perlunya membesarkan organisasi agar menciptakan impact yang lebih besar pada komunitas. Ia tampaknya sangat mendukung kerja-kerja praktis seperti menengahi perselisihan antarwarga terkait dengan identitas (seperti konflik mirip dukun santet di Pati tahun lalu), participatory video making, workshop penulisan multicultural dll. Kerja-kerja praktis itu diperlukan karena kerja-kerja intelektual seperti penerbitan buku tidak selalu menetes ke bidang lainnya (dia bilang “books have their own life”). Apalagi dengan persebaran buku dan keterbatasan pembaca yang masih terpusat pada segelintir elit akademisi. Tentu saja, membesarnya organisasi pasti diiringi oleh membesarnya resiko dan kerumitan mengaturnya. 

Menjelang pukul sepuluh, Dr Kratoska mengajak kembali ke kantornya karena ia punya janji lain pada jam itu. Segera saya serutup sampai tandas teh susu (khas Singapura, yang terpengaruh oleh kebiasaan India) yang ternyata masih paling banyak dibandingkan punya Jimmy dan Dr Kratoska. Kembali di etalase, Dr Kratoska menunjukkan buku-buku terbitan NUS lain yang mungkin bisa kami garap setelah buku Locating Southeast Asia. Di muka etalase ini pula kami berucap salam perpisahan. Setelah bercakap sebentar dengan sekretaris NUS Press, pukul 10.15 saya meninggalkan kawasan universitas yang pernah dinobatkan oleh Asiaweek sebagai universitas terbaik di Asia Tenggara itu. Di tengah perjalanan taksi menuju Clementi Station, saya merasa saya telah melewatkan pagi itu dengan cara yang lebih berarti.

One Response to “Satu Jam di NUS Press Singapura”

  1. BB Says:

    Makanya bawa kartu nama dunk…, masak koordinator lupa kartu namanya, hehehe….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: