Maulid di Komunitas Wetutelu

Selasa, 3 April 2007


Oleh: Heru Prasetia (kru Lafadl Initiatives)
31 maret 2007 lalu bertepatan dengan tangal 12 rabiulawal jika kita menghitung hari dengan kalender hijriyyah yang berdasar lunar sistem. 12 rabiulawal adalah hari ketika Nabi Muhammad dilahirkan. Kita tahu, ia adalah orang paling penting di dunia ini—dan juga di akhirat—menurut kepercayaan orang Islam.Maka pada hari ultahnya ini umat islam merayakan apa yang disebut dengan maulid nabi. Konon nabi sendirti tak pernah merayakan ultah-nya ini, dan bahkan orang pernah meributkan apakah maulid itu bidaah atau bukan. Tapi tentu saja saya tidak akan membahas itu. Di sini diantaranya saya cuma akan menampilkan petikan cacatan lapangan saya ketika melakukan penelitian Hak Minoritas bersama Yaysan Interseksi  di Lombok beberapa waktu silam. Tepatnya di komunitas wetutelu. Rentang waktu penelitian saya tidak berisrisan dengan perayaan maulid, sehingga saya ketarangan yang saya dapat hanya bersumber pada informasi dan cerita tutur kawan-kawan wetutelu saya.


Di komunitas wetutelu Lombok kelahiran nabi ini bahkan menjadi seremoni paling sentral komunitas tersebut. Diselenggarakan pada bulan Rabiulawal setiap tanggal 14 (dalam hitungan wetutelu adalah tangal 11 maulud). Acara Maulid diselenggarakan di mesigit (masjid wetutelu).Acara maulid di sejumlah masjid wetutelu punya detil yang beragam, namun pada dasarnya punya pokok yang serupa. Di masjid bayan, misalnya, diadakan arak-arakan sepsang laki-perempuan yang menjadi simbol adam dan hawa (ini adalah perayaan kelahiran Muhammad, namun mereka melakukan simbolisasi dengan adam-hawa sebagai pengantin pertama di muka bumi), mereka menyebutya ”praja maulid”. Hal serupa tidak dijumpai dalam perayaan maulid di masjid semokan. Masyarakat membawa berbagai makanan menuju tempat upacara di tengah hutan semokan. Dari rumah pembekel—semacam kepala dukuh— dibawa seperangkat gamelan, ditabuh sepanjang jalan menuju masjid. Hewan-hewan disembelih. Biasanya masyarakat membawa hewan untuk disembelih demi memenuhi kaulnya (nazdar).
Pada malam harinya, Amaq kiai dan santri kiai melakukan sholat maghrib dan isya. Pelaksanaan sholat ini merupakan pertistiwa istimewa, sebab para kiai tersebut hanya menjalankan sholat di masjid ini pada waktu-waktu tertentu: Hari raya Lebaran Tinggi (Idul Fitri), Lebaran Pendek (Idul Adha), Ramelan (Ramadhan), dan Maulid Setiap melakukan upacara sholat ini para santri membawa sendiri tikarnya dari rumah. Mereka melepas dodot (ikat pinggang) dan digunakannya sebagai sarung hingga menutupi lutut. Tak ada doktrin yang menuntun itu. Semua berdasar pada apa yang pernah dilakukan sebelumnya.
Setelah semua makanan tersaji, kiai akan mengucapkan doa, kemudian acara makan dimulai. Acara ini bisa jadi merupakan puncak karemaian ketika semua orang seperti berpesta dengan wajah berbinar melahap makanan yang tersedia. Para perempun bekerja di dapur umum memasak dan menyajikannya. Menambah semarak suasana., dalam acara maulid ini juga diadakan perisaian. Perisaian adalah permainan tradisional masyarakat Lombok. Dua orang laki-laki dewasa memawa rotan dan perisai dan saling menggebuk. Di kawasan adat Bayan, perisaian juga dilakukan untuk meminta hujan, sedangkan di Wet Semokan upacara minta hujan dilakukan dengan cara slametan biasa.

Praktik perayaan maulid wetutelu ini jelas berbeda dengan perayaan maulid di berbagai belahan dunia lain.sebagaimana kita ketahui, di seluruh penjuru dunia islam kita bisa menjumpai aneka ragam perayaan kelahiran nabi Islam itu. Di Jawa misalnya, kita mengenal adanya sekaten, yang kini tampil serupa pasar malam.
Agama, dengan demikian, pada akhirnya datang bukan melulu berupa segepok ajaran tapi juga laku manusia, tingkah polah, atau praktik budaya. Dan sebagai polah manusia, sudah pada galibnya jika ia bersifat dinamis. Ada proses mengambil dan membuang. Memberi makna-makna baru dan seterusnya. Hari lahir nabi yang di tempat asalnya tak punya ujud yang pasti lantas bertebaran menjadi mozaik warna-warnipraktik yang maknanya bisa jadi juga tidak serupa. Jika demikian halnya, lantas masih perlukah pertanyaan tentang otentisitas? Tentang bidaah atau bukan?

2 Responses to “Maulid di Komunitas Wetutelu”

  1. byg Says:

    memang adakah di lingkungan dekat sana yang menyatakan bahwa mereka bid’ah?


  2. Assalamu alaikum wr wb. Majalah SYIAR adalah majalah internal yang disebarkan secara gratis dan terbatas di kalangan majlis taklim dan yayasan Islam di Jakarta dan sekitarnya. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, Redaksi Majalah memohon kepada pengelola situs Lafadl agar mengizinkan kami memuat tulisan Bpk. Heru Prasetia “Maulid di Komunitas Wetutelu”. Atas perhatian dan perkenannya kami haturkan terimakasih. Wassalam. Arif Mulyadi (Redaksi) 081318614225.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: