KISAH PINDAH RUMAH

Selasa, 3 April 2007

Oleh: Shohib Masykur (kru Lafadl)

Angin semilir yang menggoyangkan dedaunan pagi itu seolah menjadi pertanda baik buat sebuah keluarga kecil yang sedang memiliki hajat besar: pindah rumah. Meski tidak terik, tapi matahari nampak bersahabat dengan memancarkan sinarnya menembus lapisan cumulus tipis yang membuat biru langit tidak nampak, tergantikan oleh hamparan warna putih yang lembut. Hari itu, Minggu, 25 Maret 2007, salah seorang kru Lafadl sedang melaksanakan hijrah alias pindahan rumah. Si Dia adalah Heru Prasetia, koordinator Divisi Penerbitan Lafadl Initiatives.

Dibantu oleh para tetangga, keluarga dari Magelang, dan para kru Lafadl, Heru beserta keluarga (Rika sang isteri dan Kaka sang buah hati) menunaikan hajatnya untuk hijrah dari rumah yang dikontraknya sejak dua tahun lalu di Jl. Kaliurang Km. 8 (selanjutnya disebut Rumah I) ke rumah yang baru saja selesai dibangunnya di daerah Godean, sebelah selatan pasar Godean, Sleman (selanjutnya disebut Rumah II).

Jam 10.00 para kru Lafadl sudah berkumpul di Rumah I. Tak lama kemudian, truk pengangkutpun tiba: sebuah truk berukuran sedang yang biasa digunakan untuk mengangkut pasir. Melihat permukaan bagian baknya yang berpasir, agaknya truk tersebut baru saja menyelesaikan tugas rutinnya. Untuk menjaga agar perabot-perabot yang akan dipindahkan tidak kotor, bak tersebut akhirnya dilapisi dengan kardus dan plastik.

Setelah memastikan bahwa kondisi bak truk siap digunakan, ‘tim pindah rumah’ pun mulai beraksi. Satu persatu barang-barang mulai diangkuti. Saat itulah para tetangga berdatangan untuk membantu. Dengan sigap mereka mengambil posisi masing-masing: ada yang di atas bak truk untuk menyambuti sekaligus menata barang-barang, ada yang di dalam rumah untuk packing, ada yang hilir mudik untuk memindahkan barang-barang dari rumah ke truk, dan tak lupa ada yang menggendong si kecil Kaka yang nampaknya turut gembira karena tahu akan menghuni rumah baru. Tak lama kemudian, keluarga dari Magelang, yakni kakek, nenek, dan pamannya Kaka, datang. Dengan segera merekapun mengambil posisi masing-masing.

Dibutuhkan satu jam lebih untuk mengangkuti semua barang ke truk. Ketika ‘tim pindah rumah’ selesai melaksanakan tugasnya di Rumah I, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Setelah memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal (kecuali yang sengaja tidak dibawa) dan berpamitan dengan para tetangga, akhirnya keluarga kecil ini berangkat. Diikuti oleh tatapan perpisahan para tetangga, iring-iringan yang terdiri dari satu truk, satu mobil jip, dan beberapa sepeda motor itu pun perlahan-lahan berangkat meninggalkan Rumah I, meluncur menuju Rumah II di Godean.

Jarak antara kedua rumah itu sekitar 25 km, atau sekitar setengah jam perjalanan sepeda motor. Setelah belok kiri dari Jl. Godean tepat di sebelah timur pasar Godean, masih dibutuhkan sekitar 5 menit perjalanan sepeda motor untuk mencapai Rumah II. Ketika tiba di Rumah II, ditemukan suasana yang berbeda dengan Rumah I. Meski sama-sama dekat dengan sawah, namun nuansa ‘dusun’ lebih terasa di Rumah II. Rumah itu sendiri terletak di tengah sawah, sebelah barat jalan kecil beraspal. Tiga rumah di sebelah kiri, benar-benar hanya tiga rumah, harus dilewati dari jalan kecil itu untuk menuju ke rumah tersebut. Di sekelilingnya terhampar sawah yang ditanami padi dan tebu. Kecuali sebelah timurnya yang sudah berupa bangunan rumah, di sekelilingnya melulu terhampar sawah dan sawah. Meski di sebelah timur jalan merupakan perkampungan penduduk, namun kesan terpencil tetap tidak bisa dihilangkan dari rumah tersebut. Sekali pandang orang akan langsung tahu bahwa ancaman paling dekat dan nyata untuknya adalah binatang sawah: katak, ular, serangga, dan kroni-kroni mereka.
Tanah di sekitar rumah tidaklah terlalu luas. Itupun harus dipotong untuk jalan. Jalan itu sendiri tidak terlalu kecil, cukup untuk lewat sebuah truk. Dan itu menguntungkan ‘tim pindah rumah’ karena mereka tidak harus bersusah payah mengangkati barang-barang dalam jarak yang panjang. Truk bisa diparkir sangat dekat dengan rumah.

Begitu mesin truk dimatikan, tim dengan sigap kembali bekerja. Beberapa tetangga yang tadi ikut membantu di Rumah I turut serta. Sungguh, menurunkan dari truk jauh lebih cepat daripada menaikkan barang-barang ke atas truk. Mungkin karena untuk menurunkan tim tidak perlu berpikir keras menata barang-barang sedemikian rupa—hal yang harus dilakukan ketika menaikkannya agar bak truk yang terbatas itu bisa muat menampung barang-barang yang cukup banyak. Atau mungkin juga karena tidak diperlukan pertimbangan mengenai barang mana saja yang harus diangkut dan mana yang tidak. Atau mungkin, ya, mungkin saja, bisa jadi, karena waktu itu mereka sudah melihat minuman dan makanan yang sudah dipersiapkan untuk mereka.

Ya. Setelah semua barang selesai diturunkan, ‘tim pindah rumah’ memang menikmati minuman dan makanan yang sudah disiapkan oleh si empunya rumah. Maka, berlangsunglah acara “pesta sawah”: makan di dalam rumah tapi sekaligus di tengah sawah. Entah karena lesu dan lapar setelah mengeluarkan cukup banyak tenaga, atau karena dikelilingi oleh nuansa dan suasana yang berbeda, makan siang itu terasa spesial. Waktu menunjukkan pukul 13.30 ketika perjamuan itu berlangsung. Di luar, gerimis agaknya juga ingin ikut menyambut kedatangan keluarga ini di kediman yang baru.

One Response to “KISAH PINDAH RUMAH”

  1. BB Says:

    Slamat menghuni rumah yang baru ya….
    wah kayaknya bakal agak susah nih kalo rapt di rumah maz heru, jauh banget soalnya.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: