Soto dan Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 19 Maret 2007


oleh: uUzair Fauzan (Koordinator Lafadl Initiatives)

Kami tidak sedang berminat membicarakan kemajuan ekonomi dalam pengertian konsep dan rumus yang abstrak. Kami juga sedang tidak tertarik untuk mendiskusikan Soto dalam pengertian kependekan nama dari Hernando de Soto, pakar ekonomi yang baru-baru ini secara khusus diminta oleh SBY untuk memberi petuah-petuah mengatasi kemiskinan. Kami hanya tertarik berbicara penggalan sejarah kawasan Dayu, tempat kami sekarang numpang hidup, dan kegiatan ekonominya. Dan tentu saja kaitannya dengan soto, dalam pengertian nasi sup ala Jawa yang dilengkapi dengan “suwiran” ayam di dalamnya.

Bagi orang-orang yang tinggal atau sering melintas di daerah Dayu, warung soto Pak Jamal bukanlah tempat yang asing. Dari Jalan Kaliurang kilometer delapan setengah, Anda tinggal berbelok ke arah barat masuk ke Jalan Damai. Warung soto milik Pak Jamal ini dengan mudah bisa ditemukan kurang lebih seratus meter dari sana di sebelah utara jalan. Setiap pagi, terutama antara jam delapan hingga setengah sepuluh, deretan sepeda motor dan mobil bisa jadi penanda yang bagus untuk menemukan warung ini. Warung ini memang menjadi rujukan banyak orang untuk memuaskan lapar di pagi hari. Tak terkecuali kami.

Dengan uang goceng di saku, kami bisa dapat semangkuk soto yang dihargai tiga ribu, es teh manis yang dihargai seceng, gorengan gopek per buahnya, dan beberapa krupuk untuk menindas pedas sambalnya. Seperti lazimnya warung soto jawa lainnya, Pak Jamal turut menyediakan sate jeroan dan usus dalam menu terpisah. Jika anda hendak menyantapnya, harus sedia duit sedikit lebih banyak. Kami sering tak kuasa menahan godaan sarapan di warung ini karena harganya yang sangat ekonomis dan rasanya yang tak mengecewakan. Ditambah dengan keramahan bakulnya, sarapan soto Pak Jamal bisa dibilang sama rutinnya dengan membaca Kompas di pagi hari.

Lokasi warungnya sekarang bukanlah yang pertama. Lokasi sebelumnya hanya berjarak beberapa meter dan jauh lebih sederhana. Di tempat lamanya seukuran kamar 3 x 3 itu hanya bisa dipasang tiga meja panjang yang fungsinya tidak hanya untuk tempat makan tapi juga tempat naruh perlengkapan soto dan menu tambahannya. Dengan konfigurasi seperti ini, kapasitas tempat duduk untuk pembeli tak pernah bisa melampaui lima belas orang. Jika datang terlambat kala peak hours, kami harus rela kebagian tikar dan menyantap soto dengan bonus aroma bensin saking dekatnya dengan “lahan parkir”. Lahan parkir kami taruh dalam tanda kutip karena memang tidak ada lahan yang disiapkan khusus untuk parkir atau minimal mindset yang secara spesifik memikirkan tentang parkir. Motor pembeli bisa diparkir sekenanya, bisa di depan gerobak soto, di sampingnya, atau di mulut gang (kebetulan letak warung persis di ujung gang). Ngomong-ngomong tentang gerobak, Pak Jamal dulu juga harus pulang pergi membawa gerobaknya. Kapasitas gerobak yang terbatas terkadang membuat pembeli harus bersabar menanti kiriman kuah atau tambahan gorengan dari rumahnya. Tetapi, segala keterbatasan itu tak membuat jera para pelanggannya. Alih-alih menjauh, pelanggannya justru terasa bertambah setiap hari. Seingatku, soto biasanya sudah habis kurang lebih pada jam sepuluh.

Setahun lalu itu, kesederhanaan sebenarnya tak hanya monopoli warungnya Pak Jamal. Sewaktu kami baru pindahan ke daerah ini, kita hanya menjumpai jalanan yang relatif lengang mulai dari pojok jalan Damai yang bertemu dengan Jalan Kaliurang hingga pertigaan Jalan Dayu Baru. Mulai dari ujung timur Jalan Damai kita hanya bisa menemukan deretan kios yang lebih sering tutup ketimbang buka, kemudian sebuah toko kaca bermotif, toko bangunan, dan bengkel kecil. Waktu itu memang sudah ada rumah makan Benso yang memilih makanan khas tempat pemancingan sebagai menu spesialisnya. Namun, seolah senasib dengan deretan kios di ujung timur Jalan Damai, kami hampir tidak pernah menjumpai Benso ramai dikunjungi orang. Meski tetap saja terlihat megah hingga sekarang, nasib Benso jelas berbeda jauh dengan tingginya popularitas sotonya Pak Jamal. Pak Jamal dan seorang saudaranya selalu saja tampak kewalahan meracik soto sesuai permintaan penikmatnya yang beragam. Sejak keramaian terbentuk di sekitar situs sotonya Pak Jamal ini, kami menemukan bibit-bibit usaha ekonomi baru mulai berkembang di jalan ini. Salah satunya adalah warung es kelapa muda sederhana yang berlokasi di depan toko kaca bermotif, kurang lebih dua puluh meter menyerong ke timur dari lokasi warungnya Pak Jamal.

Keterbatasan tempat dan habisnya masa sewanya mendorong Pak Jamal mencari lokasi lain. Kebetulan, hanya berjarak beberapa meter di depan tempatnya berdagang dulu, sepetak lahan disewakan dengan harga murah. Di tempat yang baru ini dia bukan hanya mendapatkan tempat yang lebih lapang dengan daya tampung meja lebih dari 30 orang sekali gebrakan, tetapi juga tempat tinggal di bagian belakang warung ini. Di tempat ini pula, konsep tentang parkir mulai terekspos. Persis di depan warungnya sekarang, dipasang plang berwarna dasar putih bertuliskan “warung soto Pak Jamal” lengkap dengan tambahan kayu sederhana yang ditulisi “parkir gratis”. Pak Jamal sengaja tidak membangun seluruh lahan yang disewanya untuk warung dan bangunan rumahnya. Dia menyisakan lahan di depan warungnya untuk lahan parkir para pelanggannya. Dengan lokasi yang lebih lapang, pelanggan bisa agak lama bermalas-malasan menunggu sotonya turun ke bawah perut sebelum angkat kaki untuk pelanggan yang lain. Tempat berdagang sekaligus rumah tinggal ini membuat istri dan saudara-saudaranya bisa dikerahkan supaya layanan soto bisa cepat sampai di meja pelanggan.

Belakangan, kepindahan warung Pak Jamal ke tempat yang baru ternyata diikuti oleh perubahan-perubahan bermotif ekonomis di sepanjang jalan ini. Tak lama sesudah kepindahannya, tetangga baru persis di samping Pak Jamal pun membuka warung makan. Dengan menu khas coto makassar, warung ini menambah nuansa selera makan di sepanjang jalan ini. Harganya pun lumayan ekonomis. Kurang dari dua bulan yang lalu, sebuah rumah makan besar pun berdiri tepat di depan warung makan coto makassar ini. Dilihat dari lamanya persiapan pembukaan dan bangunan joglonya, rumah makan ayam goreng Pak Parman ini tampaknya didirikan dengan investasi yang berkali-kali lipat dari investasinya Pak Jamal. Minggu ini, sebuah bangunan baru sedang dibangun di samping rumah makan ayam gorengnya Pak parman dan sekaligus tepat di depan warung sotonya Pak Jamal. Dilihat dari model bangunannya, bangunan baru ini jelas sekali terlihat dimaksudkan untuk kepentingan usaha.

Pembukaan tempat usaha baru yang berturut-turut di sekitar situs sotonya Pak Jamal ini seolah menegaskan kuatnya pengaruh warung soto ini dalam pembentukan ruang di sekitarnya. Minimal, bagi para pelaku ekonomi baru di tempat ini, bertumpuknya konsumen di situs soto ini membentuk asumsi bahwa ruang di sepanjang Jalan Damai bisa jadi memiliki potensi ekonomi sama besarnya dengan daerah-daerah strategis lainnya. Jika betul ini yang terjadi, teori ekonomi yang mendalilkan signifikansi investasi besar (yang biasanya datang dari negeri lain) sebagai pendorong kemajuan ekonomi bisa terbantahkan. Alih-alih mendongkrak pertumbuhan, investasi besar bisa jadi hanya “nunut mulyo” pada investasi yang lebih kecil. Jika dilihat dari kronologis pembangunan tempat usaha, investasi Pak Jamal justru membantu terbentuknya pasar bagi investor besar seperti rumah makan ayam gorengnya Pak Parman. Jika asumsi-asumsi ini benar, jalan keluar persoalan kemiskinan sebenarnya tidak perlu kita minta dari Soto yang asli Amerika Latin itu. Yang kita butuhkan hanyalah Soto-nya Pak Jamal!

2 Responses to “Soto dan Pertumbuhan Ekonomi”

  1. Suwirane ndonya Says:

    Bagus, tapi kita lihat apakah pak jamal tetap jadi “juragan” atau kalah dengan warung Pak Parman yang mungkin juga akan ikut-ikutan jualan soto.

  2. jelitheng Says:

    usaha kecil seperti yang pak jamal lakukan adalah salah satu jawaban tepat mengatasi soal ekonomi pada situasi serba sulit dewasa ini. harga murah tidak menjamin laris dagangan tetapi rasa dan juga pelayanan sedangkan ketekunan, kesabaran serta watak tidak boros adalah salah satu kunci keberhasilan usaha.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: