Secuil Catatan Lapangan Penelitian Wetutelu Lombok

Selasa, 13 Maret 2007


Oleh: Heru Prasetia (Anggota Tim Kerja lafadl Initiatives)

(Ini adalah sebagian dari catatan lapangan saya ketika melakukan penlitian tntang komunitas wetutelu di Lombok tahun 2005 lalu. Penelitian itu sendiri—bersama dengan empat penelitian lainnya—telah dibukukan dengan judul: Hak Minoritas, Dilema Multikulturalisme di Indonesia (review atas buku ini bisa dilihat di sini dan sini). Bagian-bagian yang tidak dimasukkan dalam buku tersebut barangkali masih bisa bermanfaat jika disampaikan kepada khalayak. Catatan kcil di bawah ini adalah salah satu contohnya)

Hari itu, selasa 1 Maret 2005. Pagi-pagi kami (saya dan Syihab) bangun, mandi dan sarapan. Kemudian langsung berangkat ke Semokan. Sebuah tempat yang ditinggali oeh pimpinan adat wetutelu. Di sana juga terdapat salah satu dari beberapa geliontirt masjid adat wetutelu di Pulau Lombok. Dengan menyewa dua kendaraan bermotor.

Saya dan Syihab ditemani dua pemuda dari Bayan, namanya Selih dan Sapar. Sungguh jauh perjalanan ke Semokan. Sehari-hari kami tinggal di Loloan, Bayan. Mungkin jaraknya tidak teramat jauh, tapi jalan terjal yang harus dilewati sungguh melelahkan. Sempat kehabisan bensin. (Oya, kami juga baru tahu kalau harga BBM naik. Ini ada catatan dari Syihab tentang pengalamannya beli besin kala BBM mulai naik:

Di tengah jalan, aku sempatkan sejenak untuk mengisi bensin di kios tepi jalan di daerah desa Sukadana. 2 liter aku pesan, lalu ibu muda pemilik kios menuangkannya ke tangki motor milik paman Sapar dan Selih. Aku tanya berapa bu? Dia menjawab, 2000. Aku berpikir ibu ini mungkin belum tahu informasi kenaikan harga semalam. Lantas aku pancing dengan sahutan, “Tidak salah Bu?”. Tapi jawaban ibu ini sungguh membutku bangga bisa ke Bayan. “Wah tidak enak Mas, karena ini bensin belinya kemaren sebelum naek”.

Kami naik ke atas mendekati pegunungan hingga jalanan tak lagi beraspal. Jalan tanah itu cukup lebar, cukup untuk dilewati mobil, tapi pasti akan sangat tersiksa sebab banyak lobang lebar menganga. Setelah meliuk-liuk sepanjang jalan, kami mulai masuk di hutan adat. Jalanan mulai mendaki. Sesekali berhenti untuk bertanya. Anak-anak Bayan ini (Sapar dan Selih) bahkan satu kali pun belum pernah pergi ke masjid Semokan. Di sepanjang jalan di hutan itu, sesekali kami melewati rumah penduduk. Di dusun Semokan, rumah-rumah penduduk memang menyebar, jauh satu sama lain. Kami sempat kebablasan sekitar 1 km. Akhirnya balik lagi ke bawah. Bertanya di sebuah warung di pinggir hutan lebat. Untung di sana sedang duduk inaq lokaq pemangku (istri amaq lokaq pemangku—salah satu dari tiga pemuka adat wetutelu di wet semokan).

Setelah menunggunya selesai makan sirih, kami berangkat menembus hutan. Jalannya setapak sempit dan terjal. Menuruni tebing, menyeberagi sungai, naik tebing lagi, hingga sampai di sebuah pelataran luas. Di sana ada tiga buah kampu (rumah). Masing-masing dihuni tiga pemimpin wetutlu wet semikan: amaq lokaq pemangku, amaq lokaq monthong dan amaq kiai. Wilayah Wet Semokan ini meliputi tiga pembekelan (pemimpin adat sebuah wilayah), kalau dari sisi administratif wilayah itu ada meliputi 9 dusun.
Inaq lokaq yang mengantar kami tadi tidak mau kami ambil fotonya. Takut berkurang nyawanya, kata Selih, menerjemahkan. Dia juga tidak bisa memberi izin untuk memotret masjid dan menyuruh kami minta izin pada amaq kiai. Kami pun pergi ke kampu tempat tinggal amaq kiai karena amaq lokaq monthong sedang pergi sementar amaq lokaq pemangku sedang sakit. Memasuki pelataran kampu, kami disambut nyalak anjing. Agak begidik juga. Sampai depan kampu, kami melihat dari kejauhan seorang laki-laki tua berikat kepala putih seperti sorban dan berselampangkan kain di dada, bersarung putih, berjalan dengan gagah sambil menyandang parang di tangannya. Tampilan yang mengingatkan saya pada penampilan guru silat di film-film persilatan. Wajahnya seram. Tapi setelah berkenalan dan melihatnya ramah, saya mulai merasa lebih ringan. Tawanya pun sesekali merebak, memamerkan gigi-giginya yang berwarna merah kecoklatan.
Kami mengobrol cukup lama siang itu….hujan deras mulai turun. Amaq kiai bilang ini adalah hujan deras pertama sejak setahun ini. Wah, bangga juga bisa menjadi saksi hujan deras pertama di Semokan. Wajah amaq kiai tampak berseri. Perbincangan kami agak tersendat sebab harus melalui penerjemah. Kendati saya kadang juga bisa menangkap beberapa kata sasak. Sebelumnya saya memperkenalkan diri dan bercerita telah bertemu dengan putranya, kiai sumangsa di dusun Lendang Jeliti. Ia hanya manggut-manggut, dari wajahnya kutangkap ada rasa kangen yang terpendam.


Dalam masyarakat wetutelu di wet semokan, Amaq Kiai ini merupakan figur sentral. Dialah yang akan memimpin upacara adat yang berkaitan dengan doa-doa. Atau dalam bahasa mereka: dengan agama. Agama dalam pengertian wetutelu mewujud dalam diri kiai-kiai. Dan Amaq Kiai adalah pimpinan dari sekian banyak kiai yang ada di wet semokan. Berikut ini adalah catatan saya tentang Amaq Kiai sebagaimana tertuang di laporan penelitian saya:

Seorang Amaq bertugas merawat masjid adat serta menjalankan praktik ritual syareat pada waktu-waktu tertentu. Juga mendatangi undangan masyarakat untuk memimpin doa dalam acara slametan. Dalam menjalankan tugasnya ia dibantu oleh para santri-kiai. Dalam komunitas wetutelu semokan ini praktik ritual keagamaan—sepertio sholat dan puasa–hanya dilakukan oleh Amaq kiai dan santri-kiai. Masyarakat umum tidak melakukan ritual tersebut, tapi bekerja demi kesuksesan acara tersebut seperti menyediakan makanan, menyediakan air untuk wudhu, dan lain sebagainya. Upacara ngangkat syareat yang dilakukan adalah lebaran tinggi (idul fitri),lebaran pendek (idul adha), ramadhan, dan maulud. Pada saat lebaran Kiai menjalankan sholat maghrib, isya,subuh, sholat ied, dan khutbah. Pada upacara maulud, menjalankan sholat maghrib dan isya. Pada waktu ramadhan Amaq Kiai dan para santrinya menjalankan ibadah puasa. Puasa para kiai ini tidak hanya pantang makan minum di siang hari, namun juga tidak melakukan kegiatan apapun yang merusak pikiran dan hati. Di bulan ramadhan juga dilakukan sholat tarawih pada tanggal 21,23,25,27,29 Ramadhan. Di akhir ramadhan masyarakat memberikan pitrah yang berupa beras dan segala macam hasil bumi kepada santri-kiai, santri kiai ini kemudian akan memberikan berbagai barang tersebut pada Amaq kiai. Selanjutnya, Amaq kiai membagikan pitrah itu pada para santri- kiai. Oleh santri-kiai, berbagai bahan makanan itu digunakan untuk acara slametan dengan mengundang masyarakat umum.



Setelah berbasa-basi tanya sana-sini soal apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan di kampu ittu saya mulai bertanya soal situasi adat di wet Semokan itu (yang tidak boleh adalah masuk ke wilayah kampu tanpa pakaian adat, masuk ke masjid tanpa pakaian adat, serta memotret bagian dalam masjid).Menurut amaq kiai sebenarnya adat wetutelu ini sudah mulai gundul. Banyak yang sudah melakukan ajaran baru. (ia tidak menyebut apa itu tapi jelas ini merujuk pada ajaran islam formal atau orang sering menyebutnya islam waktu lima). Ia mengisahkan tentang kakaknya yang menjadi kiai di lendang jeliti sekitar tahun 60an. Ia tak ingat. Pernah suatu ketika diundang ke seorang Tuan Guru untuk diajari agama islam. Sepulangnya, kakaknya sering melakukan sholat jumat. Selang beberapa waktu kemudian kakaknya itu meninggal. Hal itu diyakininya sebagai pesan bahwa jika melakukan ajaran Tuan Guru maka hal itu akan mendatangkan malapetaka. Kemudian dirinya dianngkat menjadi Amaq Kiai menggantikan kakaknya. Ia pun sering berpesan pada anak cucunya, sembari menunjukkan peristiwa yang menimpa kakaknya, bahwa sudah terbukti ajaran baru akan mendatangkan mala petaka. Itulah sebabnya, ia juga tak berani meninggalkan adat, meninggalkan tuturan turun temurun dari amaq lokaq dan inaq lokaq (ini sebutan untuk leluhur mereka).
Di sela-sela perbincangan maq kiai berdiri kemudian berjalan ke samping berugak dan jongkok kencing. Sapar, selih, dan Syihab juga bolak-balik kencing. Ternyata kencing juga ada aturannya. Tidak boleh menghadap ke kampu atau ke masjid.
Kami disuguhi kopi. Ketka Syihab menawarinya rokok, dia tidak mau. Sembari tertawa dia berkata “ah, kurang mantab” kemudian mengeluarkan rokok andalannya: klobot. Menjelang siang datang istrinya membawa nasi dan sayur. Wah, makanannya enak sekali. Sebenranya sederhana masakannya, cuma sayur lodeh (kukira) dan ikan asin. Tapi entah kenapa rasanya sangat lezat. Mungkin terbawa suasana tengah hutan yang rimbun dan sejuk itu. Di tempat itu tak ada listrik. Juga tidak digunakan lampu minyak, sebab itu adalah pantangan.. Jika malam menjelang, Amaq Kiai sekeluarga hanya menggunakan lampu dari getah jarak.


Sudah 30 tahun dia menjabat jadi kiai, dan sembilan tahun menjadi amaq kiai di wet Semokan ini. Ia tinggal bersama istri dan anaknya di tempat yang jauh dari keramaian itu. Cucunya masih kecil, mungkin sekitar sepuluh tahun. Meski jauh dari pemukiman, cucunya tetap sekolah. Ia harus berjalan menembus hutan jika hendak pergi sekolah di pagi hari.
Menjelang jam 3 sore, udara sejuk masih terasa. Hujan mulai reda. Sepertinya masih pagi di tempat itu. Pohon-pohon besar yang rimbun menghalangi matahari menyengat tubuh. Setelah lewat jam 3, kami pamit pulang. Setelah puas melihat-lihat, saya dan kawan-kawan pulang, melewati jalan terjal yang kami lalui sebelunya. Kami berempat sempat berdebat tentang arah jalan yang bercabang-cabang itu. Untung kami tak tersesat pada akhirnya. Di luar hutan, setelah istriahat, kami mengambil motor dan lantas pulang melewati jalanan menurun. Kembali saya harus turun beberapa kali dari motor agar syihab lebih mudah mengendalikan motornya.
Perjalanan ke Semokan ini memang menyenangkan. Berkenalan dengan Amaq Kiai memberi keuntungan tersendiri bagi saya karena saya menjadi lebih mudah akrab dengan warga wetutelu di wet semokan ini.

4 Responses to “Secuil Catatan Lapangan Penelitian Wetutelu Lombok”

  1. firman Says:

    walaupun saya belum baca bukunya tapi dari penuturan mas saya sangat tertarik dengan “wajah” islam watutelu itu. Islam watutelu adalah salah satu dari sekian banyak bentuk pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini cara berislam seperti itu mulai digugat dan distigmatisasi sebagai bukan Islam atau Islam yang belum sempurna oleh sebagian kalangan. ini menurut saya seharusnya menjadi keprihatinan bersama. saya usul mas, bikin lagi penelitian serupa di daerah lain..

  2. odie Says:

    saya sedang membutuhkan bahan untuk tugas kampus ttg suku sasak di bayan.saya anak lombok,tapi belum pernah sekalipun ke bayan, dan sedang kuliah di malang.berkat secuil catatan dari mas saya jd pny bahan untuk dikonsultasikan sebelum benar2 terjun ke lapangan.
    terimakasih buat catatannya.

  3. Lukmanul Hakim Says:

    rencananya, saya mau ke bayan awal 2010. Thanks atas infonya

  4. Nurul Says:

    klo ingin membaca ada buku tentang islam sasak wetu telu wetu versus waktu lima karyanya Dr Eni Budiwanti, terbitan LKis. tapi yang telah dilakukan oleh mas Heri, sangat keren


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: