Tukul atawa Humor? Humor atawa Tukul?

Minggu, 11 Maret 2007


Oleh: Bosman Batubara (geologis, anggota Forum Lafadl)

Beberapa waktu yang lalu, laman ini ‘geger’ dengan hadirnya tulisan saudara Muhammad Syihabuddin yang berjudul: ‘Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik’. Dalam ingatan saya yang pelupa, ini merupakan tulisan yang paling banyak ditanggapi oleh pengunjung blog lafadl. Dan tulisan ini sendiri, lepas dari pro maupun kontra terhadap tulisan itu, hendak melanjutkan diskusi tentang fenomena acara Empat Mata-nya Tukul. (Lebih jauh tentang Tukul, klik di sini). Dengan sendirinya, tulisan ini akan (berusaha) pumpun pada, dan dipersembahkan untuk acara tersebut.


Apologia saya: seperti mungkin yang sudah diketahui oleh beberapa budiwati/man pembaca, lapangan yang saya geluti adalah ilmu kebumian. Karenanya andaikata nanti ada perihal yang tak sesuai, terlalu dangkal, dan tak jelas menurut kategori budiwati/man dalam tulisan saya ini, dengan tangan terbuka dan hati yang tulus ikhlas, saya menyilakan anda, kalau bisa, jangan hanya berperan serta, tetapi berperan kunci dalam perayaan kelucuan ini.
Satu hal yang mengganjal dalam benak saya adalah bagian terakhir tulisan saudara Muhammad Syihabuddin yang intinya menyatakan bahwa tayangan Empat Mata-nya Tukul ‘mendegradasi selera humor kita.’ Tampaknya perlu diperjelas kita dalam hal ini siapa, karena humor memiliki keterikatan spasial dan temporal.
Spasial. Sebuah humor yang bagi seseorang yang berlatar belakang budaya Jawa, belum tentu lucu bagi seseorang yang berlatar belakang Manado, Batak, Asmat, dan seterusnya. Hal ini membuat saya teringat pengalaman beberapa tahun yang lalu. Begini ceritanya:
Dulu, sebelum saya bergaul dengan kawan-kawan orang Jawa, saya jarang menonton acara humor di televisi, selain mungkin karena tidak terlalu betah menonton televisi, juga karena pada waktu itu saya sama sekali tak dapat menemukan kelucuan dalam acara-acara humor tersebut. Acara-acara humor di televisi tersebut seolah-olah asing, tak jelas apa yang menarik dan lucu di situ, dan maaf: sebagian besar acara-acara itu memang mungkin hanya ditujukan bagi penonton orang Jawa. Begitu pada waktu itu.
Belakangan ini, setelah beberapa tahun tinggal di Yogyakarta, secara peralahan saya mulai menonton acara-acara humor di televisi. Pada mulanya mungkin ikut-ikutan teman nonton Ngelaba. Kemudian lama-lama dapat menikmatinya sampai terpingkal-pingkal. Dan yang terakhir tentunya acara Empat Mata-nya Tukul itu yang juga sering saya tonton. Menjadi jelas bahwa humor—dan dengan demikian selera humor seseorang—bukanlah sesuatu yang tercurah begitu saja dari langit, tetapi ia berhubungan erat dengan konteksnya. Konteks yang saya maksud di sini adalah lingkungan seseorang.
Berikutnya humor memiliki keterikatan temporal. Jelas. Humor seratus tahun yang lalu, belum tentu lucu di masa sekarang. Dan tak ada juga yang dapat menjamin bahwa masyarakat di sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang masih menyenangi acara humor seperti Empat Mata-nya Tukul.

Satu hal yang agak krusial dari adanya pandangan terjadinya degradasi estetika akibat tayangan Empat Mata-nya Tukul adalah bahwa ini berarti membuka jalan ke perdebatan panjang mengenai seni ‘adiluhung’ dan ‘tak adiluhung’. Dan dengan dibukanya guagarba ini, secara otomatis humor diterima menjadi bagian dari keluarga besar seni. Saya sendiri adalah orang yang berpegang teguh pada anggapan bahwa pekerjaan mengliping koran, merawat taman, mengepel lantai, para petani yang mengolah sawah, membuat sketsa lapangan dalam pemetaan geologi, adalah kegiatan-kegiatan yang memiliki cita-rasa seni yang tinggi. Tak ada masalah terhadap penerimaan humor sebagai bagian dari keluarga besar seni.
Barangkali dalam hal ini bolehlah kita belajar dari pengalaman para pesastra yang pernah terjebak dalam perdebatan antara ‘sastra’ dan yang ‘bukan sastra’. Atau agar lebih spesifik, perdebatan ‘sastra kontekstual’ yang dibuka oleh Arief Budiman pada dasawarsa 80-an. Satyagraha Hoerip adalah seseorang yang menghabiskan banyak waktu untuk menelusuri perdebatan itu. Dan ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa merumuskan jawaban atas perdebatan itu bukan buatan susahnya, meski tentunya bukan mustahil, dan ini terlebih-lebih karena adanya kesalahan pada diri pertanyaan/perdebatan tentang ‘sastra’ dan ‘bukan sastra’ itu sendiri (tentang sumber saya atas informasi ini silakan dilacak sendiri saja kalau memang tertarik). Dengan demikian, dalam lanskap yang lebih terbentang, perdebatan mengenai ‘budaya massa’ dan ‘budaya tinggi’ sampailah pada sebuah penghujung: buntu. Karena memang mungkin perdebatan seperti itu sama sekali tak kita butuhkan untuk mengapresiasi karya seni. Karena dalam mengapresiasi karya seni, kita hanya butuh diri kita sendiri dan lingkungan. Karena dalam diri manusia sudah tersedia ruang untuk mengapresiasi karya seni.


Kembali ke leptop.
Tukul yang sudah menyium entah berapa orang perempuan cantik, halus kulitnya, wangi, gemulai, dan terawat khas perempuan kaya yang menjadi bintang tamu-bintang tamu di acara Empat Mata-nya—dan untuk ini terus terang saya iri sekaligus salut kepada Tukul dengan ke-PD-annya—, dari ‘gocekan-gocekan’ yang dibawakannya terasa sekali kadang-kadang memang diluar kebiasaan, lain, menabrak, liar, agak saru, sentil sana, sentil sini, dan lucu pol. Pada saat para pejuang gender kelabakan dengan pelbagai ‘bias gender’ dalam masyarakat kita, Tukul (dan Empat Mata-nya) dengan raut muka yang sedikitpun tak menunjukkan rasa berdosa, seringkali mengeksploitasi permasalahan ini menjadi arang yang menafasi acaranya.


Dalam sebuah percakapan dengan salah seorang kolega saya, sebut saja namanya Jot Bus, ia agak keberatan ketika saya mengatakan bahwa pacar teman kami, sebut saja namanya Toni Blayer, tidak cantik. “Jangan menilai orang dari fisiknya,” kata Jot Bus kepada saya ketika saya mengomentari pacar si Toni Blayer itu. Sebaliknya dengan Tukul dan Empat Mata-nya, justru malah banyak mengambil bahan dari wilayah ini. Wajah yang ndeso, katrok, ngisin-ngisin, sangunya buanyak banget—dalam ingatan saya yang pelupa ini—adalah kata-kata yang kita dengar dalam acara humor yang ditayangkan di Trans 7 tersebut.
Berdasarkan fenomena itu, maka rasa-rasanya perlulah kita melihat Tukul dan Empat Mata-nya dengan cara yang berbeda. Mungkin tidak pas kalau menilai Tukul dan Empat Mata-nya dengan segudang teori-teori komunikasi, ruang publik, dan seterusnya. Karena—meski saya belum melakukan riset yang serius dengan metodolgi yang ketat dan terjaga—Tukul dan Empat Mata-nya bukan terlahir dari sebuah perdebatan konsepsional tentang itu semua. Tukul dan Empat Mata-nya terlahir karena ia mengilhami pekerjaannya sebagai pelawak. Sebagai pelawak ia berhasil menangkap semangat zaman dan selera humor yang ada dalam masyarakat sehingga acaranya memiliki rating yang tinggi. Humor Tukul adalah humor yang khas, beda, tak biasa, dan yang terpenting: disenangi orang banyak. Humor Tukul adalah humor yang terlahir dari kenyataan, berpijak di realitas, menubuh dalam dirinya, sehingga kita semakin sulit membedakan mana yang Tukul mana yang humor. Karena jangan-jangan Tukul adalah humor itu sendiri. Tukul atawa humor? Humor atawa Tukul? Mana yang lebih dahulu? Kira-kira begitu.
Dengan analogi yang agak serampangan dapat dikatakan bahwa keunggulan Tukul inilah yang, untuk sementara waktu, tak dimiliki oleh banyak kalangan di antara kita. Sastra, boleh dikata terpisah dari publiknya. Sehingga proses bersastra bagi para pesastra bukan lagi proses kreatif yang bersatu dengan lingkungannya, tetapi kegiatan bersastra menjadi kegiatan pengalineasian para pesastra itu sendiri dari lingkungannya. Para politikus tercerabut dari konstituen yang memilihnya, karena ia sibuk dengan dirinya sendiri dan kelompoknya. Para pegiat LSM tercerabut dari akar massa yang diperjuangkannya, karena lagi-lagi, ia sibuk sendiri dengan sekian item konsepsi yang entah datang dari mana dan berharap dapat mengintrodusir konsepsi yang entah datang darimana itu ke tengah-tengah masyarakat. Para intelektual (termasuk dosen?) sibuk dengan diktat-diktat dan buku-buku teks yang sebagian besar ia dapatkan dari lembaga pendidikan yang sepenuhnya dikulak entah darimana. Orang-orang ini menjadi terasing di tengah-tengah lingkungannya.
Kembali ke leptop.
Sebagai penutup, saya pernah mendengar ucapan (lagi-lagi) dari seorang kolega, sebut saja namanya Bukan Jot Bus, “apresiasi yang baik itu adalah apresiasi yang mendorong dan kritis”. Maka dalam mengapresiasi Tukul dan Empat Mata-nya, agar tulisan ini menjadi apresiasi yang baik, atau minimal penulisnya punya niat begitu, sesuai dengan kategori yang dikatakan oleh si Bukan Jot Bus tadi, maka perlu ditutup dengan sebuah kritik. Sebenarnya tidak murni kritik saya. Saya sering tak kuat membayangkan andaikan Pak Tua tetangga saya di kampung yang baru pulang haji menonton acara Empat Mata-nya Tukul, mungkin ia akan berkomentar, “Acara ini tak sopan. Berciuman di televisi dengan orang yang bukan istrinya. Dan bla.bla..bla..” Tetapi…, zaman sudah begini tua Pak Tua, siapa yang peduli dengan tak sopan?

9 Responses to “Tukul atawa Humor? Humor atawa Tukul?”

  1. Ahmad Romadhoni Says:

    Tulisan yang menarik Bung Bosman…
    Terus terang saja, Saya merupakan salah satu di antara ribuan atau bahkan jutaan pemirsa yang “menongkrongi” Televisi (Trans 7) setiap jam 21.30 sampai jam 23.00. Saya merasa rugi jika terlewatkan untuk menonton Empat Mata-nya Thukul. Sehingga kadang-kadang saya telah merasa sebagai seorang yang mengidap “Thukulholic”, barangkali Bung Bosman juga seperti itu. Saya saat ini tinggal di wilayah yang dikelilingi oleh keluarga yang termasuk dalam kelompok marjinal. Di saat siang hari, tetangga-tetangga saya harus peras tulang banting keringat (tentu juga saya termasuk di dalamnya)untuk menafkahi keluarganya. Namun sekarang ternyata ada saat-saat membahagiakan dimana seluruh anggota keluarga berkumpul dan tertawa bersama sekedar melupakan kepenatan mencari nafkah. Bagi saya, Thukul memiliki tabungan amal jariyah yang cukup besar. Dia telah sanggup membuat orang-orang yang terpinggirkan mampu tertawa terbahak-bahak melihat lawakan yang polos dan hampir tanpa skenario. Katanya kalau bisa membahagiakan orang miskin itu pahalanya besar. Lawakan Thukul memang apa adanya, terlepas dari lawakan yang kadang-kadang saru, kasar, norak dll. Tetapi bagi saya itu semua tidak lebih saru, kasar, atau norak daripada kehidupan ini (minimal bagi tetangga-tetangga saya..). Sekali lagi, lawakan Thukul mampu membuat kita menertawakan diri sendiri. Bahkan kita harus malu kalau melihat Thukul yang dengan PeDe-nya mengeksploitasi “kekurangan-kekurangannya” sebagai modal yang bermanfaat baginya. Barangkali kita perlu mengaca pada Thukul agar kita juga mampu mengolah “kekurangan” diri kita agar bisa bermanfaat bagi kita dan orang lain. Bukankah Allah menciptakan manusia sebagai sebaiik-baiknya makhluk?. Akhir kata….Kembali ke Laptop….

  2. CakTommy Says:

    apapun analisa tentang tukul tetap lakuuu…

  3. Muli Says:

    Di satu sisi, apa yang tampil di teve adalah refleksi dari selera penonton. Jangan salahkan Tukul kalo dagangannya laku. Juga jangan salahkan penonton kalo suka yang “kampungan.” Banyak faktor lain yang menyebabkan mayoritas penduduk Indonesia seleranya “kampungan” (ini lepas dari kampungan itu “baik” atau “buruk”). Misalnya situasi pendidikan, ekonomi, dll.

    Di sisi lain, saya setuju bahwa memang ada bagian dari acara Tukul yang “tidak etis,” misalnya melecehkan perempuan. Melucu dengan cara melecehkan diri sendiri sih OK-OK saja. Tapi kalo udah melecehkan orang lain, apalagi “kaum” lain, bagi saya nggak lucu lagi.

  4. J_Wicaksono Says:

    yah..intinya segala sesuatu ada porsi dan sasarannya masing2. tidak ada yang bisa mutlak untuk semua, karena selera dan persepsi orang memang berbeda.
    termasuk tentang mas tukul dan empat mata.
    saya sangat maklum kalo jutaan masyarakat Indonesia gemar nonton empat mata. saya juga sangat maklum kalo ada yang enggak suka dengan gaya lawakannya, terutama kaum (yang katanya) intelektual.
    tapi gak usah saling menjelekkan, gak usah saling menyudutkan, toh gak ada yang dirugikan tukul to?
    jadi..
    yang gak seneng tukul ya gak usah nonton..
    yang seneng, nyantai aja kalo ada yang gak seneng..
    enjoy aja, kaya’ saya ini😀

  5. SRIYANTO Says:

    Haloo Mas tukul yang makin sukses aja Nihc? Salam kenal ya

  6. Areil Juan Subastio Says:

    mas tukul memang luaarr biasa…
    saya ngefans banget looo….
    jangan lupa mas kalo punya rejeki dibagi-bagi donk…..

  7. Wedha a.r. Says:

    Saya Wedha, illustrator majalah Hai.Saya butuh info siapa nama dan alamat fotografer yang motret Tukul di halaman ini.Tolong kontek saya di wedha_ar@yahoo.com trimakasih.

  8. cyarra Says:

    saya kiara saya membutuhkan informasi untuk montret fotografer saya butuh sekali bukan di buat mainan saya membetulkan_ informasi saya sekarang menjadi pramugari nah anda menjadi apa_ !!!!!!

    oh_ ya saya mau tau rumah anda k’ alau saya jl dewi sartika di rinjani no 4 3 – B rumah anda _


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: