Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik

Rabu, 28 Februari 2007

Oleh: Muhammad Syihabuddin
(Dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unila, Anggota Forum Lafadl Initiatives Yogyakarta)

Dalam tulisannya, Pendidikan Anti-Tukulisme (Media Indonesia, 1 Februari 2007), Paulus Mujiran mengajak kita merefleksikan satu jenis talkshow yang hari-hari ini menyedot perhatian khalayak: Empat Mata. Melalui kacamata pendidikan, tulisan Mujiran berhenti pada kesimpulan bahwa ada kekeliruan dalam pendidikan di negeri ini sehingga masyarakat begitu menggemari acara “olok-olokan”, lontaran penuh seronok, dan tertawaan yang mengeksploitasi fisik a la Tukul Arwana.
Mujiran menyebut penggemar talkshow yang dibawakan secara ngawur oleh Tukul tersebut sebagai Tukulisme. Tukulisme inilah yang dipandang Mujiran sebagai cermin dari buah pendidikan yang anti-pluralis, yang mengesampingkan penghargaan terhadap keragaman, baik agama, status sosial, cara hidup dan sebagainya. Satu jenis pendidikan yang memang masih sangat jarang kita dengar, apalagi kita temui, dalam masyarakat yang serba multi; etnis, agama, ras, bahkan kelas sosial. Olok-olokan seperti wong ndeso, katrok, kutu kupret dan sederet sumpah serapah lainnya menegaskan bekerjanya “kekerasan psikologis” terhadap mereka yang lekat dengan istilah-istilah tersebut.
Dari sudut pandang pendidikan apapun; keagamaan, etika, apalagi psikologi, Tukulisme jelas tidak mengajak pemirsa dalam berjuang meraih kualitas kehidupan. Justru yang terjadi adalah mewabahnya olok-olokan dan tertawaan tersebut di tengah-tengah masyarakat, tak hanya Jawa, ruang kultural produsen beragam istilah yang meluncur dari mulut Tukul. Bahkan temen-temen di Lampung, Medan, Samarinda, dan Palu, yang sering berkomunikasi dengan saya juga turut merayakan olok-olokan khas Tukul. Hal sama saya jumpai pada obrolan anak-anak remaja yang begitu suka pada kosakata tersebut.


Perayaan inilah yang saya kira baru mewabah di seputar masyarakat sebagai ekspresi penerimaan pada satu tren komedi yang sebetulnya tidak baru dalam dunia hiburan kita. Tren olok-olok-an dalam dunia lawakan telah diawali oleh para komedian seniornya Tukul, misalnya yang paling populer adalah Srimulat. Banyak pula komedian mutakhir yang menyontek gaya Srimulat dengan “melestarikan” tradisi olok-olokan melalui gaya dan bahasa berbeda.


Begitu pula dengan Tukul (dan segenap kru). Mereka secara “cerdas” mengemas acara lawakan dalam bentuk talkshow “hancur-hancuran”, sehingga begitu populer. Dari sisi industri entertainmen, acara ini tak lain hanyalah inovasi dari beragam tanyangan hiburan “tak berbobot” yang menjejali ruang publik kita.
Untuk melengkapi pemaparan Mujiran, amatan akan hadirnya proses pendangkalan cita rasa masyarakat akibat ruang publik yang tak lagi menyajikan aneka program yang reflektif dan edukatif, patut diketengahkan.

***
Pemaknaan ruang publik sendiri tidak selalu dirujukkan pada kerangka spatial di mana masyarakat dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara face to face. Arena dan ruang sosial, sejauh ia mampu menampung beragam entitas sosial; individu, komunitas atau perkumpulan, dengan keragaman interes, ia bisa dikategorikan sebagai ruang publik. Ruang publik bisa mewujud secara abstrak seperti media massa dan internet, bisa juga material seperti tata kota, ruang-ruang diskusi, dan seterusnya.
Konsepsi “ruang publik” (public sphere) kali pertama digagas oleh Habermas (1989). Konsep ini merujuk pada “pentas atau arena di mana warganegara mampu melempar opini, kepentingan dan kebutuhan mereka secara diskursif dan bebas dari tekanan siapapun”. Yang terpenting dalam arena tersebut mewujud komunikasi yang memungkinkan para warganya membentuk wacana dan kehendak bersama secara diskursif.

Jika ruang publik dimaknai sebagai bejana yang di dalamnya aneka kelompok sosial mampu mengomunikasikan dan mewujudkan ragam kepentingannya, maka dalam rentang waktu tertentu akan mengkristal satu budaya, dalam pengertian seluas-luasnya. Selanjutnya, akan ada kontestasi budaya di dalam tubuh ruang publik. Tugas ruang publik adalah menampung dan memberi tempat secara fair pada semua kebudayaan tersebut.Persoalannya adalah, pada masyarakat yang kompleks sekarang ini di mana masyarakat di susun oleh tiga pilar utama; negara, pasar dan masyarakat, apakah ada ruang publik yang benar-benar otonom dari kepentingan politik atau pebisnis? Budaya yang meruyak ke tengah masyarakat pun adalah budaya yang telah ditentukan oleh, baik kekutan negara ataupun pasar. Kalaupun ada yang otonom, ruang akan sangat payah untuk diciptakan atau dikelola oleh warganegara.
Kerapkali kita menyaksikan aneka kegiatan publik, seperti debat publik, seminar, dan demonstrasi yang diformat dan ditumpangi oleh kepentingan elit politik atau kaum pemodal. Bahkan, jika ruang publik itu berupa media massa yang berskala masif, baik berupa TV, koran, atau radio, tak pelak akan mengacu pada arus kapital yang bekerja di belakangnya. Masing-masing industri media memiliki logika kapitalnya sendiri. Tak jarang kompetisi mewarnai aneka media tersebut dalam rangka berebut pengaruh dan berlomba meraup keuntungan.
Seperti industri TV. Dengan sebelas stasiun TV swasta nasional, maka kompetisi yang berlangsung adalah perebutan kue belanja iklan. Celakanya, kompetisi ini berujung pada perebutan skor rating tertinggi, yakni yang paling banyak ditonton publik, karenanya belanja iklan akan tinggi. Wajar kiranya kini, banyak media yang dituduh “menghamba pada rating”, karena kebanyakan program yang disiarkan oleh TV swasta hanya mengejar rating semata. Tak peduli jika program itu berperan besar dalam pembodohan massal, memopulerkan mistisisme, atau meritualkan “budaya” olok-olokan kepada masyarakat, maka program semacam itu akan diperpanjang menjadi 250 episode, misalnya.


Mewabahnya secara cepat dan massif “budaya” Tukulisme terhadap kehidupan masyarakat kita, jelas merefleksikan betapa hebatnya dampak dari bekerjanya salah satu ruang publik berupa media TV. Merujuk pada paparan McChesney (1997) media, di tangan rezim pasar bebas, bahkan mampu mendikte aneka preferensi publik, mulai dari gaya hidup, pola konsumsi, kebutuhan barang dan jasa, sampai dengan yang bercorak politis, seperti figur pemimpin. Dengan demikian, apa yang kita tonton, selera yang kita tentukan, dan pilihan-pilihan kita, sebetulnya telah diformat dan didikte oleh kehendak pasar, termasuk saat menertawai polah Tukul ketika sedang mengolok-olok diri, tamu, dan penontonnya di acara Empat Mata.
Kapitalisasi terhadap segala macam program yang tak cerdas hampir-hampir menggelinding tanpa kendali. Ia akan mengeksploitasi dan menjual apapun asalkan pengiklan berjubel datang dan antri untuk memasang iklannya, mengiringi penayangan program itu. Mulai dari acara “mengobrak-abrik” rumah tangga selebritis, mendramatisir secara mistis jasad-jasad manusia, dan terakhir “hancurnya” si Tukul. Saya rasa, sepak terjang kapitalisme sudah terlampau jauh, bahkan terkesan keterlaluan.
Media televisi, sebagai ruang publik, justru andil besar dalam penjerumusan masyarakat pada “pendangkalan ruang publik (the swallowness of public sphere) (Piliang, 2005). Ini terjadi ketika ruang publik cenderung dibangun oleh representasi atau tindakan yang menafikan pengetahuan luas, landasan filosofis, dan moral yang kokoh. Kondisi ini juga disebabkan oleh kepentingan penguasaan ruang publik oleh strategi populer, meski popularitas tersebut menafikan pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan sesungguhnya. Lebih parah lagi, jika hal tersebut dilengkapi dengan hiburan yang “eksploitatif”.
Perayaan “kebodohan”, “kekampungan”, dan “gaptek” secara massif, akan serta merta mengikis kualitas kehidupan yang ber”selera” dan berpijak pada rasa. Sedangkan pemassalan dan pembiasaan “serapah” secara terbuka dan penuh bangga, pelan-pelan akan menggerus estetika dan juga etika di kalangan warga, lebih-lebih bagi mereka yang baru menginjak remaja.
Sudah saatnya menghentikan pencemaran pada ruang publik kita, dengan mengabaikan sama sekali aneka tayangan yang tak masuk akal, dangkal, tak edukatif, dan mendegradasi selera humor kita.

51 Responses to “Tukulisme dan Pendangkalan Ruang Publik”

  1. Alief Says:

    aku bingung mocone…. terlalu “ilmiah” banget!

  2. arsipmoslem Says:

    memang cukup ilmiah, tapi bisa jadi renungan juga dan bahan untuk pertimbangan

  3. gondy Says:

    penulisnya seperti anggota dpr aja, kok setuja-setuju dengan tulisan mujiran🙂

    gondy

  4. khoiron Says:

    Hanya mau bilang tayangan tukul jelek aja, ngomongnya dakik-dakik. Emangnya yang bisa mengatur dan menilai selera humor itu siapa? Bilang aja kamu gak suka selera humor tukul. Titik!!!!!!! Dan,aku adalah penggemar empat mata, hidup tukul….hehehe

  5. Hasan Says:

    Belum baca sampe habis, tp udah males, trlalu underestimate, mas-nya kayaknya paling baik saja, klo menurutku biasa saja lagi tayangan 4mata, jgn “nunjuk” ke Tukulnya dong mas, ya acaranya tuh…

    mas-nya kayaknya seneng liat orang susah ya?katrok, kutu kupret, ndeso, tak sobek-sobek…puas..puas…puas…

    gak usah terlalu gitu de, masih banyak kok tayangan di teve yg “lebih” drpd tayangan itu

    pada intinya, tuh menjadi bahan renungan buat pemirsa, yg pentig kita tau kok batas-batanya, olok-olokan tersebut hanya dibuat bahan bercandaan belaka, bukan buat serius2an?!?geto…

    maaf lho mas, tapi tulisannya keren banget lho…

  6. CakTommy Says:

    yang jelas tukul mewakili emosi kita (eh saya!) yang jenuh dengan topeng yang sok ilmiah…sok kritis…sok bijak…sok jaim…sok pinter apalagi suka nyeramahin orang!
    mereka yang gak jelas kontribusinya apa…namun minimal tukul membuat kita tersenyum bahkan tertawa!

    terimakasih kul, kamu telah mampu mendobrak dekadensi amoralitas yang semu! bersatulah golongan tukulisme sedunia…yang penting, puass..! puass..!!

  7. BB Says:

    Wadowww… kayaknya Bapak satu ini secara implisit pada bagian akhir tulisannya menyatakan bahwa ia punya selera humor yang “tinggi”, sehingga dengan adanya tayangan Empat Mata, selera humornya mengalami degradasi atawa penurunan. Dan inilah tampaknya yang menjadi inti dari tulisan ini. Walaaah Pak, zaman sak iki kok masih sibuk berbicara selera yang berkelas dan yang tidak? Agak ketinggalan zaman la yauw…(kali???)

  8. thomas Says:

    Bpk Muhammad Syihabuddin kyknya stres enggak dapat ruang publik yang dimaui, ntah mimbar bebas, radio bahkan televisi. Segitu banyak usahanya dari mengemis2 beasiswa untuk meraih gelar kehipokritannya itu sehingga membuatnya tidak rela seorang lulusan SMA dan mungkin cuman SMP doang sekelas Tukul merajai ruang publik yang ia idam-idamkan. Alangkah nistanya sebagai pakar telekomunikasi menjustifikasi mindstream otak mata kudanya menilai talkshow sekelas Empat Mata! Bpk Muhammad Syihabuddin yang terhormat harusnya mengkritisi segitu banyak wakil rakyat yang bebal dengan komunikasi kelas bawah sehingga lupa dengan mandatnya sebagai wakil rakyat. Atau seorang bapak Muhammad Syihabuddin seharusnya terlibat aktif kenapa bisnis televisi segitu gampangnya menjustifikasi sebuah fenomena masyarakat yang sering dikemas dalam sebuah berita, infotainment, atau efek psikologis akibat2 tayangan televisi yang dampaknya lebih parah dibanding acara Empat Mata. Anda bpk Muhammad Syihabuddin seharusnya protes dong, mengapa peristiwa kekerasan selalu kerap ditayangkan di televisi secara bebas? Apakah bangsa kita mau dididik secara repetition-psikoterapy atau apalah istilah sehingga bangsa kita jadi mental barbar?
    Sebagai sosok Muhammad Syihabuddin seharusnya berjuang membangun citra Indonesia yang sudah coreng-moreng dan selalu under-estimate dimata internasional. Bukan seorang keluguan Tukul di Empat Mata yang dikomentari. Hei.. ini demokrasi, bebas Tukul membuat acara seperti itu. Pasar suka, kenapa tidak? Talkshow Empat Mata justru membuka mata kita bahwa kemajemukan, kepluraan, keberagaman di Indonesia adalah bukan masalah, bukan aib, atau bukan penyakit! Candaan ala Tukul inilah mendidik kita semua agar kita bisa lebih dewasa! Dewasa bung… celaan bukan selalu diskredit suatu perkara.. Bukankah candaan selalu direspon dengan tawa lepas!!
    Saya ragu status Muhammad Syihabuddin ini sebagai dosen… Pandangan anda terlalu sempit sebagai ahli komunikasi…

  9. stania Says:

    Saya rasa yang dilakukan Tukul adalah memperlihatkan cermin kepada kita ttg apa yg terjadi di masyarakat.
    Ada yang merasa lebih ‘modern’ dibanding yang lain, ada kelompok masyarakat yang dianggap lebih kampungan dibanding yang lain dst. Empat Mata itu seperti mecoba gak munafik aja dan sebaliknya, malah mencoba menertawakan diri sendiri. Wah beruntung banget kita masih bisa menertawakan diri sendiri.

    Lalu, memangnya kenapa kalau ada olok-olokan di TV? Bukankah di masyarakat kita sendiri ada yang menganggap saling mengolok sebagai tanda keakraban? Seperti kebiasaan orang Betawi yang suka ‘ceng-cengan’.

    Bukan masalah olok2an yang tidak saya setujui. Yang saya tidak suka dari Empat Mata adalah humornya yang kadang keterlaluan. Misalnya saat Tukul melontarkan “mau pergi lama ya? kok bawa sangunya banyak bgt” yang merujuk pada buah dada tamunya dalam episode mengenai pembantu. Atau saat ia mengarahkan pandangannya ke dada tamunya (Ririn) saat bintang tamu Mak Erot kemarin. Ini harus jadi masukan utk tim kreatifnya Empat Mata.

    Selepas itu, ‘kekerasan psikologis’ dari Tukulisme ini menurut saya belum sampai membahayakan sekali, karena malah menyadarkan saya kalau saya juga masih katro… puas? puas?

  10. leo Says:

    jangan pakai kata ‘kita’ pak untuk menggambarkan ‘kita’ yang rentan terserang degradasi selera humor dan bapak yang akan menyelematkan nya. lebih fair menggunakan kata ‘saya’.

    dan saya termasuk yang melihat tukulisme masih banyak positifnya daripada negatifnya. menurut saya jangan melihat kata yang diucapkan, tapi rasakan maknanya.. karena maknanya saya tangkap sangat kental dengan keakraban. seperti rekan2 di jogja mengikat keakraban mereka dengan kata2 sayang ‘matamu’ ‘bedhes ki’ dsb (sepakat dengan stania)

    bisa saya katakan, ini diskursus yang menarik.

  11. sipunD Says:

    secara psikologis justru guyonan Tukul ini luar biasa. seringnya ikut2an menertawakan diri sendiri, tp lalu berbalik ‘menegur’ pemirsa dgn pertanyaan ‘puas kamu, puas?’. seketika menyentil batin sy krn udah nertawain org lain :p
    pokoknya Tukuselain menandakan Tukul org yg kuat mental (gak melempem walo sering disindir mirip monyet), tau diri (ngaku msh tergantung sama leptop), dan yg paling mengagumkan tetap rendah hati (honornya udah brp tuh skrg? pastinya mas dosen kalah jauh XD).

  12. sipunD Says:

    secara psikologis justru guyonan Tukul ini luar biasa. seringnya ikut2an menertawakan diri sendiri, tp lalu berbalik ‘menegur’ pemirsa dgn pertanyaan ‘puas kamu, puas?’. seketika menyentil batin sy krn udah nertawain org lain :p
    pokoknya Tukul udah jd tokoh antihero favorit sy skrg. selain menandakan Tukul org yg kuat mental (gak melempem walo sering disindir mirip monyet), naif (ngaku msh tergantung sama leptop, n inglishnya itu lho), dan yg paling mengagumkan tetap rendah hati (honornya udah brp tuh skrg? pastinya mas dosen kalah jauh XD).

  13. Rizki Says:

    Hayah, mbuh ah….
    Aku rak tau nonton tipi… Nontone komputer karo internet…😀
    BTW, kok comment-e kontra kabeh ya? busyettt…
    😀

  14. Putra Says:

    Wakakaa……
    Sekarang terbukti kan klo Dosen tidak selalu lebih pinter daripada lulusan SMP, SMA or cman SD, itu namanya underestimate, katro’, iri kali yeee.
    Den mase Muhammad Syihabuddin aku yakin orangnya serius en gak duwe sense of humor, persis kayak Mujiran. Gak Seneng ngeliat orang senang.
    Jangan terlalu sok ilmiah deh…., berbelit-belit..ngalor-ngidul cara pikirmu.
    Menurutku tukul tu seorang yang jenius. Quick thinking nya itu lho…..
    Selain itu ngebuat orang lain senang tu dapet pahala lho mas.

  15. Tukuler Says:

    kalo iri dengan kesuksesan tukul, jangan banyak bacot..

    Bagi tukulers, daripada baca komentar yang aneh mending klik web tukul…
    http://www.empatmata-too.coolhere.com

    Hidup tukul

  16. wahyu Says:

    Sok ilmiah banget tai kucing, tukul murni hiburan, humor, komedi, kalo mau nambah pengetahuan ya nonton aja national geographic, berita dll masih banyak pakde, kalo mau hiburan segar ya nonton tukul gak usah jauh2 mikirnya, masih banyak yg perlu dipikirin lebih serius daripada lo mikirin si tukul yg jelas2 menghibur, hidup Tukuuull, EMPAT MATA😀 Merdeka

  17. ogi Says:

    Tukul ada kan untuk menggilas pemikiran2 model nih dosen, yang merasa dirinya (intelektual, cerdas, pinter, berpendidikan, lebih tinggi derajatnya), yg pada satu saat untuk ngomong sama orang pun dia milih yg di anggap selevel inteleknya ama dia. model2 gini nih yang bikin ancur kalo sampe jadi pemimpin, banyak pemimpin2 negri ini yg modelnya kayak ini dosen. gerus terus otak2 kayak gini, tonton TUKUL aja😀 hehehehe, fish to fish, no limit

  18. dodo Says:

    Selamat anda sudah terkena gejala tukulisme dengan rela meluangkan waktu menulis artikel sepanjang ini

  19. manusiasuper Says:

    Tukul justru melawan stereotif yang ada itu pak, dengan menjadikannya bahan cari duit!

  20. bukan basa basi Says:

    dua pertanyaan untuk bapak muhammad syihabuddin:
    1.udah pernah nonton EMPAT MATA kan sebelum bikin tulisan ini?….jangan-jangan gak pernah nonton tuh,kan susah!
    2.trus klo dah pernah nonton,jangan-jangan situ juga demen banget lagi ma ni acara!!hayo ngaku??aku tanyain ke istrinya y?……………..NYONYA SYIHABUDDIN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  21. Helmi Says:

    Yth. Bp. Muhammad Syihabuddin, sudah lah…daripada bapak mikirin urusan beginian mending Bapak mikirin urusan lain yg lebih penting dan bermanfaat buat bangsa ini. Kayak nggak ada kerjaan lain aja!

  22. much Says:

    DI SETIAP ADA ORANG YANG MENCAPAI KESUKSESAN ORANG LAIN YANG SEBELUMNYA MEMANDANG SEBELAH MATA AKAN MENAMPAKAN 4 MATA DIRINYA DIRINYA UNTUK DAPAT MANFAAT DARI KESUKSESAN ORANG TERSEBUT KLO ISTILAH TUKUL JADI BENALU…,BILA DENGAN SECARA BAIK2 DIA TIDAK BISA MEMANFAATKAN(MISAL DI UNDANG JADI BINTANG TAMU..) MAKA CARA SEBALIKNYA YANG AKAN DILAKUKAN DENGAN DIEMBEL-EMBELI KRITIKLAH,SARAN DAN KATROK2NYA(TUH..KAN).
    COBALAH BERCERMIN PADA DIRI SENDIRI,JADILAH DIRI SENDIRI SEPERTI TUKUL APA ADANYA NDESO.JANGAN SOK INTELEKTUAL TAPI MASIH BENER2 KATROK,NDESO BAHKAN KUTU KUPRET BELUM BISA JADI DIRI SENDIRI.MENDING BALIK AJA KE POHON.PUAS..PUAS…PUAS…..!

  23. dani Says:

    Kesian mahasiswa yang dikuliahin dosen ini, pandangannya jadi sempit(ikut2 an jadi kantrok ndeso),malu2 in kampus lo aja publish artikel gak mutu data, fakta, perspektif, analisa, teori tidak jelas tidak pada tempatnya, dosen cap opo iki, tak sobek2 mulutmu sini

  24. gembel Says:

    Cap Taek

  25. sastro Says:

    wah pantesan pemerintahan kita amburadul, taruna2 STPDN pada bunuh2an… lha wong dosen ilmu pemerintahannya kayak gini pandangannya. Iri, dengki dan sok ilmiah. Malu2in unila saja. Untung sampeyan ga ngajar di UI atau UGM, wis di geguyu mahasiswa hahahha…

  26. mbokdhe Says:

    Jujur saja, waktu awal2 booming acara ini, saya tergerak untuk mencari lewat Youtube. Pertama2 memang menghibur, membuat kangen negeri sendiri dengan guyonan (nyek2an?) khas Indonesia.

    Lama2 saya merasa kasihan dengan bintang tamu yang tidak pernah diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan secara serius. Lha gimana, dikit2 udah dipotong dengan olok2an ala Tukul. Dan saya YAKIN perhatian penonton yang akhirnya lebih banyak tersedot ke celetukan2 Tukul daripada jawaban bintang tamu. Maka bintang tamu pun terpaksa menyesuaikan gaya menjawabnya dengan gaya Tukul.

    Sebagian penonton barangkali bersimpati pada masa lalu Tukul, lalu jatuh cinta pada Empat Mata karena guyonannya yang tidak mumbul2, mudah dicerna, menjadikan diri sendiri sebagai bahan nyek2an, dll. Produser acara ini pun terus memanggil artis2 beken (keroyokan lagi!) supaya rating tetap tinggi.

    Empat Mata lumayan menghibur jika akal sehat Anda masih bekerja dengan baik. Tapi bagaimana dengan orang2 yang tidak seberuntung Anda, yang menelan mentah2 joke2 yang dilontarkan Tukul dan menyebarkan bahkan mengamalkan faham Tukulisme ini?

    Saya meramalkan Empat Mata ini tidak akan bertahan lama sekali, sampai puluhan tahun ke depan misalnya. Jika Empat Mata ini masih akan ditayangkan sampai 10 tahun ke depan dengan format yang sama, saya akan jadi orang pertama yang bertepuk tangan, sekaligus bersedih karena produser acara ini masih terus punya niat membodohi rakyat.

    Salam damai.

  27. paij Says:

    wah…kok komentar-komentarnya makin lama kok jadi kasar ya…sama-sama katrok dan ndesonya dong…

  28. cuenk Says:

    sante ae mas….
    nek kepengin masyarakat berkualitas, ojo opini thok..
    bikin TK opo SD gitu lho bareng konco2 sesama perkumpulan..sampeyan sing dadi Kepsek-e..

    ojo wedi kere….

    bejo

  29. gembel Says:

    27:1, 27 Kontra eh baru 1 yang pro

  30. meneketehe Says:

    kesimpulannya… ternyata mas syihabuddin ini juga menggunakan cara yang sama dengan empat mata.. membuat opini yang kontroversial (dengan mengenyek tukul) untuk menarik minat dan juga bisa beriklan secara terselubung.. jadi, karakter-nya juga sama meskipun pendidikannya berbeda


  31. […] yang sangat bagus di sebuah blog wordpress yang membahas Tukul dengan menghubungkannya dengan Pendangkalan Ruang Publik. Selain itu di blog itu ada tulisan juga tentang Tukul : Tukul atawa Humor ? Humor atawa Tukul ? […]

  32. gembel Says:

    Lah omongannya Paulus Mujiran kok diturut, MUJIRAN kan juga wong ndeso sodaranya TUKIRAN, TUKIYEM ama Mbak YEM, cuman Paulus MUJIRAN gak mau mengakui ke ndeso an nya, kalo wong ndeso ya jangan menghakimi wong ndeso temen sendiri Pak e, Lek Mujiran ndang tobat kowe iku teko ndeso ilingo karo asalmu, ojo kacang lali kulite

  33. pendukung tukul Says:

    Halah, tukul aja kok di permasalahkan toh mas🙂 si tukulkan cuman menghibur, kalo mas ngga suka ya nonton yg laen lah, jgn nulis2 yg ngga penting banget kayak gini. Mending kritik tuh pemerintah😀 ato mas ngga berani yah, beraninya cuman ngeritik tukul….puas…puas…puas kamu kampret.

    Please keep your dirty brain save dude.

  34. dwiagus Says:

    yang jelas, Pak Mujiran gak bisa membedakan antara olok2 just kidding yang menambah erat keakraban dengan olok2 dalam konteks kekerasan psikologis,…. dan diaminkanjuga oleh mas penulis artikel ini.
    CUkup menyedihkan.
    gak biasa bergaul ndeso sih,… keseringan di menara gading ya,….. sekali2 bergaul dong ama orang ndeso, jelas mereka punya kearifan dan tingkat moral yang menakjubkan kalau mau dicermati..

  35. anakgendut Says:

    seharusnya sih anda cerdas
    tapi sayang tulisan anda hanya menunjukkan anda sudah diberi kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi, tapi ternyata sia sia karena anda ngga berfikiran sempit, punya kreativitas, kurang gaul, mau menang sendiri dan tentunya sombong
    yang kayak gini nih yang akhirnya jadi pendukung setia FPI, FBR dll
    biarpun acara Tukul di empat mata masih bisa lebih baik lagi, tapi itu sudah pencapaian yang luar biasa untuk seorang Tukul Arwana. tolong hal itu dihargai
    selain itu, humornya bersifat satire di tengah kehidupan masyarakat indonesia yang seba ditutupi topeng (dan saya yakin anda & lingkungan anda begitu)
    silakan introspeksi diri lebih dalam mas, dan saya sarankan anda lebih banyak membaca.
    ngga semua yg lu denger dari buku agama itu bener
    wakakakaka

  36. anakgendut Says:

    seharusnya sih anda cerdas
    tapi sayang tulisan anda hanya menunjukkan anda sudah diberi kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi, tapi ternyata sia sia karena anda berfikiran sempit, ngga punya kreativitas, kurang gaul, mau menang sendiri dan tentunya sombong
    yang kayak gini nih yang akhirnya jadi pendukung setia FPI, FBR dll
    biarpun acara Tukul di empat mata masih bisa lebih baik lagi, tapi itu sudah pencapaian yang luar biasa untuk seorang Tukul Arwana. tolong hal itu dihargai
    selain itu, humornya bersifat satire di tengah kehidupan masyarakat indonesia yang seba ditutupi topeng (dan saya yakin anda & lingkungan anda begitu)
    silakan introspeksi diri lebih dalam mas, dan saya sarankan anda lebih banyak membaca.
    ngga semua yg lu denger dari buku agama itu bener
    wakakakaka

  37. FansTukul Says:

    Kalau mau yang serius tampil aja di TVRI tiap hari ada kok acara dialog. hasilnya…. gak ada yang nonton!
    Orang indonesia udah lelah di jejeli sinetron yang penuh tangis, darah, dendam atau derita korban bencana jadi acara ini bisa jadi alternatif dari kebosanan masa.
    Salut mas Tukul yang sukses dan tenar menggantikan AA Gym.

  38. AVANT Says:

    HEHEHE

  39. zzzzzzzzzzzzzz Says:

    wah…. hebat nih mas Muhammad Syihabuddin….
    kontraversi yang dilayangkan oleh para komentator buanyaaaaak…
    sedikit saya sependapat oleh mereka ketika saya merasa jenuh oleh pekerjaan dan rutinitas, namun…
    miris rasanya kalau kita melihat anak-anak kita saling memperolok seperti tukul….

  40. wahid Says:

    persoalan yang terjadi sebenarnya adalah Tukulisme itu sangat bermanfaat untuk kita ambil hikmahnya, terutama dalam dunia pendidikan. mengapa demikian, hal ini lantaran kecenderungan orang yang mulai berfikir bahwa kejelakan yang ada pada diri orang lain adalah sanggat nista, tetapi kejelekan pada diri sendiri tidak pernah diperlihatkan. ini mengandung pengertian bahwa sesungguhnya memformat pendidikan yang demikian ala tukulisme tidaklah mudah. bagaimana membuat orang tidak mudah tersinggung dengan sebuah kritik yang datang dari orang lain, apalagi kritik itu jelas sebagai sebuah penghinaan.
    perlu ditekankan bahwa perlu adanya sinkronisasi antara pendangkalan ruang publik dengan beberapa manfaat yang dapat diambil dari sebuah tayangan empat matanya tukul.

  41. Perboden Says:

    Anda menulis:

    Sudah saatnya menghentikan pencemaran pada ruang publik kita, dengan mengabaikan sama sekali aneka tayangan yang tak masuk akal, dangkal, tak edukatif, dan mendegradasi selera humor kita.

    tayangan yg tidak masuk akal – ini akal siapa? Kalau tayangan ‘cemas’, dan juga tayangan pembuktian gaib di Lativi itu masuk akal siapa? bagi yg supranaturalist, hal tersebut masuk akal, tapi bagi yg lain mungkin tidak..

    tayangan yg dangkal – dangkal dalam konteksnya apa? apakah tayangan2 sinetron itu dangkal?

    tak edukatif – tayangan sinetron? acara2 mistik yg dikemas dalam bungkusan religius. Itu sangat tidak mendidik!

    mendegradasi selera humor kita – memangnya selera humor kita setinggi apa? kemampuan menertawakan diri sendiri saja tidak bisa..perlu seorang yg berjiwa besar untuk bisa menertawakan diri sendiri. Terlalu arogan untuk mengatakan bahwa selera humor kita itu tinggi dan menonton Tukul itu membuat selera humor terdegradasi…

    Hm….bung penulis yang baik, coba sebutkan tayangan di teve kita yang:

    edukatif dan masuk akal dan ‘tidak dangkal’ dan mempunyai selera humor yang tinggi.

    ada nggak?

  42. tri m s Says:

    loh… dosen toh… tak kirain mahasiswa tingkat satu yg ndak naek2 tingkat…

    jangan cuma bisa buat tesis a.k.a kritik, tp buktiin klo dirimu sudah mengaplikasikan ilmu-mu bagi kepentingan umum… jd dari pada buat tesis yg ngeritik rejeki orang, mending buat cerita tentang keberhasilan-mu di suatu bidang/kegiatan.

    selain itu belajar juga menertawakan diri sendiri dan menurunkan sedikit status kasta-mu…

    jd kasian… udah cape2 buat tesis yg menghujat orang laen skr malah dihujat

  43. cool_dan Says:

    Sekali sekali nonton tukul ga ada salahnya, lha wong menghibur koq pak de!! tapi ane juga ngga salahin pemikiran ente pa dosen, kalo saben ari nonton tukul ya bisa juga nurunin selera humor, abis humornya monoton dan betul agak kurang mendidik terutama kalo ditonton ama anak-anak (itu menurut ane lho bos…) buat pa dosen, terus ya berfikir kritis, tapi jangan ama tukul doang dong, pemerintah kita lebih perlu dikritik. buat penggemar tukul, jangan marah yo dab!

  44. gembel Says:

    tukulisme dan pendangkalan otak Mujiran(Jeneng Ndeso markeso)

  45. atiklarasati Says:

    mungkin ada benarnya apa yg ditulis, tapi coba kita lihat dari kaca mata sederhana, paling tidak acara “empat mata” memberi kita alternatif tontonan ringan, diluar sinetron yg mendominasi acara tv2 kita.
    dan bagi saya sendiri itu sekedar hiburan yg kita tdk perlu terlalu serius dalam menanggapinya
    just enjoy it —–

  46. FREDY Says:

    Dunia acara tukul adalah yang anti kemunafikan anti kepura-puraan. Semua dari kita memang katro, memang kutu kupret, memang ndeso. Banyak orang munafik dengan gengsi menyebut dirinya ndeso, katro dll padahal pplah mereka bener2 ndeso. Mereka cenderung bergaya modern dan kekota-kotaan suapaya dibilang gaul ,keren, gaya, modis dll. Di acara tukul ini kita bisa melihat banyak hal yang mewakili masyarakat kita apa adanya tanpa ditutup-tutupi dengan kemunafikan2 dan kepura2an.

  47. adhie Says:

    mas ga usah berlebihan gitu melihat kmajuan seorang tukul arwana,dia spt orang kbanyakn yg mengadu nasib k kota dan brhasil,ga usah di anggap serius ini hanya hiburan semata dan trend itu ga ada yg lama pasti berubah2.kita nikmati aja hiburan yg bisa mbuat kita tertawa dan mrasa thibur.”JGN TERLALU BERLEBIHAN ITU HANYA HIBURAN/KOMEDI”

  48. J_Wicaksono Says:

    Din..Syihabuddin..
    perkenalkan, aku salah satu pengungsi korban lumpur Porong Sidoarjo yang sangat beruntung masih bisa nonton empat mata, meskipun satu tivi dipake puluhan orang. aku juga beruntung masih bisa ngirim komentar ini..
    begini lho Din..
    sebagai salah satu dari masyarakat yang (saat ini) sedang teraniaya, saya cuma mau ngasih tau ke sampeyan, bahwasannya buat kami, para pengungsi, tayangan empat mata ibarat guyuran air segar di padang pasir yang kering dan terik. jadi menurut kami mas tukul itu jaaaaauuuuuh lebih berguna dan ada artinya dari pada orang2 yang notabene seharusnya bisa membantu kami, tapi enggak punya action sama sekali..
    trus sekarang Din, kalo sampeyan punya analisa seperti itu, saya mau nanya, memangnya apa yang sudah bisa sampeyan perbuat (dan bermanfaat!!!) bagi rakyat indonesia sampai saat ini? apa Din???
    owalah Din..Din..
    O iya satu lagi Din..
    sampaikan pada mentormu si Mujiran..
    kami enggak perlu analisa dari kacamata pendidikan, atau dari orang yang hanya bisa mendidik.
    yang kami perlukan hanyalah sesuatu yang praktis, bermanfaat dan nyata…

  49. zee Says:

    sdh beberpa hari ini sy ntn 4 mata.. tayangan nya hanya menghibur ga lebih ga kurang.. saya bs tertawa ngakak dgn adik2 saya.. tp jg sedih.. knp ya indonesia (diwakili olh tukul) hanya bs mengolok olok diri sendiri.. termasuk sy yg berada dlm konteks rakyat indonesia..

  50. Jarot Says:

    Pak Mujiran,
    waduh…coba di lihat sisi baik atau pem-belajaran dari acara talk show nya Mas Tukul….. teman – teman dari sekantor dan kantor lainnya , temen dari kampung dulu yang merantau merasa ada satu hal yang bisa di tarik kesimpulan yang begitu dasyat dari acara nya mas Tukul yaitu… keterbukaan serta kejujuran yang hampir punah pada diri kita semua….. send me email whenever you want , I will give my mobile number and we can discuss

  51. gembel Says:

    Jarot(Pak Jrot) says “sdh beberpa hari ini sy ntn 4 mata.. tayangan nya hanya menghibur ga lebih ga kurang.. saya bs tertawa ngakak dgn adik2 saya.. tp jg sedih.. knp ya indonesia (diwakili olh tukul) hanya bs mengolok olok diri sendiri.. termasuk sy yg berada dlm konteks rakyat indonesia..” ngomongmu pakde ketinggian, sapa yang bilang ngolok2 tukul=ngolok2 indonesia ?? sejak kapan? nambah satu lagi anak buah mujiran, mikir itu yg praktis aja gak usah terlalu dramatisir, cuma tinggal duduk nonton tukul trus ketawa, itu cuman joke, oeh bangun pakde, ini murni humor mikir pake politis segala, nonton dialog TVRI sana


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: