Asia Tenggara: Bangun Pengetahuan dan Realitas

Kamis, 8 Februari 2007

(Berikut ini adalah paper yang disampaikan Muhadi Sugiono dalam Diskusi Forum Lafadl, 5 Februari 2007)

Asia Tenggara: Bangun Pengetahuan dan Realitas

Oleh: Muhadi Sugiono (Dosen di Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UGM)

Review:
Locating Southeast Asia: Geographies of Knowledge and Politics of Space, ed. By Paul H. Kratoska, Remco Rabes and Henk Chulte Nordholt, Singapore and Athens, OH: Singapore University Press and Ohio University Pres, 2005, pp. Xi, 326, index.

Asia Tenggara saat ini seringkali tidak lagi dipahami sebagai sebuah konsep abstrak, melainkan cenderung dianggap sebagai sebuah realitas, baik oleh mereka yang berada di dalam maupun di luar ‚Asia Tenggara‘. Buku Locating Southeast Asia (2005) berangkat dari upaya untuk mempertanyakan keberadaan Asia Tenggara sebagai realitas tersebut. Buku ini berusaha mengkaji Asia Tenggara dengan melihat perkembangan historis maupun makna yang terkait dengan Asia Tenggara sebagai sebuah konsep abstrak. Hasilnya adalah sebuah kumpulan tulisan dengan perspektif yang sangat beragam, tetapi dengan satu ‚kesepakatan‘ bahwa Asia Tenggara bukanlah sebuah realitas yang mapan, melainkan sebuah realitas yang terbentuk dari berbagai ragam kebijakan politik, baik internal maupun eksternal ‚kawasan‘ tersebut. Bab yang ditulis oleh Heather Sutherland mungkin merupakan tulisan yang secara konseptual merangkai dan mewakili upaya untuk mengkaji ulang pemahaman kita mengenai Asia Tenggara. Dalam tulisannya, Sutherland berusaha menekankan hakekat Asia Tenggara sebagai sebuah perangkat yang kontingen (contingen device).Konsep contingen device ini digunakan pertama kali oleh Sanjay Subramanyam dalam tulisannya untuk mengkaji secara kritis asumsi mengenai Asia Tenggara sebagai sebuah kesatuan. Sebagai sebuah perangkat, Asia Tenggara bukanlah sebuah fakta atau realitas objektif, melainkan hanya sebuah kategori ‚chosen or created to frame an argument‘ (Hal. 21). Atribut kontingen berarti ‚…ist value depends on how appropriate it is to the task in hand, that is, the extent to whicxh it can encompass both the question being asked and the relevance evidence available‘ (Hal. 21).
Dari sejarah perkembangannya, tidak dapat dipungkiri, Asia Tenggara memang lebih merupakan sebuah perangkat kontingen. Tetapi, melihat Asia Tenggara semata-mata sebagai sebuah perangkat kontingen memiliki bahaya yang cukup signifikan. Konsep ini gagal menangkap dinamika yang berkembang dari konsep abstrak yang bernama Asia Tenggara. Akibatnya, pemahaman terhadap Asia Tenggara cenderung konservatif dan tidak beranjak dari pemahaman yang melihat Asia Tenggara sebagai obyek yang bisa dikendalikan ataupun bahkan dieksploitasi, bukan sebagai subyek yang independen dan memiliki kontrol atas dirinya sendiri.

Asia Tenggara sebagai perangkat kontingen
Sebagai sebuah perangkat kontingen, sejarah kemunculan Asia Tenggara sangat terkait dengan sejarah ekspansi Eropa ke berbagai belahan dunia. Pengetahuan tentang Asia Tenggara berada dalam kerangka geografi kolonialisme. Para ilmuwan (yang sebagian besar adalah pegawai negeri di daerah-daerah koloni) mengembangkan pengetahuan tentang Asia Tenggara karena kebutuhan akan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat di daerah-daerah koloni di satu pihak, dan ketidak tersediaan informasi tersebut di pihak lain.
Hakekat Asia Tenggara sebagai perangkat kontingen ini terus berlanjut setelah masyarakat di ‚Asia Tenggara‘ memasuki kemerdekaan. Sekalipun menentang kolonialisme, para pemimpin cenderung melanggengkan warisan-warisan kolonial yang mereka terima. Legitimasi kekuasaan (teritorial), misalnya, bukan hanya cenderung mengikuti tetapi bahkan memperkuat logika kemunculan Asia Tenggara dalam kerangka kolonialisme. Dengan kata lain, terdapat kesinambungan dalam pemahaman mengenai Asia Tenggara antara periode kolonialisme dan periode pasca kemerdekaan.
Berkembangnya Perang Dingin sekali lagi menempatkan Asia Tenggara semata-mata sebagai perangkat kontingen. Dalam persaingan Timur – Barat, Asia Tenggara menjadi sebuah konsepsi strategis. Sementara bagi Uni Soviet, Asia Tenggara merupakan salah satu askes utama untuk menguasai Asia, Amerika menempatkan Asia Tenggara sebagai benteng pertahanan untuk membendung ekspansi Uni Soviet. Kekhawatiran akan efek domino berkuasanya komunisme di Indocina telah mendorong Amerika untuk memberikan perhatian yang sangat besar kepada kawasan ini, bukan hanya secara militer dan ekonomi, tetapi juga secara ideologis. Dalam artian yang terakhir, Asia Tenggara menjadi show case keberhasilan kapitalisme yang digambarkan melalui keberhasilan negara-negara di kawasan ini untuk menjadi macan-macan ekonomi.
Bab-bab yang mengikuti bab yang ditulis oleh Sutherland juga menggambarkan dengan baik karakter perangkat kontingen Asia Tenggara ini dari perspektif-perspektif bukan Eropa. Wang Gunwu dan Shimizu Hajime, misalnya, melihat bagaimana China dan Jepang memiliki perspektif sendiri tentang Asia Tenggara dan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap konstruksi Asia Tengggara. Perspektif internal dari dalam ‚kawasan’ juga melihat Asia Tenggara juga tidak lebih daripada sebuah perangkat kontingen, seperti dijunjukkan oleh Gunwu (tentang Singapura), Winichakul (Thailand) dan Diokno (Filipina).

Asia Tenggara sebagai bangun pengetahuan
Tidak dapat dipungkiri, Asia Tenggara sebagai sebuah perangkat kontingen memiliki konsekuensi penting bagi perkembangan Asia Tenggara sebagai sebuah bangun pengetahuan. Seperti diuraikan di atas, kebutuhan akan pengetahuan mengenai daerah-daearh jajahan telah menghasilkan ‚ahli-ahli’ kawasan, termasuk Asia Tenggara. Sekalipun hakekat pengetahuan yang mereka akumulasikan sangat utilitarian, dalam arti untuk mendukung kebijakan kolonialisme, kontribusinya bagi perkembangan Studi Asia Tenggara sangat besar. Setelah berakhirnya era kolonialisme, studi Asia Tenggara semakin diperkuat oleh kebutuhan strategis (termasuk geopolitik) selama berlangsungnya Perang Dingin. Asia Tenggara menjadi fokus perhatian yang sangat intensif seperti terlihat melalui berdirinya berbagai jurusan, pusat studi ataupun institut Asia Tenggara.
Sebagai sebuah bangun pengetahuan pada dasarnya studi tentang Asia Tenggara muncul dalam dua bentuk yang secara ontologis sangat bertentangan: eksistensialis dan non-eksistentialis. Yang pertama, adalah studi Asia Tenggara sebagaimana yang berkembang dari disiplin sejarah dan diadopsi oleh disiplin-disiplin lain seperti misalnya geografi dan ilmu politik. Disiplin sejarah memberikan pemahaman mengenai Asia Tenggara sebagai sebuah kategori dan klasifikasi dengan segala kepastian dan strukturnya. Perbedaan pemikiran diantara para sejarawan bukannya tidak ada. Perdebatan antara Anthony Reid (1988, 1993) dan Victor Lieberman (1995), misalnya, secara jelas menggambarkan perbedaan pemikiran ini. Tetapi, perbedaan antara Reid dan Lieberman pada dasarnya lebih bersifat metodologis daripada epistemologis, apalagi ontologis. Keduanya cenderung memahami Asia Tenggara sebuah entitas obyektif, sebagai sebuah kategori atau klasifikasi. Keduanya hanya berbeda dalam hal pemahaman mengenai struktur kekuasaan. Sementara Anthony Reid menekankan pada peran laut, Lieberman lebih menekankan pada peran daratan (mainland) sebagai sumber sebagai penyatu Asia Tenggara.
Bangun pengetahuan yang kedua, yang non eksistensialis, melihat Asia Tenggara lebih dari dalam ke luar, yakni melalui komponen-komponen di dalamnya. Asia Tenggara bukanlah merupakan sebuah kategori yang sebenarnya atau independen, melainkan merupakan ekstrapolasi dari fokus ilmuwan studi kawasan terhadap fenomena-fenomena lokal yang lebih spesifik. Bangun pengetahuan yang non esensialis tentang Asia Tenggara ini berkembang dari disiplin Antropologi. Indikasi dari pemahaman mengenai Asia Tenggara yang non esensialis ini adalah minimnya karya-karya antropologis yang memusatkan perhatian pada Asia Tenggara secara keseluruhan. Studi Asia Tenggara, oleh karenanya, lebih banyak didominasi oleh perbedaan dan keragaman daripada kesamaan kultural. Dalam kategori inilah, studi tentang Asia Tenggara banyak didominasi oleh misalnya para Indonesianis, Vietnamologis, ahli Tailand dan seterusnya. Mereka cenderung hanya memberikan perhatian pada masyarakat yang menjadi fokus kajian mereka dan tidak berusaha untuk memperluas fokus ke masyarakat-masyarakat yang tetangganya.

Asia Tenggara: perspektif emansipatoris
Perkembangan Asia Tenggara dari semata-mata sebagai sebuah perangkat kontingen menjadi sebuah bangun pengetahuan saat ini tengah mengalami titik balik. Sementara kebutuhan terhadap Asia Tenggara sebagai perangkat kontingen mungkin tetap tinggi, Asia Tenggara sebagai sebuah bangun pengetahuan bukan hanya dianggap tengah mengalami kemandegan, tetapi juga semakin dipertanyakan. Perubahan-perubahan global yang memiliki implikasi pada pergeseran kategori-kategori analisis menjadikan konsep-konsep abstrak, termasuk Asia Tenggara harus ditinjau ulang. Pergeseran identitas dan kategori ini jelas memberi pengaruh yang sangat besar terhadap makna Asia Tenggara. Tantangan kedua terhadap Asia Tenggara sebagai bangun pengetahuan adalah pergeseran konsepsi ruang (dan waktu) dari eurosentris ke arah yang lebih pluralis.
Tantangan-tantangan di atas memiliki dua implikasi yang sangat berbeda. Di satu sisi, Asia Tenggara dalam artian bangun pengetahuan yang tradisional mungkin tidak lagi menempati posisi yang penting dalam pengajaran ataupun riset di lembaga-lembaga akademik. Tetapi, perkembangan ini tidak sepenuhnya harus dipahami sebagai perkembangan yang negatif. Terdapat kecenderungan yang sangat kuat untuk memahami Asia Tenggara dengan cara yang berbeda, misalnya melalui aspek gender, pembangunan, demokrasi dan sebagainya. Dengan cara ini, Asia Tenggara bukan hanya menjadi sebuah sosok yang sangat berbeda dari yang kita pahami sebelumnya, tetapi lebih dari itu Asia Tenggara bukan lagi merupakan sosok tunggal yang mewadahi semua aspek (Jackson, 2003). Asia Tenggara dalam perspektif gender, mungkin berbeda dari Asia Tenggara dari perspektif demokrasi dan demokratisasi, gerakan sosial atau entisitas. Sebagai bangun pengetahuan, oleh karenanya, Asia Tenggara lebih bersifat pluralis.
Perkembangan sejarah Asia Tenggara dari semata-mata perangkat kontingen menjadi bangun pengetahuan pada dasarnya tidak merubah posisi dan peran Asia Tenggara dalam konteks hubungan kekuasaan di tingkat global. Dalam berbagai periode sejarah yang berbeda tersebut, Asia Tenggara tidak lebih daripada sebuah objek yang siap diberi makna dari luar, sekalipun dengan cara yang sangat berbeda baik dalam artian eksistensialis maupun non eksistensialis. Salah satu dampak positif yang mungkin muncul dari kecenderungan ke arah pluralisme dalam memahami Asia Tenggara adalah terbukanya peluang emansipasi, yang memberikan peluang dan pilihan kepada masyarakat untuk menjadi dan mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari Asia Tenggara atau tidak. Dalam konteks ini, masih harus dilihat apakah ambisi ASEAN untuk membangun Komunitas ASEAN (dalam bidang ekonomi, keamanan maupun sosial budaya) menggambarkan keinginan anggota masyarakat yang selama ini dianggap sebagai masyarakat Asia Tenggara. Yang jelas, bukannya tidak mustahil, dari sebuah konstruksi ekternal, Asia Tenggara berkembang menjadi sebuah realitas, sebuah identitas yang bukan hanya melekat, tetapi juga dengan bangga diadopsi oleh mereka yang merasa menjadi bagian dari Asia Tenggara.

Kepustakaan
Jackson, Peter A., 2003, ‘Space, Theory, and Hegemony: The Dual Crises of Asian Area Studies and Cultural Studies,’ Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, 18, 1-41.
Lieberman, Victor, 1995, ‘An Age of Commerce in Southeast Asia? Problems of Regional Coherence – A Review Article,’ Journal of Asian Studies, 54/3, 796-806.
Reid, Anthony , 1988, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Vol. 1: The Lands Below the Winds, New Haven, Yale University Press.
____________, 1993, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Vol. 2: Expansion and Crisis, New Haven, Yale University Press,

One Response to “Asia Tenggara: Bangun Pengetahuan dan Realitas”

  1. putri-bali Says:

    it’s a nice site. keep on updating, i love to read much…
    bikebali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: