TAMU DARI KUDUS

Selasa, 2 Januari 2007

Tanggal 1 januari 2007 kemaren, kami kedatangan serombongan tamu dari luar kota. Mereka adalah anak-anak PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang Kudus. Rombongan berjumlah sembilan orang itu dipimpin oleh Mustaqim, ketua PMII Cabang Kudus sekaligus alumni Bengkel Kerja Budaya yang diselenggarakan Lafadl dan Desantara beberapa waktu lalu. Mereka bersembilan datang ke Jogja demi menimba ilmu dan ngangsu kawruh, demikian menurut pengakuan mereka. Meskipun demikian, semangat berlibur dan berwisata ke Jogja tetap tidak bisa disembunyikan dari wajah-wajah mereka. Sebelum tiba di Lafadl, mereka singgah sejenak ke sebuah penerbitan di Jogja.


Anak-anak PMII itu datang ke kantor kami sekitar jam 3 sore. Tidak semua awak Lafadl ada di kantor saat itu, yang ada cuma Sobirin, Nunung, Sohib, Heru, dan Bosman. Pada pertemuan tersebut, Mustaqim—ketua rombongan– mengatakan bahwa mereka ingin mengaktifkan kembali badan otonom PMII Kudus yang bernama LSIK (Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan) yang, dalam bahasa mereka, merupakan wahana untuk menampung minat dan bakat anak-anak PMII dalam hal wacana dan diskusi. Persoalan yang mereka hadapi kini, menurut mereka, adalah kurangnya minat berdiskusi di kalangan aktivis PMII Kudus, ditambah lagi dengan kurangnya akses terhadap buku. Untuk itulah mereka mengadakan muhibah ke Jogja guna menemui dan berkunjung ke sejumlah Lembaga.


Kepada Lafadl, mereka berharap bisa menimba ilmu dalam membangun sebuah lembaga. Sungguh, kami merasa tidak enak hati dan bahkan malu atas permintaan mereka tersebut. Sebagai sebuah lembaga, kami bukan lembaga mapan yang sudah mampu memberikan serangkaian tips dan petunjuk. Jelas, kami tidak jauh lebih baik dari mereka, juga tidak jauh lebih pintar. Karena itu, kami tak banyak memberi wejangan. Karena memang tidak punya wejangan, dan juga tidak perlu. Yang dilakukan kemudian adalah berbagi pengalaman, sebab dari pengalaman –diri kita maupun orang lain—kita bisa juga belajar. Kami lantas hanya menceritakan tentang mengapa Lafadl pada mulanya didirikan, kenapa kami perlu kumpul-kumpul, dan bermain-main dengan ini-itu. Kami ngobrol tidak lama, cuma sekitar satu jam. Apa yang bisa dibicarakan tentu sangat minimal. Entah kenapa mereka seperti tampak ingin buru-buru cabut, mungkin karena pengen segera jalan-jalan di kota Jogja itu tadi. Lepas dari itu, keinginan merka untuk belajar tetap perlu dihargai dan terus didorong.

Mustaqim dan kawan-kawan sendiri mengatakan bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari pertemuan yang jauh lebih panjang untuk bekerja bersama-sama membangun jaringan dan mendorong lahirnya aktivis yang kritis. Kami senang dengan itu. Sebab kami sangat sadar bahwa untuk mewujudkan cita-cita, kami tak bisa bekerja sendiri. Kami harus bekerjasama. Bekerja bersama. Dengan sejumlah pihak di luar diri kami.
Dengan bekerjasama pula kami bisa berharap apa yang kami lakukan bisa bermanfaat untuk orang lain. Nah, adakah yang lebih indah dari itu?

Jogja, 2 Januri 2007

Heru Prasetia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: