Djogdja Gitu Loh… (‘Ngangeni’)

Jumat, 29 Desember 2006

Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl)


Akhirnya, aku menemukan juga mengapa setiap liburan dari pekerjaan aku selalu memilih untuk pulang ke Djogdja, tidak pulang ke kampungku di tanah Tapanuli sana. Selama ini aku tak begitu jelas mengapa pilihan itu kuambil, tetapi tadi pagi, setidaknya salah satu alasan pengambilan pilihan tersebut dapat kuketahui.
Ceritanya sederhana. Seperti biasa, setelah bangun pagi, masih dalam pelukan udara sejuk khas pegunungan di Dayu, ketika matahari masih malu-malu, belum sepenuhnya bersinar, dan udara masih terasa dingin, begitu selesai mengepel teras depan rumah lafadl, maka bersama koordinator, Uzair, berdua kami keluar ‘cangkang’ untuk mencari makan.
Ada beberapa pilihan yang disodorkan oleh pagi kepada kami ketika itu. Pertama, sarapan dengan makan soto ayam di warung berdinding gedhek yang ada di Jalan Damai, sekira sepelemparan batu dari rumah lafadl. Pilihan pertama ini tak kami ambil, dengan pelbagai pertimbangan. Antara lain bosan, dan karena (menurut Uzer) soto itu banyak penyedap rasanya. Kedua, mencari makan ke arah barat, ke arah Jalan Palagan. Tetapi entah kenapa, pilihan kedua ini tidak dihiraukan lebih lanjut. Umurnya hanya sebentar dalam perbincangan. Kami memutuskan untuk mencoba warung baru yang terletak persis di samping warung soto ayam di jalan yang sama. Tentunya dengan salah satu alasan: “mencoba sesuatu yang baru.”


Ada baiknya kujelaskan sedikit tentang kondisi warung makan baru ini. Rumahnya sendiri bercat hijau, di depannya sudah dipasangi tulisan-tulisan dari kain yang terikat kuat pada sebatang kayu yang ditancapkan dengan kuat di pinggir jalan, “Coto Makassar, gulai ayam, Rp. 3000, dan setersusnya.” Ruang makannya sendiri hanya kecil. Sebenarnya adalah sebuah garasi yang disulap. Menurut Uzer warung ini termasuk ke dalam golongan ‘usaha informalitas,’ “belum ada mobil jadi garasi ‘disulap’ menjadi warung makan,” katanya. Aku mengamini, meski sebenarnya aku melihat mobil berwarna hijau diparkir di bagian lain rumah tersebut.
Ruangan terbuka menghadap ke arah selatan, peralatan seperti meja-meja dan kursi masih bersih, mungkin karena warung itu buka belum terlalu lama. Di masing-masing meja sudah terdapat daftar menu, lengkap dengan harga-harganya. Pagi itu Uzer makan dengan sepotong paha ayam, sambel teri, dan minum air putih hangat. Aku sendiri makan dengan 2 potong tempe, 2 potong tahu, 1 mangkuk semur jengkol dan minum teh tawar hangat. “Nasi putihnya belum matang mas, adanya nasi kuning,” kata sang Ibu (tampaknya ibu kita ini adalah ibu rumah tangga sekaligus pemilik warung sekaligus pelayan warung). Dan pagi itu kami pun makan dengan nasi kuning.
Singkat kata, pada saat pembayaran tiba, dengan raut muka yang biasa si Ibu pelayan tadi mengatakan, “semuanya empat ribu Mas.” Kemudian Uzer menyerahkan satu lembar uang sepuluhan. Selagi ibu itu mengambil uang kembalian ke dalam, kami sudah saling berkomentar bahwa makan di sini ternyata murah. Aku sendiri, pada waktu itu masih berfikir bahwa harga empat ribu adalah untuk satu orang. Tetapi kami terkejut, ternyata si Ibu mengembalikan enam ribu rupiah lagi. Artinya untuk makan kami berdua dengan menu seperti di atas semuanya hanya empat ribu rupiah. Busyeeeet empat ribu rupiah. Empat ribu rupiah!!!
Itulah Djogdja. Banyak hal yang kadang tak kita temukan di kota-kota lain—dan kayaknya mustahil terjadi di kota lain—tetapi dapat terjadi di Djogdja. Misalnya, suatu ketika, saya mengantarkan beberapa orang kawan dari Jakarta untuk keliling-keliling. Saat itu malam. Singkatnya, karena ada kawan yang mau berbelanja ini-itu, maka kami memarkir mobil di depan pertokoan. Sang juru parkir, seorang lelaki dengan rambut semi-gondrong. Dengan santainya melambai-lambaikan tangannya untuk memandu sang supir mengambil lokasi yang kosong di parkiran. Setelah capek berputar-putar dalam pertokoan, dan segala hajat sudah terpenuhi, kami pun kembali ke parkiran: pulang! Pada saat mau pergi, sang supir mengulurkan selembar uang lima ribuan dari jendela mobil ke arah Masnya yang Tukang Parkir. Kebetulan ia mengambil posisi berdiri persis di samping kaca jendela supir. Tetapi apa lacur? Sang tukang parkir malah tersenyum-senyum, dengan bahasa Jawa yang sangat khas Djogdja, sambil membungkuk-bungkukkan badannya sedemikian rupa, ia berkata: “nggak usah Mas, nggak usah.” Haaaa… teman-teman yang dari Jakarta semuanya bengong—saya juga. “Dasar Djogdja, sudah jelas-jelas kerjanya tukang parkir tetapi masih malu-malu nerima duit!” kata salah seorang kawan begitu kami berlalu dari tempat tersebut, karena pada akhirnya Masnya Tukang Parkir menerima juga lembaran lima ribuan tersebut.


Atau pengalaman salah seorang teman berikut ini. Teman ini adalah alumni Jurusan Teknik Geodesi FT-UGM, seorang penggemar setia angkringan. Hampir setiap malam sewaktu dia masih kuliah, dia selalu makan di angkringan yang ada di dekat kosnya. Dalam prosesnya, dia menemukan seorang teman ngobrol yang sangat mengasyikkan di sana. Seorang bapak-bapak. Dalam ceritanya kepada saya, hampir setiap malam katanya mereka baku-ngobrol. Ngalor-ngidul-ngulon-ngetan tak jelas. Pada jam tertentu dia sampai di angkringan, biasanya si Bapak sudah hadir. Atau kadang berselisih beberapa menit. Kalau salah seorang tidak datang maka yang lain akan mencari-cari: kehilangan. Belakangan setelah ia menamatkan kuliahnya dan tidak lagi mengunjungi angkringan tersebut, si kawan satu itu baru menyadari, ternyata ia tidak mengenal si Bapak tersebut. Jangankan tempat tinggalnya, statusnya, bahkan namanya saja ia tak tahu. Gendheng!!! Djogdja Gitu Loh…

Kaliurang, 27 Desember, 2006
bb

ps: kata Uzer ia termencrt-mencret setelah makan murah.

2 Responses to “Djogdja Gitu Loh… (‘Ngangeni’)”

  1. bachtiar kas Says:

    mas….anu mo komen dikit..sampeyan dak salah mencantumkan tahun 27 desember 2007 ? anu dari masa depan ya ? hhehheheh …piye to mas..mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: