Membaca Using dari Masa Ke Masa

Minggu, 17 Desember 2006

Oleh: Paring Waluyo Utomo (Peneliti Kebudayaan, tinggal di Malang)

Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggulirkan reperda tentang adat. Melalui raperda ini, Pemkab Banyuwangi hendak mengatur mengenai kewenangan masyarakat adat. Berbagai tanggapan masyarakat masuk dan merespon raperda tersebut. Kabarnya, beberapa seniman di Dewan Kesenian Blambangan menolak rancangan tersebut.


Dalam pertimbangannya, raperda ini hendak melestarikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang ada di Banyuwangi dalam menghadapi arus globalisasi. Untuk menjalankan agar nilai-nilai adat tetap terlaksana dengan baik, maka Pemkab Banyuwangi memberikan jaminan kepada masyarakat adat untuk membentuk lembaga adat diluar struktur pemerintahan desa.
Upaya untuk memberikan perlindungan warisan leluhur terutama kesenian sebenarnya telah jauh-jauh dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi, terutama di era 90 an. Melalui proyek Jenggirat Tangi, Pemkab Banyuwangi telah membentuk “desa adat” yang merupakan desa wisata di Kemiren. Bahkan sebelumnya pula telah ditetapkan kesenian Gandrung sebagai maskot kota Banyuwangi. Melalui Desa Kemiren inilah, wisatawan diharapkan dapat melihat Banyuwangi “tempo doeloe”, dengan segenap warisan kebudayaan yang ada dari masyarakat using.
Membaca persoalan diatas memang kita harus meletakkan dulu analisisnya pada konteks sosio-politik masyarakat Banyuwangi, atau dalam konteks historiografi Banyuwangi. Hal ini penting agar amatan kita tidak sekedar melihat rumusan raperdanya, atau Desa Kemiren dan gandrung, akan tetapi maksud politik-kebudayaannya.
Using menurut Stoppelaar (1927: 146) merupakan kontruksi untuk mendefinisikan orang kulonan. Orang kulonan yang dimaksudkan oleh Stoppelaar adalah para imigran dari Jawa Tengah, Bali, Bugis, dan Mandar yang tinggal dan menetap di Semenanjung Blambangan itu. Karena Using merupakan identitas campuran, maka kontruksi yang berkembang menyebutkan bahwa Using bukanlah bagian dari kebudayaan Jawa.
Bukan bagian dari Jawa, istilah inipula yang dipakai oleh orang-orang Using pada jaman Majapahit, sebab mereka dalam target penundukan Majapahit. Sementara kejawaan waktu itu selalu merujuk pada kebudayaan yang dikembangkan oleh Majapahit, atau pusat-pusat kekuasaan pada jamannya. Ketika pusat kekuasaan politik pindah ke Jawa Tengah (Mataram), maka kejawaan juga berpusat kesana.
Masyarakat Using adalah masyarakat yang memiliki riwayat kekerasan dengan pusat-pusat politik di Jawa pra kemerdekaan. Tidak saja Majapahit yang mengincar Using untuk ditundukkan, tetapi juga Mataram, dan  VOC. Bahkan beberapa kadipaten  di Jawa Timur juga ingin mengembangkan kekuasaannya hingga ke Semenanjung Blambangan ini.
Puncak kekerasan terhadap kebudayaan Using terjadi pada masa pendudukan VOC dan tragedi G 30 S 65. Saat pendudukan VOC, Using ditundukkan melalui peperangan puputan yang begitu tragis pada tahun 1771-1772. Menurut Hasan Ali (budayawan Using), perang ini hanya menyisakan 8000 orang saja dari warga Using. Hal ini berakibat pada ”ambruknya” kebudayaan Using. Tragedi kedua muncul saat peristiwa G 30 S 65. Dalam laporan Robert Cribb (2004), di daerah-daerah yang menjadi basis komunis seperti di Glagah, Singojuruh, Kabat, Rogojampi, Genteng, Pasanggaran, Cluring, Purwoharjo dan Glenmore banyak warga dan kesenian yang diciptakan oleh orang Using sendiri dibinasakan. Berbeda dengan kekerasan sebelumnya, kekerasan pada tahun ini lebih sebagai perkelahian antar saudara yang berbeda orientasi ideologi dan politik. Pasca tragedi 65, banyak kesenian dan seniman Using yang tiarap, mereka takut dikaitkan dengan komunis.


Pada masa orde baru, kebudayaan Using “direkonstruksi”, tetapi untuk kemasan paket wisata saja. Disana-sini mengalami seleksi dan penghalusan dari perspektif penguasa. Kebijakan ini tentu saja sangat berbeda dengan genre kebudayaan Using yang sangat realis sekaligus kritis. Misalnya saja lagu genjer-genjer yang diciptakan oleh Muhammad Arif yang melihat derita rakyat akibat pendudukan Jepang. Lalu lagu inipun mengalami stigmatisasi dan dilekatkan dengan milik komunis yang berarti harus dilarang.
Saat ”direkontruksi” itulah kebudayaan Using ditempatkan sebagai bagian dari paket wisata yang disediakan oleh negara. Unsur realis dan kritis menjadi hilang, yang ada hanya unsur ”eksotika”. Tentu saja eksotika pada titik ini adalah pandangan eksotika yang muncul dari kalangan turis, yang merupakan audien awam mengenai gelora kebudayaan Using. Gejala inipula yang berlangsung hingga kini.
Kini, dimasa otoda usulan raperda tentang adat ’Using’ mulai digulirkan oleh Pemkab Banyuwangi. Mungkinkah raperda ini juga proses ”pemeliharaan” orang-orang Using  ataukah memang sesuai butir raperda, yakni hendak melindungi adat? Dalam hemat penulis, raperda ini ibarat tombak bermata dua. Artinya raperda ini bisa menjadi legitimasi politik bagi warga Banyuwangi, terutama komunitas Using untuk memperoleh jaminan kebebasan menjalankan kebudayaannya tanpa ada restriksi negara, seperti yang pernah terjadi pada masa orde baru. Jika motif melindungi, patut kiranya kita dukung. Namun raperda ini juga berpotensial untuk ”memenjarakan”adat.
Hipotesis yang kedua ini bisa terjadi jika rumusan atas adat secara figuratif telah difinalisasi. Pikiran ini mengandaikan bahwa adat layaknya sebuah benda purbakala yang harus dicagar budayakan. Padahal adat sebagai sebuah manifestai kebudayaan itu terbentuk sebagai akibat dari relasi-relasi kebudayaan yang saling menyerap, menegosiasi, bahkan menundukkan. Hal ini berarti kebudayaan itu dinamis, tak kecuali masyarakat adat, bukan seperti artefak yang diam atau statis.
Sangat tidak mungkin kita hendak menuntun masyarakat adat untuk tidak boleh berubah, kecuali jika masyarakat adat menghendakinya sendiri. Jika masyarakat berhasil  didiamkan dalam cara hidupnya, sebagaimana yang diwariskan oleh leluhurnya, maka hal itu dapat menjadi tontonan wisata yang menarik bagi orang kota atau luar daerah. Sebab ditempat lain tidak terdapat masyarakat seperti yang diwisatakan tersebut. Keunikan, kekunoan, dan ketradisionalan itulah sebenarnya motif yang hendak dikembangkan oleh negara melalui raperda tersebut, ujungnya juga investasi wisata yang mengkomoditi adat Using. Sungguh tragis jika kenyataan ini yang terjadi.

One Response to “Membaca Using dari Masa Ke Masa”

  1. Pirngadie Says:

    Saya sebetulnya sependapat karena orang tua saya korban dari itu semua.

    Tapi saya masih perpandangan jauh itu memang yang harus di jalani oleh banyuwangi. tapi kita sebagai generasi muda banyuwangi harus terus bersemengat untuk melakukan yg lebih baik dan maju terus pantang mundur

    Selamat berjuang kawan

    Pirngadie
    Padang sumatera barat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: