HIJRAH SEORANG TUA

Jumat, 8 Desember 2006

Oleh: Lutfi Makhasin (Anggota Forum Lafadl, dosen UNSOED, sedang kuliah di ANU)

Namanya pendek, Marwoto (bukan nama sebenarnya). Usianya sudah memasuki kepala tujuh. Tubuhnya rentanya keliatan ringkih. Siapa sangka jika tubuh rentanya itu pernah mengenyam pahit getir hidup keras sebagai serdadu. Sebagai serdadu, di pundaknya bahkan pernah bertengger gagah tiga balok kuning, menandai pangkatnya sebagai seorang kapten. Itulah sebabnya, bekas koleganya di militer memang lebih mengenalnya sebagai Kapten Infanteri Purnawirawan Marwoto.

Tapi di Pondok Pesulukan Sokaraja orang lebih mengenal sang kapten tua ini dengan sebutan Kyai Haji Marwoto. Meski menyandang sebutan kyai, dia tidaklah seperti layaknya kyai pada umumnya. Julukan kyai untuknya memang bukan lantaran karena dia mengajarkan kitab kuning pada santrinya. Bukan juga karena dia sering memberikan pengajian layaknya dai keliling yang kondang. Julukan kyai di Pondok Pesulukan biasanya diberikan pada mereka yang sudah dianggap mumpuni sebagai pengamal tarekat Naqsabandi.

Dia adalah satu dari tiga “santri” mukim di Pondok Pesulukan Sokaraja. Sebagai “santri” mukim, dia mendapat fasilitas kantor yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur. Yang disebut kantor itu hanya sebuah ruang sederhana ukuran 3 kali 7 meter. Separo bagian depan berfungsi sebagai kantor administrasi untuk mengurus anggota tarekat Naqsabandi yang puluhan ribu jumlahnya, sedang separo bagian belakang menjadi ruang tidur. Tempat tidurnya hanyalah sebuah amben kecil tanpa kaki dan kasur tipis, persis kasur mahasiswa miskin di kos-kosan.

Di ruang yang tak seberapa besar itu, dia berbagi dengan dua orang “santri” mukim lain sebayanya. Sebagai “santri” mukim, dia bertugas mendampingi “Romo”, panggilan semua “santri” untuk KHR Abdussalam, guru tarekat naqsabandi dan pimpinan Pondok Peguron. Dia juga bertanggung jawab mengurusi administrasi keuangan Pondok Peguron.

***

Marwoto muda menghabiskan tiga puluh lima tahun kariernya di Batalyon Banteng Raiders, Srondol Semarang. Dia meniti karier militernya dari prajurit rendahan sampai menggapai pangkat tertinggi perwira pertama. Pangkat kapten yang disandangnya membuat KHR Abdussalam, guru tarekat Naqsabandi, selalu meledeknya. “Kalau ajudanku saja kapten kaya Pak Margono ini, aku ini pangkatnya apa ya?”. Biasanya dia akan menjawab santai, “Nggih mestine Romo niki pangkate Jenderal.” disusul tawanya yang terkekeh-kekeh.

Gaya bicaranya yang bersemangat, tegas dan pasti memang satu-satunya ciri yang masih tersisa dari dirinya sebagai bekas tentara. Sebagai tentara, pengalamannya memang bisa dibilang sempurna. Di masa mudanya, dia terlibat pertempuran di Semarang, Solo dan lainnya. Pada 1950-an, pasukannya ambil bagian dalam operasi penumpasan DI/TII di Jabar dan Jateng di bawah pimpinan Ali Murtopo. Komandan “aneh” – dia tidak menjelaskan lebih jauh apa maksudnya – yang belakangan jadi tangan kanan Soeharto. Dia pun pernah merasakan tidak enaknya gigitan nyamuk di hutan pedalaman Papua pada waktu Operasi Trikora. Di hutan Papua ini juga dia berkesempatan untuk mengenal secara dekat sosok komandan yang dikaguminya sebagai militer tulen, Untung Sutopo.

Yang paling tidak terlupakan dari semuanya tentu saja pengalamannya di akhir September sampai awal Oktober 1965. Ketika itu, kesatuannya terlibat dalam drama politik paling mengguncangkan dalam sejarah Indonesia modern. Batalyon 464 Diponegoro, begitulah nama kesatuannya dikenal, dianggap bertanggung jawab dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pemberontakan G-30 S/PKI. Sebagai seorang komandan regu, dia hanya tahu bahwa tujuan keberangkatannya di akhir September saat itu hanya satu, mengikuti upacara hari angkatan bersenjata di Jakarta, lain tidak.

Dia menjadi saksi mata detik-detik menegangkan di tengah kebun karet, Lubang Buaya, pada subuh 1 Oktober 1965. Yang teringat jelas baginya hanya satu, “jenderal-jenderal itu mati sebagai tentara, sebagai patriot yang gagah berani, bertanggung jawab penuh di depan anak buahnya sendiri.” Agak sulit bagiku mencerna kata-kata yang diucapkannya dengan lugas itu. Kulihat pandangannya menerawang, mungkin mengingat masa kelam itu. Lama dia terdiam, membuatku tidak bertanya lebih jauh. Di samping itu, ekpresi wajahnya yang begitu mendung membuatku, entah mengapa, memutuskan mengubur semua pertanyaan yang kadung menggelayut berat di kepala.

Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan saat itu. Misalnya, “bagaimana mungkin dia bilang kalau pasukannya ada di Lubang Buaya saat itu, sementara di buku sejarah dikatakan pasukannya ada di sekitar Monas, siapa yang menjadi pelaku utama pembunuhan?, siapa yang memberi perintah untuk menembak?, apakah benar ada penyiksaan?, apakah benar ada wanita yang menari-nari, telanjang dengan silet dan pisau tajam di tangannya?”.

Tersadar dari lamunannya sendiri, dia seperti bisa membaca rasa penasaranku. Kemudian dia meneruskan kisahnya, tapi nadanya lebih seperti berbicara untuk dirinya sendiri. “Sampeyan paling tahu hanya dari buku dan film. Sebagai orang yang mengalami sendiri, saya cuma bisa bilang, semua itu lebih banyak bohongnya daripada benarnya. Terutama bagian cerita di Lubang Buaya. Itu semua bohong besar. Tidak ada penyiksaan dan tidak ada orang lain di sana selain tentara. Tapi ya itulah politik, semuanya bisa direkayasa. Makanya seumur-umur saya tidak pernah nonton film yang setiap tahun ditayangkan di TV itu”.

(Versi yang lebih “ilmiah” dengan esensi yang kurang lebih sama dengan kesaksian Pak Marwoto ini belakangan kubaca dalam tulisan kotroversial yang terkenal dengan sebutan “the Cornell Paper”. Tulisan ini sebenarnya kerja keroyokan beberapa Indonesianist di Cornell yang mengemukakan analisis mereka bahwa peristiwa 30 September tidak lebih dari konflik internal Angkatan Darat).

Bukan ungkapan panjang lebar ini yang membuatku terhenyak, tapi ekpresi dan tekanan suaranya yang datar tanpa emosi. Tidak ada sisa kelugasan tentara seperti biasanya kalau dia berbicara. Tidak ada nada amarah, tidak ada lontaran menyalahkan siapapun untuk satu episode hidup yang dianggapnya sangat kelam itu. Semunya diterima sebagaimana adanya, “sadermo nglakoni”. Ketika mengucapkan ini, nadanya lebih seperti resi bijak bestari yang sedang memberi nasehat pada muridnya yang masih hijau. Aku cuma manggut-manggut. Kupikir tidak ada gunanya aku mengorek lebih jauh soal ini. Kegetiran ungkapannya nyata tertangkap, meski dia berusaha keras menyembunyikannya dengan ungkapan yang seolah tanpa beban.

Binar mata tuanya kembali hidup ketika aku menanyakan kembali pengalamannya sebagai “santri” Pondok Peguron. Dengan bersemangat dia bercerita bahwa sepuluh tahun terakhir adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Kesenangan itu didapatnya dalam ritual rutin seperti tawajuh, khataman, sholat malam, suluk, dan khalwat.

***

Tahun 2006 ini genap sepuluh tahun dia berbaiat masuk tarekat dan 6 tahun tinggal di Pondok Peguron. Empat tahun pertama setelah diba’iat masuk tarekat, dia habiskan waktunya untuk “nglaju” Sokaraja-Semarang, sekedar memenuhi hasyratnya yang menggebu untuk selalu menunaikan tawajuh dan suluk di Pondok Peguron. Tubuh rentanya yang semakin ringkih membuatnya berketatapan hati meminta ijin “Romo” dan keluarganya untuk tinggal permanen di Pondok Peguron. Dia bahkan sudah mendapat ijin “Romo” untuk dimakamkan di pemakaman keluarga Pondok Peguron, sekiranya ajal menjemputnya kelak. Keputusan yang, anehnya, juga didukung penuh keluarga besarnya di Semarang.

Pertama berbincang dengannya di sebuah siang pertengahan Februari 2006 silam, dengan bersemangat dia menceritakan padaku keputusan bulatnya untuk tinggal menetap di Pondok Peguron. Betapa dia ingin menghabiskan hari tuanya hanya untuk beribadah dan mengabdi di Pondok Peguron. Tidak ada sepatah kata penyesalan karena meninggalkan istri, derai tawa cucu dan buyutnya yang sudah puluhan jumlahnya.

Wajah cerah dan kekehan tawa riangnya meyakinkanku bahwa semua yang dikatakannya memang sungguh-sungguh. Keputusannya untuk “madeg pandhita” dan “bertapa” di Pondok Peguron memang sudah dipikirkannya masak-masak. Meninggalkan kemewahan dan kehangatan keluarga baginya tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan ketentraman dan ketenangan yang direguknya di Pondok Peguron. Bahkan pada hari raya, ketika normalnya sebuah keluarga berkumpul, keluarga besarnyalah yang mengalah, mengunjunginya di Pondok Peguron untuk bersilaturahmi.

“Dari lahir saya sudah Islam, tapi sebagai orang Islam, dulu saya itu ibaratnya wuda (telanjang). Hanya sekaranglah saya punya kesempatan untuk memahami dan menghayati apa artinya jadi orang Islam yang sebenarnya”. Ini diucapkannya menjawab pertanyaanku tentang pengalaman rohani macam apa yang didapatnya di Pondok Peguron.

***

Cerita-cerita serupa sebagaimana Pak Marwoto ini tidaklah aneh di Pondok Peguron. Hanya saja pengalaman Pak Marwoto yang meninggalkan kehangatan keluarga hanya untuk mendamparkan diri di sebuah komplek gedung tua bertembok keliling seperti Pondok Peguron tetaplah sebuah cerita “luar biasa” dan kadang kupikir juga “tidak masuk akal”, paling tidak untuk otakku yang awam dengan dunia pertarekatan. Sama luar biasanya bagiku menyaksikan orang-orang yang rela menghabiskan 7 hari penuh di kamar-kamar kecil ukuran 1m x 1,5 m, dengan hanya makan minum “mutih”. Juga sama tidak masuk akalnya bagiku melihat jejeran orang duduk membungkuk melantunkan dzikir sampai puluhan ribu sekali waktu.

Seorang teman di kantor yang kebetulan seorang Muhammadiyah tulen hanya mencibir sinis ketika kuceritakan pengamalan di Pondok Peguron. “Itu semua bid’ah dan syirik”, begitulah katanya selalu dengan ketus. Temanku lain yang kebetulan pernah mondok cukup lama lebih empatik dengan rasa heranku dan memberi penjelasan, “Itu bagian dari riyadah untuk menyucikan diri”. Tentu saja penjelasan kedua lebih masuk dikepalaku daripada penjelasan temanku yang Muhammadiyah. Hanya saja, semakin lama bergaul dengan Pak Marwoto di Pondok Peguron, kusadari semakin tidak memadai penjelasan temanku yang jebolan pesantren itu, jika bukannya malah tidak memberi penjelasan sama sekali.

“Saya sudah hijrah, mas”. Itu diucapkan Pak Marwoto dalam salah satu wawancara terakhir yang kulakukan untuk penelitianku di satu siang pertengahan awal April 2006. Dan aku harus puas untuk menerima itu sebagai penjelasan bagi “keputusan anehnya” untuk menjadi santri abadi Pondok Peguron. Pak Marwoto memang sudah melakukan hijrah. Hijrah bukan saja dari keluarganya tapi juga hijrah dari penjelasan-penjelasan “masuk akal” seperti yang kubayangkan bisa kutemukan waktu aku pertama kali berkenalan dengannya.

3 Responses to “HIJRAH SEORANG TUA”


  1. asalamualaikum…
    setelah membaca artikel ini saya jadi rindu dengan pondok pesulukan sokaraja,rama guru,dan semua saudara seperguruan saya.oia salam kenal saya andre (22)saya menjadi murid naqsyabandi dari umur 17 thn dan di baiat oleh rama guru abdussalam.mungkin yang di maksud disini adalah bapak “margono”,saya kenal sekali dengan beliau.

    saya senang di internet memuat artikel seperti ini,terima kasih dan maju terus mas lutfi,lam kenal yaaa
    wasalamualaikum…..

  2. Abi Zahra Says:

    Teringat masa lalu waktu suluk di Rumah Suluk Baitul Kholil Sungai Faham Asahan Sumatera Utara. Itu akan menjadi masa yang paling indah dalam hidupku..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: